LOGINHening yang pekat menyelimuti ruang tengah Mansion Fortman. Udara seolah membeku di antara kepulan asap lilin aroma terapi dan sisa aroma anggur mahal dari jamuan yang baru saja usai.
Nyonya Theresia Fortman berdiri mematung, matanya yang tajam dan dilapisi riasan tebal menatap nyalang pada putri bungsunya. Ia menuntut sebuah pengakuan, sebuah alasan logis mengapa Celina dengan bodohnya menolak pesona dan harta Wiliam Dakosta. Di sudut lain, Jesica dan Jolie menyilangkan tangan di dada. Bibir mereka melengkung sinis, menunggu Celina menyerah pada tekanan sang ibu dan mengakui bahwa pernikahan dengan "Kecoa Busuk" itu hanyalah sebuah kesalahan administratif yang harus segera dihapuskan. Di balik bayangan dinding pilar marmer, Dave menahan napas. Jantungnya berdenyut lambat, setiap indranya menajam. Ia menunggu kata-kata yang akan keluar dari bibir wanita yang sangat ia cintai itu. Celina menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terdengar berat dan sarat akan beban. Ia menyapu pandangan ke sekeliling ruangan yang megah namun terasa seperti penjara itu. "Aku tidak bisa bercerai dengan Dave," suara Celina memecah keheningan, tenang namun tegas. "Bukan karena aku tidak melihat apa yang kalian lihat, tapi karena wasiat Daddy. Pernikahan ini adalah mandat terakhirnya. Dan aku tidak akan mengkhianati janji pada pria yang telah membangun semua kemewahan yang kalian nikmati sekarang." Di balik dinding, Dave memejamkan mata. Sebuah helaan napas panjang lolos dari paru-parunya. Jawaban itu... jawaban itu tidak membuatnya puas. Sebuah sayatan kecil terasa di hatinya. Wasiat. Jadi, alasan Celina mempertahankannya bukanlah karena cinta, melainkan rasa kasihan dan kesetiaan buta pada mendiang ayahnya. Dave tersenyum getir, menyadari posisi dirinya yang sebenarnya di mata Celina. Ia memilih untuk berbalik, melangkah tanpa suara menjauh dari lorong itu sebelum hatinya semakin hancur. Sementara itu, ledakan amarah meletus di ruang tengah. "Wasiat?!" Theresia memekik, suaranya melengking hingga ke langit-langit Barok. Ia melangkah maju, mencengkeram lengan Celina dengan kasar, memaksa putrinya menatap matanya yang berkilat penuh obsesi. "Ayahmu sudah lama mati, Celina! Wasiat itu sudah membusuk bersamanya di kuburan! Buka matamu! Masa depanmu ada pada Wiliam Dakosta, bukan pada pria bodoh, miskin, dan tidak punya masa depan seperti Dave!" "Mommy benar," Jolie menimpali sembari memutar gelas kristalnya. "Aku lelah harus menanggung malu di depan teman-teman sosialitaku. Setiap kali mereka bertanya siapa suami adikku, aku ingin rasanya mengubur diri. Statusmu sebagai istri seorang pengangguran adalah noda bagi reputasi Fortman!" Jesica tertawa sombong, merapikan tatanan rambutnya. "Dave si pelayan sampah itu bahkan tidak pantas berada di foto keluarga kita. Bagaimana mungkin dia berdiri di antara suamiku yang seorang CEO sukses dan dihormati di Westalis? Dia hanya debu yang menempel di sepatu kita." Celina hanya terdiam. Wajahnya pucat, namun matanya tetap teguh. Ia menggeleng pelan, melepaskan cengkeraman ibunya, lalu berbalik tanpa kata. Ia berjalan menyusuri lorong panjang menuju kamarnya, membiarkan teriakan Theresia yang mengancam akan mencoret namanya dari kartu keluarga menguap begitu saja ditiup angin malam. Saat mencapai ujung lorong, langkah Celina terhenti. Di sana, di bawah remang lampu temaram, Dave berdiri menunggunya. Kamar mereka yang bersisihan membuat pertemuan ini tak terelakkan. Dave telah mendengar semuanya. Setiap hinaan, setiap pembelaan