Share

Bab 7

Author: Leachaa1
last update publish date: 2026-04-22 10:43:14

Kastil Valois berubah menjadi penjara emas yang paling mewah di seluruh kerajaan. Sejak malam pembakaran surat cerai itu, Lucien benar-benar mewujudkan ancamannya. Cedric Lightmore kini bukan lagi sekadar asisten Grand Duke, melainkan "bayangan" Celina yang mengikuti ke mana pun ia pergi—bahkan jika hanya untuk sekadar mengambil buku di perpustakaan.

Celina duduk di meja makan pagi yang panjangnya sepuluh meter. Biasanya, ia makan sendirian karena Lucien selalu berangkat ke barak militer sebelum fajar. Namun pagi ini, sosok pria itu duduk tepat di hadapannya, mengenakan pakaian sipil berbahan sutra gelap yang membuatnya tampak lebih santai namun tetap mengintimidasi.

"Mengapa kau masih di sini?" tanya Celina sambil mengiris roti panggangnya dengan gerakan mekanis. "Bukankah ada pemberontakan kecil di perbatasan yang harus kau penggal?"

Lucien menyesap kopinya, matanya tidak lepas dari sosok Celina. "Urusan perbatasan bisa menunggu. Urusan di dalam rumah jauh lebih mendesak."

"Urusan apa? Menghalangi jalanku lagi?"

Lucien memberi isyarat pada pelayan. Tak lama kemudian, beberapa pelayan masuk membawa kotak-kotak besar yang dibungkus kain beludru. Satu per satu kotak dibuka di depan Celina. Isinya adalah sutra-sutra terbaik dari Timur, permata merah delima yang ukurannya sebesar mata burung puyuh, dan botol-botol parfum langka.

"Apa ini? Kau mencoba menyuapku?" Celina menatap tumpukan harta itu dengan pandangan bosan.

"Ini bukan suap," jawab Lucien datar. "Aku mendengar kau ingin membangun pabrik kristal. Kau butuh modal awal. Ambil perhiasan ini, jual atau gadaikan terserah kau. Tapi dengan satu syarat."

Celina meletakkan pisaunya, mulai tertarik. "Syarat apa?"

"Batalkan pertemuanmu dengan Kael Vancewood secara permanen. Jika kau butuh koneksi distribusi, gunakan jaringan militerku. Aku punya akses ke pelabuhan mana pun tanpa harus membayar pajak pada keluarga Sapphire."

Celina tertawa kecil, suara tawanya memantul di dinding ruang makan yang sunyi. "Lucien, kau sungguh tidak mengerti bisnis, ya? Menggunakan jalur militer untuk perdagangan sipil adalah pelanggaran protokol kerajaan. Kau ingin aku berakhir di penjara bawah tanah istana?"

Wajah Lucien mengeras. "Aku adalah hukum di wilayah ini. Tidak ada yang berani menyentuhmu."

"Dan itulah masalahnya," sahut Celina sambil berdiri. "Aku tidak ingin menjadi bayanganmu, Lucien. Aku ingin menjadi matahari yang berdiri sendiri. Simpan saja permatamu. Aku lebih suka mencari uang dengan keringatku sendiri daripada menjadi 'peliharaan' yang kau beri makan emas."

Celina melangkah pergi, namun ia berhenti sejenak di samping Cedric. "Cedric, katakan pada tuanmu, jika dia ingin merayu wanita, cara kuno seperti ini hanya berhasil pada wanita yang tidak punya otak. Dan sayangnya bagi dia, aku punya otak yang cukup besar untuk menghitung berapa banyak kerugian yang dia buat pagi ini karena membolos kerja."

Cedric menunduk dalam, mencoba menahan senyum agar tidak terlihat oleh Lucien.

Siang harinya, Celina mencoba mencari celah untuk keluar dari kastil. Ia tahu Kael Vancewood pasti sedang menunggunya di titik pertemuan rahasia—sebuah kedai teh kecil di pinggiran kota yang mereka sepakati melalui surat yang diselundupkan oleh Mary.

"Cedric," panggil Celina saat mereka berjalan di taman labirin. "Apakah kau tidak lelah mengikutiku? Kau adalah ksatria berbakat. Tidakkah kau merasa terhina hanya menjadi pengasuh wanita?"

