LOGINBLURB OF THE STORY Ang simpleng buhay ni Cassey ay biglang nagbago dahil sa isang aksidente. Pagkatapos niyang magising sa pagkaka-comatose ay nagkaroon siya ng partial amnesia. Hindi niya maalala ang mga nangyari bago siya naaksidente. Ngunit kasabay ng pagkakaroon niya ng amnesia ay ang pagkakaroon naman niya ng kakayahang makakita ng mga kaluluwa ng taong namayapa na. Dahil sa bagong kakayahan niyang iyon ay nakilala niya ang kaluluwa ng kamamatay pa lamang na artistang si Dindy Arevalo. Humingi ito sa kanya ng tulong na iparating niya sa fiance nitong si Marcus Monteverde na hindi ito nagpakamatay katulad ng pagkakaalam nito at muling pa-imbestigahan sa lalaki ang dahilan ng pagkamatay ng aktres. Dahil mahirap ang ipinapagawa ng kaluluwa ni Dindy kaya tinanggihan niya ito. Ngunit sa bandang huli ay nagdesisyong siyang tulungan ito dahil na rin sa walang tigil na pangungulit nito sa kanya. Pero paano niya sasabihin kay Marcus na nakikita at nakakausap niya ang fiancee nito at ang tungkol sa nais iparating ng babae dito nang hindi siya magmumukhang nababaliw sa mga mata ng binata? At ano ang gagawin niya ngayong nalalagay sa panganib ang buhay niya dahil sa ginagawa niyang pagtulong sa pagtuklas ng tunay na dahilan ng pagkamatay ni Dindy?
View More"Ahh.... Ayo, Sayang. Ya .... Seperti itu masukkan lidahmu."
Langkah kaki Gamma yang terburu-buru mendadak terhenti. Baru saja ingin meraih gagang pintu kamar yang tak terkunci rapat, tangannya hanya berakhir menggantung di udara ketika suara aneh samar-samar terdengar di telinga.Meski frekuensinya lemah, namun berhasil membuat tubuh lelaki itu menegang.Gamma bukan lagi pria polos yang tak tahu bunyi erotis yang membara dan bergairah. Dia dengan jelas menyadari bahwa itu adalah desahan pasangan yang sedang bercinta.Hari ini adalah hari Sabtu, bukan jadwalnya untuk berkunjung. Namun ada pertemuan mendadak yang harus dihadiri dan Gamma harus mengambil berkas pertemuan tersebut di tempat ini.
Sejak awal, sudah dipastikan bahwa dirinya tak salah kamr. Ini adalah kamar yang ia tuju. Ketika ia datang, pintu apartemen memang terbuka, dan seluruh isi ruangan masih sama seperti sebelumnya, tanpa ada yang berubah sedikitpun.
Seharusnya kamar ini kosong karena pemiliknya sedang berada di luar kota untuk pemotretan. Namun setelah mengetahui bahwa pintu apartemen tidak terkunci, Gamma mengira bahwa kekasihnya sudah kembali. Lalu, mengapa ada suara seperti ini? Dalam hati, Gamma sekali lagi merasa ingin tahu dan meminta penjelasan yang tidak bisa ia jawab sendiri.
"Oh … oh ... astaga ...."Sekali lagi Gamma memejamkan mata, memfokuskan pendengarannya, menangkap gelombang suara lemah yang menggema. Kini terdengar jelas suara perempuan yang lebih dominan, sedang melepas kenikmatan.Tidak salah, telinganya masih berfungsi, Ia yakini itu.Gamma tahu benar, itu suara Rossa—kekasihnya. Air muka pria itu langsung berubah drastis. Rahangnya mengetat bersamaan dengan tangan yang mengepal menampakkan otot-otot dalam jari-jari kekarnya.Tangannya kemudian membuka pintu kamar yang telah terbuka sedikit itu dengan hati-hati, adegan yang terpampang nyata memperjelas bahwa apa yang ia terka sungguh terjadi. Sepasang manusia sedang bergelut di atas ranjang dengan kobaran gairah yang menggelora.Doubleshit, Gamma!Sang tokoh perempuan yang bermain di sana adalah kekasihnya sendiri, Rossa. Sementara laki-laki itu yang berani menyentuh kekasihnya adalah Adam, rekan bisnis yang sering bekerjasama dengannya."Kurang ajar!" desis Gamma tanpa bersuara.Tangan lelaki bernetra hitam pekat itu kembali mengepal lebih kuat. Berani-beraninya mereka mengkhianatinya! Bahkan detik ini, pria itu masih tak percaya jika Kekasih yang ia cintai — memegang komitmennya — telah menyerahkan diri dengan cara menjijikan kepada laki-laki lain.Semurah itu kau, Gamma? Semurah itu kau dipermainkan dibelakang?Decih hinaan