MasukKring... kring...Suara lonceng angin perak yang tergantung di dekat jendela kamar utama berderit merdu, berpadu dengan pendar cahaya matahari pagi yang menembus tirai sutra putih. Udara pagi ibu kota terasa hangat dan segar, membawa aroma harum bunga mawar putih dari taman istana ke dalam ruangan.Celina mengerjap perlahan, membuka kelopak matanya di atas ranjang beludru yang empuk. Ia menoleh ke sisi kanannya dan mendapati Lucien masih terlelap dalam posisi duduk di kursi samping tempat tidur, dengan kepala bersandar di tepi kasur dan tangan kanannya masih menggenggam erat jari jemari Celina bahkan dalam tidur."Lucien..." panggil Celina lembut dengan suara parau khas bangun tidur. Ia mengelus helai rambut hitam suaminya pelan.Lucien langsung terbangun seketika. Insting militernya membuatnya langsung siaga, namun begitu manik mata biru gelapnya menangkap senyuman Celina, ketegangan di wajahnya langsung mencair menjadi kelembutan yang teramat sangat."Kau sudah bangun, sayang? Ada y
Krek...Suara gesekan kayu jendela kamar utama berderit pelan disusul hembusan angin malam musim panas yang menyejukkan. Di dalam kamar yang diterangi pendar hangat lampu minyak, suasana begitu tegang namun sarat akan keharuan. Keringat dingin bercucuran deras di pelipis Celina. Napasnya memburu tidak beraturan, sementara kedua tangannya meremas erat seprai ranjang beludru merah tua hingga berkerut."Tarik napas yang dalam, Grand Duchess... lepaskan perlahan. Bagus sekali, pertahankan!" instruksi tabib senior istana dengan nada tenang namun tegas, mengatur jalannya proses persalinan.Di sisi kanan ranjang, Lucien berlutut dengan satu kaki. Wajah pria gagah itu tampak jauh lebih pucat daripada istrinya. Tangannya menggenggam jemari Celina dengan erat, menyalurkan seluruh kekuatan dan kehangatan yang ia miliki."Kau hebat, Celina... kau pasti bisa, sayang," bisik Lucien berulang kali, mencium punggung tangan istrinya penuh cinta dan kecemasan. "Aku di sini. Aku tidak akan kemana-mana."
Prang!Suara benturan ranting kayu kering yang diinjak oleh kuda kurir terdengar nyaring di pelataran istana. Seorang pengawal istana berlari tergesa-gesa menghampiri taman mawar tempat Lucien dan Celina sedang bersantai."Lapor, Grand Duke!" seru pengawal itu dengan napas tersengal-sengal, membungkuk hormat dalam-dalam.Lucien segera berdiri dari kursinya, menatap tajam ke arah pengawal tersebut dengan raut wajah yang langsung menegang. "Ada apa? Jangan bilang ada kekacauan baru di perbatasan!""B-bukan, Grand Duke!" jawab pengawal itu cepat, melambaikan kedua tangannya membantah. "Bukan masalah musuh atau pemberontakan! Ini... ini surat balasan dari tabib senior istana yang sedang dalam perjalanan kembali ke ibu kota!"Celina ikut berdiri perlahan dengan bantuan pegangan di meja teh. Ia menghela napas lega, meskipun detak jantungnya sedikit berpacu karena terkejut. "Tabib senior? Surat apa yang dibawanya sampai kau berlari sepaniak ini?"Pengawal itu merogoh saku mantelnya, mengelua
Kring... churr...Suara gemercik air mancur batu marmer putih di halaman tengah istana terdengar begitu merdu, berpadu dengan hembusan angin sore musim panas yang menerbangkan kelopak-kelopak bunga mawar putih ke atas rumput hijau.Celina duduk bersandar nyaman di kursi santai rotan berlapis bantal tebal beludru krem. Mengenakan gaun terusan panjang berwarna hijau mint longgar, ia menikmati secangkir teh kamomil hangat yang baru saja dituangkan oleh Marry dari teko porselen berukir emas."Aromanya benar-benar menenangkan, Marry. Terima kasih," puji Celina tulus sambil tersenyum manis.Marry menaruh teko itu kembali di atas nampan kecil, lalu tersenyum ramah. "Sama-sama, Nona Celina. Tabib istana berpesan agar Anda memperbanyak minum teh herbal sore hari agar tidur Anda lebih nyenyak malam nanti.""Ah, bicara soal tabib..." sebuah suara bariton yang dalam memotong percicikan air mancur dari arah koridor batu.Lucien melangkah mendekat dengan santai. Ia sudah melepas jubah kebesaran mil
