Pandya : Kebangkitan Pewaris Seribu Pedang Season 2

Pandya : Kebangkitan Pewaris Seribu Pedang Season 2

last updateHuling Na-update : 2026-08-25
By:  Deschya.77In-update ngayon lang
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Hindi Sapat ang Ratings
110Mga Kabanata
835views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Dunia telah bersatu. Enam ajaran tak lagi terpisah. Pandya, pemimpin muda yang pernah dibenci dan diremehkan, kini menjadi harapan semua. Namun saat gerbang misterius muncul dari dasar tanah yang tidak pernah terjamah, masa lalu bangsanya kembali mengguncang. Ditemani oleh sahabat setianya, pengikut yang mengaguminya, pangeran-pangeran yang dulu musuhnya, serta pedang sakti Sakra yang menyimpan rahasia darah leluhur—Pandya harus memilih: membiarkan damai abadi, atau membuka kekuatan terakhir yang dapat mengubah segalanya. Dan di tengah semua itu… Attaya, gadis yang selama ini mendampingi Pandya, mengingatkannya bahwa kekuatan terbesar seorang pemimpin bukanlah pada pedangnya, tapi pada hatinya.

view more

Kabanata 1

Bab 1: Fajar di Nagendra Baru

Langit di atas Puncak Ardha sewarna dengan darah yang baru saja diperas dari medan laga. Angin menderu, membawa bau karat, abu, dan amis yang pekat. Di bawah kakinya, tanah berbatu Padepokan Nagendra tidak lagi berupa tanah subur, melainkan hamparan retakan menganga yang memuntahkan hawa hitam pekat.

Pandya berdiri di sana. Jubah putihnya yang biasa bersih kini koyak di berbagai sudut, menyisakan kain-kain compang-camping yang basah oleh peluh dan darah. Di hadapannya, sesosok makhluk yang tingginya melampaui gerbang utama padepokan berdiri dengan angkuh. Makhluk itu tidak memiliki wajah yang jelas; seluruh tubuhnya terbentuk dari jalinan bayangan kuno dan sepasang mata merah menyala yang menatap Pandya dengan kebencian ribuan tahun.

"Pewaris Seribu Pedang..." Suara makhluk itu mengguncang jagat batin Pandya, membuat dadanya bergemuruh hebat hingga batuk darah tak terhindarkan. "Kau pikir menyatukan enam ajaran fana ini bisa menghentikan takdir kuno? Kau hanyalah wadah rapuh bagi kekuatan yang tidak kau pahami!"

Pandya menggeram. Dia mencengkeram gagang Pedang Sahasra Kaditula dengan kedua tangannya. Bilah pedang sakti itu memancarkan cahaya keemasan yang berpendar terang, mencoba menghalau kegelapan di sekeliling mereka. Energi batinnya dikerahkan sampai batas terakhir, memanggil aura berbentuk pedang yang berputar-putar di langit, siap untuk dihujamkan.

"Aku tidak peduli dengan takdir kuno kunyahmu itu!" teriak Pandya lantang. Suaranya bergema, sarat akan wibawa yang dia pelajari dari ayahnya dan sang paman. "Jika kau mencoba menyentuh kedamaian warga Nagendra, bahkan jika kau adalah dewa purba sekalipun, aku akan menyeretmu kembali ke dasar bumi!"

Dengan satu sentakan napas, Pandya melompat ke udara. Ribuan aura pedang di belakangnya meluncur deras bagai hujan meteor, mengarah tepat ke jantung makhluk bayangan tersebut. Namun, tepat saat ujung pedang Sahasra Kaditula nyaris menyentuh dada sang monster, makhluk itu menggerakkan satu tangan besarnya.

PRAK!

Gelombang energi hitam legam menghantam bilah emas di tangan Pandya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sejak bangkit, Pandya merasakan getaran penolakan yang luar biasa hebat dari pedangnya sendiri. Cahaya keemasan Sakra meredup seketika, dan retakan-retakan kecil mulai menjalar di sepanjang bilah baja legendaris itu.

"Sakra!" teriak Pandya panik saat merasakan batin pedangnya menjerit kesakitan.

Sebelum dia sempat mengayunkan serangan balasan, kegelapan total menelan pandangannya, menjatuhkannya ke dalam jurang tanpa dasar yang dingin.

***

"Pandya! Bangun, Bocah Sombong! Kau membuatku tuli karena teriakanmu!"

