Home / Romansa / Lagi, Pak Dosen / Bab 6 Memikirkan Stefano

Share

Bab 6 Memikirkan Stefano

Author: Manila Z
last update Last Updated: 2025-12-16 21:00:14

Gea langsung panik ketika melihat satpam itu memergoki dirinya dengan Stefano, bahkan dengan posisi mereka sekarang yang sulit sekali untuk diartikan.

"Pak Stefano, anda dengan mahasiswa  itu! Astaga."

Satpam itu langsung pergi dengan begitu saja setelah melihat Gea dan Stefano dengan posisi Stefano menindih tubuh Gea.

"Tunggu, Pak. Ini tidak seperti yang sebenarnya!"

Gea langsung mendorong tubuh Stafano, dia berusaha untuk menjelaskan semuanya. Khawatir kalau nanti malah akan menjadi rumor buruk.

"Sudahlah, dia sudah pergi."

Stefano bangun kembali setelah dia tidak sengaja mencium bibir manis milik Gea tadi.

Sedangkan Gea melotot tajam kearah Stefano. Dia benar-benar masih kesal dan tidak percaya dengan semuanya.

"Ini semuanya gara-gara Pak Stefano. Coba saja tadi tidak seperti itu, mungkin satpam itu tidak akan salah paham!" marah Gea dengan Stefano.

"Kok kamu kesananya kaya menyalahkan saya? Sudah jelas bahwa tadi itu kecelakaan, kamu tidak lihat benda itu tadi jatuh," tunjukan nya pada kotak yang tadi jatuh.

Gea menatap dan dia menghela napas, memang tadi benda itu jatuh mengenai kepala Stefano sampai membuat tubuhnya oleng.

"Sudahlah, saya pergi dulu."

Gea langsung mengambil buku tentang sistem digital yang sudah diambil oleh Stefano tadi. Dia mengambilnya dengan cepat dan akhirnya dia menatap kembali kearah Stefano.

"Saya permisi!"

Benar-benar memalukan, kenapa juga tadi harus jatuh segala. Sampai bibir dia dengan dosen mudanya itu berciuman. Membuat dia sedikit merasa tidak nyaman.

"Menyebalkan!"

Gea pergi dengan begitu saja setelah itu.

Stefano diam-diam memegangi bibirnya tanpa sadar, sentuhan dengan Gea barusan membuat dia sedikit senang dan malah mengingatkan dia kembali pada malam panas di mana dirinya bersama dengan Gea.

***

Gea sampai di rumahnya pada malam hari, dia benar-benar merasa malu dan hampir saja dia lepas kendali. Kenapa dia bisa terjebak dengan pesona seseorang yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.

"Sialan!"

Bahkan laki-laki itu malah mencium dirinya, membuat dia sulit untuk tertidur sekarang.

"Bagaimana kalau nanti malah ada rumor," batin Gea.

Apalagi setelah tahu kalau ada satpam yang memergoki dirinya bersama dengan Stefano.

Dia tidak habis pikir, kalau pada akhirnya akan seperti ini. Sampai ponselnya berbunyi dan dia melihat sebuah telepon dari seseorang.

"Hallo Andin."

"Besok kamu datang ke restoran lebih awal yah."

"Memangnya kenapa Andin?" tanya Gea penasaran.

"Katanya besok akan ada owner baru di restoran itu. Jangan lupa kamu harus datang lebih awal."

"Owner baru? Siapa?" tanya Gea.

"Mana aku tahu, tetapi gosipnya dia adalah seorang pria muda dan terlihat tampan."

"Kamu ini, giliran yang tampan saja peka."

"Iya dong, yaudah kalau begitu aku tutup dulu."

Andin akhirnya memutuskan untuk mematikan sambungan teleponnya. Gea kembali merebahkan dirinya di kasur empuk miliknya.

Gea memejamkan mata, menarik selimut hingga ke dada. Namun alih-alih terlelap, bayangan wajah Stefano justru semakin jelas di kepalanya. Tatapan pria itu, jarak yang terlalu dekat, dan ciuman singkat yang terjadi di perpustakaan kembali terputar jelas di benaknya.

"Kenapa aku malah memikirkan dia?" gumamnya pelan sambil menutup wajah dengan bantal.

Gea membalikkan tubuh ke kanan lalu ke kiri, tetapi rasa panas di pipinya tak juga menghilang. Setiap kali teringat ekspresi terkejut satpam yang memergoki mereka, jantung Gea langsung berdegup tak beraturan.

"Bagaimana kalau satpam itu menceritakan semuanya?"

