Home / Fantasi / Langkah di Jalan Keabadian / Bab 04 Kebangkitan Ye Tian

Share

Bab 04 Kebangkitan Ye Tian

Author: Kopi Senja
last update Last Updated: 2025-09-18 20:32:31

Ye Tian terbaring lemah di tanah, tubuhnya terasa perih di setiap bagian. Debu perlahan mengendap, menyisakan kawah kecil yang masih berasap. Dari dalam kawah itu tampak sebuah batu hitam legam, permukaannya dipenuhi simbol-simbol kuno yang samar-samar berkilau. Tiba-tiba, batu itu bergetar dan cahaya misterius memancar deras darinya, menyebarkan aura kuno yang menekan udara sekitarnya.

"Arghh…" Ye Tian mengerang pelan. Dadanya sesak, seolah ada gunung besar menindih tubuhnya, bahkan ia kesulitan bernapas. Namun, entah bagaimana, cahaya dari batu itu justru menyelimuti dirinya. Simbol-simbol kuno memancarkan sinar lalu perlahan-lahan masuk ke dalam tubuhnya.

Mata Ye Tian membesar, tubuhnya bergetar menahan energi asing yang tiba-tiba menyerbu masuk kedalam tubuhnya, "Apa… apa yang terjadi padaku…?" gumamnya tertahan. Rasa sakit yang semula mencekik mulai berubah menjadi aliran hangat, energi itu meresap ke dalam meridian, menyembuhkan setiap luka sekaligus memperkuat tubuhnya.

Tak berhenti sampai di situ, segel yang selama ini mengekang di akar spiritualnya mulai retak. Retakan kecil itu memancarkan cahaya samar, seolah menandakan sesuatu yang selama ini tersembunyi akhirnya hendak terlepas.

Ye Tian terengah-engah, namun matanya kini berkilat penuh tekad. "Apapun ini… aku tidak boleh menyia-nyiakannya. Kalau langit memberiku kesempatan, aku akan bangkit, dan mereka semua akan menyesal."

Batu hitam itu terus bergetar, cahaya kunonya menari di udara, menyatu dengan tubuh Ye Tian yang perlahan bersinar samar.

Retakan di akar spiritual Ye Tian semakin melebar. Suara gemeretak halus terdengar di dalam tubuhnya, lalu crack!—segel itu pecah berkeping-keping.

Sekejap kemudian, energi besar meledak dari dalam tubuhnya. Aliran spiritual yang selama ini terikat kini mengalir deras tanpa hambatan, memenuhi setiap meridian. Tubuh Ye Tian bergetar hebat, namun rasa sakit telah sirna, berganti dengan kekuatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Simbol-simbol kuno di permukaan batu hitam itu ikut bersinar terang, seakan menyalurkan kekuatan tak terhingga kepadanya. Tekanan aura yang muncul membuat udara bergetar, dedaunan berguncang, dan tanah di sekelilingnya retak.

Ye Tian membuka matanya perlahan. Kilatan cahaya melintas tajam di bola matanya. Napasnya dalam, dadanya terasa kuat, seakan seluruh dunia bisa ia guncang hanya dengan satu gerakan.

Ledakan energi itu terus mengalir tanpa henti, menghantam setiap meridian dalam tubuh Ye Tian. Akar spiritualnya yang tadinya tertutup kini terbuka sepenuhnya, menyerap kekuatan dari simbol-simbol kuno yang masih berkilauan di udara.

Saat aliran itu mereda, Ye Tian tersentak kaget. Ia bisa merasakan dengan jelas, ranah kultivasinya telah melonjak jauh melampaui batas yang selama ini mengekangnya. Kini ia berdiri di puncak Ranah Inti Emas, sebuah tingkat yang selama ini hanya bisa ia bayangkan. Padahal sebelumnya ia berada di ranah dasar tahap 5. 

Dalam dunia kultivasi, tingkatan kekuatan terbagi dalam sembilan ranah. Ranah Dasar, Ranah Pondasi, dan Ranah Inti masing-masing memiliki sembilan tahap, dari tahap pertama hingga tahap kesembilan. Sementara itu, mulai dari Ranah Inti Emas, Ranah Jiwa, Ranah Raja, Ranah Kaisar, Ranah Dewa, hingga Ranah Immortal, setiap ranah terbagi menjadi tiga tingkatan: tahap awal, tahap tengah, dan tahap puncak.

