Home / Romansa / Lagi, Pak Dosen / Bab 7 Sebuah Rumor

Share

Bab 7 Sebuah Rumor

Author: Manila Z
last update publish date: 2025-12-17 00:40:31

Rumor tentang Gea berada di perpustakaan bersama dengan Stafano kini kian menyebar. Semuanya karena Satpam itu yang membicarakan ini pada penjaga lainnya.

Bahkan mahasiswa lain juga ada yang ikut mendengar rumor tersebut.

"Tidak menyangka yah, Gea orang yang seperti itu."

"Demi nilai, dia merendahkan dirinya sendiri," bisik yang lainnya.

Banyak sekali orang yang membicarakan tentang dirinya. Semuanya saling berhubungan satu sama lain. Bahkan dia tidak yakin semuanya jadi seperti ini.

Gea melewati orang-orang yang membicarakan dirinya, ada rasa malu dan rasanya dia ingin pergi dari sini.

Bruk

Gea tidak sengaja menabrak dada seseorang karena terburu-buru.

"Aw..."

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Stefano yang kini menatap kearah Gea.

Gea langsung bersidekap menatap kearah Stefano dengan pandangan yang sedikit sinis.

"Pak Stefano sengaja yah nabrak saya?" tuduh Gea.

"Justru kamu yang sengaja menabrak saya," kata Stefano dengan santai.

Seketika Gea teringat dengan rumor tentang dirinya. Dia langsung memberitahu Stefano tentang rumor itu.

"Pak Stefano sudah tahu, itu satpam yang waktu itu tengah menyebarkan rumor tentang kita, banyak orang yang salah paham," kata Gea.

"Kenapa begitu?"

"Iya mana saya tahu, Pak!" dengus Gea.

Sampai tak lama kemudian, seorang dosen wanita yang begitu sangat cantik dan modis itu menghampiri mereka berdua.

"Pak Stefano," panggil wanita tersebut.

Stefano melirik kearah wanita tersebut. "Kenapa Bu Cindy?"

"Pak Stefano dipanggil sama dekan kampus," kata Cindy.

Gea menaikan sebelah alisnya heran, apa yang membuat Stefano tiba-tiba dipanggil oleh dekan kampus? Apa ini ada hubungannya dengan rumor tentang dirinya di perpustakaan.

"Baik. Saya pergi dulu."

Stefano berjalan lebih dulu dan memutuskan untuk pergi ke ruangan dekan sekarang. Walaupun firasatnya tidak enak karena dia merasa kalau mungkin ada sesuatu yang belum dia ketahui.

Gea hendak akan mengikuti, tetapi Cindy sudah lebih dulu mencekal tangannya, seolah mencegah wanita itu untuk pergi sekarang.

"Kamu sengaja membuat Stefano malu? Apa kamu ingin menghancurkan karir Stefano?"

"Apa maksud Bu Cindy?"

"Tidak usah pura-pura munafik, kamu pasti sengaja mendekati Stafano karena ingin membuat karirnya hancur bukan?"

"Saya tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Bu Cindy!"

Cindy langsung menampar pipi Gea dengan begitu keras sampai pipinya memerah. Dia memberikan pelajaran pada wanita yang ada dihadapannya.

Gea terkejut sambil memegangi pipinya. "Apa yang Bu Cindy lakukan?"

"Bayaran untuk wanita rendahan seperti kamu."

Cindy mengatakan itu dengan pandangan sinis, tentu saja dia suka dengan Stefano dan dia marah setelah mendengar rumor kalau Gea berciuman di perpustakaan bersama dengan Stefano.

"Bu Cindy jangan asal tuduh, saya tidak punya hubungan apapun dengan Pak Stefano!"

Cindy menatap kearah Gea kembali. "Gak usah munafik kamu, semua orang sudah membicarakan kamu. Kalau kamu yang sengaja menggoda Stefano."

"Saya tidak..."

Belum sempat Gea akan membela diri, tetapi Cindy sudah lebih dulu memotongnya.

"Diam kamu, kalau sampai Stefano dikeluarkan dari kampus ini, kamu akan tahu akibatnya," ancam Cindy dan dia langsung pergi dengan begitu saja setelah memberikan tamparan pada pipi Gea.

Gea menghela napasnya panjang, dia juga khawatir dengan Stefano. Bagaimana kalau pria itu akan dikeluarkan dari kampus? Dia akan semakin merasa bersalah.

***

Sementara di ruangan lain, suasana terasa jauh dari kata nyaman.