yang berdasarkan "wasiat", dan setiap ancaman yang diterima istrinya. Dave menatap Celina dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada amarah yang ia pendam untuk keluarga Fortman, namun ada kehangatan yang tak terbendung saat menatap wanita di depannya. Suatu hari nanti, batin Dave bersumpah, saat topeng ini kulepaskan, aku akan memastikan seluruh Westalis bersimpuh di kakimu. Tidak terkecuali ibu dan saudari-saudarimu yang arogan ini. Melihat sosok Dave, Celina segera menghapus rona sedih di wajahnya. Ia memasang senyum hangat, seolah badai baru saja tidak terjadi di ruang tengah. "Dave? Apa yang kau lakukan di luar kamar selarut ini?" tanya Celina lembut. Dave tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merogoh saku kemejanya yang mulai pudar warnanya, lalu menyodorkan sebuah sapu tangan sutra putih bersih dengan inisial C.V.—Celina Victoria—yang disulam dengan benang perak halus. Celina tertegun. Ia mengambil sapu tangan itu, jemarinya meraba sulaman yang indah tersebut. "Selamat ulang tahun, Celina," bisik Dave lembut, suaranya rendah dan sarat akan perasaan. Mata Celina membelalak. Ia nyaris memekik senang jika tidak ingat bahwa malam sudah larut. "Kau... kau ingat? Terima kasih, Dave. Terima kasih banyak." Dave hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang jarang ia tunjukkan. Ia hendak memutar tubuh untuk masuk ke kamarnya, namun sebuah tangan kecil mencekal lengannya. Dave berhenti, merasakan sentuhan Celina di balik kain kemeja lusuhnya. "Dave... aku minta maaf," suara Celina merendah, sarat akan penyesalan. "Maaf atas sikap Mommy, Jolie, dan Jesica. Mereka tidak seharusnya bicara seperti itu padamu." Dave berbalik, menatap mata biru Celina yang kini berkaca-kaca. "Tak apa, Celina. Biarkan mereka menghinaku, asalkan kau tidak tertekan karena keberadaanku." Dave menarik napas sejenak, menatap istrinya dengan kejujuran yang menyakitkan. "Apa yang mereka katakan itu benar. Pernikahan ini hanyalah beban wasiat ayahmu. Jika suatu saat kau merasa tidak sanggup lagi, jika kau ingin bebas dan mencari kebahagiaanmu sendiri... katakan padaku. Aku siap pergi." Hati Dave berdenyut perih saat mengucapkan itu. Ia mencintai Celina lebih dari hidupnya sendiri. Ia bertahan di rumah ini bukan hanya karena misi mengungkap pembunuh ayahnya, Anthony Alen Parker—sang Raja Mafia Roma yang tewas dikhianati di Sisilia—tapi karena Celina adalah oase di gurun hidupnya yang kelam. James Fortman, ayah Celina, adalah satu-satunya kaki tangan ayahnya yang setia, yang membawa Dave ke Westalis untuk melindunginya dengan identitas baru. "Jangan pernah katakan itu lagi!" Celina memotong dengan nada mendesak. Ia menatap Dave dengan keyakinan penuh. "Ayahku memilihmu karena dia tahu kau adalah pria terbaik. Aku percaya pada instingnya. Aku tidak akan pernah ingin bercerai darimu, Dave." Dave tersanjung, sebuah rasa hangat menjalar di dadanya, namun ia tetap memasang wajah tenang khas seorang profesional. "Jika kau tidak tahan lagi di bungalow ini, kita bisa pindah. Kita bisa menyewa apartemen kecil di pusat kota," tawar Celina penuh harap. Dave menggeleng pelan. "Tidak, Celina. Aku tidak ingin menjauhkanmu dari keluargamu. Di sini aman bagimu." Celina tersenyum manis, sebuah senyuman yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan Dave. Ia melangkah maju, merapikan kerah kemeja Dave yang sedikit terlipat. "Kau sangat baik dan penyabar, Dave. Terima kasih sudah menjagaku." Celina terdiam sejenak, wajahnya sedikit memerah. "Akhir pekan ini... maukah