MasukBab 99. TOMBAK BAMBU RUNCING Sambil tersenyum sepuluh pendekar itu segera mendekati Jaka Tole, meskipun tersenyum akan tetapi mata mereka tampak melirik kearah ikan bakar yang masih ada diatas api unggun. “Maaf Kisanak, apakah Kisanak sendirian saja?” tanya salah satu pendekar yang mempunyai kumis tipis di bawah hidungnya. “Begitulah, sepertinya kalian seorang pendekar?” kata Jaka Tole setelah memperhatikan penampilan sepuluh pria yang datang mendekatinya. “He he he he… kami bukan pendekar, hanya seseorang yang mempunyai sedikit ilmu kanuragan,” jawab pria yang berkumis tipis itu mencoba merendah sebelum melanjutkan perkataannya. “Tadi kami mencium aroma ikan bakar dari dalam hutan, karena itulah kami mendatangi tempat ini.” “Oh… jadi kalian tertarik dengan ikan bakar ini? Kalau begitu silahkan ambil ketiga ikan bakar ini, kebetulan saya sudah kenyang. Tapi sepertinya ketiga ikan ini tidak cukup mengenyangkan untuk kalian semua. Apakah kalian bisa
Bab 98. PENDEKAR PADEPOKAN RAGA JATI Dalam sekejap lobang rumah tanah liat itu menutup, sehingga hanya kegelapan yang ada didalam rumah tanah liat yang berisi Jaka Tole. Kemudian pikiran Jaka Tole bergerak, dalam sekejap ada lobang sebesar kelerang disekitar rumah tanah dalam jumlah cukup banyak yang bisa dijadikan ventilasi udara. Begitu lubang itu tertutup, Jaka Tole segera berbaring di atas tanah yang sudah dilapisi rumput kering, kemudian memejamkan matanya dan tertidur dalam sekejap. Rumah dari tanah liat yang dibuat Jaka Tole menyerupai jamur raksasa, dengan ketebalan lima jari orang dewasa. Selain itu, rumah tanah liat ini telah berubah menjadi sangat keras, laksana gerabah yang sudah di panggang di atas perapian. Kehangatan didalam rumah tanah liat, membuat tidur Jaka Tole sangat nyenyak, hingga tanpa terasa matahari sudah terbit di ufuk timur. Suara burung yang berkicau dan suara binatang hutan, membangunkan mimpi indah Jaka Tole.
Bab 97. KOTA TEGAL DISERANG Kepergian Jaka Tole yang seperti orang menghilang tentu saja mengejutkan Raden Jayengrana dan para prajurit yang mengepungnya. Kecepatan ilmu meringankan tubuh Jaka Tole sudah mencapai tingkat yang sangat tinggi, apalagi saat ini kemampuan Jaka Tole yang sejatinya sudah mencapai level Kesengsaraan. Level ini merupakan level tingkat tinggi yang sangat jarang ada pendekar yang menguasainya. Tentu saja Raden Jayengrana tidak mengetahui hal ini, karena Dimata semua orang, pemuda di depannya hanya baru di level prajurit atau level pondasi saja. Maklumlah, selama ini Jaka Tole memang menyembunyikan kemampuan energi Prananya. Dengan metode khusus warisan guru misteriusnya saat di jurang Malaikat. “Loh… kemana perginya pemuda itu?” Kata Raden Jayengrana sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah, setelah hening sesaat dalam kebingungan semenjak menghilangnya sosok Jaka Tole. Seketika semua orang tampak bin
Bab 96. MEMBERITAHU KEDATANGAN BAJUL IRENG Baru juga Jaka Tole menginjak lantai marmer pendopo, terdengar suara penuh wibawa menegurnya. “Kisanak, siapakah anda? Ada keperluan apa, anda datang ke istana Wali kota?” Jaka Tole segera menghentikan langkahnya dan menatap sosok pria paruh baya yang pernah dilihatnya di alun-alun, memimpin eksekusi sepasang pembuat onar. Segera saja Jaka Tole menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajah sambil menundukkan kepala sebagai tanda hormat. “Maaf atas keberanian saya mendatangi istana Raden,” kata Jaka Tole setelah memberi hormat khas penghormatan tanah jawa dan tanah Nusantara. Raden Jayengrana atau Wali kota Tegal menatap sosok pemuda di depannya dengan tatapan tajam, kemudian dia mengalihkan pandangannya ke pintu gerbang Pendopo. Seketika ekspresi wajahnya menjadi jelek, sebagai seseorang yang menguasai olah kanuragan, tentu saja Raden Jayengrana sangat tahu, apa yang terjadi dengan kedu
Bab 95. MENEMUI RADEN JAYENGRANA Mereka tidak menyerang saat siang hari, akan tetapi memilih menyerang saat matahari sudah tenggelam. Sebagai kelompok hitam yang suka membuat kekacauan, menyerang saat malam hari adalah sebuah pilihan yang sangat tepat. Sosok Jaka Tole segera menghilang dari dahan pohon tempat dia bersembunyi, setelah mendengar rencana penyerangan ke kota Tegal, malam nanti. Untuk menghilangkan jejaknya, Jaka Tole menggunakan Ajian lipat Bumi, dan dalam sekejap sudah berada di luar pintu gerbang kota. “Saya harus bertemu dengan sang Wali untuk melaporkan rencana Bajul Ireng ini,” gumam Jaka Tole yang segera memasuki kota Tegal yang sangat ramai dengan lalu lalang warga yang keluar masuk kota. Petugas keamanan yang berjaga di pintu gerbang kota terlihat bekerja dengan santai, karena sudah lama tidak ada perang maupun keributan besar yang membahayakan warga kota. Hanya saja kebetulan tadi malam telah terjadi kebakaran yang m
Bab 94. SANG KETUA “Ada kabar apa? Apakah sabotase yang kalian lakukan berhasil?” “Maaf ketua, sebelumnya tugas yang kami jalankan telah berhasil membakar puluhan rumah warga kota Pesisir Tegal. Tapi...” perkataan pria itu terhenti, seakan sedang menimbang apakah laporan yang mereka laporkan tidak mendapatkan murka dari sang ketua. “Lanjutkan, bicaralah yang jelas, jangan sedikit-sedikit berhenti,” terdengar suara berat memerintahkan kedua orang yang baru saja masuk ke tenda besar itu. Di Dalam tenda besar itu seketika hening, setelah suara berat itu memberi perintah. Sementara, kedua orang yang baru masuk ke dalam tenda besar tampak saling pandang dengan tubuh dipenuhi keringat dingin. “Mohon maaf ketua, tadi malam telah terjadi sesuatu yang aneh. Tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras dan memadamkan api yang sedang membakar rumah warga.” “Hujan? Kalau mau berbohong jangan terlalu kontras, bukankah kamu lihat sendiri tanah di tempat i







