Share

Chapter 4

Author: Dewa Amour
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-20 08:23:18

Hening yang pekat menyelimuti ruang tengah Mansion Fortman. Udara seolah membeku di antara kepulan asap lilin aroma terapi dan sisa aroma anggur mahal dari jamuan yang baru saja usai.

Nyonya Theresia Fortman berdiri mematung, matanya yang tajam dan dilapisi riasan tebal menatap nyalang pada putri bungsunya.

Ia menuntut sebuah pengakuan, sebuah alasan logis mengapa Celina dengan bodohnya menolak pesona dan harta Wiliam Dakosta.

Di sudut lain, Jesica dan Jolie menyilangkan tangan di dada. Bibir mereka melengkung sinis, menunggu Celina menyerah pada tekanan sang ibu dan mengakui bahwa pernikahan dengan "Kecoa Busuk" itu hanyalah sebuah kesalahan administratif yang harus segera dihapuskan.

Di balik bayangan dinding pilar marmer, Dave menahan napas. Jantungnya berdenyut lambat, setiap indranya menajam. Ia menunggu kata-kata yang akan keluar dari bibir wanita yang sangat ia cintai itu.

Celina menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terdengar berat dan sarat akan beban. Ia menyapu pandangan ke sekeliling ruangan yang megah namun terasa seperti penjara itu.

"Aku tidak bisa bercerai dengan Dave," suara Celina memecah keheningan, tenang namun tegas. "Bukan karena aku tidak melihat apa yang kalian lihat, tapi karena wasiat Daddy. Pernikahan ini adalah mandat terakhirnya. Dan aku tidak akan mengkhianati janji pada pria yang telah membangun semua kemewahan yang kalian nikmati sekarang."

Di balik dinding, Dave memejamkan mata. Sebuah helaan napas panjang lolos dari paru-parunya. Jawaban itu... jawaban itu tidak membuatnya puas. Sebuah sayatan kecil terasa di hatinya.

Wasiat.

Jadi, alasan Celina mempertahankannya bukanlah karena cinta, melainkan rasa kasihan dan kesetiaan buta pada mendiang ayahnya.

Dave tersenyum getir, menyadari posisi dirinya yang sebenarnya di mata Celina. Ia memilih untuk berbalik, melangkah tanpa suara menjauh dari lorong itu sebelum hatinya semakin hancur.

Sementara itu, ledakan amarah meletus di ruang tengah.

"Wasiat?!" Theresia memekik, suaranya melengking hingga ke langit-langit Barok. Ia melangkah maju, mencengkeram lengan Celina dengan kasar, memaksa putrinya menatap matanya yang berkilat penuh obsesi. "Ayahmu sudah lama mati, Celina! Wasiat itu sudah membusuk bersamanya di kuburan! Buka matamu! Masa depanmu ada pada Wiliam Dakosta, bukan pada pria bodoh, miskin, dan tidak punya masa depan seperti Dave!"

"Mommy benar," Jolie menimpali sembari memutar gelas kristalnya. "Aku lelah harus menanggung malu di depan teman-teman sosialitaku. Setiap kali mereka bertanya siapa suami adikku, aku ingin rasanya mengubur diri. Statusmu sebagai istri seorang pengangguran adalah noda bagi reputasi Fortman!"

Jesica tertawa sombong, merapikan tatanan rambutnya. "Dave si pelayan sampah itu bahkan tidak pantas berada di foto keluarga kita. Bagaimana mungkin dia berdiri di antara suamiku yang seorang CEO sukses dan dihormati di Westalis? Dia hanya debu yang menempel di sepatu kita."

Celina hanya terdiam. Wajahnya pucat, namun matanya tetap teguh. Ia menggeleng pelan, melepaskan cengkeraman ibunya, lalu berbalik tanpa kata.

Ia berjalan menyusuri lorong panjang menuju kamarnya, membiarkan teriakan Theresia yang mengancam akan mencoret namanya dari kartu keluarga menguap begitu saja ditiup angin malam.

Saat mencapai ujung lorong, langkah Celina terhenti. Di sana, di bawah remang lampu temaram, Dave berdiri menunggunya. Kamar mereka yang bersisihan membuat pertemuan ini tak terelakkan.

Dave telah mendengar semuanya. Setiap hinaan, setiap pembelaan yang berdasarkan "wasiat", dan setiap ancaman yang diterima istrinya.

Dave menatap Celina dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada amarah yang ia pendam untuk keluarga Fortman, namun ada kehangatan yang tak terbendung saat menatap wanita di depannya.

