MasukKedua orang tuanya dibunuh didepan mata kepalanya beserta seluruh warga kampung, oleh pendekar golongan hitam . Demi untuk menyelamatkan diri, Jaka Tole kecil terus berlari kearah hutan yang terkenal angker dan penuh dengan siluman, demi untuk menyelamatkan diri dari kejaran para pendekar golongan hitam. Malam yang gelap membuat langkah kaki Jaka Tole berlari tanpa arah, hingga akhirnya jatuh ke sebuah jurang yang dipenuhi dengan kabut berwarna kemerahan. Hingga sebuah mukjizat terjadi pada dirinya, bukannya mati setelah jatuh ke jurang yang ada di hutan larangan. Jaka Tole malah mendapatkan kekuatan yang tak terduga. Kekuatan Jaka Tole sangatlah hebat setelah mendapatkan warisan kitab ajaib peninggalan seorang sakti yang misterius. Sepuluh tahun lamanya Jaka Tole terjebak di jurang misterius, selama itu pula dia belajar ilmu beladiri tingkat tinggi dan ilmu pengobatan dari kitab yang ada di dalam sebuah gua. Sepuluh tahun kemudian Jaka Tole berubah menjadi pemuda ganteng yang sakti mandraguna. Banyak wanita yang tergila-gila dengan kegantengan dan keperkasaannya. Dengan kemampuannya Jaka Tole mulai membantai satu persatu pendekar golongan hitam yang telah dikuasai kekuatan Iblis.
Lihat lebih banyakBab 1. PEMBANTAIAN DI KAMPUNG WARU
“Lari, Jaka! Jangan lihat ke belakang!” suara Nyai Padmi seorang wanita berusia tiga puluh tahunan yang masih tampak cantik, pecah di antara riuh jeritan warga dan gemeretak rumah yang dilalap api. Namun kaki Jaka Tole membeku. Di hadapannya, ayahnya atau Ki Rayaksa berlutut dengan kedua tangan terikat, wajahnya berlumuran darah, tapi matanya tetap menatap tajam ke arah Warok Suromenggolo yang berdiri tegak seperti bayangan maut. Sementara ibunya disekap di samping ayahnya, seperti mangsa yang siap dihabisi kapan saja. Pendekar golongan hitam itu mengayunkan golok panjangnya, mata baja senjata itu memantulkan nyala api yang menari liar. “Kampung ini berani menolak upetiku,” desisnya dingin. “Maka biarlah semua jadi milikku, dan kalian mati sebagai contoh.” Nyai Padmi menatap Warok Suromenggolo, tubuhnya bergetar namun sorot matanya tak gentar. “Kau boleh bunuh kami, Suromenggolo… tapi jangan sentuh anakku.” Tawa pendekar itu meledak, keras dan memekakkan telinga. Goloknya diangkat tinggi. Malam seketika terasa kian pekat, seakan seluruh dunia menahan napas menunggu detik eksekusi itu tiba. “Cuih! Semua warga kampung ini harus mati tak berbekas!” ucap Warok, matanya menyalang. “Dan, semua dimulai dari kepala kalian berdua!” Golok itu mengkilat diterpa cahaya api yang hampir membakar seluruh rumah, sementara Jaka Tole masih terpaku. “Romo… Simbok…” “Jaka! Lari…!” ucap ayahnya serak. Cras! Jantung Jaka Tole seketika berhenti, tepat saat kepala ayahnya menggelinding ketika golok Warok Suromenggolo dengan cepat menebasnya tanpa ampun. “Nak! Pergi dari sini…” suara ibunya parau. Entah Jaka Tole mendapat energi dari mana, namun sepasang kakinya yang tadi membeku tiba-tiba beranjak keluar dari rumah itu, menuju pintu belakang yang telah hancur digasak golok-golok para pendekar golongan hitam yang menyatroni kampung mereka. “Kejar keparat itu! Jangan sampai ada yang lolos dari kampung ini. Habisi semua!” Suara Warok Suromenggolo menggelegar, diikuti kegesitan bawahannya yang langsung mengejar Jaka Tole. “Simbok… Romo…” isak anak kecil itu dengan kaki telanjang berlari ke arah hutan yang tak jauh dari kampung Waru, lebih tepatnya di sisi timur kampung. Sementara Joko berlari tak tentu arah, matanya berkabut sebab air mata yang sedari tadi tumpah.Ayah ibunya mati, dan dia tak bisa melakukan apa-apa selain melihat proses kematian mereka?!
“Aku anak tak berguna!”
Masih sambil berlari, Jaka Tole terisak dan sesekali tersandung kayu dari puing-puing rumah yang juga hancur dilalap api. “Paman!” Di tengah kekacauan itu, Jaka Tole segera mengarah ke rumah yang sangat ia kenal, sekaligus berusaha hilang dari orang-orang yang mengejarnya, yang letaknya di pinggir kampung dekat dengan hutan. Namun, seketika kakinya lemas. Ia melihat pamannya, sosok yang paling dihormati dan dianggap pelindung kampung, tewas mengenaskan. Tubuhnya ditusuk dan ditancapkan tepat di depan rumahnya. Sepupu-sepupunya bernasib sama. Bahkan, salah satu jasad saudaranya yang sudah tanpa kepala dibiarkan teronggok di samping jasad pamannya. Ia terduduk, air mata kembali mengalir di pelupuknya. Orang yang ia kira bisa melindunginya, mati lebih mengenaskan! “Apa yang terjadi—”“Keparat, jangan lari dari kami!”