Gea bangkit setengah duduk dan meraih ponsel di samping bantal. Tangannya sempat membuka media sosial, lalu buru-buru menutupnya kembali. Dia takut membaca sesuatu yang belum siap ia terima. Tidak ada notifikasi aneh, tidak ada gosip, setidaknya untuk sekarang. Namun rasa cemas itu tetap bertahan.

Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.

“Mungkin satpam itu tidak mengenaliku atau memilih diam,” ucapnya lirih, meski keyakinannya rapuh.

Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Gea akhirnya bangun dan berjalan ke dapur kecil, meneguk segelas air putih. Wajahnya tampak pucat saat ia melihat pantulan dirinya di kaca lemari.

"Besok aku harus bekerja. Aku harus fokus," katanya pada dirinya sendiri.

Namun pikirannya justru kembali melayang pada percakapan dengan Andin. Owner baru. Pria muda. Tampan. Entah kenapa deskripsi itu membuat dadanya berdebar tidak nyaman. Gea menggeleng cepat, menepis pikiran yang mulai liar.

“Itu cuma kebetulan,” bisiknya.

Kembali ke kamar, Gea memaksakan diri berbaring dan memejamkan mata. Ia menghitung napas, berusaha mengusir semua kecemasan yang menumpuk. Perlahan rasa lelah mulai menang, meski sebelum benar-benar terlelap, satu nama kembali muncul di benaknya.

"Stefano!"

Gea membuka matanya dengan gusar, dia terus membayangkan Stefano terus.

"Lama-lama aku bisa gila," umpat Gea sambil menutup wajahnya dengan bantal.

BERSAMBUNG

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 48 Pulang Kerja Gea

    Stefano terlihat murka ketika ada orang yang berusaha untuk menyakiti istrinya. Dia tidak terima dengan semuanya. "Sialan!"Dia mengamuk sambil mengepalkan tangannya, lalu dia menghubungi seseorang untuk menghapus semua video yang mempermalukan Gea. "Hallo.""Iya Pak Stefano, ada yang bisa saya bantu?" tanya orang itu dengan wajah yang sedikit tenang. "Tolong kamu harus semua berita buruk dan postingan yang menjelekkan istri saya. Ini bayarannya."Stefano langsung memberikan uang pada orang itu, dia tidak ingin ada berita buruk tentang istrinya. Sudah pasti ini akan merugikan dirinya nanti. "Terimakasih banyak."Dia menerima uang tersebut, memang sebaiknya dia merencanakan semuanya. "Sama-sama."Stefano menutup kembali sambungan teleponnya, lalu dia menatap kembali video tersebut, rupanya Cindy memang ingin bermain-main dengan dirinya. Padahal dia sudah berhasil mengusir wanita itu dari tempatnya kerja. Sekarang malah datang ke tempat di mana istrinya bekerja. "Sepertinya pelaja

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 47 Rencana Wanita Jahat

    Fadlan menatap kearah Gea dan Andin setelah melihat kepergian dari Cindy. Dia merasa sedikit tenang karena semuanya sudah berjalan dengan baik. "Kalian gak papa?" tanya Fadlan. "Harusnya aku yang tadi bayar itu," kata Andin karena dia yang sengaja merusak ponsel Cindy. "Santai saja, aku tahu alasan kamu melakukan itu," jawab Fadlan dengan santai. Andin kemudian melihat luka dari Gea, dia langsung meminta izin pada Fadlan untuk mengobati luka dari Gea. "Saya permisi dulu, ayo Gea biar aku obatin," ajak Andin yang kini menarik tangan Gea agar ikut bersama dengan dirinya. "Makasih yah, Pak Fadlan karena sudah banyak menolong," kata Gea dan langsung memutuskan untuk pergi bersama dengan Andin. Mereka berdua berjalan menuju kearah tempat di mana kotak P3K berada. Dia sudah bisa menyelesaikan semuanya dengan baik.Andin menarik tangan Gea dan dia berusaha untuk mengobati wanita itu dengan baik. "Lain kali kamu harus melawan dia. Jangan mau ditindas oleh orang lain," kata Andin yang

