แชร์

Bab 5

ผู้เขียน: Leachaa1
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-17 22:44:10

Keesokan paginya, kediaman Valois gempar. Bukan karena perilaku histeris sang Grand Duchess, melainkan karena kesibukannya yang luar biasa. Celina tidak mengenakan gaun sutra panjang yang menyapu lantai. Sebaliknya, ia memilih setelan jas wanita yang dimodifikasi dari penjahit istana—berwarna biru tua dengan aksen emas, menunjukkan otoritas dan keanggunan yang tajam.

"Mary, pastikan dokumen kontrak ini tidak lecek," perintah Celina sambil memasukkan berkas ke dalam tas kulit kecil.

"Tapi Nyonya... Yang Mulia Grand Duke belum keluar dari kamarnya sejak tadi malam. Para pengawal bilang auranya sangat menakutkan," bisik Mary khawatir.

Celina mengangkat bahu acuh tak acuh. "Biarkan saja. Dia pria dewasa, dia bisa mengurus emosinya sendiri."

Saat Celina melangkah menuju gerbang depan di mana kereta kuda sudah menunggu, ia mendapati jalan keluarnya terhalang. Bukan oleh palang, melainkan oleh sosok tinggi tegap yang bersandar pada kereta kudanya dengan tangan bersedekap.

Lucien Ashford De Valois. Dia mengenakan jubah hitam formal, terlihat sangat tampan sekaligus sangat berbahaya.

"Mau ke mana?" tanya Lucien singkat.

"Aku sudah bilang kemarin. Aku ada janji makan siang dengan Baron Vancewood," jawab Celina sambil mencoba melewati Lucien.

Lucien tidak bergeming. "Batalkan. Aku baru saja menerima laporan bahwa ada gangguan keamanan di jalur menuju kediaman Vancewood. Sebagai suamimu, aku tidak bisa membiarkanmu dalam bahaya."

Celina menyipitkan mata. "Gangguan keamanan? Di tengah kota yang dijaga oleh ksatria elitmu? Jangan membodohiku, Lucien. Kau hanya tidak ingin aku pergi."

"Aku tidak peduli kau pergi atau tidak," bohong Lucien dengan wajah datar. "Tapi reputasi Valois akan hancur jika istrinya diculik karena kecerobohannya sendiri. Jika kau bersikeras pergi, aku yang akan mengantarmu."

Celina terdiam sejenak. "Kau? Mengantarku ke pertemuan bisnis dengan pria yang kau benci?"

"Aku tidak membencinya. Dia terlalu tidak signifikan untuk kubenci," sahut Lucien dingin. "Ayo naik."

Perjalanan di dalam kereta kuda terasa sangat menyesakkan. Tidak ada suara selain deru roda yang melindas jalanan berbatu. Lucien menatap ke luar jendela dengan wajah kaku, sementara Celina sibuk memeriksa catatan bisnisnya.

"Apa yang kau tulis?" tanya Lucien akhirnya, tidak tahan dengan keheningan itu.

"Strategi diversifikasi pasar," jawab Celina tanpa menoleh. "Sesuatu yang seharusnya kau pelajari agar wilayahmu tidak hanya bergantung pada pajak perang."

Lucien mendengus. "Kau bicara seolah kau telah memimpin sebuah kerajaan selama puluhan tahun."

"Lebih dari itu, Lucien. Aku telah memimpin sesuatu yang jauh lebih kejam dari kerajaanmu: dunia korporat masa depan," gumam Celina sangat pelan, yang hanya terdengar seperti gumaman bagi Lucien.

Ketika mereka tiba di restoran mewah tempat pertemuan diadakan, Kael Vancewood sudah menunggu di balkon pribadi yang menghadap ke sungai. Wajah Kael yang awalnya ceria seketika berubah saat melihat Lucien turun dari kereta dan mengulurkan tangan (dengan sangat terpaksa) untuk membantu Celina turun.

"Ah, Grand Duke. Saya tidak menyangka Anda punya banyak waktu luang untuk menjadi... sopir istri Anda?" sindir Kael dengan senyum tipis.

Lucien membalas dengan tatapan tajam yang bisa membunuh. "Aku hanya memastikan tidak ada tikus kecil yang mencoba mencuri apa yang menjadi milikku, Baron."

Meja makan yang seharusnya hanya untuk dua orang kini menjadi meja untuk tiga orang. Atmosfer di sana begitu berat hingga pelayan yang mengantarkan makanan tangannya gemetar hebat.

