Home / Pendekar / Lahirnya Legenda Ksatria Abadi / Bab 33. KOTA RAJA MADANGKARA

Share

Bab 33. KOTA RAJA MADANGKARA

Author: MN Rohmadi
last update Huling Na-update: 2025-10-25 08:08:11

Bab 33. KOTA RAJA MADANGKARA

Rasa tidak percaya tampak jelas terbayang di wajah Warok Blangsak sebelum nyawanya kabur dari raganya.

Sementara itu nimas Ayunina terdiam, tubuhnya terasa beku, ketakutan dan kekaguman bergabung menjadi satu, saat melihat betapa mudahnya pemuda yang menolongnya bisa mengalahkan semua perampok dengan begitu mudahnya.

Jaka Tole segera menyabetkan golok di tangannya ke udara untuk membersihkan sisa-sisa darah yang menempel di bilahnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sitie khotimah
mantap bro
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Lahirnya Legenda Ksatria Abadi   Bab 134. PURA-PURA TULI

    Bab 134. PURA-PURA TULI “Dasar otak lemot, sudahlah ayo kita ikuti anak muda itu,” ata Rudin pada akhirnya untuk menghindari percakapan yang tidak perlu. Meskipun masih terlihat kebingungan, akan tetapi Parto mengikuti langkah Rudin yang berlari cepat menuju keluar kotaraja. Sementara itu Jaka Tole yang menaiki kuda, terlihat cukup senang karena tidak ada mengikutinya. Begitu memasuki hutan diluar Kotaraja. Setelah menemukan tempat yang cukup lapang di pinggir kotaraja, Jaka Tole menghentikan lari kudanya. Kemudian dia segera memindahkan peti koin emas yang ada di atas kuda ke dalam ruang penyimpanannya. Tak lama kemudian sebuah api unggun pun terlihat dari kejauhan, Parto dan Rudin yang mengejar Jaka Tole tampak tersenyum lega saat melihat buruannya sedang istirahat. Dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi, Rudin dan Prto mendatangi tempat pemberhentian Jaka Tole. “Diam, jangan bergerak!” perintah Rudin sambil mengacungkan sebuah parang

  • Lahirnya Legenda Ksatria Abadi   Bab 133. MENJADI INCARAN PERAMPOK KOCAK

    Bab 133. MENJADI INCARAN PERAMPOK KOCAK Raja Anusapati dan para prajuritnya tampak tertegun, menatap pemuda yang mereka anggap hanya seorang tabib ajaib ternyata adalah seorang pendekar yang sangat tangguh. “Beres, sekarang buka semua topeng mereka agar kita tahu siapa mereka sebenarnya,” kata Jaka Tole kepada Senopati yang sedang berdiri dengan bengong sambil menepuk telapak tangannya seolah-olah sedang membersihkan debu. “Ba… baik…, semuanya cepat buka topeng mereka!” Seketika itu juga para prajurit yang tersisa, segera membuka topeng kain yang menutupi penyerang mereka. “Ini… ini… bukankah dia Senopati Pandu? Salah satu orang kepercayaan Pangeran Panggulu?” Suasana seketika menjadi hebat, setelah semua pendekar bertopeng dibuka topeng yang menutupi wajah mereka. Karena beberapa dari pendekar bertopeng ternyata adalah prajurit kerajaan Mandala, hanya saja mereka di bawah penguasaan Pangeran Panggulu. Kini yang tersisa dari pendekar bertopeng ya

  • Lahirnya Legenda Ksatria Abadi   Bab 132. AKSI JAKA TOLE

    Bab 132. AKSI JAKA TOLE Tutur Jaka Tole sambil memandang sekelilingnya untuk mengantisipasi serangan pendekar bertopeng. Para Senopati yang mengawal sang Raja, tentu saja langsung mengenali sosok Jaka Tole yang pernah mengobati sang Raja. Mereka merasa lega, begitu tahu kalau keselamatan sang Raja ada yang menjaganya. Berbeda dengan para penyerang, mereka sangat marah begitu mengetahui ada orang yang membantu sang Raja. “Semuanya, segera habisi Raja yang sakit-sakitan ini. Jangan biarkan ada satupun orang yang selamat.” Terdengar teriakan dari arah belakang, seruan ini seketika membakar semangat para pendekar bertopeng. Seketika itu juga, ada puluhan pendekar bertopeng yang menyerbu ke arah Jaka Tole. Melihat ada pendekar bertopeng yang menyerangnya, tangan Jaka Tole bergerak kearahnya. Bugh…! “Argh… argh…” Terdengar jerit kesakitan dari beberapa pendekar bertopeng yang berniat membunuh sang Raja Anusapati. Tapi dihadapan Jaka Tole, para pengganggu itu bukanlah lawa

