Home / Fantasi / Langkah di Jalan Keabadian / Bab 06 Keberhasilan Ye Tian Menguasai Tinju Naga Surga tahap pertama

Share

Bab 06 Keberhasilan Ye Tian Menguasai Tinju Naga Surga tahap pertama

Author: Kopi Senja
last update Last Updated: 2025-10-01 16:51:43

Ye Tian menyadari, kalau bayangan naga surgawi di hadapannya memiliki ranah kultivasi jauh di atasnya. Karena itu, ia akan mengerahkan segenap kemampuan yang di milikinya.

Aura emas meledak dari tubuhnya, bersatu dengan derak petir hitam yang mengelilinginya bagaikan rantai langit.

Dengan teriakan lantang, tubuhnya melesat ke depan. Tinju kanan diangkat tinggi, qi terkumpul liar di kepalan tangan.

"Tinju Naga Surga!"

Di belakangnya, bayangan naga agung terbentuk, raungannya memekakkan telinga, bergema seakan mengguncang langit ilusi.

Groarrr!!! Boommm!!!

Benturan terjadi. Bayangan naga Ye Tian menghantam bayangan naga surgawi raksasa.

Ledakan dahsyat mengguncang ruang ilusi. Cahaya emas dan petir hitam bercampur, menelan segalanya.

Bayangan naga surgawi meraung terakhir kalinya, tubuh raksasanya retak seperti kaca, sebelum hancur berkeping-keping dan lenyap ditelan cahaya.

Ye Tian terdorong mundur beberapa langkah, napasnya terengah-engah, darah segar menetes dari sudut bibirnya. Namun matanya bersinar tajam penuh kemenangan.

"Berhasil…" bisiknya lirih, sambil mengepalkan tinjunya yang masih bergetar. Dia tak menyangka, kalau Tinju Naga Surga tahap pertama sangat menguras energi qi nya.

Di langit ruang ilusi, awan emas berputar, lalu sebuah cahaya menyelimuti tubuh Ye Tian, seolah mengakui dirinya sebagai pewaris sah Tinju Naga Surgawi.

Cahaya keemasan perlahan memudar. Ruang ilusi retak, hancur bagaikan kaca yang dilemparkan ke batu, lalu lenyap tanpa jejak.

Ye Tian tersentak, matanya terbuka lebar. Ia kembali berdiri di tanah lapang, tubuhnya masih diselimuti sisa aura emas dan petir hitam yang berderak pelan di sekelilingnya. Nafasnya berat, tapi matanya penuh cahaya kemenangan.

"Haha… sungguh aku tak menyangka kau bisa menguasai Tinju Naga Surgawi tahap pertama secepat ini, bocah," puji Shen Long dengan suara lantang, penuh kebanggaan. Matanya yang tajam menyorot Ye Tian, seakan melihat bayangan naga perkasa di balik tubuh pemuda itu.

Shen Long tersenyum samar. “Aku tidak salah menaruh harapan padamu. Dalam waktu singkat, kau berhasil menaklukkan jurus yang bahkan para dewa pun enggan melatihnya. Tubuh Kaisar Langit-mu… benar-benar sebuah berkah sekaligus ancaman."

Ye Tian mengepalkan tinjunya, wajahnya masih serius.

"Senior, aku berterima kasih atas bimbinganmu. Jurus ini… aku akan menggunakannya bukan hanya untuk melindungi diriku, tapi juga untuk melindungi orang lain serta melawan musuh-musuhku," ucapnya dengan sungguh-sungguh.

Shen Long menatap lama, matanya mengandung kebanggaan sekaligus peringatan.

"Bagus. Tapi ingat, memiliki Tubuh Kaisar Langit berarti kau akan dimusuhi banyak kultivator, baik dari aliran putih maupun hitam. Karena tubuh sepertimu dianggap ancaman terbesar bagi mereka. Itulah sebabnya aku ingin kau tumbuh menjadi kultivator terkuat, agar mampu melindungi dirimu… sekaligus orang-orang terdekatmu."