telah lolos dari bibir Gamma. Ia tak akan tinggal diam begitu saja. Namun juga tak mau gegabah. Ia akan sedikit bermain dengan sandiwara.Sekarang siapa yang bodoh?Bercinta tapi tak mengunci pintu?Tak tinggal diam, Gamma mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah aplikasi kamera lalu merekam kegiatan panas itu selama beberapa saat. Setelah dirasa cukup, ia meninggalkan apartemen itu dengan kemarahan yang membuncah.Lihat saja, ia akan membalasnya nanti!Sembari berjalan menyusuri lorong menuju lift, Gamma menekan-nekan layar ponselnya kemudian mendekatkan benda pipih itu di dekat telinganya."Batalkan meeting malam ini!"***Pelarian yang paling baik adalah minuman yang membuatmu melayang. Begitulah paham yang dianut seorang Gamma Dirgantara Pranadipta. Ia memang tidak sering melakukannya, kecuali sedang suntuk dan banyak pikiran. Begitu keluar dari apartemen Rosa, ia tak berniat membawa mobilnya pulang ke rumah, pria itu justru menginjak pedal gas, membelah jalanan menuju sebuah hotel sekaligus tempat hiburan malam.Tempat bermalam dan pelampiasan.Sebuah botol vodka sudah berada di tangan kanannya. Kemeja yang tadinya rapi telah kusut dengan kancingnya sudah terbuka dibagian atas, rambut yang acak-acakan, dan mata yang sembab akibat air mata yang keluar terlalu banyak. Hatinya patah, batinnya dikecewakan."BAJINGAN KALIAN!" teriak Gamma frustasi setelah meneguk vodka beberapa kali Entah sudah berapa botol, pria itu seakan tak peduli dengan kesehatannya sendiri.Sungguh, malam ini pria itu sangat kacau.Hey! Bagaimana tidak?Beberapa minggu lagi, seharusnya ia sudah mengikatkan janji suci sehidup semati itu dengan wanita pujaannya di depan altar. Namun sebelum hari pernikahannya, ia justru melihat perbuatan menjijikkan calon istrinya sendiri.Per-ni-ka-han.Kata itu bukanlah hal yang main-main baginya. Selama ini, Gamma dan keluarganya sudah mempersiapkan hari bahagia itu dengan sebaik mungkin. Semua rekan kerjanya, kolega bisnisnya sudah ia undang.Namun naas, kini upacara sakral yang telah ia rencanakan dengan indah itu hanya tinggal sebuah angan.Gamma kehilangan kepercayaannya. Perempuan itu menjatuhkan harga dirinya bagai barang bekas pakai di pasar loakan. Namanya Rossa, tapi tak mengartikan kecantikan mawar sedikitpun. Yang bisa Gamma lihat sekarang hanyalah durinya yang setiap detik menusuk siapapun yang mengaguminya.Gamma mengambil napas. Jika itu permainan Rossa. Sekarang ia juga akan membalasnya! Dengan uang yang dimiliki, ia juga bisa bermain di belakang! Mau berapa perempuan? Sepuluh pun ia sanggup membayar semua perempuan itu!Dengan terhuyung-huyung, Gamma berjalan menuju meja di sudut kamar. Kemudan ia meraih benda pipih berwarna hitam itu lalu menghubungi nomor seseorang.[“Ya, Gamma? Kau perlu bantuan?”] tanya seorang wanita di seberang sana. Itu adalah Madam Lily—pemilik Nine Night Club yang cukup besar di kota ini, juga club yang sering Gamma datangi ketika meeting dengan rekan bisnisnya."Aku pesan satu untuk malam ini," ujar pria itu pada intinya.Satu? Satu apa?["Tunggu dulu. Kau mabuk?"]"Aku sadar! Beri aku satu wanita yang terbaik!" Kalimat Gamma barusan bukan terdengar meminta, lebih tepatnya menyuruh.["Apa kau sedang bertengkar dengan Rossa?"] tanya Madam Lily memastikan bahwa Gamma memang dalam keadaan kurang baik. Wanita itu telah mengenalnya bertahun-tahun. Tidak pernah sekalipun Gamma menyewa wanita penghibur."Jangan banyak bertanya, Madam! Aku minta malam ini juga, kirim ke kamar nomor 405!"Helaan napas kasar terdengar dari Madam Lily. ["Baiklah, baiklah, aku akan mengirimnya ke kamarmu dan akan kuhadirkan yang terbaik untukmu malam ini, namanya Laura, tunggulah beberapa saat lagi ia akan sampai."]Sambungan diputus sepihak, Gamma lantas melemparkan ponsel itu ke sembarang arah. Ia meneguk minumannya kembali. Persetan dengan semua agenda yang telah ia siapkan besok! Salah