Cedric menatap lurus ke depan. "Perintah Grand Duke adalah mutlak bagi saya, Nyonya."

"Bagaimana jika aku memberimu perintah yang lebih menarik? Bantu aku keluar selama dua jam, dan aku akan memberikanmu formula untuk memperkuat baja pedang yang kupelajari dari buku kuno."

Cedric tampak ragu sejenak. Ia tahu betapa terobsesinya para ksatria pada kualitas pedang. Namun, ia menggeleng. "Kesetiaan saya tidak bisa dibeli dengan formula baja, Nyonya."

"Hm, kaku sekali," gumam Celina.

Tiba-tiba, sebuah anak panah melesat dari balik tembok taman dan menancap di pohon tepat di samping kepala Celina. Anak panah itu tidak membawa mata pisau tajam, melainkan selembar kain biru kecil—warna keluarga Sapphire.

Cedric langsung menghunus pedangnya, melindungi Celina. "Ada penyusup!"

"Tunggu, jangan menyerang!" teriak Celina. Ia mengambil kain itu. Di dalamnya tertulis: 'Gerbang belakang pelayan, pukul empat sore. Kereta tanpa lambang akan menunggumu. Kebebasan sudah dekat, Vivianne.'

Celina meremas kain itu dalam genggamannya. Kael Vancewood benar-benar nekat. Pria itu menantang maut dengan mendekati wilayah kekuasaan Lucien.

Pukul empat sore, Celina berhasil mengecoh Mary dengan berpura-pura tidur siang. Ia mengenakan pakaian pelayan yang sederhana dan menyelinap melalui lorong dapur yang lembap. Jantungnya berdegup kencang—bukan karena takut pada Lucien, melainkan karena adrenalin dari sebuah pelarian.

Namun, tepat saat ia mencapai gerbang belakang, langkahnya terhenti.

Bukan kereta Kael yang menunggunya di sana. Melainkan Lucien, yang duduk di atas kuda hitamnya yang besar, memegang tali kekang kereta tanpa lambang yang dimaksud Kael. Di sampingnya, Kael Vancewood berdiri dengan tangan terikat dan wajah yang sedikit lebam, dijaga oleh dua ksatria Valois.

"Mencari ini, Istriku?" tanya Lucien, suaranya sedingin es yang retak.

Celina mematung. Rencananya gagal total.

"Lucien, lepaskan dia! Ini tidak ada hubungannya dengan Kael!" teriak Celina, melepaskan topeng ketenangannya.

Lucien turun dari kudanya, melangkah mendekati Celina dengan aura predator yang lapar. Ia mencengkeram rahang Celina dengan lembut namun memaksa wanita itu menatap matanya yang berkilat penuh amarah dan luka.

"Kau mencoba melarikan diri dengannya?" bisik Lucien. "Setelah semua yang kuberikan? Kau lebih memilih Baron yang lemah ini daripada aku?"

"Aku tidak melarikan diri dengannya untuk cinta! Aku pergi untuk bekerja!" bela Celina.

Lucien mengabaikan penjelasan itu. Ia berpaling pada Kael. "Baron Vancewood, aku bisa saja membunuhmu sekarang karena mencoba menculik Grand Duchess. Tapi itu terlalu mudah. Aku akan menghancurkan seluruh bisnismu, kapal-kapalmu, dan nama keluargamu sampai kau tidak punya apa-apa lagi untuk ditawarkan pada istriku."

"Kau tidak akan bisa menjauhkan jiwanya darimu, Lucien!" teriak Kael sambil meringis kesakitan. "Dia membencimu!"

Lucien menarik Celina masuk ke dalam pelukannya secara paksa, membelakangi Kael. "Biarkan dia membenciku. Selama dia membenciku di dalam kamarku, di bawah pengawasanku, itu sudah cukup bagiku."

Lucien menggendong Celina di pundaknya seperti barang jarahan perang, mengabaikan protes dan pukulan tangan mungil Celina di punggungnya.

"Mulai hari ini," ucap Lucien pada seluruh pengawalnya. "Grand Duchess tidak diizinkan meninggalkan kamar utamanya. Siapa pun yang membantunya keluar, kepalanya akan digantung di gerbang kastil. Termasuk kau, Mary."