Ye Tian terdiam sejenak. Kata-kata Shen Long terasa berat, namun justru menyalakan api tekad di dalam dadanya. Ia mengepalkan tinjunya erat.

"Senior… aku mengerti. Sejak awal hidupku memang tidak pernah tenang. Kalau dunia menganggapku ancaman, maka aku akan buktikan. Aku tidak akan pernah tunduk. Aku akan jadi kuat, cukup kuat untuk melindungi diriku… dan mereka yang berharga bagiku."

Mata Ye Tian berkilat tegas, seolah tak lagi gentar pada bayangan musuh yang menunggu di luar sana.

Shen Long menatapnya, lalu mengangguk tipis.

"Hmph, itu baru ucapan keturunan Ye Mo Tian." Dia sadar kalau kedepannya Ye Tian bakal mengalami banyak permasalahan yang silih berganti mendatanginya tanpa bisa di cegah.

Setelah memberi wejangan, Shen Long mengangkat tangannya. Dua kitab kuno melayang perlahan di udara, lalu jatuh tepat di depan Ye Tian. Satu berisi corak rumit layaknya diagram, sementara yang lain memancarkan aura tajam seolah pedang tersembunyi di dalamnya.

"Pelajari dua kitab itu baik-baik, bocah," ucap Shen Long dengan tegas. “Kitab pertama berisi tehnik formasi. Kitab kedua adalah teknik pedang tingkat tinggi dewa. Karena kemampuanmu saat ini belum layak jika berhadapan dengan para kultivator di luar sana." Usai berkata demikian, tubuh Shen Long perlahan memudar, kembali ke wujud naga raksasa sebelum menghilang ke dalam kabut dunia kecil itu.

Ye Tian hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Shen Long yang selalu penuh misteri. Namun, di tangannya kini ada dua kitab berharga yang bisa menentukan masa depannya. Ia menarik napas dalam, lalu menyimpan keduanya dengan hati-hati.

"Baiklah… kalau itu maumu, Senior. Aku akan menuruti perkataanmu," gumamnya mantap.

****

Di Desa Qinghe...

Lin Hao, Meng Rou, Meng Han, dan Meng Jin masih terus mencari keberadaan Ye Tian yang tiba-tiba menghilang sejak kemarin. Mereka sudah menyusuri hutan, lembah, desa desa lain, bahkan sungai, namun tetap tidak menemukan jejaknya.

Meng Rou menggenggam erat tangannya sendiri, matanya berkaca-kaca. "Ayah… kenapa Tian ge belum juga ditemukan? Aku takut sesuatu yang buruk menimpanya."

Meng Han melirik putrinya, napasnya terasa berat. Ada kerut cemas yang terlihat jelas di wajahnya meski ia berusaha tetap tegar.

"Rou’er… jangan asal bicara. Selama ayah belum melihat tubuhnya sendiri, ayah tidak akan percaya kalau Ye Tian sudah tiada."

Meng Rou menggigit bibirnya, matanya memerah menahan air mata. "Tapi Ayah… aku benar-benar takut. Tian ge selalu melindungiku, bagaimana kalau kali ini dia..."

"Rou'er. Kamu jangan berfikiran yang tidak tidak. Lebih baik kita lanjutkan pencarian." Meng Rou, Meng Jin serta Lin Hao menganggukan kepala.

Mereka kembali melangkah menyusuri hutan yang kian gelap, suara serangga malam terdengar semakin nyaring, menambah tekanan suasana. Setiap langkah terasa berat, seolah bayangan buruk terus mengikuti mereka.

Meng Jin yang sejak tadi terdiam akhirnya membuka suara. "Ayah, kalau benar Tian'er tidak ada di sekitar sini… mungkinkah dia ditarik oleh semacam kekuatan aneh?" Nada suaranya ragu, tapi jelas ada kegelisahan.

Meng Han berhenti sejenak, menatap ke sekeliling dengan tajam. "Tidak ada yang mustahil. Dunia kultivasi penuh dengan rahasia dan bahaya yang tidak bisa dijelaskan. Tapi ingat, dia bukan orang lemah. Kita tidak boleh meremehkannya."