siapa gadis itu—ralat wanita itu— mengkhianatinya mendekati hari pernikahan? Cinta tulusnya dibalas dengan pengkhianatan.Gamma harus bersenang-senang dahulu, sebelum melakukan pembalasan kepada wanita yang sempat menjadi pujaan hatinya itu.Suara pintu diketuk membuat Gamma yang sudah kalap dengan minuman alkoholnya menoleh. Setengah sadar ia membuka pintu dan menyuruh orang itu masuk. Seorang perempuan cantik, berpakaian seragam hotel nampak takut dengan sikap Gamma yang seakan lupa dunia."Permisi, Tuan, saya—" napas wanita itu seakan tersangkut ditenggorokan, bersamaan dengan Gamma yang malah menariknya masuk ke dalam kamarnya. Hampir saja, botol yang dipegangnya lolos dari genggaman tangan."Tak perlu memperkenalkan diri, Sayang, aku sudah tahu namamu," katanya berbisik parau. Dalam pandangannya perempuan yang berdiri itu tidak terlihat sebagai pelayan hotel, melainkan seorang perempuan berpakaian seksi. Karena nyatanya baju yang digunakan perempuan itu tak ada bedanya dengan baju para wanita penghibur.Gamma sudah membara, sementara perempuan itu mendadak pucat pasi."Saya— saya hanya mengantarkan pesananmu, Tuan." Perempuan itu meletakkan sebotol vodka di atas nakas. Berniat mencari celah, perempuan berbadan ramping itu berusaha meloloskan diri, akan tetapi tangan Gamma lebih cepat dari gerakannya.Sejurus kemudian Tangan Gamma bergerak membuka kancing kemejanya sendiri. Sementara perempuan itu berjalan mundur."Lauraa," racaunya lagi seraya mencekal tangan perempuan itu. "Aku sudah menunggumu begitu lama, ayo kita mulai saja." Gamma kini meloloskan kemejanya sendiri. Memperlihatkan otot-otot perutnya yang tiak bisa membuat kaum wanita berpaling."Maaf, Tuan, Anda salah orang, saya Serra bukan Laura!" Perempuan bernama Serra itu meronta dengan seluruh tenaganya, namun tak menghasilkan apa-apa, tenaga Gamma terlalu kuat untuk ia tandingi.Gamma mendecakkan bibirnya. "Persetan dengan namamu, yang aku mau kita bersenang-senang malam ini, Sayang. Dia mengkhianati aku dan aku akan membalaskan sakitku hari ini!""Lepaskan aku!" teriak perempuan itu lagi. Namun cekalan Gamma begitu kuat, pria itu menariknya dan mendorong tubuhnya jatuh di atas ranjang, lalu mengungkung tubuh mungilnya, mengunci pergerakannya. Lelaki itu segera mendaratkan bibirnya dengan rakus, menjamah setiap inci tubuh Serra tanpa permisi tak peduli perempuan di bawahnya sedang meronta ketakutan."Jaga sikapmu, Tuan!" Serra melayangkan sebuah tamparan keras di pipi Gamma. Tapi percuma menampar orang mabuk. Tamparan itu malah terasa seperti belaian.Gamma justru menyeringai, menampilkan senyum smirknya sekilas. Ia terlihat mengerikan di mata perempuan yang mengaku bernama Sera itu. "Sentuh aku, ayo sentuh aku!""Kumohon berhenti! kau salah orang!" Serra terus meminta dengan air yang tak dapat terbendung lagi di wajahnya. Seiring dengan Gamma yang berusaha melebarkan kedua pahanya dengan paksa."Aku sudah membayarmu dengan harga mahal! Puaskan aku!"Kung pakiramdam ni Cassey ay nagkamali lamang siya ng dinig kanina nang humingi sa kanya ng sorry ang binata ngayon naman ay tila siya nabingi siya sa dalawang pangungusap na sinabi nito. Bahagyang napaawang ang kanyang mga labi sa hindi inaasahang maririnig mula sa bibig ng binata. May gusto sa akin si Marcus? Imposible. Paano nangyari iyon? Talagang hindi makapaniwala si Cassey sa ginawang pag-amin ng binata sa tunay nitong nararamdaman sa kanya. Paano ba naman kasi siya maniniwala gayong lagi itong galit sa kanya at iniinsulto siya palagi sa tuwing magkikita silang dalawa? Hindi kaya sinabi lamang nito ang mga salitang iyon dahil ayaw talaga nito na makipaglapit siya kay Alex? Dahil iniisip nito na pera lamang ang habol niya sa kaibigan nito kaya siya nakipaglapit sa matalik nitong kaibigan? Kung iyon ang dahilan kung bakit nito nagawang sabihin ang mga salitang iyon ay hinding-hindi niya ito mapapatawad.