Kring!Lonceng besar di menara utama istana pusat berdenting nyaring sebanyak dua belas kali, menandakan tibanya tengah hari yang cerah. Sinar matahari musim panas menyiram halaman marmer alun-alun ibu kota dengan keemasan yang hangat, mengusir seluruh sisa bayangan gelap dan ketegangan politik yang selama ini mencekam warga.Di balkon utama istana yang menghadap langsung ke arah ribuan rakyat, Lucien berdiri tegak mengenakan jubah kebesarannya sebagai Grand Duke yang baru. Di sampingnya, Celina berdiri anggun dengan balutan gaun panjang berwarna gading beraksen perak. Tangannya yang lembut memegang erat tangan Lucien, sementara tangan kanannya mengusap pelan perut buncitnya yang kini sudah memasuki bulan kedelapan kehamilan.Di bawah balkon, ribuan rakyat bersorak-sorai riuh sambil melambaikan tangan, merayakan tumbangnya rezim penasihat agung dan kembalinya kedamaian di bawah kepemimpinan keluarga Valois."Mereka benar-benar setia padamu, Lucien," bisik Celina pelan sambil tersenyum
Bum!Hantaman keras kaki Lucien merobek lantai batu ruang arsip, menciptakan gelombang kejut kecil yang membuat debu berhamburan ke udara. Penasihat agung berdarah dingin itu terperanjat mundur, langkah kakinya tersandung tumpukan naskah kuno hingga ia jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin."Tahan! Jangan bunuh aku, Lucien!" teriak penasihat tua itu histeris, mengangkat kedua tangan gememetarnya untuk menangkis bayangan pedang tajam yang kini berada tepat di depan batang tenggorokannya.Lucien berdiri tegak menatap musuhnya dengan sorot mata setajam elang. Napasnya memburu, sementara ujung pedang panjangnya berdesing pelan, meneteskan setitik darah dari ujung bilahnya."Alasan apa yang masih bisa kau ucapkan setelah semua kekejaman yang kau lakukan pada keluargaku, Paman?" geram Lucien dingin, suaranya menggelegar memenuhi ruangan arsip yang sempit.Penasihat agung mendongak, menyeringai ngeri dengan sisa-sisa kesombongannya. "Keluargamu... keluarga bodoh yang hanya mengand
Di bawah sana, mereka menemukan sebuah ruangan yang dipenuhi dengan tabung-tabung penyimpanan berisi embrio dan benih tanaman yang jauh lebih banyak daripada yang dibawa Elias. Namun, di tengah ruangan, terdapat sebuah meja proyeksi yang menampilkan peta galaksi.Satu titik merah berkedip di peta i
Tiga hari kemudian, sebuah unit kecil namun sangat elit berangkat dari Ibu Kota. Tidak ada konvoi besar, tidak ada panji-panji yang berkibar. Celina dan Lucien memimpin kelompok yang terdiri dari dua puluh ksatria sayap perak dan lima teknisi kristal terbaik. Mereka tidak menuju perbatasan utama yan
Kael mengangkat wajahnya, memperlihatkan senyum miring yang provokatif. "Maut adalah teman lama keluarga Sapphire, Vivianne. Tapi kau... kau terlihat semakin cantik sejak menjadi 'penguasa' di sini. Apakah ranjang Lucien begitu hangat hingga kau lupa pada dokumen yang kuberikan?" "Aku tidak melupa
Kastil Valois berubah menjadi penjara emas yang paling mewah di seluruh kerajaan. Sejak malam pembakaran surat cerai itu, Lucien benar-benar mewujudkan ancamannya. Cedric Lightmore kini bukan lagi sekadar asisten Grand Duke, melainkan "bayangan" Celina yang mengikuti ke mana pun ia pergi—bahkan jika