Suatu hari nanti, batin Dave bersumpah, saat topeng ini kulepaskan, aku akan memastikan seluruh Westalis bersimpuh di kakimu. Tidak terkecuali ibu dan saudari-saudarimu yang arogan ini.

Melihat sosok Dave, Celina segera menghapus rona sedih di wajahnya. Ia memasang senyum hangat, seolah badai baru saja tidak terjadi di ruang tengah. "Dave? Apa yang kau lakukan di luar kamar selarut ini?" tanya Celina lembut.

Dave tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merogoh saku kemejanya yang mulai pudar warnanya, lalu menyodorkan sebuah sapu tangan sutra putih bersih dengan inisial C.V.—Celina Victoria—yang disulam dengan benang perak halus.

Celina tertegun. Ia mengambil sapu tangan itu, jemarinya meraba sulaman yang indah tersebut.

"Selamat ulang tahun, Celina," bisik Dave lembut, suaranya rendah dan sarat akan perasaan.

Mata Celina membelalak. Ia nyaris memekik senang jika tidak ingat bahwa malam sudah larut. "Kau... kau ingat? Terima kasih, Dave. Terima kasih banyak."

Dave hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang jarang ia tunjukkan. Ia hendak memutar tubuh untuk masuk ke kamarnya, namun sebuah tangan kecil mencekal lengannya. Dave berhenti, merasakan sentuhan Celina di balik kain kemeja lusuhnya.

"Dave... aku minta maaf," suara Celina merendah, sarat akan penyesalan. "Maaf atas sikap Mommy, Jolie, dan Jesica. Mereka tidak seharusnya bicara seperti itu padamu."

Dave berbalik, menatap mata biru Celina yang kini berkaca-kaca. "Tak apa, Celina. Biarkan mereka menghinaku, asalkan kau tidak tertekan karena keberadaanku."

Dave menarik napas sejenak, menatap istrinya dengan kejujuran yang menyakitkan. "Apa yang mereka katakan itu benar. Pernikahan ini hanyalah beban wasiat ayahmu. Jika suatu saat kau merasa tidak sanggup lagi, jika kau ingin bebas dan mencari kebahagiaanmu sendiri... katakan padaku. Aku siap pergi."

Hati Dave berdenyut perih saat mengucapkan itu. Ia mencintai Celina lebih dari hidupnya sendiri. Ia bertahan di rumah ini bukan hanya karena misi mengungkap pembunuh ayahnya, Anthony Alen Parker—sang Raja Mafia Roma yang tewas dikhianati di Sisilia—tapi karena Celina adalah oase di gurun hidupnya yang kelam.

James Fortman, ayah Celina, adalah satu-satunya kaki tangan ayahnya yang setia, yang membawa Dave ke Westalis untuk melindunginya dengan identitas baru.

"Jangan pernah katakan itu lagi!" Celina memotong dengan nada mendesak. Ia menatap Dave dengan keyakinan penuh. "Ayahku memilihmu karena dia tahu kau adalah pria terbaik. Aku percaya pada instingnya. Aku tidak akan pernah ingin bercerai darimu, Dave."

Dave tersanjung, sebuah rasa hangat menjalar di dadanya, namun ia tetap memasang wajah tenang khas seorang profesional.

"Jika kau tidak tahan lagi di bungalow ini, kita bisa pindah. Kita bisa menyewa apartemen kecil di pusat kota," tawar Celina penuh harap.

Dave menggeleng pelan. "Tidak, Celina. Aku tidak ingin menjauhkanmu dari keluargamu. Di sini aman bagimu."

Celina tersenyum manis, sebuah senyuman yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan Dave. Ia melangkah maju, merapikan kerah kemeja Dave yang sedikit terlipat.

"Kau sangat baik dan penyabar, Dave. Terima kasih sudah menjagaku." Celina terdiam sejenak, wajahnya sedikit memerah. "Akhir pekan ini... maukah kau menemaniku ke pusat kota? Aku ingin membelikanmu beberapa kemeja baru. Kau bisa memilih yang kau suka."

Dave mematung. Ini adalah pertama kalinya Celina mengajaknya pergi secara pribadi. Sebelum ia sempat menjawab, Celina sudah menunduk malu-malu, membisikkan "Selamat malam," dan segera masuk ke dalam kamarnya.

"Selamat malam, Celina," gumam Dave pada pintu yang tertutup. Sebuah senyum bahagia terkembang di bibirnya. Ia yakin, wasiat atau bukan, ada sesuatu yang mulai tumbuh di antara mereka.

