LOGINDi beranda rumah yang dipenuhi tanaman hias rimbun, Albert sedang duduk tenang menikmati sisa sore itu. Mata menelusuri baris berita di koran yang dipegangnya dengan santai. Waktu terasa berjalan lambat di sini, jauh dari hiruk-pikuk kota hingga suara langkah kaki mendekat membuatnya mengangkat wajah. Pelayan rumah berdiri di ambang pintu. Sikapnya sedikit canggung seolah takut mengganggu ketenangan tuannya.“Tuan, ada tamu. Katanya… putra dari Alexander Knight.”Nama itu meledak pelan di telinga Albert. Koran di tangannya terhenyak, lalu perlahan diletakkan di atas meja kayu di hadapannya, seolah berat sekali. Matanya menatap pelayan itu lekat. Napasnya tertahan sejenak.“Sekarang dia di mana?”“Ada di teras depan. Saya belum berani mempersilakan masuk sebelum Anda mengizinkan.”“Baik. Aku akan langsung menemuinya. Tolong buatkan minuman hangat untuk mereka.”“Baik, Tuan.”Pelayan itu menunduk lalu berjalan menuju dapur, sementara Albert segera bangkit dari kursinya. Langkahnya terge
Di ruang makan rumah yang sederhana itu, suasana yang tadi penuh harapan kini perlahan berubah menjadi cemas. Ruby menyuap nasi ke mulutnya dengan semangat, seolah setiap suapan membawa mereka semakin dekat ke kehidupan mewah yang selama ini diimpikan. Hendrik duduk di hadapannya, senyum tak pernah lepas dari wajah.“Menurut Papa, apakah Stella sudah berhasil bertemu dengan Tuan Xavier?” tanya Ruby, suaranya bergetar karena antusiasme yang tak bisa disembunyikan.Hendrik meletakkan sendoknya perlahan, menatap istrinya dengan penuh keyakinan. “Mungkin sudah. Dan bisa jadi Tuan Xavier sudah tertarik pada Stella. Kecantikan putri kita tidak mungkin tidak dapat mengalihkan perhatian laki-laki seperti Tuan Xavier yang konon suka membawa wanita ke kediamannya.”Ruby tersenyum lebar, matanya berbinar membayangkan masa depan yang gemilang. “Kalau begitu, kita hanya tinggal menunggu kabar baik. Mungkin seperti waktu itu, akan datang dua orang pria utusan Tuan Xavier ke rumah kita untuk meminta
Di ruang kerja yang beraroma kayu cendana, suasana terasa berat namun tenang. Cahaya matahari pagi menembus tirai jendela yang tebal, menyinari permukaan meja kayu jati yang besar dan mengkilap. Xavier duduk di kursi kerjanya, punggungnya tegak namun bahunya terlihat tegang, menahan rasa kesal yang masih membara di dadanya. Tatapannya tajam tertuju pada Henry yang berdiri di hadapannya. Tangan tua itu terlipat rapi di depan perut, menunggu perintah.“Jelaskan padaku bagaimana dia bisa ada di sini,” ucap Xavier, suaranya rendah namun penuh penekanan, seolah setiap kata membawa beban kekhawatiran yang tak terucap. Wajahnya tak menyembunyikan kekesalan. Ia sudah memastikan tempat ini menjadi tempat paling aman bagi Eleanor, jauh dari siapa pun yang berniat menyakitinya. Namun ternyata bayangan masa lalu tetap menyusup masuk. Ia tahu betul sifat orang-orang seperti Ruby dan keluarganya. Mereka bukan orang yang tulus. Mereka adalah orang-orang yang akan mengubah sikap seketika begitu melih
Mendengar Eleanor menyebutkan nama pelayan yang mencurigakan itu, Xavier seketika menoleh penuh perhatian pada istrinya. “Kamu mengenalnya?”Pertanyaan sederhana itu membuat mata Stella melebar tak percaya. Jantungnya berdegup kencang, harapan yang selama ini ia simpan mulai berkobar kembali. Dia bertanya padaku! Mungkin dia tertarik padaku! pikirnya. Ia pun menegakkan tubuh, menyimak setiap kata yang terucap dengan penuh harap. Menunggu momen di mana Xavier akan menatapnya dengan pandangan yang sama seperti ia menatap Eleanor.Eleanor mengangguk pelan. “Iya. Dia Stella. Anak Bibi Ruby.”“Bibi yang mengirimmu ke sini?” tanya Xavier lagi, nadanya mulai berubah tegang.“Ya.”“Yang mengambil rumah dan warisan orang tuamu?”Eleanor sedikit tertegun, matanya mengerjap bingung. Ia tidak menyangka Xavier mengetahui hal sedalam itu. “E… ya.”Namun jawaban itu justru membuat hati Stella seketika ciut. Nada suara Xavier bukanlah nada yang ramah atau tertarik. Nada itu penuh penekanan, penuh kem
Setiap hari, berulang-ulang hingga beberapa kali dalam sehari, Stella mencuri-curi pandang ke arah bangunan utama yang megah dan menjulang di kejauhan. Matanya tak lepas dari pintu utama dan halaman depan, berharap setiap saat akan melihat sosok Eleanor dan Xavier melangkah keluar dari mobil mewah, kembali dari perjalanan bulan madu mereka yang seakan tak berujung itu. Namun hari demi hari berlalu, dan kini sudah masuk hari ketiga ia bekerja sebagai pelayan di kediaman besar itu, pasangan pengantin baru yang dinanti-nantikannya belum juga menampakkan batang hidungnya.Stella menghela napas panjang dengan wajah cemberut sambil menyeka keringat di keningnya. “Lama sekali sih mereka bulan madunya? Padahal di sini saja sudah indah luar biasa. Ada taman bunga yang bermekaran warna-warni, lapangan golf yang luas, kolam renang yang jernih, hutan pinus yang sejuk, kebun buah yang lebat, dan pemandangan alam yang menenangkan mata. Kenapa juga harus pergi jauh-jauh ke luar tempat ini hanya untu
Setelah mengenakan seragam pelayan yang terasa begitu asing dan sempit di tubuhnya, Stella diantar oleh Lily menuju dapur yang luas namun terasa panas dan bising. Bau rempah dan aroma masakan yang menggugah selera menyelimuti ruangan itu, namun bagi Stella, semuanya terasa seperti hukuman yang tidak pantas ia terima."Gabunglah dengan mereka dan bekerjalah," ucap Lily singkat dan dingin, lalu berbalik pergi tanpa menunggu jawaban.Dengan perasaan kesal yang membara di dada, Stella melangkah masuk ke tengah ruangan itu. Para pelayan yang sibuk bergerak cepat seakan tak pernah berhenti sesaat, sesekali melirik ke arahnya sekilas lalu kembali pada pekerjaan masing-masing. Stella berdiri mematung di sudut ruangan, tak tahu harus melakukan apa. Ia menatap tumpukan sayuran, panci besar, pisau-pisau tajam, dan meja kerja yang penuh dengan bahan makanan. Semuanya terasa asing baginya. Akhirnya, ia hanya berdiri diam, menatap orang-orang yang bekerja tanpa bergerak sedikit pun.Tak lama, salah