Celina yang berada di pundak Lucien hanya bisa menggertakkan gigi. Pria ini benar-benar monster, batinnya. Namun, di tengah amarahnya, ia menyadari satu hal: Lucien sedang gemetar. Pria yang tak takut pada ribuan pasukan musuh itu, sedang gemetar ketakutan hanya karena mengira ia akan pergi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 164 End

    Raja Lucien menghempaskan tumpukan dokumen laporan dewan menteri ke atas meja kerja mahoni dengan satu gerakan tangan yang cepat, lalu menghela napas panjang sebelum berbalik menghadap Ratu Celina yang baru saja melangkah masuk membawa secangkir teh mawar hangat kesukaannya."Aku resmi mendeklarasikan pensiun permanen dari membaca tumpukan kertas membosankan ini mulai detik ini juga, Celina," ujar Lucien dengan suara bariton seraknya yang khas, tersenyum kecil sambil melangkah lebar mendekati istrinya.Celina menyerahkan cangkir teh tersebut, lalu mendengus geli sembari merapikan kerah kemeja suaminya dengan penuh kelembutan. "Kau berbicara seolah-olah kau adalah pegawai rendahan istana, Baginda Raja. Padahal kau baru saja mangkir dari tiga rapat penting dewan menteri sore ini," tegur Celina lembut penuh canda, matanya berbinar hangat.Lucien menyambar pinggang ramping istrinya dengan kedua tangannya, menarik tubuh Celina rapat-rapat hingga tidak ada celah di antara mereka. "Biarkan p

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 163

    Raja Lucien menyambar jubah wol tebal berwarna arang dari gantungan dinding kamar dengan satu sentakan tangan yang cepat, lalu melemparkannya ke bahu Ratu Celina untuk melindungi istrinya dari udara dingin subuh istana."Kau yakin ingin ikut naik ke bukit utara bersamaku, Baginda? Padahal kita baru saja berencana tidur seharian penuh di istana," protes Celina lembut dengan nada jenaka, merapikan kancing jubah tersebut di depan cermin besar sementara matanya melirik ke arah suaminya melalui pantulan kaca.Lucien melangkah mendekat, melingkarkan kedua tangannya dari belakang di pinggang ramping istrinya lalu menumpukan dagunya di bahu Celina. "Aku tidak mungkin membiarkan ratu-ku pergi ke luar istana sendirian saat fajar menyingsing, terlebih lagi rencana liburan seharian kita hari ini dimulai dari sana," bisik Lucien parau tepat di telinga Celina, mengecup pelan leher istrinya hingga Celina mendengus geli."Alasanmu selalu saja ada, Raja yang posesif," cibir Celina manja, memutar tubuh

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 162

    Raja Lucien menghempaskan tubuhnya ke atas sofa beludru panjang di ruang kerja pribadinya, lalu melonggarkan kerah seragam militer hitam yang masih melekat di tubuhnya dengan satu sentakan tangan yang cepat."Kau baru saja tiba dari perbatasan barat dua jam yang lalu, Baginda, dan sekarang kau sudah mengurung diri lagi di ruang kerja penuh tumpukan dokumen?" tegur Ratu Celina lembut sambil membuka pintu ruang kerja perlahan, melangkah masuk dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh hitam hangat.Lucien mendongak, menyipitkan mata elangnya lalu mendengus pelan. Ia menepuk sisi sofa yang kosong di sampingnya. "Kemarilah, Celina. Dokumen-dokumen ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa rinduku yang belum tuntas sejak aku kembali ke istana," rayu Lucien parau dengan suara baritonnya yang membuai.Celina tersenyum geli, melangkah mendekat dan meletakkan nampan teh di atas meja mahoni sebelum duduk di samping suaminya. "Kau ini... gombalanmu semakin hari semakin tidak punya batasan," c

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 161

    Raja Lucien menutup pintu kamar tidur utama dengan satu dorongan kaki yang cepat, lalu langsung mengangkat tubuh Ratu Celina ke dalam dekapannya begitu mereka tiba di balik pintu yang tertutup rapat dari pesta dansa Adipati Sterling.Celina terpekik kecil karena terkejut, namun tawa renyah langsung lolos dari bibirnya saat ia melingkarkan kedua tangannya secara otomatis di leher suaminya. "Lucien! Kau benar-benar tidak sabar, ya? Kita bahkan baru saja turun dari kereta kuda!" protes Celina manja dengan mata berbinar jenaka.Lucien tidak memedulikan protes itu. Ia berjalan cepat membawa istrinya menuju ranjang beludru besar, membaringkan Celina dengan lembut sebelum mengurung tubuh istrinya di antara kedua lengannya. "Aku sudah menahan diri selama dua jam penuh di aula yang penuh dengan para bangsawan sok sokan itu, Celina. Sekarang waktunya bagiku untuk menagih waktu pribadi dengan ratu-ku," bisik Lucien parau dengan suara baritonnya yang membuai.Celina menangkup rahang suaminya deng