Lin Hao, yang berjalan di depan sambil menajamkan inderanya, tiba-tiba mengangkat tangan, memberi isyarat agar yang lain berhenti. "Tunggu. Ada sesuatu di sini…" gumamnya.

Mereka semua menatapnya dengan waspada. Lin Hao jongkok, menyentuh tanah yang masih basah. "Ada bekas energi… samar sekali, tapi ini jelas milik Ye Tian. Dia memang sempat berada di tempat ini."

Meng Rou menahan napas, jantungnya berdebar kencang. "Benarkah, Lin Hao?"

Lin Hao mengangguk pelan. "Ya. Tapi jejak ini seperti terputus mendadak, seolah dia menghilang ke dalam udara."

Meng Han mengepalkan tinjunya, matanya berkilat tajam. "Kalau begitu, kita harus terus mencari. Tidak peduli ke mana pun dia dibawa, aku tidak akan berhenti sampai menemukannya."

Sebagai seorang Ayah, dia sangat mengkhawatirkan putra Angkatnya itu. Ia bingung dan heran mengapa Ye Tian bisa mendadak menghilang tanpa sebab.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 119 Melawan Ular Hitam Penjaga Bunga Teratai Lima Warna

    Ye Tian menatap sekilas ke arah danau yang membeku setengah. Permukaannya tenang, terlalu tenang—namun di balik lapisan es tipis itu, gelombang aura dingin terus berputar tanpa henti. Tatapannya lalu beralih pada Jiang Ruolan. Ia merasakan energi qi pada Kakak perempuannya itu kacau, namun jejak pertempuran jelas terlihat dari napas yang belum sepenuhnya teratur dan lengan bajunya yang robek di beberapa bagian. "Kakak dan para Saudara dan Saudari segera memulihkan diri terlebih dahulu. Jangan terlalu memaksakan diri, karena itu sangat berisiko. Bisa-bisa nyawa kalian melayang sebelum mendapatkan bunga teratai lima warna itu," ucap Ye Tian tenang. "Ular hitam itu bukan sekadar penjaga biasa." Jiang Ruolan tersenyum tipis, sedikit pahit. "Kamu benar, meski kami mencoba mengurungnya dengan segel formasi es, dia mampu mengancurkan formasi itu. Aku tadi sempat melawannya, tapi aku kesulitan menembus pertahanan

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 118 Mendapatkan Hewan Kontrak Kedua

    Ye Tian kembali memusatkan perhatiannya ke depan. Macan bertaring emas itu masih tertekan ke tanah, tubuhnya bergetar hebat. Aura Raja Buas yang tadi meledak kini kacau, naik turun tak terkendali. Tanah di bawahnya terus berderak, retakan menjalar semakin lebar. "Jangan menatap ke tempat lain… manusia," geram macan itu dengan susah payah. “Jika kau lengah, aku—" Tekanan ruang tiba-tiba bertambah berat. BOOM! Tanah amblas lebih dalam. Tubuh macan itu tertekan setengah masuk ke tanah, tulang-tulangnya berderak keras. Raungannya terputus, berubah menjadi erangan tertahan. Ye Tian melangkah mendekat, berhenti tepat di depan kepala macan itu. Tatapannya dingin, tanpa emosi. "Kau terlalu banyak bicara untuk makhluk yang nyawanya sedang berada di ujung tanduk." ucapnya datar. Macan itu terengah. Matanya bergetar, menatap Ye Tian dari jarak sedekat ini. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan sesuatu yang lebih mengerikan dari kematian—ketidakberdayaan total. "Jika…

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 116 Mendapatkan Hewan Kontrak Kera Putih