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 46 Cindy Mencari Keributan

    Andin diam-diam memperhatikan Gea yang baru saja keluar dari mobil milik Stefano. Dia hanya memperlihatkan dibalik jendela saja sambil mengelapnya. "Sudah puas memperhatikannya?"DegAndin menoleh kearah belakang di mana ada Fadlan yang berdiri tidak jauh dari sana. "Maaf Pak Fadlan."Andin menundukkan kepalanya, lalu dia memutuskan untuk pergi dari sini karena sudah ketahuan oleh Fadlan. Tetapi kemudian, Fadlan malah kembali berbicara menghentikan langkah dari Andin. "Kenapa menghindar, bukannya kamu wajar melihat mereka seperti itu?" sindir Fadlan. "Itu bukan urusan Pak Fadlan!" dengus Andin dengan kesal. "Mau sampai kapan kamu seperti itu terus Andin?" tanya Fadlan. Andin terdiam sejenak, dia tahu apa yang dimaksud oleh Fadlan barusan. "Bukan urusan Pak Fadlan, permisi. Saya masih punya urusan lain."Andin mengatakan itu dan dia hendak akan pergi ke tempat lain. Tetapi Fadlan kembali berbicara pada Andin. "Walaupun begitu, kamu tidak bisa menutup kemungkinan punya ikutan."F

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 45 Canggung Dalam Mobil

    Seorang wanita duduk dengan sikap santai di sudut ruangan yang remang. Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja, seolah menghitung waktu. Tatapannya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menunggu hasil sebuah rencana besar.Langkah kaki terdengar mendekat.“Saya sudah melakukan apa yang diperintahkan.”Wanita itu tersenyum dengan penuh arti, akhirnya dia bisa merencanakan semuanya untuk mengancam Gea.“Ini bayaran untuk kamu,” katanya sambil membuka tas dan mengeluarkan setumpuk uang. Ia mendorongnya ke arah pria di depannya. “Pastikan semuanya benar-benar aman.”Pria itu mengangguk tanpa ragu. “Tenang saja. Paket yang Anda kirim sudah sampai tadi pagi di rumah Pak Stefano.”Alis wanita itu sedikit terangkat. “Kamu yakin Gea yang menerimanya?”“Iya. Orang saya yang menyerahkan langsung ke Gea,” jawabnya mantap."Tidak ada yang mencurigakan. Jadi Anda tidak perlu khawatir."Dia langsung tersenyum dengan penuh arti. "Bagus, kamu boleh pergi sekarang. Pastikan untuk orang itu

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 44 Sebuah Kalung Dari Stefano

    Gea berpikir sejenak setelah dia di depan pintu, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mengetuk dengan pelan. "Permisi.""Iya, masuk."Akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam, ada rasa yang membuat dia merasa tidak tenang, bahkan dia tidak yakin atas semuanya. "Pak Stefano memangil saya?" tanya Gea ketika melihat seseorang tengah duduk di sana. Stefano menoleh kearah Gea sebentar sebelum dia kembali sibuk dengan buku yang dia pegang. Laki-laki tidak tidak kunjung bicara dan itu membuat Gea jadi kesal, untuk apa laki-laki itu memanggil dirinya kalau fokusnya pada buku. Gea sendiri malah jadi malas melihatnya. Akhirnya Gea sendiri jadi kesal, dia tidak yakin kalau harus melakukan semuanya. "Pak Stefano memanggil saya hanya untuk ini?" dengusnya dengan nada yang sedikit kesal. Dia bahkan tidak yakin kalau semuanya jadi begini. Dia diam memikirkan semuanya dengan baik. Bahkan dia tidak yakin atas semuanya. "Kamu gak bilang tentang teror itu?"Seketika Gea langsung terdiam, di

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 43 Gosip Terbaru Stefano

    Gea baru saja datang ke kampusnya, dia berjalan dengan tenang. Sebelum tiba-tiba ada temannya langsung menghampiri dirinya, membuat dia sedikit terkejut. "Astaga!""Kenapa Raya?" tanya Gea heran ketika melihat ekspresi wajah Raya. Bahkan dia tidak memikirkan semuanya. Raya sudah diam melakukan semuanya dengan baik. Sekarang dia tidak yakin dengan hal ini. "Ada gosip yang harus kamu dengar," kata Raya dengan penuh semangat.Gea terlihat heran, memangnya apa gosip yang akan dikatakan oleh Raya, sepertinya memang sangat menarik. Dia tidak sabar untuk mendengar cerita selanjutnya. "Gosip apa sih?" tanya Gea. Raya langsung menarik Gea ke kursi taman dan membiarkan wanita itu duduk, setelah itu akhirnya dia mulai menceritakan semua yang dia dengarkan. "Duduk dulu."Gea menuruti apa yang dikatakan oleh Raya barusan. Dia sebenarnya masih merasa penasaran dengan apa yang akan diceritakan oleh Raya. "Sekarang katakan, gosip apa?" tanya Gea yang sebenarnya penasaran. "Bu Cindy, tiba-tiba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status