kau menemaniku ke pusat kota? Aku ingin membelikanmu beberapa kemeja baru. Kau bisa memilih yang kau suka." Dave mematung. Ini adalah pertama kalinya Celina mengajaknya pergi secara pribadi. Sebelum ia sempat menjawab, Celina sudah menunduk malu-malu, membisikkan "Selamat malam," dan segera masuk ke dalam kamarnya. "Selamat malam, Celina," gumam Dave pada pintu yang tertutup. Sebuah senyum bahagia terkembang di bibirnya. Ia yakin, wasiat atau bukan, ada sesuatu yang mulai tumbuh di antara mereka. .................................... Malam kian larut, menyisakan kesunyian yang mencekam di Westalis. Di dalam kamarnya yang sederhana, Dave tidak tidur. Ia sedang melakukan rutinitasnya: latihan fisik yang brutal. Ia bertelanjang dada, otot-ototnya yang padat menyembul dan berkeringat di bawah cahaya lampu yang redup. Sebuah tato ular hitam melilit dari pinggang hingga punggungnya, lambang kegarangan yang ia sembunyikan selama ini. Tiba-tiba, ponsel rahasia di atas meja bergetar. Dave menyambar ponsel itu. "Luca, bicara," ucap Dave dengan suara dingin. "Bos, kondisi darurat! Orang-orang Marco kembali bergerak di dermaga. Logistik senjata kita untuk jalur utara dicuri lagi!" Luca terdengar panik di seberang sana. Dave mendengus kesal. Amarahnya yang tertahan sejak tadi sore menemukan pelampiasannya. "Siapkan helikopter. Aku segera ke sana." Panggilan terputus. Dengan gerakan secepat kilat, Dave mengenakan kemeja hitam dan jaket taktis. Ia tidak keluar lewat pintu. Dengan ketangkasan seorang pembunuh bayaran, ia melompat dari balkon kamarnya menuju atap gedung apartemen di samping bungalow Fortman. Di saat yang sama, di kamar sebelah, Celina sedang duduk di depan cermin, menyisir rambutnya. Tak sengaja, ia melihat bayangan hitam melintas dengan sangat cepat di jendela. Ia tersentak, segera menoleh, namun hanya melihat tirai yang melambai ditiup angin. Dave merapat ke dinding luar, menahan napas. Hampir saja, batinnya. Setelah memastikan kondisi aman, ia melesat pergi di atas atap-atap gedung Westalis. Di atas gedung tertinggi di blok itu, sebuah helikopter hitam tanpa identitas menunggu dengan baling-baling yang sudah berputar. Luca menyambutnya. Dave segera melepaskan pakaiannya yang lusuh dan berganti dengan setelan jas mahal karya penjahit terbaik Italia. Dalam sekejap, menantu sampah itu telah bertransformasi menjadi Black Snake, penguasa gelap yang ditakuti. "Waktuku cuma dua jam sebelum Celina bangun untuk minum air," ucap Dave sembari memasang jam tangan mahalnya. "Katakan padaku, siapa yang memimpin operasi ini?" "Fabrizio, Bos. Kaki tangan kepercayaan Marco yang dikirim khusus ke Westalis," jawab Luca. Satu jam kemudian, helikopter mendarat di dermaga rahasia yang tersembunyi di balik teluk kabut. Dave turun dengan dua pistol Glock di masing-masing tangannya. Begitu melihat Fabrizio yang sedang mengawasi anak buahnya memindahkan peti-peti kayu, Dave tidak menunggu. "Black Snake!" Fabrizio berteriak kaget saat melihat sosok tinggi tegap itu muncul dari balik kegelapan. "Tembak dia! Cepat tembak!" Hujan peluru pecah di dermaga. Namun Dave bergerak seperti bayangan—tak tersentuh. Ia meluncur di bawah truk, membidik dengan presisi yang mengerikan. Dua tembakan, dua nyawa. Sepuluh anak buah Fabrizio tewas dalam hitungan detik di tangan Dave, sementara Luca dan timnya mengamankan sisanya. Dave melangkah tenang di atas tumpukan mayat, mendekati Fabrizio yang sudah tersudut dan terluka di kaki. Dengan gerakan kasar, Dave menjambak rambut Fabrizio dan menempelkan