  • Lahirnya Legenda Ksatria Abadi   Bab 131. BANTUAN DATANG

    Bab 131. BANTUAN DATANG Pertarungan Pun terjadi di dalam hutan, para prajurit banyak yang tewas dan terluka, meskipun jumlah mereka lebih banyak dari para penyerang yang memakai topeng hitam. Hanya para Senopati yang bisa bertahan dan melukai beberapa penyerang. Sementara itu Baginda Raja Anusapati tampak siaga dengan golok di tangannya siap untuk menghadapi siapapun yang berani mendekat. Tiga ratus prajurit kerajaan kini hanya tinggal lima puluh orang termasuk para sekop yang menjaga sang Raja. Kenyataan ini tentu saja mengejutkan sang Raja dana para Senopati yang mengawalnya. Mereka sama sekali tidak menyangka, kalau ada orang yang berani menyerang Baginda Raja Anusapati dan pasukannya. “Baginda, sebaiknya Baginda Raja segera lari ke istana dan mencari bantuan, biar kami menghalangi mereka,” kata salah satu Senopati sambil terus bertarung menghadapi pasukan bertopeng hitam ini. “Mau lari? Ha ha ha ha… kalian tidak akan dibiarkan melarikan diri. Kalian akan kami bunuh

  • Lahirnya Legenda Ksatria Abadi   Bab 130. SERANGAN MENDADAK

    Bab 130. SERANGAN MENDADAK Begitu memasuki hutan, Jaka Tole segera mencari tempat yang nyaman untuk membuat rumah dari tanah. Sebagai pendekar yang menguasai elemen tanah, tentunya dia sangat memanfaatkan keahliannya ini untuk membuat rumah dari tanah seperti biasanya. Hanya dengan menggunakan pikirannya, dibawah pohon besar sudah berdiri sebuah rumah berbentuk jamur setengah lingkaran. Kali ini Jaka Tole membuat perapian dan cerobong asap di atap rumah tanahnya. Sedangkan bagian pintunya kembali ditutup dengan tanah, karena sia belum akan menempati saat ini. “Rumah sudah jadi, sekarang tinggal mencari ayam hutan atau kelinci untuk makan malam,” gumam Jaka Tole sambil menepuk telapak tangannya seakan sedang membersihkan debu. Sekelebatan saja tubuh Jaka Tole sudah menghilang dari tempatnya berdiri. Tubuh Jaka Tole berlompatan dari satu dahan ke dahan pohon lainnya. Sementara sepasang matanya menatap ke segala penjuru dengan tatapan tajam, hing

  • Lahirnya Legenda Ksatria Abadi   Bab 129. ROMBONGAN KERAJAAN

    Bab 129. ROMBONGAN KERAJAAN Dengan pakaian atas yang sudah dilepas, Jaka Tole berbaring diatas tempat tidur. Kemudian kedua wanita cantik itu juga naik keatas tempat tidur. Kedua wanita itu berbagi tugas, yang satu melihat dibagian atas sedangkan yang satunya memijat bagian kaki. Mungkin sudah menjadi kebiasaan Jaka Tole, begitu tubuhnya ada yang memijat, seketika itu juga rasa kantuk langsung menyerangnya. Perlahan-lahan sepasang matanya mulai terpejam dan tanpa disadari dia sudah tertidur pulas. Kedua wanita penghibur itu belum menyadari kalau pria yang mereka pijat sudah tidur dengan nyenyak. Hingga salah satu wanita yang memijat bagian kaki bertanya. Mereka berdua belum menyadari kalau Jaka Tole sudah tertidur pulas, maklum saat ini dia sedang tengkurap, sehingga wajahnya tidak terlihat. “Raden, bagaimana pijatan kami, apakah enak?” “Raden…. Raden…. Raden….” Kedua wanita penghibur ini langsung panik, ketika pertanyaan mereka t

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status