Celina mulai menjelaskan rencananya pada Kael. "Baron, saya ingin keluarga Sapphire mengelola logistik distribusi kristal melalui jalur laut. Ini akan memotong biaya sebesar lima belas persen dibandingkan jalur darat yang sering diganggu bandit."

Kael mengangguk, terkesan. "Ide brilian. Namun, bagaimana dengan jaminan keamanan di pelabuhan?"

"Itu tugas suamiku," sahut Celina sambil melirik Lucien. "Angkatan laut Valois menganggur sejak gencatan senjata tahun lalu. Mengapa tidak menggunakannya untuk mengawal kapal dagang? Itu akan memberikan pemasukan bagi militer tanpa harus berperang."

Lucien tersedak anggurnya. Ia menatap Celina dengan pandangan tak percaya. "Kau ingin aku menggunakan ksatria kehormatanku untuk menjadi pengawal kapal dagang?"

"Itu lebih terhormat daripada membiarkan mereka mabuk-mabukan di bar karena bosan tidak ada perang, bukan?" balas Celina tajam.

Kael tertawa terbahak-bahak. "Luar biasa! Vivianne, Anda benar-benar jenius. Bagaimana kalau kita rayakan kesepakatan awal ini dengan dansa?"

Kael berdiri dan mengulurkan tangannya pada Celina. Musik biola dari lantai bawah terdengar sayup-sayup, menciptakan suasana romantis.

Sebelum Celina bisa merespons, Lucien sudah berdiri lebih dulu. Ia mencengkeram tangan Celina dan menariknya berdiri. "Istriku tidak berdansa dengan pria lain selain aku. Terutama dengan pria yang aroma parfumnya terlalu manis seperti wanita."

"Lucien, apa yang kau—"

Tanpa menunggu persetujuan, Lucien menarik Celina ke area tengah balkon dan mulai menari. Gerakannya kasar dan penuh emosi. Ia memeluk pinggang Celina dengan sangat erat, seolah takut jika ia melonggarkannya sedikit saja, wanita itu akan terbang ke pelukan Kael.

"Kau sedang mempermalukan dirimu sendiri, Lucien," bisik Celina, napasnya terasa di leher Lucien.

"Diamlah," desis Lucien. "Kau bilang kau sangat menyukaiku, kan? Kau melakukan segala hal gila agar aku melirikmu. Sekarang aku sedang menatapmu, Celina. Kenapa kau justru menatap pria lain?"

Celina menatap mata biru Lucien yang kini tidak lagi dingin, melainkan bergejolak seperti badai. "Itu Celina yang dulu, Lucien. Celina yang sekarang sudah sadar bahwa mengemis cinta pada batu tidak akan menghasilkan apa-apa. Sekarang aku hanya peduli pada emas dan kekuasaan."

"Bohong," ucap Lucien pelan. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Celina. "Aku bisa merasakan jantungmu berdetak kencang saat aku memegangmu. Kau masih menginginkanku."

Celina tersenyum miring. "Itu bukan detak jantung karena cinta, Lucien. Itu adrenalin karena aku sedang memikirkan berapa banyak keuntungan yang akan kudapatkan setelah kesepakatan ini selesai."

Lucien menghentikan dansanya secara tiba-tiba. Ia menatap Celina dengan rasa frustrasi yang memuncak. Di hadapan banyak orang di balkon itu, sang Grand Duke yang dingin itu menarik napas panjang.

"Kalau begitu, aku akan membeli semua kesepakatanmu. Berapa pun yang ditawarkan Vancewood, aku akan menggandakannya. Asalkan kau berhenti menemuinya," ucap Lucien dengan suara yang cukup keras hingga Kael mendengarnya.

Celina tertawa kecil, suara tawa yang jernih dan meremehkan. "Kau ingin membeliku? Maaf, Lucien. Aku terlalu mahal untuk kepingan emasmu. Aku ingin kebebasan."

Celina melepaskan diri dari dekapan Lucien dan menatap Kael. "Baron, kurasa pertemuan hari ini cukup sampai di sini. Suamiku sepertinya sedang butuh perhatian medis untuk egonya yang terluka."

Celina berjalan pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan dua pria paling berpengaruh di kerajaan itu dalam keheningan yang memalukan.