ujung moncong pistol yang masih panas tepat di dahi pria itu. "Siapa yang memberimu akses masuk ke dermaga ini, Fabrizio?" suara Dave sangat rendah, mengandung ancaman kematian yang nyata. "Tidak ada yang bisa masuk ke wilayahku tanpa bantuan orang dalam di Westalis." Fabrizio gemetar, mulutnya berlumuran darah. "Aku... aku tidak tahu..." Klik. Dave menarik pelatuk namun pelurunya belum keluar. "Tembakan berikutnya akan membuat otakmu tersebar di air laut ini. Katakan!" "Arthur... Arthur Desmond!" Fabrizio berteriak ketakutan. "Dia yang memberikan jalur logistik ini sebagai imbalan saham di perusahaan Marco!" Dave tertegun. Matanya berkilat penuh kebencian. Arthur Desmond? Kakak iparnya sendiri? Si menantu emas kesayangan Theresia Fortman ternyata adalah tikus yang mengkhianatinya. Dave tersenyum dingin. "Rupanya... keluarga Fortman memang butuh pembersihan total." Ia menarik pelatuknya. Duar! Malam itu, di dermaga Westalis yang dingin, sebuah pengkhianatan terungkap, dan sang ular hitam telah menentukan mangsa berikutnya.Angin musim semi di Westalis bertiup kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon maple di luar jendela Kediaman Fortman dengan suara gesekan yang terdengar seperti bisikan rahasia. Namun, di dalam ruang makan yang megah itu, suasana justru terasa membeku. Udara seolah memadat, menyisakan keheningan yang begitu tipis hingga suara napas pun terdengar seperti ancaman.Dave Alen Parker duduk dengan tenang di kursi utama—singgasana yang biasanya diduduki oleh mendiang James Fortman. Ia tidak lagi mengenakan topeng peraknya. Wajahnya yang tegas, dengan rahang yang kokoh dan sorot mata biru yang tajam, kini terpampang nyata tanpa penghalang. Di samping kiri dan kanannya berdiri Luca dan Silvester, dua bayangan setia yang memberikan kesan bahwa meja makan itu kini adalah pusat komando kerajaan bisnis global.Edward dan Arthur berdiri kaku di sisi kanan, tangan mereka mengepal namun gemetar di samping jahitan celana. Jolie dan Jesica di sisi kiri tampak seolah nyawa mereka telah dicabut paksa
Langit Roma sore itu tampak seperti terbakar, membiaskan warna merah tembaga yang memantul di atas genangan darah di pelataran Miracle Hospital.Puluhan tentara bayaran Carlos Stanza dan Frozman kini tak lebih dari onggokan daging tak bernyawa, berserakan di antara puing-puing kendaraan baja yang hancur. Di tengah-tengah pemakaman masal itu, Dave Alen Parker berdiri tegak. Luka di dadanya berdenyut hebat, darah segar mengalir dari pelipisnya, namun aura dominasinya justru semakin mengintimidasi.Celina berlari keluar dari lobi rumah sakit yang baru saja selamat dari kehancuran. Begitu melihat sosok Dave yang masih berdiri, air matanya tumpah. Ia menghambur ke pelukan suaminya, menghirup aroma maskulin yang bercampur bau mesiu."Dave! Kau hidup... kau selamat," isak Celina.Dave tersenyum tipis, mengusap pipi Celina dengan jemarinya yang kasar. "Kau harus pulang, Celina. Tempat ini terlalu kotor untukmu sekarang."Di sekeliling mereka, tim penjinak bom yang dipimpin Luca baru saja men
