MasukSiang itu, Alaric datang menemui Madeleine di taman dekat Paviliunnya. "Kemarin ibu saya datang mengganggu Anda soal kandidat calon istri saya. Saya ke sini untuk meminta maaf atas tindakannya," ujar Alaric membuka percakapan. "Tidak masalah. Sudah menjadi salah satu tugas saya untuk membantu memberikan masukan," balas Madeleine tenang. Ia terdiam sejenak sebelum memancing, "Anda sendiri sudah melihat daftar kandidatnya?" Alaric mengangguk pasti. "Sudah." Melihat respons tenang itu, Madeleine semakin yakin ada yang tidak beres. "Maaf, tapi saya merasa semua ini bukan sekadar kebetulan. Saya tahu Anda tidak pernah tertarik dengan perjodohan seperti ini. Anda hanya ingin menikah jika sudah yakin pada wanitanya." Alaric terdiam. Netranya bergerak waspada, mengedarkan pandangan ke sekeliling seperti sedang mengintai sesuatu. "Tidak ada orang dalam radius sepuluh meter dari sini," potong Madeleine, membaca situasi. "Semua pelayan sudah saya perintahkan menjauh, bahkan pelayan p
Lucas merunduk, mengecup lama permukaan perut Madeleine yang sedikit membuncit itu dengan penuh kasih. Tak berhenti di sana, ia melanjutkan dengan kecupan-kecupan kecil di sekitar area tersebut, sukses membuat Madeleine menggeliat karena merasa geli sekaligus terangsang. Tangan Madeleine terangkat, jemarinya bergerak memainkan rambut Lucas yang terasa agak kasar di sela-sela jarinya. "Kau seharusnya tidak menghabiskan terlalu banyak waktu di luar ruangan," ujar Madeleine di sela helaan napasnya yang kian berat. "Kenapa?" tanya Lucas, mendongak untuk menatap langsung mata Madeleine. Namun, tangannya tidak tinggal diam, jemari pria itu menyusup turun, sibuk mengelus kulit sensitif di paha bagian dalam Madeleine. Sentuhan itu seketika membuat seluruh tubuh Madeleine bergetar halus. Ia terpaksa menggigit bibir bawahnya demi menahan lenguhan yang hampir lolos. "Kenapa aku tidak boleh terlalu lama di luar, Maddie?" tanya Lucas lagi, kali ini dengan suara yang terdengar jauh leb
Madeleine duduk cukup lama, merenungkan informasi yang baru diterimanya. Namun, setelah dipikir kembali, semuanya terasa biasa saja. Tidak ada hal yang mencurigakan. Ini hanya sebuah perjodohan politik biasa, tidak lebih. Ia memijat keningnya yang sedikit pening. "Mungkin aku saja yang terlalu banyak berpikir." Ia lalu bangkit dan berjalan ke kamarnya. Begitu sampai di sana, ia tidak melihat Lucas. Menurut pelayan, Lucas sudah pindah ke kamarnya sendiri untuk beristirahat. Madeleine segera menyusul ke kamar Lucas. Ia membawa kembali balsem herbal untuk melanjutkan pengobatan punggung pria itu yang tadi sempat tertunda. Saat pintu dibuka, Lucas ternyata sudah ada di sana, duduk tegak seperti memang sedang menunggunya. "Aku mencarimu di kamarku, ternyata kau di sini. Bagaimana punggungmu? Sudah lebih baik?" tanya Madeleine sambil mendekat. "Sudah mendingan," jawab Lucas. Namun, matanya menatap Madeleine dengan sorot penuh rasa penasaran. "Ada apa?" tanya Madeleine bingung.
Madeleine mendorong bahu Lucas pelan, lalu mengusap wajahnya sendiri. Mereka bertukar pandang sejenak."Untuk apa dia datang kemari?" tanya Lucas. Sepertinya ia masih kesal dengan pertemuan terakhir mereka."Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan yang mulia putri," jawab Erin dari luar kamar."Bilang saja putri mahkota sedang sakit, suruh dia pulang," sahut Lucas."Tidak perlu. Aku akan menemuinya," kata Madeleine.Lucas tampak keberatan. "Lalu punggungku bagaimana? Kau mau meninggalkanku begini saja?""Jangan dramatis. Aku harus menemuinya, tidak baik membiarkan seorang duchess menunggu terlalu lama," ujar Madeleine.Lucas mendengus kesal dan memalingkan wajah."Aku akan segera kembali," kata Madeleine, lalu keluar setelah memastikan penampilannya rapi.Katarina sudah menunggu, tampak elegan dalam gaun duchessnya."Nyonya duchess, maaf membuat anda menunggu," sapa Madeleine."Tidak masalah, yang mulia. Saya baru beberapa menit di sini," jawab Katarina."Jadi, ada keper
Madeleine masih menatap mata tajam itu."Aku ingin kau tetap jadi kaisar," jawabnya pelan."Kenapa jawabanmu tidak yakin begitu?" tanya Lucas."Aku ingin kau jadi kaisar. Jangan mundur!" ujar Madeleine tegas."Kalau begitu jangan ragukan aku. Aku bukan orang yang bingung dengan pilihanku. Jika aku mau, aku akan memegangnya terus. Jika kau ragu seperti ini, penjelasan dan tindakan apa yang harus aku lakukan agar kau percaya?""Jangan terlibat lagi dengannya, apa pun yang terjadi."Lucas menarik Madeleine ke dalam pelukannya. Namun Madeleine tidak membalas."Apa pun yang kau inginkan.""Kalau kau ingkar?""Lakukan saja yang kau mau padaku," tukas Lucas."Meninggalkanmu, apa itu juga masuk hitungan?"Lucas menegang. Madeleine bisa merasakan tubuh pria itu mengeras. Ia mendorong pelan bahu Madeleine."Katakan sekali lagi?"Madeleine tidak gentar pada tatapan mengintimidasi itu."Jika kau ingkar, aku akan pergi darimu. Menikahlah dengan orang yang bisa menerima sikap baikmu pada wanita lai
"Menurutmu siapa yang lebih dulu kupikirkan?" Madeleine menatapnya selama beberapa detik sebelum menjawab pelan, "Bukan aku." Sesaat, sesuatu berubah di wajah Lucas. "Bukan kau?" Ia mengulanginya dengan nada tidak percaya. "Jadi setelah semua yang terjadi, itu yang kau pikirkan?" suaranya merendah. "Setelah semua yang kulakukan untukmu?" Madeleine tidak menjawab. "Kau masih meragukan apakah aku peduli?" Lucas menatapnya tajam. "Kau masih harus menebak-nebak siapa yang ada di pikiranku?" Madeleine memalingkan wajah. Lucas segera menahan dagunya dan memaksanya menatap ke arahnya. "Apa kau akan terus hidup seperti ini?" tanyanya. "Menanyakan sesuatu yang jawabannya sudah jelas?" Madeleine tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip luka daripada kebahagiaan. "Karena hari ini kau membuatku meragukan sesuatu yang selama ini kuanggap pasti." Lucas terdiam. "Madeleine …," lirihnya kemudian. "Sepertinya kau sudah tahu apa yang membuatku terluka." Tatapan Madeleine dipenuhi kepahita