Naglalakad si Cassey palabas ng kanilang school gate nang marinig niyang may tumatawag sa pangalan niya. Nang lumingon siya ay natuklasan niya si Jeremy iyon. Ang ka-schoolmate niyang nanliligaw rin sa kanya. Mayaman, guwapo at matalino ito pero hindi ito katulad ng ibang lalaki na mayabang porke't nagtataglay ng mga katangiang nakakaangat s iba. Hindi niya ito ma-prangka na wala itong aasahan sa kanya dahil mabait naman ito sa kanya. Kung natuturuan nga lang ang puso ay tinuruan na niyang umibig dito. Pero hindi,eh. Iba ang nilalaman ng kanyang puso. Ibang lalaki ang gusto niya ngunit hindi naman niya maaaring mahalin. Maliban sa may ibang babae itong gusto ay masasaktan pa niya ang damdamin ng kanyang kapatid kapag ipinagpilitan niya ang kanyang nararamdaman. "Cassey, uuwi ka na ba?" hinihingal na tanong ni Jeremy sa kanya. Siguro malayo na siya nang makita nito kaya hinabol na lamang siya. "Oo. Uuwi na ako
Nakasalubong ni Cassey ang matalas na paningin ni Marcus nang lumingon siya."What are you doing here, Alex?" tanong ni Marcus sa kaibigan ngunit sa kanya naman nakatutok ang nagtatanong na mga mata."Hi, Marcus. Nandito rin pala kayo ni Glenda," nakangiting sagot naman ni Alex. Ewan kung nahahalata nito o kung nagkukunwari lang na hindi nito nahahalata ang madilim na mukha ng kaibigan."We're on a date," sagot naman ni Glenda kahit hindi ito ang tinatanong ng ka-date niya. Tinaasan siya nito ng kilay ngunit hindi na lamang niya niya pinansin."What are you doing in this kind of place?" muling tanong ni Marcus. But this time, she is very that his question was meant for her and not to his friend, Alex."Ano pa ba ang gagawin namin dito kundi ang kumain? Bakit? Bawal ba kaming kumain dito?" nakasimangot niyang sagot. Na-insulto kasi siya sa paraan ng pagtatanong nito na para bang sinasabi nito na hindi siya bagay sa lugar na iyon.Lalo n
Mag-aalas-siyete pa lamang ng gabi ay nasa harapan na ng pintuan ng bahay ni Cassey si Alex at kumakatok sa pintuan. Kasalukuyan pa lamang siyang nag-aayos ng kanyang sarili nang marinig niya ang pagkatok ng lalaki. Nagmamadaling kinuha niya ang kanyang bathrobe at ipinatong sa suot niyang pulang spaghetti strap na dress."Nandiyan na si Alex, Cassey," pagbabalita sa kanya ng kaluluwa ng kanyang ate na biglang na lamang sumulpot sa kanyang harapan at pagkatapos ay bigla ring naglaho.Basta na lamang nawawala at sumusulpot ang kaluluwa ng kapatid sa kanyang harapan. Mabuti na lamang at sanay na siya sa ganoong ginagawa nito kaya hindi na siya nagugulat pa. Pagkatapos niyang tingnan ang sarili sa harapan ng salamin ay mabilis na siyang lumabas ng kuwarto niya para pagbuksan ng pintuan ang kumakatok."Hi, Cassey. Good evening," nakangiting bati sa kanya nang pagbukas ng pintuan. "Sorry kung medyo napaaga ako ng dating," pauma
Sa pangalawang pagkakataon ay nagising si Cassey sa loob ng kuwarto ni Marcus. Pagmulat ng mga mata niya ay agad niyang nalaman na ito ang lalaking tumulong sa kanya dahil kuwarto nito ang nabungaran ng kanyang mga mata pagmulat niya. Bumngon siya sa pagkakahiga ngunit hindi siya umalis sa ibabaw
Mula sa mahimbing na pagkakatulog sa malambot na kama ay biglang nagising si Cassey dahil sa tama ng sikat ng araw sa kanyang mukha na nagmumula naman sa bukas na bintana ng kuwartong kinaroroonan niya. Saglit na kumunot ang kanyang noo nang mapansin na tila hindi pamilyar sa kanya ang
"Ano, parating na ba ang fiance mo, Dindy?" Halos mag-iisang oras nang naghihintay malapit sa nakaparadang kotse ni Marcus sina Cassey at Clea kasama ang kaluluwa ni Dindy. Hinihintay nilang lumabas ang lalaki sa building na pag-aari nito para masagawa na nila ang kani
Isang Linggo na ang nakalilipas magmula nang malaman ni Cassey ang tungkol sa pagpanaw ng paborito at iniidolo niyang artista ngunit hindi pa rin siya maka-get over hanggang sa mga sandaling iyon. Talagang hindi siya makapaniwala na patay na si Dindy Arevalo. At mas lalong hin
reviews