LOGIN“Ayah!” panggil Rocella saat ia memasuki ruang kerja Wilder. Langkahnya sempat terhenti ketika melihat Daphne juga berada di sana. Namun dengan cepat ia merapikan ekspresinya dan membentuk senyum lembut di wajahnya. “Oh, Ibu juga ada di sini,” katanya ringan sebelum berjalan mendekat dan duduk di sofa di dekat kedua orang tuanya. Daphne menatapnya dengan penuh perhatian. “Bagaimana pestanya? Apa kau bertemu kakakmu?” Rocella mengangguk. “Ya, aku bertemu Kakak. Pestanya juga cukup menyenangkan,” jawabnya santai. “Bahkan aku mulai berpikir untuk tinggal lebih lama di istana.” Saat mengatakan itu, bayangan wajah Lucas sempat terlintas di pikirannya. Namun ekspresi cerahnya perlahan memudar ketika ia teringat bagaimana pria itu tadi menyuruhnya pergi agar bisa berbicara berdua dengan Madeleine. Rocella menghela napas pelan. “Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” tanya Daphne dengan suara lembut dan tatapan penuh perhatian. Rocella segera menggeleng pelan. “Tidak ada, Ibu. A
Lucas terus memikirkan hubungan antara Madeleine dan Alaric. Ia bahkan tidak diberi kesempatan mengetahui apa yang sebenarnya mereka bicarakan atau rencana apa yang sedang disusun wanita itu. Dulu Madeleine selalu berbicara panjang lebar kepadanya tentang berbagai hal, sampai ia merasa bosan dan berharap wanita itu berhenti berceloteh. Namun sekarang justru sebaliknya, sikap Madeleine yang dingin dan tak acuh membuat dadanya terasa panas oleh kejengkelan yang sulit ia abaikan. “Kael, panggil Edwig kemari! Kenapa dia tidak lagi melaporkan apa yang dilakukan Putri Mahkota beberapa hari ini?” seru Lucas. Ia menatap Kael dengan tajam. Namun Kael tetap berdiri tenang sebelum menjawab, “Akhir-akhir ini Yang Mulia memang sangat sibuk. Selain itu, Edwig sedang menjalankan tugas di wilayah timur dan sampai sekarang belum kembali.” Lucas terdiam sejenak, baru menyadari bahwa ia memang yang memberi perintah itu. “Begitu dia kembali, suruh dia langsung menemuiku,” ujar Lucas tegas.
Bab 104. Madeleine terdiam beberapa detik setelah mendengar pertanyaan itu. Bukan karena tersinggung, melainkan seolah sedang menimbang apakah pertanyaan tersebut memang layak ia tanggapi.Akhirnya ia tersenyum tipis.“Lady Moore,” ujarnya tenang, “aku tidak menyadari bahwa kau begitu tertarik pada perubahan perasaan orang lain.”Nada bicaranya ringan, hampir terdengar santai, tetapi tatapannya tetap tajam.Rocella membalas dengan senyum yang sama halusnya. “Bukan karena saya tertarik, Yang Mulia,” katanya. “Hanya saja Anda menolak Yang Mulia Lucas begitu terang-terangan di depan saya.”Ia melanjutkan dengan nada yang seolah polos.“Padahal saya cukup tahu bagaimana dulu Anda sangat terobsesi pada beliau.”Sambil berkata begitu, Rocella melirik sekilas ke arah Lucas, mencoba menangkap reaksi pria itu.Kemudian ia memiringkan kepalanya sedikit, senyumnya masih terpasang.“Atau mungkin sekarang Anda sudah menemukan orang lain untuk dikejar,” lanjutnya pelan, “setelah tidak lagi mendapa
Tatapan dingin Lucas membuat Rocella segera menyadari bahwa ia telah melangkah terlalu jauh. Namun di tengah para bangsawan yang berdiri tidak jauh dari mereka, ia tentu tidak bisa menunjukkan rasa tersinggungnya.Senyum tipis pun kembali menghiasi wajahnya.“Tentu saja, Yang Mulia,” ujarnya lembut. “Saya hanya berpikir akan terlihat lebih sopan jika Anda menyapa mereka lebih dulu di hadapan para bangsawan.”Ia menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat.“Namun tentu saja, keputusan itu sepenuhnya ada pada Anda.”Rocella lalu melirik sekilas ke arah balkon tempat Madeleine masih berbincang dengan Duke Alaric.“Lagipula,” lanjutnya ringan, “saya yakin Putri Mahkota akan senang menyambut Anda kapan pun Anda memutuskan untuk menghampirinya.”Di balik senyum sopannya, jemari Rocella menggenggam gaunnya sedikit lebih erat.Lucas tidak lagi menoleh padanya.“Jika kau ingin menyapa mereka lebih dulu, silakan.”Nada suaranya tenang, namun jelas siapa yang memegang kendali dalam percakapa
Madeleine menatap Alaric beberapa saat. Sorot matanya tetap tenang, seolah memastikan pria itu benar-benar serius dengan ucapannya.Setelah beberapa detik, senyum tipis muncul di bibirnya.“Saya bisa saja memberi tahu apa yang saya ketahui,” katanya ringan. “Namun apakah itu akan langsung membuat Anda mempercayainya?”Madeleine menjeda sebelum melanjutkan, “Lagipula, apa yang saya miliki baru sebatas perkiraan. Itu bisa saja benar, tapi bisa juga meleset.”Madeleine lalu mengangkat satu jari, seolah menandai sesuatu.“Satu informasi, satu alasan untuk percaya. Dengan begitu, saya bisa mendapatkan kepercayaanmu seutuhnya.”Alaric menatapnya dalam diam. Ia tidak langsung menjawab, seolah menimbang kata-kata Madeleine dengan hati-hati. Ia masih belum sepenuhnya yakin. Namun rasa penasarannya jelas belum hilang.“Namun sebelum itu, saya ingin tahu satu hal,” kata Alaric. “Jika saya berdiri di pihak Anda, apa yang sebenarnya menjadi taruhannya bagi saya?”Madeleine jelas menangkap kecuriga
Istana tidak pernah benar-benar sepi. Di tengah ramainya acara setelah puncak musim panas, Madeleine menyadari seseorang yang tampak familiar.Alaric berjalan mendekat, melewati kerumunan kecil di sekitarnya.“Anda tidak mengatakan akan datang menemui saya, Tuan Alaric,” ujar Madeleine dengan senyum sopan.Alaric menunduk singkat sebagai salam. “Saya baru saja menyelesaikan urusan dengan Putra Mahkota. Kebetulan saya memang ingin berbicara dengan Anda.”Madeleine sempat terdiam sejenak. Kejujuran Alaric yang langsung pada tujuan itu cukup mengejutkannya, tetapi ia segera menenangkan ekspresinya kembali.“Begitu, ya? Jadi, bagaimana dengan saran yang saya berikan waktu itu, Tuan?” tanya Madeleine, beralih ke topik yang lebih serius. “Saya dengar tempat itu sempat diserang.”“Perkiraan Anda tepat, Yang Mulia,” jawab Alaric. Nada suaranya tenang, tetapi tatapannya menunjukkan rasa hormat yang tulus. “Itulah yang ingin saya bicarakan dengan Anda. Langkah pencegahan yang Anda sarankan te







