LOGINVivan dan Daus membawa buah kelapa muda ke saung untuk dimakan ramai-ramai. Cuaca hari ini benar-benar panas dan panen sayuran sudah selesai, mereka saat ini tengah menanam bibit yang baru di lahan yang baru juga soalnya tanah yang dulu di tanam ada hamanya dan akan diganti dengan bibit yang lain. Katanya sih mau ditanam bibit kacang panjang dan yang sebagian tanahnya akan diistirahatkan selama dua minggu sambil menunggu pupuk kompos racikan Arumi benar-benar matang.
Tadi pagi-pagi sSudah hampir seharian Vivan menghabiskan waktu di rumah tanpa melakukan sesuatu yang berarti. Libur dari pekerjaan di ladang Arumi memang terasa menyenangkan pada awalnya, ia bisa bangun lebih siang, menikmati sarapan tanpa terburu-buru, dan menghabiskan waktu dengan ponsel atau memainkan biola saat suasana hari sedang cocok. Namun, setelah beberapa hari, kegiatan berdiam diri di rumah itu justru membuatnya bosan.Vivan bukan tipe orang yang betah berdiam diri terlalu lama. Terlebih, lingkungan tempatnya tinggal sekarang masih terasa asing meskipun sebenarnya merupakan kampung halamannya sendiri. Belasan tahun tidak mudik membuat banyak hal berubah. Beberapa tempat yang dahulu dikenalnya bahkan sudah tidak lagi sama.Sambil duduk di teras, ia memperhatikan jalanan di depan rumah. Beberapa sepeda motor melintas, disusul seorang pedagang keliling yang mendorong gerobaknya. Pemandangan sederhana itu tidak cukup menarik perhatiannya.Vivan jadi kangen panas-panasan di sawah. Kapan ya Arum
Minggu sore seharusnya menjadi waktu paling menyenangkan untuk bersantai. Namun bagi Vivan, sore itu justru berubah menjadi sebuah bencana kecil. Ia menatap layar laptopnya dengan ekspresi tidak percaya. Ikon jaringan internet di sudut layar menunjukkan tanda seru. Sementara modem di atas meja berkedip dengan lampu merah yang seolah memberikan peringatan pada Vivan supaya cowok itu peka."Serius habis sekarang?" gumamnya.Vivan membuka aplikasi penyedia layanan internet di ponselnya. Benar saja, paket datanya sudah mencapai batas pemakaian. Padahal, beberapa jam lagi ia harus mengajar biola secara daring kepada salah satu muridnya yang minggu depan akan mengikuti lomba antar sekolah.Vivan mengembuskan napas panjang. Mengisi paket internet sebenarnya bukan masalah besar. Namun, karena Vivan tidak punya kendaraan dan ia belum begitu tahu letak konter, apalagi sekarang Daus sedang tidak ada, jadi Vivan bingung harus bagaimana.Kepalanya tiba-tiba teringat akan ucapan kakeknya kalau Arum
Vivan terperanjat dari tidurnya gara-gara barusan ia memimpikan Inditha. Tidak ada angin tidak ada hujan, padahal Vivan sudah tidak ingat sama sekali dengan mantannya itu tapi Inditha malah hadir dalam mimpi yang membuat Vivan kembali teringat masa lalu.Sebenarnya mimpinya biasa saja, tapi Vivan seperti mimpi buruk. Soalnya di dalam mimpi, Inditha tiba-tiba ngajak balikan dan mereka pun hendak mengadakan pesta pernikahan. Untung saja Vivan keburu bangun. Bagaimana coba kalau di dalam mimpi Vivan dan Inditha sampai benar-benar ijab kabul. Di dunia nyata pasti Vivan akan kepikiran terus.Gara-gara mimpi itu, sampai subuh Vivan tidak bisa tidur. Dan sekarang saat jam tujuh pagi, Vivan benar-benar ngantuk berat. Untung saja di ladang sekarang hanya kerja menanam kacang tanah, kacang kedelai dan kacang panjang, serta ubi jalar. Arumi tidak menanam lagi sayuran karena harga sayuran sekarang sedang anjlok parah. Paling Arumi hanya menanam sayuran yang masa tanamnya cepat.Pukul sebelas, Viv
