Masuk"Arrgghh...!" Ye Tian berteriak kesakitan ketika tubuhnya tiba-tiba tercebur ke dalam kolam petir berwarna hitam ke emasan. Giginya gemeletuk, tubuhnya bergetar hebat, seolah ribuan jarum menusuk setiap inci daging dan tulangnya.
Tak jauh dari sana, seekor naga raksasa tengah mengawasi. Sorot matanya penuh wibawa, namun tetap tenang. Dialah penjaga yang dipercaya Ye Mo Tian untuk menempa dan membimbing Ye Tian hingga kelak menjadi kultivator terkuat. "Aku harap kau tidak mengecewakan harapan leluhurmu, Tuan Muda," gumam naga itu, sebelum memejamkan mata dan kembali tertidur. Suara jeritan Ye Tian bergema, mengguncang seluruh dunia kecil dalam Batu Semesta. "Rasa sakit ini… tidak ada apa-apanya dibanding penderitaan yang sudah kutanggung selama ini!" desis Ye Tian di sela-sela teriakannya. Dengan tekad membara, ia mulai menyerap energi petir yang mengalir ganas ke tubuhnya. Aura emas perlahan menguar keluar, menyelimuti tubuhnya. Akar spiritualnya berdenyut, menyerap energi petir dengan gila-gilaan. Dantiannya berputar, memurnikan energi liar itu menjadi qi murni, lalu mengalirkannya ke titik titik meridian. Tiga hari penuh ia bertahan. Hingga akhirnya, kolam petir yang semula mengamuk kini kering dari energi. Shen Long membuka mata. Sorot kagumnya tak bisa disembunyikan. Naga itu kemudian berubah wujud menjadi seorang pemuda tampan yang memancarkan aura agung, berjalan mendekati Ye Tian. " Apa kau belum puas menyerap energi petir, bocah?" suaranya terdengar ringan, namun membawa tekanan. Ye Tian membuka mata. Meski tubuhnya lelah, ia lalu menoleh ke arah sumber suara. "Hehe... maaf, Senior. Aku lancang menyerap energi kolam petir milik Senior. Aku sendiri pun bingung kenapa bisa tiba-tiba ada di sini." Shen Long menatapnya tajam. Senyum samar terselip, namun ia menahan diri untuk tidak menunjukkannya. "Sungguh lancang kau, bocah! Apa kau tahu konsekuensi dari perbuatanmu ini?" Aura penindasan mengalir deras. Ye Tian bergidik, menelan ludah berulang kali. Wajahnya pucat pasi. Dalam hati, ia panik dan berfikir apakah ini akhir hidupnya? Bahkan dendam pada Zhou Liang, Lin Fei, maupun Mei Lan belum sempat ia balaskan. "Haha... lihat ekspresinya, benar-benar lucu," batin Shen Long sembari menahan tawa. Ia kemudian melanjutkan dengan nada dingin, "Sebagai hukumannya, kau harus melakukan apa pun yang kusuruh. Apa kau setuju, bocah?" Ye Tian menarik napas dalam-dalam, lalu menjawab mantap, "Baik, Senior. Anggap saja ini bentuk penebusan atas kesalahanku." "Bagus. Keluar dari kolam itu, dan ikuti aku." Ye Tian segera melompat keluar, tubuhnya masih berasap tipis akibat petir hitam, lalu mengikuti Shen Long. Rasa penasaran menggelayut di pikirannya tentang siapa sebenarnya sosok misterius ini. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah tanah lapang. Wush! Sebuah kitab tiba-tiba muncul di tangan Ye Tian. "Pelajari kitab itu baik-baik," ucap Shen Long tenang. Ye Tian melongo. Ia sempat menduga akan mendapat hukuman berat, tak disangka justru diberi sebuah kitab. Dan bukan sembarang kitab, itu adalah teknik pukulan naga tingkat dewa! "I... ini..." tangan Ye Tian gemetar hebat. Matanya melebar, penuh ketidakpercayaan. "A-apa ini tidak salah, Senior? Mengapa Anda memberiku sebuah teknik tingkat dewa?" tanyanya dengan suara bergetar. Shen Long tersenyum simpul. "Tidak salah, bocah. Itulah hukuman yang kuberikan padamu." Ye Tian semakin bingung. Seumur hidupnya, baru kali ini ia mendengar ada ‘hukuman’ berupa pemberian teknik