Lorong rumah sakit yang biasanya hening kini berubah menjadi arena gladiator yang bersimbah darah. Luca Cassano, yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai perisai tak tertembus keluarga Parker, mulai mencapai titik nadirnya. Dominico—pembunuh bayaran paling brutal kiriman Carlos Stanza—bergerak seperti bayangan yang haus nyawa. Pisau kerambit di tangannya telah merobek jas Luca, meninggalkan luka menganga di bahunya. Luca terpojok di dinding, napasnya memburu, matanya mulai mengabur akibat hantaman bertubi-tubi.Dominico menyeringai, mengangkat pisaunya untuk satu serangan fatal ke arah tenggorokan Luca. Namun, tepat sebelum besi dingin itu menyentuh kulit, sebuah dentuman keras menghancurkan kesunyian.BRAKK!Pintu ruang ICU didobrak dari dalam dengan kekuatan yang mustahil dimiliki oleh seseorang yang baru saja sekarat. Dari balik kepulan uap dingin alat medis, Alen Parker muncul. Ia bukan lagi pria yang terbaring lemah dengan selang oksigen; ia berdiri tegak dengan pakaian takt
Koridor Miracle Hospital Roma berubah menjadi pusaran kepanikan. Di dalam ruang ICU, bau ozon dari alat defibrilator dan aroma tajam obat-obatan bercampur dengan aroma kematian yang kian menebal. Dave Alen Parker masih terbaring kaku, wajahnya sepucat marmer Carrara, sementara garis di layar monitor Electrocardiogram kian mendatar, hanya menyisakan getaran-getaran lemah yang menandakan sisa nyawa yang hampir padam.Di ambang pintu, Celina berdiri dengan napas tersengal. Rambutnya berantakan, gaunnya kusut setelah penerbangan darurat paling gila dalam hidupnya menggunakan jet pribadi yang dikirim Luca. Matanya yang sembab menatap pemandangan mengerikan di depannya: Dave, suaminya, pria yang beberapa jam lalu ia maki sebagai monster, kini tampak begitu rapuh di bawah kepungan selang medis.Ia mungkin tak pernah mengerti dengan kehidupan yang Dave jalani, tentang bagaimana ia menjadi seorang yang sukses di usia mudanya, tentang masa lalu keluarga Parker dan para musuh yang merenggut se
Deru helikopter medis membelah keheningan malam Roma, mendarat dengan urgensi yang mencekam di landasan Miracle Hospital. Di dalam ambulans khusus yang menyambut, Luca Cassano menggenggam tangan Dave Alen Parker yang sedingin es. Kemeja putih yang dikenakan Dave kini telah berubah menjadi kanvas merah yang mengerikan. Darah terus merembes, menantang maut yang kian mendekat."Tahan, Tuan Muda! Jangan menyerah sekarang!" teriak Luca, suaranya parau oleh ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Begitu pintu ambulans terbuka, tim dokter terbaik klan Parker segera melarikan brankar Dave menuju ruang operasi. Lampu merah di atas pintu menyala—sebuah tanda bahwa di balik sana, seorang pewaris takhta sedang bertarung mempertahankan napas terakhirnya.Luca berdiri mematung di koridor yang sunyi, tangannya yang bersimbah darah gemetar hebat. Tak lama kemudian, derap langkah kaki yang tergesa-memecah keheningan. Keluarga Wilson tiba. Marquez Wilson memimpin di depan dengan wajah yan
Matahari Westalis mulai tenggelam, membasahi langit dengan warna oranye yang tampak seperti luka yang menganga. Di kediaman megah keluarga Fortman, kesunyian terasa mencekam. Silvester berdiri kaku di gerbang, sementara Luca—tangan kanan setia keluarga Parker—membukakan pintu mobil hitam mengkilap yang baru saja membelah kesunyian pelataran.Sesosok pria keluar dengan gerakan yang sangat terkontrol. Ia mengenakan topeng, sebuah simbol perlindungan sekaligus kutukan. Dave Alen Parker berjalan cepat, langkah sepatunya beradu dengan marmer teras, menciptakan irama urgensi yang menggetarkan udara. Ia mengabaikan kemegahan pilar-pilar rumah itu; pikirannya hanya tertuju pada satu nama: Celina."Nona Celina ada di teras belakang, Tuan Muda. Dekat kolam renang," bisik Silvester tanpa berani menatap mata di balik topeng itu.Dave melangkah lebar, melintasi koridor luas hingga udara segar dari taman belakang menyapu wajahnya. Di sana, di tepi kolam renang yang airnya memantulkan cahaya senj