....................................

Malam kian larut, menyisakan kesunyian yang mencekam di Westalis. Di dalam kamarnya yang sederhana, Dave tidak tidur. Ia sedang melakukan rutinitasnya: latihan fisik yang brutal.

Ia bertelanjang dada, otot-ototnya yang padat menyembul dan berkeringat di bawah cahaya lampu yang redup. Sebuah tato ular hitam melilit dari pinggang hingga punggungnya, lambang kegarangan yang ia sembunyikan selama ini.

Tiba-tiba, ponsel rahasia di atas meja bergetar. Dave menyambar ponsel itu.

"Luca, bicara," ucap Dave dengan suara dingin.

"Bos, kondisi darurat! Orang-orang Marco kembali bergerak di dermaga. Logistik senjata kita untuk jalur utara dicuri lagi!" Luca terdengar panik di seberang sana.

Dave mendengus kesal. Amarahnya yang tertahan sejak tadi sore menemukan pelampiasannya. "Siapkan helikopter. Aku segera ke sana."

Panggilan terputus. Dengan gerakan secepat kilat, Dave mengenakan kemeja hitam dan jaket taktis. Ia tidak keluar lewat pintu. Dengan ketangkasan seorang pembunuh bayaran, ia melompat dari balkon kamarnya menuju atap gedung apartemen di samping bungalow Fortman.

Di saat yang sama, di kamar sebelah, Celina sedang duduk di depan cermin, menyisir rambutnya. Tak sengaja, ia melihat bayangan hitam melintas dengan sangat cepat di jendela. Ia tersentak, segera menoleh, namun hanya melihat tirai yang melambai ditiup angin.

Dave merapat ke dinding luar, menahan napas. Hampir saja, batinnya. Setelah memastikan kondisi aman, ia melesat pergi di atas atap-atap gedung Westalis.

Di atas gedung tertinggi di blok itu, sebuah helikopter hitam tanpa identitas menunggu dengan baling-baling yang sudah berputar. Luca menyambutnya.

Dave segera melepaskan pakaiannya yang lusuh dan berganti dengan setelan jas mahal karya penjahit terbaik Italia. Dalam sekejap, menantu sampah itu telah bertransformasi menjadi Black Snake, penguasa gelap yang ditakuti.

"Waktuku cuma dua jam sebelum Celina bangun untuk minum air," ucap Dave sembari memasang jam tangan mahalnya. "Katakan padaku, siapa yang memimpin operasi ini?"

"Fabrizio, Bos. Kaki tangan kepercayaan Marco yang dikirim khusus ke Westalis," jawab Luca.

Satu jam kemudian, helikopter mendarat di dermaga rahasia yang tersembunyi di balik teluk kabut. Dave turun dengan dua pistol Glock di masing-masing tangannya. Begitu melihat Fabrizio yang sedang mengawasi anak buahnya memindahkan peti-peti kayu, Dave tidak menunggu.

"Black Snake!" Fabrizio berteriak kaget saat melihat sosok tinggi tegap itu muncul dari balik kegelapan. "Tembak dia! Cepat tembak!"

Hujan peluru pecah di dermaga. Namun Dave bergerak seperti bayangan—tak tersentuh. Ia meluncur di bawah truk, membidik dengan presisi yang mengerikan. Dua tembakan, dua nyawa. Sepuluh anak buah Fabrizio tewas dalam hitungan detik di tangan Dave, sementara Luca dan timnya mengamankan sisanya.

Dave melangkah tenang di atas tumpukan mayat, mendekati Fabrizio yang sudah tersudut dan terluka di kaki. Dengan gerakan kasar, Dave menjambak rambut Fabrizio dan menempelkan ujung moncong pistol yang masih panas tepat di dahi pria itu.

"Siapa yang memberimu akses masuk ke dermaga ini, Fabrizio?" suara Dave sangat rendah, mengandung ancaman kematian yang nyata. "Tidak ada yang bisa masuk ke wilayahku tanpa bantuan orang dalam di Westalis."

Fabrizio gemetar, mulutnya berlumuran darah. "Aku... aku tidak tahu..."

Klik. Dave menarik pelatuk namun pelurunya belum keluar. "Tembakan berikutnya akan membuat otakmu tersebar di air laut ini. Katakan!"

"Arthur... Arthur Desmond!" Fabrizio berteriak ketakutan. "Dia yang memberikan jalur logistik ini sebagai imbalan saham di perusahaan Marco!"