Lucien hanya bisa berdiri terpaku, mengepalkan tangannya. Rasa cemburu itu bukan lagi sekadar percikan, melainkan api besar yang mulai melahap logikanya. Ia menyadari satu hal yang mengerikan, ia tidak hanya ingin memiliki tubuh Celina sebagai istrinya, ia ingin memiliki jiwa wanita baru itu sepenuhnya.

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 164 End

    Raja Lucien menghempaskan tumpukan dokumen laporan dewan menteri ke atas meja kerja mahoni dengan satu gerakan tangan yang cepat, lalu menghela napas panjang sebelum berbalik menghadap Ratu Celina yang baru saja melangkah masuk membawa secangkir teh mawar hangat kesukaannya."Aku resmi mendeklarasikan pensiun permanen dari membaca tumpukan kertas membosankan ini mulai detik ini juga, Celina," ujar Lucien dengan suara bariton seraknya yang khas, tersenyum kecil sambil melangkah lebar mendekati istrinya.Celina menyerahkan cangkir teh tersebut, lalu mendengus geli sembari merapikan kerah kemeja suaminya dengan penuh kelembutan. "Kau berbicara seolah-olah kau adalah pegawai rendahan istana, Baginda Raja. Padahal kau baru saja mangkir dari tiga rapat penting dewan menteri sore ini," tegur Celina lembut penuh canda, matanya berbinar hangat.Lucien menyambar pinggang ramping istrinya dengan kedua tangannya, menarik tubuh Celina rapat-rapat hingga tidak ada celah di antara mereka. "Biarkan p

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 163

    Raja Lucien menyambar jubah wol tebal berwarna arang dari gantungan dinding kamar dengan satu sentakan tangan yang cepat, lalu melemparkannya ke bahu Ratu Celina untuk melindungi istrinya dari udara dingin subuh istana."Kau yakin ingin ikut naik ke bukit utara bersamaku, Baginda? Padahal kita baru saja berencana tidur seharian penuh di istana," protes Celina lembut dengan nada jenaka, merapikan kancing jubah tersebut di depan cermin besar sementara matanya melirik ke arah suaminya melalui pantulan kaca.Lucien melangkah mendekat, melingkarkan kedua tangannya dari belakang di pinggang ramping istrinya lalu menumpukan dagunya di bahu Celina. "Aku tidak mungkin membiarkan ratu-ku pergi ke luar istana sendirian saat fajar menyingsing, terlebih lagi rencana liburan seharian kita hari ini dimulai dari sana," bisik Lucien parau tepat di telinga Celina, mengecup pelan leher istrinya hingga Celina mendengus geli."Alasanmu selalu saja ada, Raja yang posesif," cibir Celina manja, memutar tubuh

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 162

    Raja Lucien menghempaskan tubuhnya ke atas sofa beludru panjang di ruang kerja pribadinya, lalu melonggarkan kerah seragam militer hitam yang masih melekat di tubuhnya dengan satu sentakan tangan yang cepat."Kau baru saja tiba dari perbatasan barat dua jam yang lalu, Baginda, dan sekarang kau sudah mengurung diri lagi di ruang kerja penuh tumpukan dokumen?" tegur Ratu Celina lembut sambil membuka pintu ruang kerja perlahan, melangkah masuk dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh hitam hangat.Lucien mendongak, menyipitkan mata elangnya lalu mendengus pelan. Ia menepuk sisi sofa yang kosong di sampingnya. "Kemarilah, Celina. Dokumen-dokumen ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa rinduku yang belum tuntas sejak aku kembali ke istana," rayu Lucien parau dengan suara baritonnya yang membuai.Celina tersenyum geli, melangkah mendekat dan meletakkan nampan teh di atas meja mahoni sebelum duduk di samping suaminya. "Kau ini... gombalanmu semakin hari semakin tidak punya batasan," c

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 161

    Raja Lucien menutup pintu kamar tidur utama dengan satu dorongan kaki yang cepat, lalu langsung mengangkat tubuh Ratu Celina ke dalam dekapannya begitu mereka tiba di balik pintu yang tertutup rapat dari pesta dansa Adipati Sterling.Celina terpekik kecil karena terkejut, namun tawa renyah langsung lolos dari bibirnya saat ia melingkarkan kedua tangannya secara otomatis di leher suaminya. "Lucien! Kau benar-benar tidak sabar, ya? Kita bahkan baru saja turun dari kereta kuda!" protes Celina manja dengan mata berbinar jenaka.Lucien tidak memedulikan protes itu. Ia berjalan cepat membawa istrinya menuju ranjang beludru besar, membaringkan Celina dengan lembut sebelum mengurung tubuh istrinya di antara kedua lengannya. "Aku sudah menahan diri selama dua jam penuh di aula yang penuh dengan para bangsawan sok sokan itu, Celina. Sekarang waktunya bagiku untuk menagih waktu pribadi dengan ratu-ku," bisik Lucien parau dengan suara baritonnya yang membuai.Celina menangkup rahang suaminya deng

