Kembalinya Kesatria Shengcun

Kembalinya Kesatria Shengcun

last updateÚltima atualização : 2024-07-30
Por:  CahyaGumilar79Completo
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
37 classificações. 37 avaliações
104Capítulos
8.7Kvisualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

Serangan ganas Sekte Iblis Merah meluluhlantakkan segalanya milik Feng Guang. Desa tempat klannya berdiri kokoh kini tinggal tumpukan abu dan puing, terbakar habis dalam satu malam yang mengerikan. Ayah serta pamannya tewas dengan cara yang begitu kejam, meninggalkan luka mendalam yang takkan pernah sembuh. Namun, di tengah kehancuran itu, ada satu hal yang tak berhasil dirampas oleh musuh: sebuah warisan berharga yang diserahkan ayahnya sesaat sebelum ajal menjemputnya. Sebuah gulungan kuno berisi petunjuk rahasia menuju keberadaan Kitab Yongshi—kitab legendaris yang diburu seluruh penjelajah dan pendekar, karena konon barang siapa memilikinya akan menguasai kekuatan yang tak tertandingi. Bagi Feng Guang, warisan ini bukan sekadar jalan menuju kekuasaan. Ia adalah satu-satunya harapan untuk membalas dendam, menuntut balas atas nyawa keluarga yang direnggut, serta mengembalikan kehormatan klannya yang telah diinjak-injak. Namun, perjalanan itu takkan mudah. Di saat yang sama, Feng Guang hanyalah seorang pemuda yang belum memiliki kekuatan berarti. Bisakah ia menguraikan rahasia gulungan itu dan menemukan Kitab Yongshi sebelum musuh mendahuluinya? Mampukah ia bangkit dari keterbatasan, melatih diri hingga menjadi pendekar tangguh, dan akhirnya menebus semua penderitaan yang dirasakannya?  

Ver mais

Capítulo 1

1. Kematian Tuan Guang

“Feng Guang!” teriak seorang pria dengan wajah berlumuran darah, ia berjalan terhuyung-huyung menghampiri seorang bocah laki-laki yang sedang duduk di beranda rumah. 

Melihat pemandangan seperti itu, Feng Guang tampak kaget sekali. “Paman!” Feng Guang langsung menyambut pamannya yang hampir jatuh.

“Panggil ayahmu, cepat!”

Feng Guang langsung berlari ke belakang rumah hendak memanggil ayahnya yang saat itu sedang memperbaiki kandang ternak. Tidak lama kemudian, bocah laki-laki itu sudah kembali ke beranda rumah bersama sang ayah.

“Bertahanlah! Aku akan mengobati lukamu,” kata Tuan Guang menyangga tubuh adiknya yang sudah lemah tak berdaya.

“Tidak perlu! Sekarang, dengarkan aku.” Sang Paman berusaha berbicara sambil menahan rasa sakitnya. “S-semua orang, termasuk anak dan istriku telah terbunuh. Kalian harus pergi dari desa ini.”

“Siapa yang melakukannya?” tanya Tuan Guang.

“Para pendekar Sekte Iblis Merah,” jawabnya dengan suara parau, “Cepat, kalian pergi! Sebentar lagi mereka pasti ke sini.”

Setelah menjawab pertanyaan sang kakak, dari mulut dan hidungnya keluar darah segar yang mengalir begitu deras. Ia mengerang kesakitan dan langsung mengembuskan napas terakhir dalam pangkuan kakaknya.

“Adikku ...!” Tuan Guang berteriak keras sambil mendekap erat tubuh sang adik yang sudah tak bernyawa.

Feng Guang pun ikut menangis melihat pamannya yang sudah tak bernyawa. Lantas, ayahnya meminta agar dirinya bersembunyi. Namun, Feng Guang menolaknya.

“Feng Guang, turuti perintah Ayah!” bentak Tuan Guang, “Pegang ini dan sembunyilah! Ayah akan menghadapi mereka dan mengalihkan perhatiannya,” sambungnya sembari memberikan sebuah benda dari saku jubahnya.

“T-tapi, Ayah….”

Tanpa banyak bicara lagi, pria paruh baya itu langsung meraih tangan putranya, kemudian mengangkat tubuh Feng Guang dan langsung membawanya ke sebuah tempat yang ada di samping kediamannya.

“Bersembunyilah di sini! Apa pun yang terjadi, kau jangan menghiraukan Ayah!” pinta Tuan Guang. “Kau harus pergi setelah aba-aba!”

Feng Guang mengangguk pelan, ia mematuhi perintah ayahnya. Sambil terisak, Feng Guang memeluk erat tubuh ayahnya.

“Bagaimana pun, kau harus hidup. Hanya kau satu-satunya harapan Ayah.” Tuan Guang melepas pelukan putranya dan langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.

Dari tempat persembunyiannya, ada sebuah celah di mana Feng Guang bisa melihat dan mengamati ayahnya yang kembali memasuki rumah.

Pertama, ayahnya itu menghampiri jasad adiknya dan terlihat seperti memberikan sentuhan dan pesan terakhir yang tak bisa didengar Feng Guang.

Tak beberapa lama, datanglah sekelompok orang yang Feng Guang yakini sebagai pendekar dari Sekte Iblis Merah yang tadi diceritakan pamannya. Tampang mereka sangar, berpostur tinggi besar dan masing-masing memanggul pedang sebagai identitas bahwa mereka adalah orang-orang yang lekat dengan kekerasan.

“Apa yang kalian inginkan dari kami? Kenapa kalian tega merenggut nyawa orang-orang yang tidak bersalah?”

Di tempat persembunyiannya, Feng Guang menegang. Terlebih saat melihat ayahnya berdiri dan menghadapi para pendekar Sekte Iblis Merah seorang diri.