Dave tertegun. Matanya berkilat penuh kebencian. Arthur Desmond? Kakak iparnya sendiri? Si menantu emas kesayangan Theresia Fortman ternyata adalah tikus yang mengkhianatinya.

Dave tersenyum dingin. "Rupanya... keluarga Fortman memang butuh pembersihan total."

Ia menarik pelatuknya. Duar!

Malam itu, di dermaga Westalis yang dingin, sebuah pengkhianatan terungkap, dan sang ular hitam telah menentukan mangsa berikutnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 102 - Warisan Klan Parker (Ending)

    Satu bulan telah berlalu sejak badai berdarah di Roma mereda. Langit sore di atas San Alexandria Barat memancarkan kilau keemasan yang megah, memantulkan sinarnya pada permukaan fasad kaca sebuah mahakarya arsitektur modern yang berdiri angkuh di atas tebing pantai. Bangunan megah tiga lantai itu adalah Miracle Plaza, proyek raksasa yang dulunya dirintis oleh Maximilian Botticelli, namun kini telah jatuh dan rampung sepenuhnya di bawah kendali mutlak klan Parker. Di puncak gedung, logo besar Group Miracle berkilau diterpa cahaya senja, menjadi simbol dominasi baru yang tak tergoyahkan.​Dave Alen Parker berjalan santai di koridor lantai utama yang luas, menggandeng jemari istrinya, Celina Fortman. Langkah kaki mereka menggema di antara pilar-pilar marmer yang masih berbau cat baru. Rencananya, tepat pada malam pergantian tahun baru, plaza ini akan mulai beroperasi secara resmi sebagai pusat perbelanjaan terbesar dan paling mewah di wilayah tersebut.​Celina menghentikan langkahnya,

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 101

    Malam itu juga, tanpa membuang waktu sepeser pun, Dave memerintahkan penyiapan jet pribadinya. Ditemani oleh Luca Cassano dan lima orang bodyguard elit VEGA yang bersenjata lengkap, pesawat jet itu membelah langit malam dari Roma menuju Westalis dalam penerbangan darurat selama dua jam.Tengah malam buta, kesunyian di kediaman Fortman terusik oleh ketukan pintu yang tegas dan beritme khusus. Silvester, yang malam itu berjaga dengan kantuk yang berat, berjalan tergesa-gesa menuju pintu utama. Begitu daun pintu jati itu terbuka, langkah Silvester seketika terkunci.Di ambang pintu, berdiri Dave Alen Parker dengan aura dingin yang pekat laksana kabut hitam, mengenakan kemeja hitam terikat longgar tanpa dasi dengan jas hitam yang disampirkan di bahunya. Silvester dengan gemetar segera membungkuk hormat, memberikan jalan bagi sang Tuan Muda dan Luca untuk melangkah masuk ke dalam rumah."Selamat datang kembali, Tuan Muda Alen," bisik Silvester dengan suara bergetar.Saat Dave dan Luca m

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 100

    Sinar matahari meliuk rendah, menyentuh permukaan air laut yang berkilau laksana hamparan permata cair, menandai senja yang mulai merambat di pelataran belakang Hotel Victoria. Angin pesisir Roma berembus membawa sisa-sisa aroma mesiu dari pertempuran di Jembatan Garibaldi, namun di taman ini, dekorasi bunga mawar putih yang sempat porak-poranda telah ditata kembali dengan presisi yang menakjubkan. Para tamu undangan, setelah melewati ketegangan dari insiden penculikan dan penyamaran Bianca Casio, kini kembali duduk dengan anggun, menanti kelanjutan dari prosesi sakral yang sempat tertunda.Di atas altar, Dave Alen Parker berdiri tegak menantang angin senja. Setelah pembersihan taktis yang melelahkan dan konfrontasi berdarah melawan Georgio Botticelli, ia telah mengganti tuksedonya dengan setelan baru yang luar biasa rapi. Wajahnya yang tegas tampak segar, seolah ia baru saja kembali dari istirahat alih-alih dari medan pertempuran yang mempertaruhkan nyawa. Guratan senyum tipis t