Menyadari posisinya telah menembus ke Ranah Inti Emas puncak, Ye Tian mengepalkan tangannya erat. Rasa kuat mengalir dalam darahnya, membuat dadanya bergetar penuh semangat. "Aku… benar-benar tidak percaya, bisa melompat sampai sejauh ini ranah kultivasiku," bisiknya tak percaya. 

Namun, tanpa ia sadari, batu hitam misterius itu perlahan menyusut hingga seukuran kepalan tangan. Batu itu bergetar ringan, lalu terangkat dari dalam kawah dan mengambang di udara. Dalam sekejap, cahaya pekat melesat cepat dan masuk kedalam tubuh Ye Tian.

Tubuhnya bergetar hebat, sorot matanya melebar ketika merasakan sesuatu yang asing memasuki dirinya. Batu itu lenyap tanpa jejak, seolah telah menyatu dengan tubuhnya. Aura misterius kembali beriak, membuat hawa di sekitarnya kian berat dan penuh tekanan.

Ye Tian terdiam, keringat dingin menetes dari pelipisnya. Batu hitam itu telah lenyap tanpa bekas, seakan melebur ke dalam daging dan darahnya. Namun, ia bisa merasakan jelas ada sesuatu yang asing kini bersemayam di tubuhnya.

"Aura ini… seolah hidup. Apa sebenarnya benda itu…?" Ye Tian bergumam lirih, matanya menyapu sekeliling kawah.

Tiba-tiba, dari dalam dadanya terdengar dengungan halus. Simbol-simbol kuno yang tadi ia lihat di batu itu muncul kembali, kali ini berpendar samar dari balik kulitnya sendiri.

"Tidak mungkin… simbol-simbol itu… ada di dalam tubuhku sekarang?!" serunya terkejut.

Tekanan energi kembali melonjak, membuat tanah di bawahnya bergetar. Namun berbeda dari sebelumnya, kali ini rasa sakit tak muncul. Sebaliknya, tubuhnya terasa semakin ringan, meridian semakin luas, dan akar spiritualnya berdenyut dengan irama baru, seakan selaras dengan batu misterius yang telah menyatu dengannya.

Ye Tian mengepalkan tangan, senyum tipis terukir di bibirnya. "Kalau benar batu itu memilihku… maka aku akan membawanya sampai ke puncak langit. Dunia ini akan menyaksikan kebangkitanku."

Ye Tian masih memandangi tangannya yang bergetar, merasakan energi baru yang terus berdenyut dari dalam tubuhnya. Namun tiba-tiba, suara dalam yang bergema seakan berasal dari kedalaman jiwanya terdengar jelas.

"Keturunanku, pergunakanlah baik baik warisanku ini." 

Ye Tian tersentak. Ia langsung menoleh ke kanan dan kiri, tapi tak seorang pun ada di sana. Suara itu bergema di dalam kepalanya.

“Siapa… siapa kau?!” seru Ye Tian, suaranya bergetar.

Dari balik kesadarannya, cahaya samar memancar. Sosok bayangan pria berjubah putih dengan mata tajam bagai bintang kuno perlahan terbentuk. Aura yang dipancarkannya begitu agung, seakan mampu menundukkan langit dan bumi.

"Aku adalah Ye Mo Tian, Leluhurmu" suara itu bergema penuh wibawa, "Yang pernah mengguncang sembilan langit dan sepuluh dimensi. Jutaan tahun lalu, aku mengorbankan tubuhku demi menyegel kekuatan yang kini kau warisi.”

Ye Tian membeku. Dadanya terasa sesak bukan karena tekanan, melainkan karena keterkejutan yang begitu besar.

"Leluhur…? Kau bilang… aku mewarisi kekuatanmu?" suaranya bergetar, hampir tak percaya.

Bayangan Ye Mo Tian menatapnya dengan sorot tajam namun penuh kebanggaan. "Benar. Kau adalah keturunanku. Batu hitam yang menyatu denganmu itu adalah wadah warisanku. Mulai sekarang, nasibmu tidak lagi milikmu sendiri. Kau akan memikul warisan yang bahkan para dewa pun gentar menghadapinya."

"Jangan sia-siakan kesempatan ini. Dunia akan menguji keteguhan hatimu. Jika kau lemah, warisan ini akan menelanmu. Namun jika kau kuat… kau akan menguasai langit."

Ye Tian menggertakkan giginya, lalu menunduk dalam-dalam meski hanya berhadapan dengan bayangan samar di dalam kesadarannya.