Jaka Tole menoleh, tiba-tiba tubuhnya mendapatkan energi penuh yang entah datang dari mana ketika melihat para pengejarnya kini ada di belakangnya. Di kepalanya, dendam dan amarah yang mengepul di ujung minta ditumpahkan keluar. Tangannya mengepal, siap mati demi membalaskan dendam atas apa yang ia lihat! “Tapi… mati sekarang? Itu percuma…” Jaka Tole paham, tak sampai sepuluh detik, nyawanya akan melayang di tangan para pendekar golongan hitam itu. Nyawanya akan terbuang percuma, dan dendamnya tidak terbalas sempurna. Matanya memerah, dadanya sesak. Kematian demi kematian keluarganya tidak boleh sia-sia. Jaka Tole mengumpulkan kekuatan di kakinya, lalu ia berlari sekuat tenaga keluar kampung, melewati gapura yang hanya tinggal rangka. Shush! Sebuah anak panah dengan bising melewati samping kupingnya. “Tidak! Aku harus membalaskan dendam Romo dan Simbok. Aku harus tetap hidup!” Jaka Tole berlari sekuat tenaga sampai kakinya mati rasa. Ia belum makan sejak sore, dan tenaganya kini tak tersisa lagi di tubuhnya. Hanya satu cara dia untuk melarikan diri dari gerombolan para Warok dari dunia hitam, yaitu masuk ke hutan Larangan. Padahal, sebetulnya penduduk kampung Waru sangat takut untuk memasuki hutan Larangan, akan tetapi Jaka Tole tidak memperdulikan larangan orang tua serta penatua kampung yang pernah menasehatinya. Hanya satu tempat yang bisa menyelamatkan nyawanya, dari kejaran para Warok dunia hitam ini. Di tengah gelap malam dan siulan jangkrik serta bunyi gemerisik alang-alang yang ia lewati, Jaka Tole berlari tak tentu arah. Kobaran api yang muncul dari kampungnya kian mengecil, namun para pendekar golongan hitam itu terus mengejarnya. Panah-panah kembali melesat, diselingi teriakan-teriakan yang menggema dan membuat Jaka Tole ketakutan. “Kancil berengsek! Mati kau di tangan kami!” Tiba-tiba, mata Jaka Tole kabur, ia tak lagi bisa membedakan cahaya atau kelap-kelip kunang-kunang yang sedari tadi jadi pengarah jalannya. “Sial! Sial! Aku tak boleh mati!” Jaka Tole tetap berlari, menahan rasa sakit tubuhnya yang semakin lama tak lagi dapat ia rasakan denyutnya. Namun, langkah Jaka Tole kian gontai, dunia di matanya seketika menghitam. “Aku tak boleh mati… aku belum boleh mati…” Bruk! Ia jatuh tersungkur di tanah becek. Derap kaki puluhan anak buah Warok Suromenggolo menggetarkan isi hutan, demi mengejar seorang anak kecil yang lemah untuk menghilangkan saksi hidup atas apa yang mereka lakukan di kampung Waru. Akan tetapi gelapnya malam, ditambah dengan rimbunnya hutan membuat pandangan anak buah Warok Suromenggolo tidak bisa menemukan Jaka Tole yang jatuh di tanah yang becek. Dengan tubuh dipenuhi lumpur serta tertutup rumput ilalang setinggi satu meter, Jaka Tole terbaring dalam diam. Langkah kaki anak buah Warok Suromenggolo hampir saja menginjak tubuh Jaka Tole yang berbaring di bawah rumput ilalang. Sepertinya langit masih melindunginya, karena hanya berjarak dua kilan dari tubuhnya, kaki kekar para pendekar berjalan di dekatnya. Jaka Tole masih tetap berbaring diatas lumpur, menunggu situasi benar-benar aman. Hingga malam semakin larut dan suara teriakan serta langkah kaki orang yang mengejarnya menghilang. Suara serangga malam menghilang, ketika dari langit turun rintik hujan membasahi bumi. Dengan tubuh penuh lumpur, perlahan Jaka Tole mulai berdiri dan memperhatikan keadaan sekelilingnya. “Sepertinya orang-orang yang mengejarku sudah pergi, sebaiknya saya segera menjauh dari tempat ini,” gumam Jaka Tole yang segera berlari semakin masuk kedalam hutan. Gelapnya malam, serta lebatnya pepohonan serta hujan yang mulai turun dengan sangat deras, tidak menjadi halangan bagi anak kecil ini untuk terus berlari, hingga akhirnya. Wushhh…. “Wuaaa…..!” Kaki Jaka Tole tidak menginjak tanah, dan tubuhnya jatuh dengan cepat diatas jurang, jeritan penuh dengan ketakutan menggema di dalam hutan ketika tubuh Jaka Tole melayang di atas