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 160

    Raja Lucien menyambar dasi kupu-kupu sutra hitam dari tangan kepala pelayan dengan gerakan cepat, lalu melilitkannya sendiri di kerah kemeja putihnya di depan cermin besar kamar utama. Ia merapikan ujung jas formal beraksen emas yang membalut tubuh tegapnya, sebelum membalikkan badan begitu mendengar derap langkah anggun dari arah kamar ganti.Ratu Celina melangkah keluar dengan balutan gaun malam panjang berwarna safir tua berkilau yang memeluk sempurna siluet tubuhnya, sementara rambut panjangnya disanggul modern dengan hiasan permata kecil yang memantulkan cahaya lampu kristal.Lucien terpaku seketika, menghentikan gerakan tangannya di udara. Ia melangkah lebar mendekati istrinya, lalu menangkup kedua pipi Celina dengan lembut. "Demi para dewa... kau terlihat luar biasa memukau, Ratu-ku," puji Lucien tulus dengan suara bariton seraknya yang khas.Celina tersenyum geli, menaruh kedua tangannya di atas bahu suaminya. "Kau sudah memuji gaun ini tiga kali sejak tadi, Baginda. Kalau ter

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 159

    Raja Lucien menghentakkan pedang latihan ke atas lantai batu arena istana dengan bunyi dentingan nyaring, lalu menyeka keringat di keningnya menggunakan punggung tangan kanannya. Napasnya sedikit memburu setelah satu jam penuh melatih teknik tangkisan cepat bersama kepala pengawal kerajaan."Cukup untuk hari ini," titah Lucien dengan suara bariton tegasnya, melempar pedang tumpul itu ke dalam rak senjata.Pintu besar arena terbuka perlahan, menampilkan Ratu Celina yang melangkah masuk anggun dengan gaun musim semi berwarna lavendernya, membawa sehelai handuk kering dan botol air dingin di atas nampan perak."Kau menghabiskan pagi butamu di arena latihan lagi, Baginda Raja? Padahal para menteri belum datang ke ruang sidang," tegur Celina lembut, tersenyum kecil sambil menyodorkan handuk ke hadapan suaminya.Lucien segera menyambar handuk tersebut, menyeka lehernya, lalu menarik pinggang Celina mendekat ke dalam dekapannya tanpa ragu sedikit pun. Ia mengecup singkat kening istrinya. "Ju

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 2

    Keheningan di koridor sayap barat kediaman Valois terasa mencekam setelah kepergian Lucien. Di dalam kamar, Celina Camilla yang kini harus terbiasa dipanggil Vivianne tidak membuang waktu untuk meratapi nasib. Baginya, menangisi takdir adalah pemborosan energi yang tidak masuk dalam neraca keuntunga

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 7

    Kastil Valois berubah menjadi penjara emas yang paling mewah di seluruh kerajaan. Sejak malam pembakaran surat cerai itu, Lucien benar-benar mewujudkan ancamannya. Cedric Lightmore kini bukan lagi sekadar asisten Grand Duke, melainkan "bayangan" Celina yang mengikuti ke mana pun ia pergi—bahkan jika

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 6

    Malam itu, kastil Valois terasa lebih sunyi dari biasanya, namun ketenangan itu seperti permukaan laut sebelum tsunami. Celina duduk di meja kerjanya, hanya ditemani cahaya lilin yang menari-nari ditiup angin malam. Di tangannya terdapat selembar dokumen yang ditulis dengan tinta hitam pekat—sebuah

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 4

    Setelah insiden di lapangan latihan, desas-desus tentang "Kegilaan Baru" Grand Duchess menyebar seperti api di antara para pelayan dan ksatria. Namun, Celina tidak peduli. Baginya, status sosial di dunia ini hanyalah modal untuk mencapai satu tujuan: kemandirian finansial. Celina menghabiskan tiga

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status