“Leluhur… aku, Ye Tian, bersumpah tidak akan menyia-nyiakan warisan ini. Aku akan menggunakannya untuk bangkit, untuk melawan langit sekalipun bila perlu. Aku akan membuat seluruh dunia tahu bahwa darah keluarga Ye tidak akan pernah padam!”

Mata bayangan Ye Mo Tian berkilat tajam, seolah menembus jiwa Ye Tian. Sesaat kemudian, senyum samar terukir di wajahnya.

“Bagus. Semangatmu mengingatkanku pada diriku di masa lalu. Ingatlah, warisan ini bukanlah anugerah belaka, melainkan ujian. Jika tekadmu goyah, kau akan hancur bersama kekuatan itu.”

Suara itu perlahan meredup, tubuh bayangan kuno memudar seperti kabut yang tertiup angin. Namun sebelum lenyap sepenuhnya, suara berat itu masih bergema:

“Bangkitlah, keturunanku… tunjukkan pada dunia arti nama Ye.”

Kesunyian kembali menyelimuti. Ye Tian membuka matanya, sorotnya kini berbeda. Tajam, kokoh, dan dipenuhi api tekad yang tak tergoyahkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
mulai menarik
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 150

    Melihat Jenderal Yan Guo beserta pasukannya berhasil dikalahkan membuat Jenderal Hei Luo murka dan menatap Ye Tian dengan penuh kebencian. Ia menyerang secara membabi buta, namun tidak ada satupun serangannya itu mengenai tubuh musuhnya tersebut. "Kenapa kau selalu menghindari seranganku? Apa kau tidak bisa melawanku, bocah?" ujarnya dengan frustasi. Jenderal Hei Luo menyadari jika tidak mempunyai banyak waktu untuk menghadapi Ye Tian, sebab energi qi-nya sudah terkuras banyak. Bahkan ia mulai merasakan efek samping dari teknik terlarang yang digunakannya untuk melakukan transformasi iblis darah. Walaupun kekuatannya meningkat drastis, tapi dirinya kesulitan menghadapi musuh di depannya itu. Ye Tian hanya tersenyum sinis mendengar perkataan Jenderal Hei Luo. "Kau saja yang terlalu lemah, dan aku tidak ingin menyia-nyiakan energiku melawanmu," jawab Ye Tian dengan nada meremehkan. "Aku akan mengakhiri pertarungan ini dengan satu serangan." Ye Tian kemudian menyemburkan api putih d

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 149

    Ye Tian mulai memfokuskan seluruh energinya. Sebuah aura keemasan muncul di sekeliling tubuhnya, memancarkan kekuatan dan simbol-simbol kuno mengelilingi tubuhnya. "Kalau begitu, akan ku tunjukkan kekuatan yang sebenarnya," ucap Ye Tian dengan serius. Ye Tian mengaktifkan teknik transformasi Dewa Naga. Tubuhnya mulai berubah, kulitnya ditutupi sisik emas, dan sepasang sayap muncul dari punggungnya. Roarrrrr!!! Raungan naga yang dahsyat mengguncang seluruh area pertempuran. Kekuatan Ye Tian meningkat secara drastis, melampaui batas kemampuannya sebelumnya. "Apa... apa itu?!" Jenderal Yan Guo terkejut melihat transformasi Ye Tian. "Kekuatan macam apa itu?! mustahil? bagaimana bisa dia memiliki kekuatan sekuat ini?" Jenderal Hei Luo juga merasakan kekuatan yang luar biasa dari Ye Tian. Dia tahu bahwa dia tidak bisa meremehkan lawannya lagi. "Aku akan menghancurkanmu! Meski kau berubah wujud menjadi naga kau tidak bisa mengalahkanku, Ye Tian," teriak Jenderal Hei Luo denga

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 148

    Tak berselang lama, Jenderal Lang Wu, Komandan Lang Shen Tong beserta empat ratus prajurit mendarat tidak jauh dari desa di mana Dua jenderal iblis dan pasukannya berada. Namun keberadaan mereka sudah diketahui dan langsung dikepung dari segala sisi. "Hahaha! Kalian benar-benar bodoh!" Jenderal Hei Luo tertawa terbahak-bahak. "Berani-beraninya kalian masuk ke dalam perangkap kami!" Jenderal Lang Wu tetap tenang. "Kami tidak pernah berniat untuk bersembunyi," jawabnya dengan nada dingin. "Kami datang untuk menghancurkan kalian." "Sombong sekali!" Jenderal Yan Guo maju selangkah. "Kalian pikir bisa mengalahkan kami hanya dengan empat ratus orang? Kalian akan mati di sini!" Jenderal Lang Wu menyeringai. "Kita lihat saja nanti siapakah yang akan mati." tidak jauh dari tempat itu, Yinshen maupun Ming Liu menggerakkan kedua tangan dengan cepat membentuk segel formasi pengurung dari sisi yang berbeda. Cahaya keemasan membentuk sebuah jaring raksasa mengelilingi area pertempuran. M

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 147

    Menjelang sore, Ye Tian bersama rombongannya sampai di kawasan luar Pegunungan Ansha dan mendarat di tempat Jenderal Lang Wu beserta pasukannya berada. "Selamat datang, Tuan Muda," ucap Jenderal Lang Wu. Jenderal Lang Ruohai, Komandan Lang Shen Tong, Komandan Lang Muye, serta para pasukan turut menyambut kedatangan Ye Tian dan rombongannya dengan penuh hormat. Ye Tian mengangguk pelan sambil tersenyum hangat. Ia bisa merasakan bahwa kultivasi kedua jenderal, para komandan, maupun seribu pasukan Raja Lang Xuan telah mengalami peningkatan. Mereka kini berada di ranah Raja dan Kaisar tingkat awal hingga tingkat puncak. "Selamat atas kenaikan tingkat kultivasi Jenderal Lang Wu, Jenderal Lang Ruohai, Komandan Lang Shen Tong, Komandan Lang Muye, dan para prajurit," ucap Ye Tian dengan senyum puas. "Dengan begini kita bisa menghadapi musuh dan meminimalisir jatuhnya korban di pihak kita. Namun, pertempuran kali ini tidaklah mudah. Pihak musuh pasti telah menyiapkan strategi untuk menghad

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 146

    Sepeninggalan Ye Tian dan Shen Long, Jenderal Gong Da menoleh ke arah Gong Jun yang terkapar. "Bawa dia ke ruang tahanan," perintahnya dingin. Dua prajurit segera bergerak, dan menyeret Jenderal Gong Jun menjauh dari halaman istana. Dua prajurit segera bergerak, menyeret tubuh Gong Jun yang tak lagi berdaya. Jeritannya memecah halaman istana yang mulai sunyi, lalu perlahan melemah, hingga akhirnya hanya tersisa erangan tertahan. Puluhan prajurit menunduk, enggan menatapnya terlalu lama. Sosok yang dahulu mereka hormati sebagai jenderal kini tak lebih dari seorang tahanan tanpa kultivasi, tanpa kekuatan, dan tanpa masa depan. Jenderal Gong Da memejamkan mata sesaat. Saat membukanya kembali, sorot matanya tajam dan tidak ada lagi keraguan sedikitpun. "Perketat penjagaan istana," perintahnya pada para komandan. "Mulai hari ini, tidak boleh ada satu pun celah. Kota Nanlin tidak akan jatuh karena pengkhianatan dari dalam." "Baik, Jenderal!" jawab para prajurit serempak. Wa

  • Langkah di Jalan Keabadian    Bab 145

    Namun sorot mata Jenderal Gong Jun penuh kebencian dan kemarahan pada Ye Tian. Baginya, pemuda di hadapannya itu tidak lebih dari orang luar yang kebetulan memiliki sedikit kemampuan. Seseorang yang tidak berhak mencampuri urusan kekuasaan kota Nanlin. Ia mengeratkan genggaman pada pedangnya. Meski tangannya masih bergetar, Gong Jun memaksa dirinya berdiri tegak. "Tch!" Ia mendengus kasar, menatap Ye Tian dengan tajam. "Orang luar sepertimu tidak seharusnya ikut campur urusanku." Aura pendekar Kaisarnya mencoba menahan aura pendindasan milik Ye Tian. "Jangan pikir hanya karena kau punya sedikit kemampuan, kau bisa melawanku," lanjutnya dingin. "Aku tidak butuh persetujuanmu… dan bagiku kau hanya pemuda lemah yang mudah untuk aku kalahkan." Mendengar perkataan Jenderal Gong Jun Ye Tian hanya menggelengkan kepala dan tersenyum tipis. "Jika demikian buktikan ucapanmu itu. Aku ingin melihat sejauh mana kemampuanmu." Senyum tipis di wajahnya memudar, berganti ketenangan yang d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status