Dekan kampus menatap Stefano dengan pandangan yang sedikit serius. Kerutan di dahinya semakin jelas setelah ia mengetahui skandal yang menyeret nama dosen muda itu. Udara di ruangan terasa berat, seakan setiap detik berjalan lebih lambat dari biasanya.

"Kamu sudah membuat malu kampus kita Stefano!"

Stefano berdiri tegak di hadapan meja kerja sang dekan, namun sorot matanya meredup. Rasa bersalah jelas terpancar dari raut wajahnya.

"Maafkan saya Pak Feri."

"Kamu tahu apa yang kamu lakukan itu hampir membuat kampus kita buruk," umpat Pak Feri sambil menghentakkan telapak tangannya ke meja.

Stefano hanya menundukkan kepalanya saja, dia menyadari kesalahannya. Tidak ada pembelaan, tidak ada alasan. Semua yang terjadi memang kelalaiannya sendiri.

"Saya mengakui kesalahan saya," kata Stefano lirih.

"Untuk sementara, kamu diskor dulu mengajar di kampus!" ujar Feri tanpa ragu.

Stefano tetap diam. Ia tahu keputusan itu tidak bisa diganggu gugat. Dalam benaknya, ia justru bersyukur karena yang beredar hanya sebatas ciuman. Jika sampai kabar yang lebih buruk tersebar, bukan hanya dirinya yang hancur, tapi reputasi kampus juga akan ikut tercoreng.

"Permisi."

"Masuk."

Pintu ruangan terbuka, memperlihatkan sosok Gea yang melangkah masuk dengan wajah penuh kecemasan. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiran Stefano di dalam ruangan itu. Kedatangannya ke sini jelas bukan tanpa tujuan.

"Duduk," kata Feri singkat.

Gea menurut dan langsung duduk. Namun beberapa detik kemudian, matanya melirik ke samping. Ia terkejut ketika menyadari Stefano ada di sana, tertunduk lesu, seolah dunia tengah runtuh di atas bahunya. Jantung Gea berdegup tidak menentu.

"Saya permisi dulu."

Stefano mengatakan itu setelah menyadari kalau Gea duduk tidak jauh dari sana. Dia segera melangkah keluar, meninggalkan ruangan dengan perasaan yang sulit diartikan.

Setelah Stefano keluar dari ruangan ini, baru Feri menatap ke arah Gea. "Kenapa kamu ke ruangan saya?"

Gea menelan ludah, tangannya mengepal di atas paha. "Pak Feri, saya mohon perpanjang waktu, saya pasti akan membayar semua biaya semester ini," ujar Gea dengan suara bergetar.

"Tidak bisa Gea, ini sudah peraturan dari kampus, kamu sudah diberikan kesempatan dan kamu sudah beberapa kali menunggak!" kata Feri dengan tegas.

"Tapi Pak..."

"Tidak ada toleransi untuk kamu lagi, Gea. Jika dalam waktu kurun dua hari kamu tidak membayar semuanya. Terpaksa kamu harus angkat kaki dari kampus ini," kata Feri tanpa mengendurkan nada suaranya.

Air mata Gea akhirnya luruh. Dadanya terasa sesak. Dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu dua hari? Selama ini, hasil kerjanya habis untuk biaya pengobatan ibunya.

"Saya mohon Pak, waktu yang diberikan itu terlalu singkat buat saya."

"Saya tidak mau tahu urusan kamu, Gea. Lunasi semuanya dalam waktu dua hari, maka kamu bisa tetap berada di kampus ini!" kata Feri dengan nada yang tegas.

Gea benar-benar tidak bisa berbuat apa pun. Bahunya merosot, kepalanya tertunduk lesu, seolah harapan terakhirnya baru saja direnggut.

"Kalau begitu saya permisi dulu."

Gea berdiri dengan langkah gontai dan keluar dari ruangan.

Di balik pintu, tanpa sepengetahuan siapa pun, Stefano berdiri dan diam-diam menguping pembicaraan mereka sejak tadi. Setiap kata yang keluar dari mulut Feri terdengar jelas di telinganya. Ia kini tahu betul kesulitan yang tengah dialami Gea.

Dia mengulas senyum penuh artinya. "Jadi begitu..."

Sampai wanita itu keluar dari ruangan dekan dan tiba-tiba tangannya langsung ditarik oleh Stefano sekarang.

"Pak Stefano."

"Ikut saya..."