    Shen Long segera menyambut serangan kera putih di depannya. Duar! Dentuman keras menggema ke seluruh area saat kedua tinju beradu, tanah bergetar kuat. Keduanya sama-sama terpental ratusan langkah. "Mustahil....bagaimana mungkin dia bisa mengimbangi kekuatanku," gumam kera putih yang terkejut dengan kekuatan yang di kiliki oleh lawannya itu. Kera putih itu mendarat dengan keras, kakinya menghantam tanah hingga retakan menjalar ke segala arah. Debu beterbangan. Dadanya naik turun, matanya yang merah menyala menatap Shen Long dengan campuran marah dan waspada. Ia menggeram rendah. "Manusia....siapa kau sebenarnya? Dari auramu sepertinya kau bukan manusia? Shen Long merenggangkan jari-jarinya perlahan. Tulang-tulang tangannya berbunyi lirih. Tatapannya tenang, ta

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 117 Kepanikan Melanda Para Murid

    Raungan keras mengguncang lembah. Batu-batu kecil berjatuhan dari tebing di kiri-kanan, dan tekanan aura buas langsung menekan ke arah mereka. Dari balik kabut tipis, muncul seekor macan raksasa berbulu emas kehitaman. Taringnya panjang melengkung keluar, matanya merah menyala, dan setiap langkahnya membuat tanah bergetar. Aura Raja Buas tingkat tinggi meledak tanpa ditahan. Yinshen refleks berhenti. Napasnya berat. “Itu dia…” Macan bertaring emas itu menundukkan kepala, menatap Ye Tian dan rombongan dengan sorot lapar. "Manusia… dan pengkhianat." Tatapan matanya berhenti pada Yinshen. "Kau menjual harga dirimu demi hidup, rupanya." Yinshen menggertakkan gigi, namun tidak mundur. "Aku memilih hidup." Macan itu tertawa kasar. "Kalau begitu, aku akan memakan kalian semua—

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 115 Bunga Teratai Lima Warna

    Jiang Ruolan segera menenangkan diri. Tatapannya tertuju pada bunga teratai lima warna di tengah danau, namun ekspresinya tetap waspada. "Jangan gegabah," ujarnya dingin. "Tempat seperti ini tidak mungkin meninggalkan harta tanpa penjaga." Sembilan murid Sekte Bunga Salju langsung siaga. Mereka menyebar, membentuk formasi setengah lingkaran di tepi danau. Aura dingin khas sekte itu mengalir perlahan, membantu mereka menahan tekanan gravitasi dunia kuno. Danau itu tampak tenang. Permukaannya memantulkan cahaya lima warna dari bunga teratai, berkilau indah—namun terlalu sunyi. Tiba-tiba, riak kecil muncul di tengah danau. Satu. Lalu dua. Air berputar pelan, membentuk pusaran kecil tepat di bawah bunga teratai. Aura buas yang tersembunyi perlahan naik ke permukaan, berat dan menekan. Wajah Jiang Ruolan berubah tipis. “Hewan penjaga…” Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya. Sosok besar muncul dari dalam air—ular raksasa bersisik hitam kebiruan, matanya kuning menyala.

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 114

    Siang hari, Long Chen dan rombongannya memasuki kawasan Pegunungan Xuanfeng. Ketika mereka bergerak semakin dalam, mereka mendadak berhenti. Sekelompok pria bertopeng tengkorak muncul dari balik pepohonan, menghadang jalan mereka. "Serahkan semua sumber daya yang kalian miliki, jika ingin hidup melewati wilayah kami," ujar Bao Zhixin, pemimpin Perampok Tengkorak Merah, sambil mengacungkan pedangnya. Long Chen hanya menggeleng pelan. Tatapannya menyapu satu per satu anggota perampok di hadapannya. "Sejak kapan Pegunungan Xuanfeng menjadi wilayah kalian?" Tang Mingyu melangkah maju. "Daerah ini masih berada di bawah kekuasaan Kota Zhoucheng." Bao Zhixin menyeringai. "Jadi kau ingin menentang kami?" Tatapannya mengeras. "Meski kau putra Patriark Tang Qiyu, aku tidak takut menghadapi semut sepertimu." Tang Mingyu menyipitkan mata. Aura di tubuhnya mulai bergerak. "Semut?" suaranya dingin. Bao Zhixin tertawa kasar. Ia mengangkat tangan kanannya. "Habisi mereka. Sisakan sat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status