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 160

    Raja Lucien menyambar dasi kupu-kupu sutra hitam dari tangan kepala pelayan dengan gerakan cepat, lalu melilitkannya sendiri di kerah kemeja putihnya di depan cermin besar kamar utama. Ia merapikan ujung jas formal beraksen emas yang membalut tubuh tegapnya, sebelum membalikkan badan begitu mendengar derap langkah anggun dari arah kamar ganti.Ratu Celina melangkah keluar dengan balutan gaun malam panjang berwarna safir tua berkilau yang memeluk sempurna siluet tubuhnya, sementara rambut panjangnya disanggul modern dengan hiasan permata kecil yang memantulkan cahaya lampu kristal.Lucien terpaku seketika, menghentikan gerakan tangannya di udara. Ia melangkah lebar mendekati istrinya, lalu menangkup kedua pipi Celina dengan lembut. "Demi para dewa... kau terlihat luar biasa memukau, Ratu-ku," puji Lucien tulus dengan suara bariton seraknya yang khas.Celina tersenyum geli, menaruh kedua tangannya di atas bahu suaminya. "Kau sudah memuji gaun ini tiga kali sejak tadi, Baginda. Kalau ter

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 159

    Raja Lucien menghentakkan pedang latihan ke atas lantai batu arena istana dengan bunyi dentingan nyaring, lalu menyeka keringat di keningnya menggunakan punggung tangan kanannya. Napasnya sedikit memburu setelah satu jam penuh melatih teknik tangkisan cepat bersama kepala pengawal kerajaan."Cukup untuk hari ini," titah Lucien dengan suara bariton tegasnya, melempar pedang tumpul itu ke dalam rak senjata.Pintu besar arena terbuka perlahan, menampilkan Ratu Celina yang melangkah masuk anggun dengan gaun musim semi berwarna lavendernya, membawa sehelai handuk kering dan botol air dingin di atas nampan perak."Kau menghabiskan pagi butamu di arena latihan lagi, Baginda Raja? Padahal para menteri belum datang ke ruang sidang," tegur Celina lembut, tersenyum kecil sambil menyodorkan handuk ke hadapan suaminya.Lucien segera menyambar handuk tersebut, menyeka lehernya, lalu menarik pinggang Celina mendekat ke dalam dekapannya tanpa ragu sedikit pun. Ia mengecup singkat kening istrinya. "Ju

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 6

    Malam itu, kastil Valois terasa lebih sunyi dari biasanya, namun ketenangan itu seperti permukaan laut sebelum tsunami. Celina duduk di meja kerjanya, hanya ditemani cahaya lilin yang menari-nari ditiup angin malam. Di tangannya terdapat selembar dokumen yang ditulis dengan tinta hitam pekat—sebuah

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 5

    Keesokan paginya, kediaman Valois gempar. Bukan karena perilaku histeris sang Grand Duchess, melainkan karena kesibukannya yang luar biasa. Celina tidak mengenakan gaun sutra panjang yang menyapu lantai. Sebaliknya, ia memilih setelan jas wanita yang dimodifikasi dari penjahit istana—berwarna biru t

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 4

    Setelah insiden di lapangan latihan, desas-desus tentang "Kegilaan Baru" Grand Duchess menyebar seperti api di antara para pelayan dan ksatria. Namun, Celina tidak peduli. Baginya, status sosial di dunia ini hanyalah modal untuk mencapai satu tujuan: kemandirian finansial. Celina menghabiskan tiga

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 3

    Udara pagi di wilayah Valois terasa sangat menggigit. Embun tipis masih menyelimuti lapangan latihan yang terletak di bagian belakang kastil, menciptakan suasana yang remang dan mistis. Suara dentingan logam yang beradu memecah kesunyian pagi, diikuti oleh teriakan-teriakan komando dari para instruk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status