BERSAMBUNG

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 75 Mempersiapkan Acara

    Stefano terbangun dari tidur lelapnya dalam pelukan hangat Gea. Mereka telah melakukan malam yang begitu sangat menyenangkan. "Kamu sudah bangun?" tanya Gea yang setengah sadar sambil mengucek matanya. "Kamu kalau masih ngantuk lebih baik tidur saja."Stefano mengatakan itu sambil mengambil ponselnya dan dia langsung memeriksa ponselnya. Dia melihat nomor yang memang tertera di sana. Ada sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, dia membaca dengan seksama, kemudian dia langsung membulatkan matanya. "Pesta pertunangan..."Gea yang mendengar itu pun langsung penasaran dengan suaminya. "Hah? Pesta pertunangan siapa?" Stefano kemudian menoleh kearah istrinya kembali. "Iya, ayah mengatakan kalau dia akan mengadakan pesta di rumah untuk merayakan pertunangan antara Andin dan Fadlan, sekaligus memperkenalkan kamu sebagai menantunya."Gea menutup mulutnya tidak percaya, dia sama sekali tidak menyangka kalau Fadlan akan berpikir seperti itu. "Serius? Ayahmu bilang begitu?""Iya, kalau kamu

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 74 Rencana Pertunangan

    Semuanya sudah mendapatkan ganjaran terbaiknya. Raya datang ke penjara untuk bertemu dengan Nadia. Dia hanya ingin melihat kondisi wanita itu saja. "Hai, Nadia."Nadia yang sudah memakai baju orange dengan rambut yang sudah diikat acak, dia menoleh kearah Raya yang datang ke penjara. "Ngapain kamu ke sini? Kamu pasti menertawakan aku bukan?" ketus Nadia. Raya menggelengkan kepalanya, dia datang ke sini memang mempunyai tujuan untuk menjenguk Nadia sekaligus melihat kondisi wanita itu. "Aku datang ke sini ingin menjenguk kamu. Melihat kondisi kamu sekarang.""Gak usah sok pura-pura peduli!""Kamu kenapa sih Nad, sampai berubah seperti ini?" tanya Raya dengan baik-baik. Nadia menatap dengan nyalang. "Dunia tidak ada yang baik, semuanya jahat. Ayahku meninggalkan ibuku dan aku harus hidup dengan ibuku yang penuh dengan tekanan dan ambisi. Semua harus sesuai dengan keinginan dia. Kalau tidak, maka aku yang akan dibuang."Raya hanya mendengar apa yang dikatakan oleh Nadia. Seberapa sa

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 73 Semuanya Jadi Tenang

    Gea tidak tahu harus melakukan apa, sekarang dia sudah yakin atas dirinya sendiri. Stefano mengobati luka dari tubuh Gea. "Sakit?" tanya Stefano dengan pandangan yang memang sedikit khawatir. "Pelan-pelan," ujar Gea. "Ini juga pelan-pelan, kamu jangan manja," ledek Stefano. "Menyebalkan, kenapa datangnya telat, aku berharap kamu cepat datang. Kalau tidak tadi Marvel sudah melakukan hal buruk padaku," jelas Gea menceritakan semuanya. Stefano malah tertawa dengan bahagia. "Aku sudah datang tepat waktu. Kamu tidak lihat aku sampai berkelahi dengan dia.""Iya sih, telat sedikit saja bisa berabe.""Yang penting aku sudah menyelamatkan kamu."Stefano mengatakan itu dengan tenang. Setelah itu dia menatap kembali kearah Gea. Ada pandangan yang tidak bisa dia jelaskan. Bahkan dia tidak yakin atas dirinya sendiri. "Aku baru mengetahui satu fakta, kalau Marvel anak wanita jahat itu.""Aku pun baru mengetahui inu, jadi dari awal memang semuanya rencana mereka. Bahkan aku masih tidak percaya

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 72 Menyelamatkan Gea

    Gea panik ketika melihat Marvel yang kini sudah membuka baju atasnya, pria itu malah sudah hampir bertelanjang dada dan itu membuat dia panik. "Marvel, kamu jangan kurang ajar!"Gea khawatir kalau sampai laki-laki itu malah melakukan sesuatu diluar kendali dirinya. Dia tidak mau kalau sampai hal ini terjadi dengan dirinya. "Sialan."Rasanya tidak mungkin kalau harus jadi begini. Lalu dia memikirkan semuanya dengan matang. Dia tidak boleh kalah hanya dengan hal ini. "Kita akan bersenang-senang sayang."Marvel mengatakan itu dan dia hendak akan menyentuh Gea, tetapi ketika dia hendak akan mencium pipi Gea, tiba-tiba terdengar suara yang begitu keras, membuat Marvel terkejut. "Suara apa itu?" tanya Marvel bingung. Gea seketika langsung berteriak meminta tolong, dia tidak peduli ada yang mendengar atau tidak sekarang. Apalagi Marvel hendak akan melakukan sesuatu yang membuat dia sakit. "Tolong!"Dia berteriak, berharap akan ada orang yang memanggil namanya. Dia sudah berusaha sekuat