dewa. Ye Tian masih menatap kitab di tangannya dengan wajah linglung. Energi misterius mengalir samar dari sampulnya, seakan naga surgawi bersemayam di dalamnya. Shen Long menyilangkan tangan di dada, lalu menatap tajam. “Jangan hanya melongo seperti itu. Segera kau pelajari kitab tersebut. Itu bukan kitab biasa, melainkan Jurus Pukulan Naga Surga, teknik tingkat dewa yang hanya bisa dipelajari oleh pemilik tubuh sepertimu.” Ye Tian terperanjat. "Jurus… Pukulan Naga Surga?" "Benar." Shen Long mengangguk pelan, lalu melangkah mendekat. Aura agungnya menggetarkan udara. "Teknik itu adalah pukulan yang dapat mengguncang langit dan menghancurkan bumi. Sekali dilepaskan, akan muncul bayangan naga surgawi dari tanganmu. Namun, bukan sembarang orang bisa menanggung kekuatannya. Hanya Tubuh Kaisar Langit yang sanggup melakukannya tanpa binasa." Mata Ye Tian terbelalak lebar. Ia memandang kitab itu seolah menggenggam takdirnya sendiri. “Tubuh Kaisar Langit… jadi itu sebabnya Senior memberikannya padaku?” Shen Long tersenyum samar, tapi tatapannya tajam. "Jangan salah paham, bocah. Aku tidak memberikannya karena belas kasihan. Justru sebaliknya, aku ingin tahu apakah kau benar-benar pantas menyandang tubuh itu. Anggap saja… ini adalah ujian pertama yang harus kau lewati." Ye Tian menggertakkan giginya. Tangan yang memegang kitab bergetar, bukan karena takut, tapi karena semangat membara. "Baik, Senior! Aku akan mempelajari Jurus Pukulan Naga Surga, dan aku akan menguasainya secepat mungkin!" Shen Long tertawa kecil, namun nadanya mengandung wibawa. "Hmph, kita lihat saja, bocah. Jika kau gagal, kitab itu akan menelanmu bulat-bulat. Jika berhasil, maka jalanmu menuju puncak kultivasi akan terbuka lebar. Bersiaplah, karena begitu kau mulai, tidak ada jalan untuk mundur." Ye Tian menarik napas panjang, lalu dengan hati-hati membuka kitab itu. Srakk... Begitu halaman pertama terbuka, sebuah sinar keemasan menyembur keluar, menyilaukan mata dan melesat ke langit. Riak energi menyebar ke segala arah, membuat tanah bergetar dan udara berdesis. "Ukh…!" Ye Tian terpaksa menyipitkan mata, tubuhnya seakan terseret oleh kekuatan misterius dari kitab itu. Dalam sekejap, kesadarannya ditelan cahaya. Dunia di sekelilingnya berguncang, berganti dengan sebuah ruang luas tanpa ujung. Di atasnya, bayangan naga surgawi raksasa berputar-putar di antara awan keemasan, matanya bersinar tajam seolah menembus jiwa. Degg..! degg...! Detak jantung Ye Tian berdentum keras, seakan mengikuti irama hembusan napas naga tersebut. "Ini… ini bukan dunia nyata…" gumamnya. Tiba-tiba, suara Shen Long bergema, entah dari mana datangnya. "Itulah ruang ilusi Jurus Pukulan Naga Surga. Jika kau mampu bertahan dan menaklukkan bayangan naga itu, maka kau akan memahami inti dari jurus ini. Tapi jika kau gagal…!" suaranya mengeras, "Kesadaranmu akan terhisap selamanya, dan tubuhmu di dunia nyata akan menjadi cangkang kosong." Ye Tian mengepalkan tinjunya, wajahnya tegang tapi matanya menyala penuh tekad. "Kalau begitu, aku tidak punya pilihan lain selain berhasil!" Bayangan naga surgawi meraung, suara gemuruhnya mengguncang langit dan bumi ilusi itu. Gelombang tekanannya menghantam Ye Tian, membuat tubuhnya terasa seolah dihantam palu raksasa ribuan kali. Namun, Ye Tian menancapkan kakinya ke tanah, menolak mundur. "Aku sudah menanggung rasa sakit yang lebih buruk dari ini… seekor naga ilusi tidak akan membuatku menyerah!" Bayangan naga surgawi meluncur cepat dari langit, aura agungnya