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 99

    Matahari pagi Roma menyinari halaman belakang Hotel Victoria dengan kemegahan yang menakutkan. Kelopak-kelopak bunga mawar putih bertebaran di sepanjang red carpet yang membentang menuju altar. Ratusan tamu undangan dari kalangan elit, mulai dari bangsawan berdarah biru hingga para penguasa industri Eropa, duduk dengan tertib di atas kursi-kursi berbalut kain satin. Di sekeliling perimeter, deretan bodyguard bersetelan hitam dari klan Parker dan tim elit VEGA berdiri dengan posisi siaga, menciptakan barikade yang tak tertembus.​Di depan altar, Dave Alen Parker berdiri tegak dengan setelan tuksedo hitam rancangan desainer ternama Italia. Wajahnya yang rupawan tampak tenang, namun matanya yang tajam tak sedetik pun lepas dari pintu kaca besar hotel. Di sampingnya, seorang pendeta agung Roma memegang kitab suci, siap memimpin prosesi pemberkatan yang sakral ini."Di mana mempelai wanitanya?" tanya pendeta. Para tamu saling pandang. Dave menoleh jam tangannya. Kenapa Celina belum mun

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 98

    Matahari pagi Westalis bersinar terang, namun atmosfer di dalam kediaman Fortman terasa seperti badai yang siap meledak. Seisi rumah bergerak dalam ritme yang tergesa-gesa. Koper-koper kulit besar berjejer di pelataran, siap dimasukkan ke dalam bagasi kendaraan. Lusa adalah hari paling bersejarah—pernikahan antara Celina Fortman dan Dave Alen Parker di Roma.Theresia Fortman berjalan dengan langkah tegas di koridor lantai dua, suaranya melengking memberikan instruksi kepada Jolie dan Jesica. "Pastikan gaun satin sutra dan kotak perhiasan dari Nona Wilson diletakkan di kompartemen khusus! Jangan sampai ada satu permata pun yang tertinggal!"Di balkon luar, Edward dan Arthur tampak sibuk dengan ponsel mereka, berulang kali membungkuk dan meminta maaf kepada para klien bisnis. "Ya, batalkan semua janji temu untuk dua hari ke depan. Keluarga Fortman akan bertolak ke Roma beberapa jam lagi," ujar Edward dengan nada bangga yang sulit disembunyikan.Namun, di balik semua kemegahan dan kes

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 97

    Westalis tenggelam dalam kesunyian tengah malam yang mencekam saat lampu sorot dari Rolls-Royce Phantom hitam membelah kegelapan gerbang kediaman Fortman. Kendaraan mewah itu berhenti dengan presisi di pelataran, namun deru mesinnya seolah membawa aura kematian yang belum tuntas. Silvester, yang berjaga di ambang pintu, tersentak saat melihat Tuan Muda Alen keluar dari kemudi dengan wajah yang lebih gelap dari malam itu sendiri. ​Dave melangkah memutar, membuka pintu penumpang, dan memapah Celina. Wanita itu tampak seperti raga tanpa jiwa; bahunya merosot, tatapannya kosong, dan tubuhnya gemetar hebat dalam balutan jas besar milik Dave yang menutupi gaunnya yang terkoyak di balik sana. "Nyonya! Nona Celina sudah pulang bersama Tuan Muda Alen!" ​Theresia Fortman, yang tertidur gelisah di sofa ruang tengah, langsung terjaga saat Silvester melaporkan kedatangan mereka dengan suara tertahan. Disusul oleh Edward dan Jolie yang muncul dari kamar dengan wajah bantal, mereka semua berh

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 95

    Matahari New San Alexandria Barat menyinari dinding-dinding kaca Plaza Mecco yang berkilauan. Bangunan itu tampak seperti anomali di tengah lahan yang sebelumnya terisolasi, berdiri tegak dengan keangkuhan yang dipaksakan. Maximilian Botticelli berdiri di samping sedan hitamnya, menyesap aroma kem

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 94

    Langit New San Alexandria Barat meredup, namun di dalam penthouse mewah yang terletak di jantung kota, cahaya lampu neon memantulkan aura kegelapan yang pekat. Suara tawa yang menggelegar dan penuh kemenangan pecah dari bibir Maximilian Botticelli. Ia menggoyangkan sebuah benda di tangannya seolah

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 93

    Keheningan di markas rahasia itu bukan sekadar sunyi, melainkan keheningan yang mematikan. Arthur merasa seolah paru-parunya mengecil, setiap helai oksigen yang ia hirup terasa seperti serpihan kaca. Ia duduk terikat di sebuah kursi besi—kursi listrik yang kapan saja bisa menjadi peti matinya jika

  • LELAKI PALING DIINGINKAN    Chapter 89

    Malam di Westalis kian larut, menyelimuti Kediaman Fortman dengan keheningan yang mencekam. Di dalam kamarnya, Celina mondar-mandir seperti singa betina yang terperangkap dalam sangkar emas. Cahaya lampu tidur yang temaram memberikan bayangan panjang yang gelisah di dinding. Pikirannya diracuni ol

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status