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 71 Menemukan Titik Lokasi

    Marvel akhirnya datang menghampiri ibu dan saudaranya. Dia datang ke sini karena ingin melihat kondisi dari Gea. Tentu saja untuk memastikan keadaan wanita itu. "Aku sudah menyuruh orang untuk mengambil barang-barang milik kalian," kata Marvel. "Apa semuanya sudah aman? Kamu bilang kalau di sana ada Fadlan dan Stefano?" tanya Ratih. "Tenang saja Mah, aku sudah memastikan semuanya akan aman kali ini," ujar Marvel. "Awas saja kalau kita gagal hanya karena kamu, Marvel. Anak yang tidak berguna," sindir Nadia. "Diam kamu," dengus Marvel. Nadia hanya mencebikan bibirnya saja, dia jadi engan untuk melihat Marvel sekarang. "Sudah, kalian jangan ribut," lerai Ratih pada kedua anaknya. "Aku mau melihat keadaan Gea," kata Marvel yang ingin melihat keadaan Gea. "Awas jangan melakukan hal aneh," kata Nadia sebagai peringatan. "Memangnya kenapa kalau aku buat hal yang aneh, tidak akan terjadi sesuatu juga. Lagian Stefano pasti juga lama menemukan keberadaan kita," jawab Marvel dengan ten

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 70 Mengkhawatirkan Gea

    Stefano dan Fadlan datang ke sebuah tempat yang memang diyakini kalau ini adalah tempat persembunyian Ratih dan Nadia. Stefano melihat rumah yang nampak kecil dan tidak yakin kalau dua orang itu mau tinggal di tempat kecil seperti ini. "Kamu yakin Fadlan, kalau ini adalah tempat tinggal mereka?" tanya Stefano nampak ragu. "Anak buahku yang bilang sendiri kalau ini adalah tempatnya, tidak usah diragukan lagi kalau tentang ini," kata Fadlan. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam, memeriksa sekitaran sana, tetapi sayang sekali, mereka tidak menemukan orang dan hanya barang-barangnya saja. "Barang-barangnya masih ada di sini, mereka tetapi tidak ada," ujar Stefano setelah memastikan sendiri. "Sepertinya mereka berdua memang sekarang sedang ada di tempat lain. Apa mungkin di tempat penculikan Nadia," kata Fadlan. "Maksud kamu, mereka mempunyai tempat terpisah begitu?" "Ada kemungkinan sih iya. Untuk saat ini timku sedang melacak keberadaan Gea, tetapi memang kebetu

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 6 Memikirkan Stefano

    Gea langsung panik ketika melihat satpam itu memergoki dirinya dengan Stefano, bahkan dengan posisi mereka sekarang yang sulit sekali untuk diartikan. "Pak Stefano, anda dengan mahasiswa itu! Astaga."Satpam itu langsung pergi dengan begitu saja setelah melihat Gea dan Stefano dengan posisi Stefa

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 5 Ciuman Tidak Sengaja

    Perpustakaan Gea berada di sebuah perpustakaan dan mencari buku tentang sistem digital. Kebetulan sekali dia adalah seorang mahasiswa tehnik elektro. Dia mencari di tumpukan buku. "Mana sih, gak ada," umpat Gea dengan kesal. Dia tidak menemukan buku yang dia cari, padahal ini sudah hampir larut

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 2 Pria Itu.....

    Gea sudah mulai melupakan kejadian yang terjadi padanya. Dia tidak tahu pria asing yang tidur dengan dirinya semalam. Gea duduk di kursi kampusnya, berusaha terlihat tenang di antara mahasiswa lain. Tapi pikirannya terus berputar. Ia menatap kosong halaman catatan yang belum disentuh sama sekali.“

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 1 Malam Yang Panas

    Dentuman musik memenuhi ruangan, lampu-lampu neon berkilau di antara orang-orang yang menari di bar hotel malam itu. Gea Andriana tersenyum kecil sambil memegang gelas koktailnya. Malam ini seharusnya menyenangkan. Teman-teman satu jurusannya merayakan kelulusan beberapa senior, dan Gea berniat mel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status