menekan hingga tanah ilusi retak. Ye Tian mengepalkan tinjunya, kilatan petir hitam bercampur cahaya emas meledak dari tubuhnya. "Runtuhlah!" teriaknya. Energi emas bertabrakan dengan kepala naga. Boom! Cahaya menyilaukan meledak, mengguncang seluruh ruang ilusi hingga hampir hancur. Akan tetapi pukulan Ye Tian belum berhasil menghancurkan bayangan naga surgawi. Cahaya benturan memang mengguncang seluruh ruang, tetapi naga itu hanya terdorong mundur beberapa langkah di udara, lalu kembali meraung dengan lebih ganas. Nafas Ye Tian terengah-engah, lengan kanannya bergetar hebat, seakan tulangnya retak. "Se… sekuat ini… bahkan satu pukulan terkuatku pun tidak cukup…" gumamnya, napasnya memburu. Bayangan naga itu kembali meluncur, tekanan auranya semakin kuat, membuat tanah ilusi runtuh sedikit demi sedikit. Namun, alih-alih mundur, Ye Tian justru menancapkan kakinya lebih dalam ke tanah. Matanya menyala penuh tekad. “Kalau satu pukulan belum cukup… maka aku akan menghantamnya lagi! Aku tidak akan berhenti sampai naga ini tunduk padaku!”Melihat Jenderal Yan Guo beserta pasukannya berhasil dikalahkan membuat Jenderal Hei Luo murka dan menatap Ye Tian dengan penuh kebencian. Ia menyerang secara membabi buta, namun tidak ada satupun serangannya itu mengenai tubuh musuhnya tersebut. "Kenapa kau selalu menghindari seranganku? Apa kau tidak bisa melawanku, bocah?" ujarnya dengan frustasi. Jenderal Hei Luo menyadari jika tidak mempunyai banyak waktu untuk menghadapi Ye Tian, sebab energi qi-nya sudah terkuras banyak. Bahkan ia mulai merasakan efek samping dari teknik terlarang yang digunakannya untuk melakukan transformasi iblis darah. Walaupun kekuatannya meningkat drastis, tapi dirinya kesulitan menghadapi musuh di depannya itu. Ye Tian hanya tersenyum sinis mendengar perkataan Jenderal Hei Luo. "Kau saja yang terlalu lemah, dan aku tidak ingin menyia-nyiakan energiku melawanmu," jawab Ye Tian dengan nada meremehkan. "Aku akan mengakhiri pertarungan ini dengan satu serangan." Ye Tian kemudian menyemburkan api putih d
Ye Tian mulai memfokuskan seluruh energinya. Sebuah aura keemasan muncul di sekeliling tubuhnya, memancarkan kekuatan dan simbol-simbol kuno mengelilingi tubuhnya. "Kalau begitu, akan ku tunjukkan kekuatan yang sebenarnya," ucap Ye Tian dengan serius. Ye Tian mengaktifkan teknik transformasi Dewa Naga. Tubuhnya mulai berubah, kulitnya ditutupi sisik emas, dan sepasang sayap muncul dari punggungnya. Roarrrrr!!! Raungan naga yang dahsyat mengguncang seluruh area pertempuran. Kekuatan Ye Tian meningkat secara drastis, melampaui batas kemampuannya sebelumnya. "Apa... apa itu?!" Jenderal Yan Guo terkejut melihat transformasi Ye Tian. "Kekuatan macam apa itu?! mustahil? bagaimana bisa dia memiliki kekuatan sekuat ini?" Jenderal Hei Luo juga merasakan kekuatan yang luar biasa dari Ye Tian. Dia tahu bahwa dia tidak bisa meremehkan lawannya lagi. "Aku akan menghancurkanmu! Meski kau berubah wujud menjadi naga kau tidak bisa mengalahkanku, Ye Tian," teriak Jenderal Hei Luo denga
