LOGINBab Utama : 23/47. Terima kasih untuk sobat readers yang memberikan komentarnya di beranda depan karya ini maupun di tiap akhir bab. Terima kasih juga untuk gems yang diberikan. Hujan saat ini di tempat author... semoga memberi kesejukan bagi kita semua.
Yi Xue menghentakkan kakinya pelan, tapi cukup keras untuk membuat ujung jubahnya berayun. Bibirnya mengerucut, matanya menyipit tajam ke arah pintu aula yang masih terbuka—tempat dua sosok baru saja pergi dengan penuh percaya diri.Liang Mei menyilangkan tangan di dada, kuku-kukunya menekan lengan sendiri seolah menahan kesal yang menggelegak. Sementara itu, Shin Ling hanya berdiri diam, tetapi sorot matanya dingin dan tajam seperti bilah pisau yang baru diasah.Di sisi lain aula, suara langkah ringan dan tenang milik Guo Xiang dan Zhang Yin masih terngiang, seakan sengaja meninggalkan jejak yang menyebalkan.“Seluruh anggota Gobi Pay akan tiba sebentar lagi untuk membantu kita menyerang Lembah Hantu,” ujar Guo Xiang sebelumnya. Nada suaranya mantap dan penuh keyakinan.Kata-kata itu seperti bara yang dilempar ke dalam dada Yi Xue.“Kabar bagus,” sahut Zhang Yin, melanjutkan dengan nada serius, “pasukan Jenderal Wei Qilin tidak akan sampai dengan cepat ke ibu kota. Aku khawatir Zhao S
Langkah kaki bergema pelan di lantai batu istana yang dingin. Shu Jin yang berdiri di sisi aula langsung mengenali suara itu—tegas, mantap, dan tak asing lagi di telinganya. Suara Zhang Yin. Sosok yang telah berkali-kali bertarung bersamanya di garis depan, menembus dinginnya perbatasan, menghabisi pasukan Jurchen tanpa ragu. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Saat bayangan Zhang Yin muncul di ambang pintu aula, Shu Jin tidak hanya melihat seorang rekan seperjuangan… tapi juga seseorang di sampingnya. Seorang gadis. Langkahnya ringan, nyaris tanpa suara. Rambut hitamnya panjang, jatuh seperti aliran sutra di punggungnya, berkilau tertimpa cahaya obor istana. Wajahnya halus, lembut, dengan aura yang tidak biasa—bukan sekadar cantik, tapi anggun… seperti seseorang yang memang dilahirkan untuk berada di dalam tembok istana. Jantung Shu Jin berdegup sedikit lebih cepat. Aku… pernah melihatnya. Perasaan itu muncul begitu saja, samar tapi mengganggu. Ia mengenali wajah itu—ata
Kembali ke Istana Kekaisaran Song Selatan—bau darah dan asap masih menggantung tipis di udara.Halaman yang tadi bergemuruh kini sunyi.Mayat berserakan, sebagian hangus, sebagian terbelah. Batu-batu marmer retak, bekas benturan energi masih terasa hangat di telapak kaki.Di aula utama, suasana jauh dari tenang.“Kenapa Zhao Shin tidak ikut menyerang?” tanya Shin Ling, suaranya rendah namun tajam, memecah keheningan.Ia berdiri tegak, matanya menatap ke arah pintu besar yang terbuka—seolah berharap sosok musuh itu muncul kapan saja.“Perempuan iblis itu juga tidak muncul,” sambung Mei Shia, alisnya berkerut. Udara di sekitarnya masih dingin. Embun tipis kembali muncul di lantai.Shu Jin berdiri di tengah mereka.Sikapnya tetap tenangNamun sorot matanya berbeda—tajam dan penuh perhitungan.“Zhao Shin…” gumamnya pelan.Ia melangkah satu langkah, ujung jubahnya menyapu lantai yang dingin.“…sedang mengujiku.”Semua mata langsung tertuju padanya.“Mengujimu?” ulang Yi Xue. Nada suaranya p
Wu Chao-Ming berdiri diam di tepi danau jernih itu. Aliran air terjun di belakangnya menggemuruh pelan seperti bisikan panjang yang tak pernah berhenti. Namun di balik wajah tenangnya, pikirannya berputar cepat—menghitung, menimbang, mencium bahaya yang belum terlihat jelas.Alisnya berkerut.“Apa kita juga akan ikut menyerang ke dalam Istana Kekaisaran Song Selatan?” tanyanya akhirnya, suaranya berat, penuh kehati-hatian.Zhao Shin, yang berdiri tak jauh darinya, justru terkekeh pelan.“Tentu saja tidak.”Jawaban itu datang dengan cepat.Ia berbalik perlahan, menatap Wu Chao-Ming dengan sorot mata dingin.“Melihat bagaimana Lima Wanita Iblis itu bergerak…” lanjutnya, nada suaranya merendah, tajam seperti bilah tersembunyi, “aku yakin ada seseorang di balik mereka. Seorang penasihat perang… yang jauh lebih berbahaya dari yang kita bayangkan.”Udara di sekitar mereka terasa berubah.Beberapa murid Sekte Pedang Surgawi berhenti berlatih, diam-diam memasang telinga.“Apa maksud Pangeran?”