Pandya tersentak hebat. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kayu yang diukir dengan pola awan bergerak khas Ajaran Pedang. Badannya mendadak menegak, napasnya memburu seolah-olah dia baru saja berlari mengitari seluruh perbatasan Padepokan Nagendra sebanyak sepuluh kali. Keringat dingin membasahi seluruh kaus dalam sutra putih yang dipakainya.

Dia menatap telapak tangannya sendiri. Tidak ada darah. Jubahnya tidak robek. Di samping tempat tidurnya, bersandar sebuah pedang dengan sarung hitam berhias ukiran emas yang rumit—Sahasra Kaditula. Pedang itu tampak tenang, tidak ada retakan sedikit pun pada bilahnya seperti yang ada di dalam mimpinya tadi.

"Hanya mimpi?" batin Pandya, sembari menyeka keringat di dahinya.

“Tentu saja itu mimpi, Bodoh,” sebuah suara maskulin yang terdengar jernih, datar, dan sedikit ketus bergema langsung di dalam kepala Pandya. Itu adalah suara batin Sakra, jiwa yang bersemayam di dalam pedangnya. “Tapi gara-gara mimpi burukmu yang tidak bermutu itu, Chi milikmu bergejolak seolah-olah kau sedang dikeroyok satu kompi pasukan musuh. Aku harus bekerja keras menstabilkan aliran tenaga dalammu sepanjang malam. Bisakah Pemimpin Agung kita yang terhormat ini tidur dengan tenang tanpa membayangkan monster sesekali?”

Pandya menghela napas panjang, lalu menjatuhkan kembali tubuh tegapnya ke atas bantal empuk. "Kau tidak merasakan apa yang kurasakan, Sakra. Makhluk itu... dia menghancurkanmu. Rasanya terlalu nyata untuk disebut sekadar bunga tidur."

“Oh, benarkah? Aku dihancurkan? Seseorang sekutuk monster bayangan bisa menghancurkan jiwa pedang yang sudah hidup ratusan tahun sebelum kakek buyutmu lahir? Candaanmu di pagi hari benar-benar tidak lucu, Pandya. Lebih baik kau pikirkan cara menghadapi monster yang sebenarnya di luar sana,” sahut Sakra dengan nada sarkasnya yang khas.

Pandya mengernyitkan alis. "Monster apa lagi? Pasukan Tuan Huda sudah rata dengan tanah seminggu yang lalu. Saudara-saudaraku sudah menyerah. Siapa lagi yang berani mengacau?"

“Monster birokrasi,” jawab Sakra pendek. “Dipta sudah berdiri di depan pintumu sejak dua jam yang lalu membawa tumpukan dokumen setinggi dada Rajendra. Dan oh, omong-omong, calon istrimu yang galak itu juga sedang berjalan ke sini dengan aura yang bisa membekukan air tehmu.”

Tepat setelah Sakra menyelesaikan kalimat batinnya, pintu kayu kamar Pandya diketuk dengan sopan namun tegas.

"Pemimpin Pandya, Anda sudah bangun?" suara Dipta terdengar dari balik pintu. "Maaf mengganggu istirahat Anda, tetapi para tetua dari wilayah penggabungan Ajaran Ramuan dan Ajaran Api membutuhkan tanda tangan Anda untuk anggaran rekonstruksi pasar. Juga... ada laporan mengenai perselisihan kecil tentang pembagian jatah air di sektor selatan."

Pandya memijat pangkal hidungnya yang mancung. Dia melirik ke arah meja kerja besar di sudut kamarnya. Di atas meja jati itu, gulungan-gulungan kertas, kitab hukum kuno, dan laporan logistik menumpuk rapi membentuk gunung-gunung kecil.

"Masuklah, Dipta," sahut Pandya dengan nada suara yang sengaja dibuat berwibawa, mencoba menyembunyikan rasa lelahnya.

Pintu terbuka, memperlihatkan Dipta yang kini mengenakan seragam ksatria petinggi Padepokan Nagendra yang gagah. Wajahnya yang dulu selalu terlihat tegang saat menjadi pengikut Pangeran Catra, kini tampak jauh lebih matang, meskipun lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa berbohong bahwa dia juga kurang tidur. Dipta membawa nampan berisi tiga gulungan dokumen baru.