Seharian ini Vivan hanya duduk-duduk saja di teras belakang rumah kadang juga di ruang tengah untuk menonton televisi. Hari ini tidak ada kegiatan, semalam Arumi memberikan kabar kepadanya kalau besok tidak usah datang ke ladang karena tidak ada pekerjaan. Sebenarnya Vivan ingin main, ke mana saja gitu, tapi tidak ada kendaraan. Lagipula Vivan tidak tahu tempat-tempat di sini, kalaupun Vivan pergi naik sepeda milik kakeknya, bisa-bisa Vivan nyasar. Tapi jangan kejauhan, sih, soalnya Vivan pasti tidak kuat menggoes sepeda di jalan yang menanjak."A Vivan, hayu kita mancing." Daus tiba-tiba datang ke halaman belakang sambil membawa dua pancingan."Mancing di mana?" tanya Vivan. "Sini duduk dulu.""Mancing di sungai. Teh Arumi juga ikut, kok. Katanya nanti nunggu di dekat selokan."Vivan mengamati joran pancing milik Daus dan melihat mata kailnya yang sangat kecil. "Ikan apaan yang segede gini?""Ikan beunteur, ikan uceng, banyak deh yang kecil. Udang juga suka dapet."Ah, Vivan ingat wa
Vivan terbatuk-batuk sambil meringkuk di dalam selimut tebalnya. Hari ini Vivan demam cukup tinggi gara-gara kemarin hujan-hujanan dan mandinya pakai air dingin, selain itu ia telat makan yang malah makin memperburuk kondisi tubuhnya."Nini sudah ngasih tau Neng Arumi kalau kamu sekarang gak bisa bantu di ladang. Kamu sekarang istirahat saja. Mau makan bubur sekarang gak?" tanya Nini Uju.Kepala Vivan menggeleng. "Nggak, Ni. Nanti aja makannya. Sekarang Vivan mau lanjut tidur lagi."Nini Uju mengganti kain kompresan dengan plester kompres yang tadi beli di warung Pak Haji—supaya tidak harus bolak-balik diperas biar kainnya tetap basah."Ya sudah, Nini mau ke dapur lagi. Hari ini Nini nggak akan pergi ke mana-mana, mau nemenin kamu. Kalau butuh sesuatu, kamu pukul-pukul aja kaleng ini, ya?"Vivan hanya mengangguk dan matanya tetap terpejam.***"Vivan beneran demam karena kemarin hujan-hujanan?" tanya Bi Onah."Iya," jawab Arumi. "Kemarin hujan-hujanan sama anak-anak juga. Wajahnya kel
"Kamu bisa pegang pacul gak?" tanya Arumi saat Vivan sedang menyirami semaian sawi dan tomat.Vivan mengangguk. "Bisa," jawabnya datar. "Cangkul, kan?" Meskipun ia tidak pernah praktek, tapi ketika melihat Daus, kakeknya dan ayahnya Arumi memegang cangkul sepertinya Vivan bisa. "Ya gampang lah.""Kamu beneran bisa macul?" tanya Arumi lagi untuk memastikan. Kalau nanti Vivan sampai salah mencangkul dan malah mengenai kakinya bagaimana, coba?"Kamu meragukan aku?" Vivan bertanya dengan nada yang tidak suka. Kali ini Vivan harus membuktikan pada Arumi kalau dirinya bisa dan berguna."Kalau kamu memang beneran bisa, tolong kamu cangkul bedengan bekas pohon cabe itu.""Oke!" Vivan mengambil cangkul dari tangan Arumi kemudian ia menghampiri Daus yang juga tengah mencangkul bedengan sambil mencabuti pohon cabai yang waktu itu dicuri.Olah TKP sudah selesai dan Arumi diperbolehkan untuk mengolah lahannya lagi. Meskipun pencurinya belum tertangkap tapi ya semoga ada titik terang di kejadian in