Untuk mengetahui siasat Pangeran Ketiga yang tidak hadir saat penyerangan Istana Kekaisaran Song Selatan, kita kembali lagi di saat Zhao Shin kabur dari Lima Wanita Iblis yang mengeroyoknya.Zhao Shin berlari tanpa menoleh ke belakang.Angin malam mencabik jubahnya, napasnya berat namun tetap teratur. Kakinya menapak ringan di atas genteng istana, lalu melompat lagi—melintasi tembok tinggi Istana Kekaisaran Song Selatan dengan gerakan secepat bayangan.Namun, pikirannya… tidak setenang gerakannya.Bayangan lima wanita itu terus berputar di benaknya.Aura mereka. Kecantikan mereka. Kekuatan mereka.Dan satu hal yang paling mengganggunya—mereka semua tunduk pada satu pria.“Siapa sebenarnya dia…” gumam Zhao Shin di antara deru angin. Rahangnya mengeras. “Bahkan dalam hal memikat wanita… aku masih kalah darinya.”Nada suaranya dipenuhi rasa kesal yang nyaris berubah menjadi iri.WUUUSSH!Tubuhnya melesat lagi.Namun baru saja ia mendarat di balik tembok luar...“SERRR!”Beberapa bayangan
“Shu Jin!” “Qing Jian!” “Tuan Muda!”Tiga nama berbeda menggema hampir bersamaan—namun semua mata tertuju pada satu sosok yang kini berdiri tenang di tengah aula.Kabut energi yang sebelumnya menekan ruangan perlahan mereda, memperlihatkan wajah yang begitu familiar. Jubahnya berkibar pelan, rambutnya tergerai sedikit berantakan, namun sorot matanya… tajam, dalam, dan membawa wibawa yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.Tanpa banyak kata, ia melangkah maju.Setiap langkahnya mantap, bergema di lantai marmer yang masih dilapisi embun tipis akibat aura dingin sebelumnya.Lalu—duk!Ia berlutut di hadapan Kaisar Gaozong. Kepalanya menunduk dalam.“Hormat, Yang Mulia! Maaf… hamba datang terlambat.”Suaranya rendah, namun penuh kendali.Sejenak hening.Kemudian...“Hahaha!”Tawa Kaisar pecah, menggetarkan suasana tegang yang sejak tadi menyesakkan dada.“Bangunlah!” katanya. Wajahnya kini berseri. “Aku sudah yakin kau akan kembali tepat waktu!”Tatapannya tajam meneliti Shu Jin, seolah ing
Langkah Setan Racun Neraka itu nyaris tanpa suara.Setiap pijakan Tang Hau—Hue-Tok-Kui—jatuh dengan ketenangan yang mengerikan, seolah Oasis Hitam bukan medan pertempuran, melainkan halaman rumahnya sendiri. Api racun kehijauan menyelimuti tubuhnya seperti jubah hidup, berdenyut pelan, menyebarkan p
Api di dasar kawah belum sepenuhnya padam. Bara merah menyala di antara pasir yang menghitam, berdenyut pelan—seperti jantung makhluk purba yang masih hidup di perut bumi.Pasir bergetar dengan kencang.Bukan oleh angin gurun yang juga bertiup kencang.Bukan oleh panasnya matahari gurun.Melainkan…
Badai pasir meraung seperti raksasa yang kehilangan kewarasan. Langit di atas Gurun Gobi memutar warna merah kehitaman, seolah ada darah yang tercampur di dalam anginnya. Kilat tipis menyambar di balik gumpalan awan debu, memantulkan cahaya kusam yang membuat gurun terlihat seperti ruang antara hid
Langit masih belum pulih dari amukan badai gurun.Butiran pasir terus melayang seperti abu dunia yang hancur, berputar di antara kilat yang sekarat dan awan yang terbelah. Di tepi kawah raksasa yang menganga, Shu Jin dan Guo Xiang berdiri saling berhadapan. Angin membawa bau darah, logam terbakar, d