jurang yang dalamnya tidak diketahui. ***Bab 102. MANUSIA MESUM “Ini… ini… kenapa tubuhku malah menjadi lebih segar setelah beradu pukulan?” “Siapakah wanita ini?” Di saat Jaka Tole sedang kebingungan serta merasa gembira dengan apa yang terjadi pada tubuhnya, Dewi Anjani malah merasakan hal yang sebaliknya. “Siapakah manusia ini? Kenapa dia bisa menerima pukulanku?” Jaka Tole segera menatap sosok cantik di depannya dengan tatapan tajam, dia juga terkejut melihat kekuatannya. “Nisanak, kenapa kamu menyerangku? Bukankah kita tidak saling kenal? Apakah saya punya salah?” “Kenapa aku menyerangmu? Dasar manusia mesum, apa kamu tidak tahu kesalahanmu atau sengaja pura-pura bodoh?” balas Dewi Anjani dengan wajah memerah menahan amarah sambil menatap Jaka Tole seakan ingin memakannya hidup-hidup. “Tunggu, kenapa kamu menuduh aku manusia mesum? Atas dasar apa anda berkata seperti itu? Sedangkan kita saja tidak saling kenal.” “Dasar manusia mesum, apa kamu belum menyadari kesala
Bab 101. BERTARUNG DENGAN DEWI ANJANI “Kenapa kamu menamparku?” kata Jaka Tole sambil memegangi wajahnya yang memerah. Jaka Tole belum menyadari, kalau sesungguhnya tubuhnya memiliki kekebalan atau daya tahan tubuh yang kuat dan tidak ada orang dan senjata yang bisa melukainya. Dan dia juga terkejut, karena baru kali inilah dia merasakan sebuah tamparan yang cukup keras di wajahnya. Dewi Anjani menatap Jaka Tole dengan tatapan sinis, ekspresi wajahnya sangat jelas memancarkan aura membunuh. “Kamu ini memang manusia yang tidak punya rasa malu, apakah kamu senang melihat wanita mandi?” sindir Dewi Intan sambil mencebikkan bibirnya. Alih-alih malu atau ketakutan dimarahi Dewi Anjani, Jaka Tole malah menatap wajah wanita di depannya dengan pandangan kosong. Entah kenapa, kalbu Jaka Tole seakan diambil oleh wanita yang baru saja menamparnya. Ekspresi wajahnya tampak kosong, entah kenapa dia merasa terhipnotis dengan pesona Dewi Anjani.
Bab 100. GADIS PERI Jaka Tole yang melanjutkan perjalanannya sama sekali tidak peduli dengan rasa terimakasih, atau apapun yang seharusnya diberikan kesepuluh pendekar itu. Hutan yang dilewati Jaka Tole sangatlah lebat dan luas, dia sudah berjalan seharian, akan tetapi tidak kunjung menemukan sebuah perkampungan penduduk. Sebenarnya bisa saja dia menggunakan ilmu meringankan tubuh, maupun kemampuan terbangnya untuk bisa dengan cepat melewati hutan ini. Akan tetapi Jaka Tole menganggap itu tidak perlu, karena dia tidak sedang terburu-buru. Hingga ketika matahari sudah mulai bergeser kebarat, Jaka Tole menemukan sebuah air terjun yang cukup indah pemandangannya. “Sepertinya bermalam di dekat air terjun ini cukup bagus,” gumam Jaka Tole sambil memandang sekelilingnya untuk mencari tempat yang tepat untuk mendirikan sebuah rumah tanah. Hingga tanpa sengaja sepasang matanya menangkap sebuah penampakan di bawah air terjun. Jaka Tole langsung menguce
Bab 99. TOMBAK BAMBU RUNCING Sambil tersenyum sepuluh pendekar itu segera mendekati Jaka Tole, meskipun tersenyum akan tetapi mata mereka tampak melirik kearah ikan bakar yang masih ada diatas api unggun. “Maaf Kisanak, apakah Kisanak sendirian saja?” tanya salah satu pendekar yang mempunyai kumis tipis di bawah hidungnya. “Begitulah, sepertinya kalian seorang pendekar?” kata Jaka Tole setelah memperhatikan penampilan sepuluh pria yang datang mendekatinya. “He he he he… kami bukan pendekar, hanya seseorang yang mempunyai sedikit ilmu kanuragan,” jawab pria yang berkumis tipis itu mencoba merendah sebelum melanjutkan perkataannya. “Tadi kami mencium aroma ikan bakar dari dalam hutan, karena itulah kami mendatangi tempat ini.” “Oh… jadi kalian tertarik dengan ikan bakar ini? Kalau begitu silahkan ambil ketiga ikan bakar ini, kebetulan saya sudah kenyang. Tapi sepertinya ketiga ikan ini tidak cukup mengenyangkan untuk kalian semua. Apakah kalian bisa
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan