分享

Bab 85

作者: Leachaa1
last update publish date: 2026-05-01 21:57:13
Prang!

Gulungan kertas berstempel lambang emas murni itu terlepas dari genggaman tangan Komandan Marcus, jatuh berserakan di atas tumpukan salju putih yang dingin. Wajah sang Komandan yang tadinya arogan kini mendadak pucat pasi, kehilangan seluruh warna darahnya.

"Tidak mungkin..." gumam Marcus terbata-bata, matanya menatap tajam gulungan surat yang terbuka di tanah dengan tubuh gemetar hebat. "Perintah ini... ini mustahil..."

Lucien tidak langsung menurunkan pedangnya. Ia melirik sekilas ke
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 113

    Kring... kring...Suara lonceng angin perak berderit pelan di ambang jendela kamar utama paviliun keluarga Valois. Pendar cahaya rembulan malam musim panas merayap masuk, menyinari ruangan yang kini terasa jauh lebih tenang setelah hiruk-pikuk dan kebahagiaan upacara pernikahan Cedric dan Marry di sore hari.Di dalam kamar yang luas itu, Lucien berdiri di sisi ranjang besar, melonggarkan kerah kemeja formalnya setelah seharian mendampingi jalannya acara. Ia menoleh ke arah sisi ranjang tempat Celina sedang duduk bersandar nyaman dengan bantal empuk di punggungnya, memandangi dua keranjang bayi yang terletak berdampingan."Hari yang melelahkan, tapi sungguh membahagiakan," ucap Lucien lembut, melangkah mendekat lalu melingkarkan kedua tangannya di bahu Celina, mengecup puncak kepala istrinya penuh kasih sayang.Celina menyandarkan kepalanya pada lengan Lucien, menarik napas lega sambil tersenyum tipis. "Iya, Lucien. Melihat Marry menangis terharu saat Cedric memasangkan cincin tadi ben

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 112

    Tap... tap... tap...Suara langkah kaki kecil yang ragu-ragu memecah keheningan sore di ruang utama paviliun keluarga Valois. Karpet tebal berbulu domba di atas lantai marmer menjadi saksi bisu atas momen perkembangan kedua anak kembar keluarga Valois.Di ujung karpet, Ashlan—yang akrab dipanggil Ash—berdiri tegak dengan kedua kaki kecilnya. Bocah berusia satu tahun itu sama sekali tidak tersenyum ataupun tertawa. Ia menatap sang ayah dengan sepasang manik mata biru gelap yang tajam, sangat mirip dengan tatapan dingin Lucien saat berada di medan pertempuran. Tanpa ragu, Ashlan mengayunkan langkahnya dengan tegap dan seimbang ke depan, menghampiri ayahnya tanpa suara.Lucien berlutut dengan tangan terbuka lebar, menatap takjub putra sulungnya. "Hebat sekali, Ash... kau bahkan tidak jatuh sama sekali," puji Lucien bangga.Ashlan hanya melirik sekilas tangan ayahnya, lalu mendengus pelan seolah berkata bahwa hal seperti itu terlalu mudah untuknya. Ia duduk sendiri di atas karpet, lalu me

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 111

    Sinar matahari pagi menyusup lembut melalui celah jendela kaca besar di koridor sayap timur kediaman utama Valois. Udara hangat musim panas membawa aroma segar dedaunan luar yang berpadu dengan wangi samar teh melati. Di sinilah kehidupan istana berjalan dalam ritme yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk pertempuran atau intrik politik masa lalu."Hati-hati, Cedric. Jangan berjalan terlalu cepat," tegur Marry sambil berjalan di samping panglima pengawal tersebut dengan langkah tergesa-gesa kecil.Cedric mendadak menghentikan langkahnya, membuat tumpukan kotak mainan kayu ukir yang ia bawa di kedua tangannya hampir saja meluncur jatuh. Ia menarik napas pelan, mengatur postur tubuhnya yang tegap agar terlihat santai. "Aku tidak berjalan cepat, Marry. Kakiku saja yang memang lebih panjang darimu."Marry mendengus pelan, memutar bola matanya sambil tersenyum kecil. "Panjang atau pendek, kalau kotak mainan kuda-kudaan itu sampai jatuh dan membangunkannya, siap-siap saja kau dimarahi oleh Grand

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 110

    Kring... kring...Suara lonceng angin perak yang tergantung di dekat jendela kamar utama berderit merdu, berpadu dengan pendar cahaya matahari pagi yang menembus tirai sutra putih. Udara pagi ibu kota terasa hangat dan segar, membawa aroma harum bunga mawar putih dari taman istana ke dalam ruangan.Celina mengerjap perlahan, membuka kelopak matanya di atas ranjang beludru yang empuk. Ia menoleh ke sisi kanannya dan mendapati Lucien masih terlelap dalam posisi duduk di kursi samping tempat tidur, dengan kepala bersandar di tepi kasur dan tangan kanannya masih menggenggam erat jari jemari Celina bahkan dalam tidur."Lucien..." panggil Celina lembut dengan suara parau khas bangun tidur. Ia mengelus helai rambut hitam suaminya pelan.Lucien langsung terbangun seketika. Insting militernya membuatnya langsung siaga, namun begitu manik mata biru gelapnya menangkap senyuman Celina, ketegangan di wajahnya langsung mencair menjadi kelembutan yang teramat sangat."Kau sudah bangun, sayang? Ada y

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 109

    Krek...Suara gesekan kayu jendela kamar utama berderit pelan disusul hembusan angin malam musim panas yang menyejukkan. Di dalam kamar yang diterangi pendar hangat lampu minyak, suasana begitu tegang namun sarat akan keharuan. Keringat dingin bercucuran deras di pelipis Celina. Napasnya memburu tidak beraturan, sementara kedua tangannya meremas erat seprai ranjang beludru merah tua hingga berkerut."Tarik napas yang dalam, Grand Duchess... lepaskan perlahan. Bagus sekali, pertahankan!" instruksi tabib senior istana dengan nada tenang namun tegas, mengatur jalannya proses persalinan.Di sisi kanan ranjang, Lucien berlutut dengan satu kaki. Wajah pria gagah itu tampak jauh lebih pucat daripada istrinya. Tangannya menggenggam jemari Celina dengan erat, menyalurkan seluruh kekuatan dan kehangatan yang ia miliki."Kau hebat, Celina... kau pasti bisa, sayang," bisik Lucien berulang kali, mencium punggung tangan istrinya penuh cinta dan kecemasan. "Aku di sini. Aku tidak akan kemana-mana."

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 108

    Prang!Suara benturan ranting kayu kering yang diinjak oleh kuda kurir terdengar nyaring di pelataran istana. Seorang pengawal istana berlari tergesa-gesa menghampiri taman mawar tempat Lucien dan Celina sedang bersantai."Lapor, Grand Duke!" seru pengawal itu dengan napas tersengal-sengal, membungkuk hormat dalam-dalam.Lucien segera berdiri dari kursinya, menatap tajam ke arah pengawal tersebut dengan raut wajah yang langsung menegang. "Ada apa? Jangan bilang ada kekacauan baru di perbatasan!""B-bukan, Grand Duke!" jawab pengawal itu cepat, melambaikan kedua tangannya membantah. "Bukan masalah musuh atau pemberontakan! Ini... ini surat balasan dari tabib senior istana yang sedang dalam perjalanan kembali ke ibu kota!"Celina ikut berdiri perlahan dengan bantuan pegangan di meja teh. Ia menghela napas lega, meskipun detak jantungnya sedikit berpacu karena terkejut. "Tabib senior? Surat apa yang dibawanya sampai kau berlari sepaniak ini?"Pengawal itu merogoh saku mantelnya, mengelua

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 16

    Kael mengangkat wajahnya, memperlihatkan senyum miring yang provokatif. "Maut adalah teman lama keluarga Sapphire, Vivianne. Tapi kau... kau terlihat semakin cantik sejak menjadi 'penguasa' di sini. Apakah ranjang Lucien begitu hangat hingga kau lupa pada dokumen yang kuberikan?" "Aku tidak melupa

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 7

    Kastil Valois berubah menjadi penjara emas yang paling mewah di seluruh kerajaan. Sejak malam pembakaran surat cerai itu, Lucien benar-benar mewujudkan ancamannya. Cedric Lightmore kini bukan lagi sekadar asisten Grand Duke, melainkan "bayangan" Celina yang mengikuti ke mana pun ia pergi—bahkan jika

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 6

    Malam itu, kastil Valois terasa lebih sunyi dari biasanya, namun ketenangan itu seperti permukaan laut sebelum tsunami. Celina duduk di meja kerjanya, hanya ditemani cahaya lilin yang menari-nari ditiup angin malam. Di tangannya terdapat selembar dokumen yang ditulis dengan tinta hitam pekat—sebuah

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 5

    Keesokan paginya, kediaman Valois gempar. Bukan karena perilaku histeris sang Grand Duchess, melainkan karena kesibukannya yang luar biasa. Celina tidak mengenakan gaun sutra panjang yang menyapu lantai. Sebaliknya, ia memilih setelan jas wanita yang dimodifikasi dari penjahit istana—berwarna biru t

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status