"Letakkan saja di atas gunung nomor dua, Dipta," ujar Pandya sambil menunjuk salah satu tumpukan di mejanya.

Dipta meringis kecil, lalu meletakkan dokumen tersebut. "Saya tahu ini melelahkan, Pemimpin Pandya. Menyatukan enam ajaran menjadi satu 'Ajaran Terbuka' ternyata membutuhkan lebih banyak kertas daripada yang kita duga saat merencanakannya di medan perang."

"Dulu aku berpikir, menjadi Pemimpin Agung berarti aku bisa berlatih pedang sepanjang hari dan menikmati teh hangat di paviliun," keluh Pandya sambil bangkit dari ranjangnya, meregangkan otot-otot tubuhnya yang kini tegap berotot dan bidang. "Ternyata, musuh terbesar seorang pemimpin bukanlah jurus terlarang, melainkan tinta hitam dan tuntutan para tetua."

“Jangan lupa dengan tuntutan untuk segera memberikan pewaris klan, Pandya. Itu agenda nomor satu di pertemuan dewan kemarin, jika kau lupa karena pura-pura tertidur,” Sakra kembali menyindir di dalam kepalanya.

Pandya mendengus pelan, membuat Dipta sedikit bingung karena mengira Pemimpinnya sedang mendengus ke arahnya.

"Ada apa, Pemimpin?" tanya Dipta memastikan.

"Bukan apa-apa, Dipta. Hanya ada suara lalat besar yang mengganggu di kepalaku," jawab Pandya sambil melirik tajam ke arah pedang Sahasra Kaditula yang bersandar di dinding. Pedang itu tampak sedikit bergetar, seolah-olah jiwanya di dalam sana sedang tertawa puas karena berhasil menjahili tuannya.

Dipta berdeham, mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum suasana menjadi semakin aneh. "Selain masalah dokumen, ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan. Nona Attaya... dia meminta waktu untuk berbicara dengan Anda empat mata setelah sarapan pagi ini. Tampaknya ini mengenai struktur komando baru untuk Ajaran Angin yang akan dilebur sepenuhnya."

Mendengar nama Attaya, ekspresi Pandya melembut sesaat, namun sedetik kemudian rasa gugup yang aneh melanda dadanya. Hubungan mereka kini bukan lagi antara pemimpin kelompok dan prajurit yang menyamar sebagai pria bernama Atreya. Sekarang, seluruh padepokan tahu bahwa Attaya adalah seorang wanita pendekar yang cerdas, sekaligus calon istri dari sang Pemimpin Agung.

"Baiklah, katakan padanya aku akan menemuinya di aula samping setelah menyelesaikan tumpukan dokumen ini," ucap Pandya.

Namun, sebelum Dipta sempat melangkah mundur untuk berpamitan, lantai kayu di bawah kaki mereka mendadak bergetar halus. Getaran itu sangat tipis, hampir tidak terasa bagi orang awam. Tetapi bagi Pandya yang memiliki tenaga dalam luar biasa besar yang telah menyatu dengan batin pedang purba, getaran itu terasa aneh.

Itu bukan getaran gempa bumi biasa. Getaran itu membawa resonansi energi yang dingin, asing, dan terasa sangat jauh dari kedalaman tanah yang paling dalam—sebuah resonansi yang anehnya sangat mirip dengan energi monster bayangan yang baru saja hadir di dalam mimpi buruknya.

Pandya terdiam sejenak, pandangannya langsung tertuju pada lantai. Di saat yang sama, bilah pedang Sahasra Kaditula mengeluarkan dengungan rendah yang hanya bisa didengar oleh telinga Pandya.

“Pandya...” suara Sakra kali ini tidak lagi membawa nada sarkas atau bercanda. Suara jiwa pedang itu mendadak berubah menjadi sangat serius, dingin, dan sarat akan kewaspadaan. “Getaran ini... kepingan ingatanku yang terkunci mendadak berdenyut sakit. Sesuatu yang seharusnya tetap terkubur di dasar bumi Nagendra... tampaknya mulai terbangun karena runtuhnya struktur padepokan lama.”

Pandya mencengkeram erat jubahnya. Rasa damai yang baru mereka nikmati selama satu minggu ini tiba-tiba terasa begitu rapuh, seolah-olah ada bayangan besar yang sedang mengintai di balik kabut fajar Nagendra Baru.

Bersambung…

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Walang Komento
110 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status