Tak berselang lama, Jenderal Lang Wu, Komandan Lang Shen Tong beserta empat ratus prajurit mendarat tidak jauh dari desa di mana Dua jenderal iblis dan pasukannya berada. Namun keberadaan mereka sudah diketahui dan langsung dikepung dari segala sisi. "Hahaha! Kalian benar-benar bodoh!" Jenderal Hei Luo tertawa terbahak-bahak. "Berani-beraninya kalian masuk ke dalam perangkap kami!" Jenderal Lang Wu tetap tenang. "Kami tidak pernah berniat untuk bersembunyi," jawabnya dengan nada dingin. "Kami datang untuk menghancurkan kalian." "Sombong sekali!" Jenderal Yan Guo maju selangkah. "Kalian pikir bisa mengalahkan kami hanya dengan empat ratus orang? Kalian akan mati di sini!" Jenderal Lang Wu menyeringai. "Kita lihat saja nanti siapakah yang akan mati." tidak jauh dari tempat itu, Yinshen maupun Ming Liu menggerakkan kedua tangan dengan cepat membentuk segel formasi pengurung dari sisi yang berbeda. Cahaya keemasan membentuk sebuah jaring raksasa mengelilingi area pertempuran. M
Menjelang sore, Ye Tian bersama rombongannya sampai di kawasan luar Pegunungan Ansha dan mendarat di tempat Jenderal Lang Wu beserta pasukannya berada. "Selamat datang, Tuan Muda," ucap Jenderal Lang Wu. Jenderal Lang Ruohai, Komandan Lang Shen Tong, Komandan Lang Muye, serta para pasukan turut menyambut kedatangan Ye Tian dan rombongannya dengan penuh hormat. Ye Tian mengangguk pelan sambil tersenyum hangat. Ia bisa merasakan bahwa kultivasi kedua jenderal, para komandan, maupun seribu pasukan Raja Lang Xuan telah mengalami peningkatan. Mereka kini berada di ranah Raja dan Kaisar tingkat awal hingga tingkat puncak. "Selamat atas kenaikan tingkat kultivasi Jenderal Lang Wu, Jenderal Lang Ruohai, Komandan Lang Shen Tong, Komandan Lang Muye, dan para prajurit," ucap Ye Tian dengan senyum puas. "Dengan begini kita bisa menghadapi musuh dan meminimalisir jatuhnya korban di pihak kita. Namun, pertempuran kali ini tidaklah mudah. Pihak musuh pasti telah menyiapkan strategi untuk menghad
Sepeninggalan Ye Tian dan Shen Long, Jenderal Gong Da menoleh ke arah Gong Jun yang terkapar. "Bawa dia ke ruang tahanan," perintahnya dingin. Dua prajurit segera bergerak, dan menyeret Jenderal Gong Jun menjauh dari halaman istana. Dua prajurit segera bergerak, menyeret tubuh Gong Jun yang tak lagi berdaya. Jeritannya memecah halaman istana yang mulai sunyi, lalu perlahan melemah, hingga akhirnya hanya tersisa erangan tertahan. Puluhan prajurit menunduk, enggan menatapnya terlalu lama. Sosok yang dahulu mereka hormati sebagai jenderal kini tak lebih dari seorang tahanan tanpa kultivasi, tanpa kekuatan, dan tanpa masa depan. Jenderal Gong Da memejamkan mata sesaat. Saat membukanya kembali, sorot matanya tajam dan tidak ada lagi keraguan sedikitpun. "Perketat penjagaan istana," perintahnya pada para komandan. "Mulai hari ini, tidak boleh ada satu pun celah. Kota Nanlin tidak akan jatuh karena pengkhianatan dari dalam." "Baik, Jenderal!" jawab para prajurit serempak. Wa
Namun sorot mata Jenderal Gong Jun penuh kebencian dan kemarahan pada Ye Tian. Baginya, pemuda di hadapannya itu tidak lebih dari orang luar yang kebetulan memiliki sedikit kemampuan. Seseorang yang tidak berhak mencampuri urusan kekuasaan kota Nanlin. Ia mengeratkan genggaman pada pedangnya. Meski tangannya masih bergetar, Gong Jun memaksa dirinya berdiri tegak. "Tch!" Ia mendengus kasar, menatap Ye Tian dengan tajam. "Orang luar sepertimu tidak seharusnya ikut campur urusanku." Aura pendekar Kaisarnya mencoba menahan aura pendindasan milik Ye Tian. "Jangan pikir hanya karena kau punya sedikit kemampuan, kau bisa melawanku," lanjutnya dingin. "Aku tidak butuh persetujuanmu… dan bagiku kau hanya pemuda lemah yang mudah untuk aku kalahkan." Mendengar perkataan Jenderal Gong Jun Ye Tian hanya menggelengkan kepala dan tersenyum tipis. "Jika demikian buktikan ucapanmu itu. Aku ingin melihat sejauh mana kemampuanmu." Senyum tipis di wajahnya memudar, berganti ketenangan yang d