Pria bertubuh kekar yang berdiri di hadapan Tuan Guang tertawa lepas mendengar pertanyaan tersebut, ia maju dua langkah sambil mengayun-ayunkan pedang dalam genggaman tangannya.

Pria tersebut adalah pemimpin kelompok Sekte Iblis Merah yang sudah membunuh sebagian penduduk desa Shengcun termasuk adik Tuan Guang serta anak istrinya.

“Jika kau ingin tetap hidup, maka katakanlah di mana tetua desa?”

“Tetua desa sudah tiada. Apa kalian tidak mengetahui kematiannya?” jawab Tuan Guang jujur.

Tetua desa mereka memang telah tewas beberapa bulan lalu. Sebagai pengganti tetua desa, Tuan Guang jelas tahu apa yang mereka cari. Namun, tentu saja ia tidak akan mungkin menyerahkannya begitu saja. Benda itu begitu penting, hingga tidak boleh jatuh ke tangan yang salah.

“Bedebah! Apa kau pikir aku akan percaya kalau dia tewas semudah itu?” bentaknya tidak puas dengan jawaban Tuan Guang. “Kau ingin bernasib sama dengan yang lain?!”

Tuan Guang terlihat tidak gentar, sebab ia telah mengatakannya dengan jujur. “Aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Jika kau tidak percaya, terserah kau!”

“Bunuh dia! Tidak berguna!” Kemudian, dengan gerakan tangannya, pria itu memerintahkan anak buahnya agar mengeksekusi Tuan Guang.

‘Tidak, Ayah!’ Jantung Feng Guang serasa berhenti berdetak saat melihat ayahnya diserang oleh pendekar Sekte Iblis Merah. Ia begitu cemas dan khawatir.

Tuan Guang memang memiliki kemampuan yang mumpuni. Hanya saja, Feng Guang khawatir jika ayahnya akan terluka sebab sang lawan menyerangnya secara bersamaan.

Beberapa pendekar terluka oleh serangan Tuan Guang, meski pria itu pun juga mendapatkan luka yang tidak kalah serius.

Di saat itulah, pemimpin kelompok Sekte Iblis Merah memajukan langkahnya. “Mundurlah kalian! Biarkan aku yang membunuh orang ini!” serunya.

Dengan gerakan yang sangat cepat, ia langsung melompat ke arah Tuan Guang. Pemimpin musuh itu secara membabi buta menyerang Tuan Guang dengan pedang, juga gerakannya yang terukur.

Tuan Guang yang melakukan perlawanan tanpa senjata itu semula bisa menghindar dari serangan tersebut. Namun naas, serangan berikutnya yang dilakukan oleh pria tersebut tak dapat dihindari lagi.

Dua kali sabetan pedangnya mengenai tangan dan perut Tuan Guang. Bukan hanya itu saja, tendangan bertubi-tubi hinggap di perut pria paruh baya itu, hingga menyebabkan Tuan Guang jatuh tersungkur.

Tuan Guang benar-benar sudah tak berdaya, tenaganya sudah terkuras dan sudah tak mampu bangkit lagi.

“Inilah hari kematianmu!” ujar Pimpinan Sekte Iblis Merah, bersiap melancarkan serangan terakhirnya.

‘Ayah!!’

Feng Guang menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangan. Jiwanya benar-benar terguncang saat melihat pedang tersebut menembus dada sang ayah.

Bocah itu berdiri dengan tubuh bergetar, bersiap ingin menghampiri ayahnya. Namun, belum sampai ia melangkah keluar dari persembunyian, ia melihat sang ayah menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Mulut Tuan Guang yang dipenuhi darah itu terlihat membuka.

‘L-lari.’ Dan setelahnya, mata pria itu menutup.

Feng Guang yang terus berderai air mata usai tahu ayahnya telah tewas di tangan Sekte Iblis Merah itu kemudian kembali mengingat harapan sang ayah. Hanya ia, satu-satunya harapan sang ayah untuk membalaskan dendam.

Maka, meski hatinya sesak dan murka pada perbuatan sekte itu, ia tidak ingin gegabah.

‘Tidak. Aku tidak boleh mati di sini!’ Setelahnya, bocah itu—dengan menggenggam gulungan yang tadi diberikan oleh ayahnya, pun lari begitu kencang.

Sayang, pemimpin sekte itu rupanya melihat siluet dan pergerakan Feng Guang. Maka, dengan wajah kejam, pria itu kemudian menyerukan perintah untuk para prajuritnya. “Bakar rumah ini, dan cari bocah itu sampai ketemu! Jangan biarkan ada yang tersisa.”

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Classificações

10
100%(37)
9
0%(0)
8
0%(0)
7
0%(0)
6
0%(0)
5
0%(0)
4
0%(0)
3
0%(0)
2
0%(0)
1
0%(0)
10 / 10.0
37 classificações · 37 avaliações
Escrever uma avaliação

avaliaçõesMais

Irma_Asma
Irma_Asma
Menyala Abangku
2024-07-06 07:30:02
1
0
Sonia Nia
Sonia Nia
I orang Malaysia sangat suka cerita para penulis Indon, sehat selalu Bang dan terus hantarkan karya bagus
2024-04-05 05:29:45
1
0
Zihan Vierma
Zihan Vierma
Semoga Feng Guang menjadi seorang pahlawan yang hebat. Salam dari fans Malaysia
2024-04-05 05:27:00
1
0
Kinoy Dur
Kinoy Dur
Keren pokoknya mah, Cerita ini sangat rekomendasi
2024-04-05 05:23:59
1
0
Edo Untung
Edo Untung
Lanjut Bang
2024-04-05 05:21:24
0
0
104 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status