LOGINBab Utama : 23/47. Terima kasih untuk sobat readers yang memberikan komentarnya di beranda depan karya ini maupun di tiap akhir bab. Terima kasih juga untuk gems yang diberikan. Hujan saat ini di tempat author... semoga memberi kesejukan bagi kita semua.
Seruan itu meledak di udara seperti tebasan pedang yang memecah keheningan.“Gawat!”Wajah Qing Jian—yang sejak awal tetap dingin dan terkendali—berubah seketika. Warna darah surut dari pipinya, menyisakan pucat yang mencolok. Pandangannya terkunci pada tubuh Aylin yang melayang di tengah kepompong angin berlapis formasi. Urat-urat di lehernya menegang, dadanya naik-turun tak beraturan seolah udara di aula mendadak menjadi terlalu tipis untuk dihirup.“Pil Hati Racun tidak akan menarik Racun Patah Hati,” katanya cepat, suara rendahnya bergetar menahan urgensi. “Justru sebaliknya—pil itu menjadi pemicu. Racun di dalam tubuh Iblis Gurun sedang mengamuk.”Kata-kata itu seperti palu yang menghantam dada Guo Xiang.“Tidak masuk akal,” sanggahnya, nada suaranya tertahan namun sarat tekanan. “Setan Racun Neraka sendiri yang mengatakan Pil Hati Racun adalah penawar Racun Patah Hati.”Qing Jian menoleh perlahan.Tatapan itu tajam.“Hue-Tok-Kui menjebaknya,” katanya dingin. “Dan dia juga menjeb
Pil itu telah melewati tenggorokan Aylin.Namun dunia tidak berubah.Tidak ada kilatan cahaya. Tidak ada gelombang Qi yang meledak memecah udara. Tidak ada luka yang menutup atau napas yang tiba-tiba stabil. Aula Pengadilan Dalam tetap sama—dipenuhi debu halus yang melayang, batu-batu retak yang menganga seperti luka lama, dan aroma darah yang masih hangat, belum sempat mengering.Keajaiban tidak datang.Namun, yang berubah… hanyalah Aylin.Tubuhnya tersentak tiba-tiba.Batuk keras meledak dari dadanya, sekali—dua kali—lalu beruntun tanpa jeda, seakan paru-parunya ditarik dari dalam. Tubuhnya terlipat, bahu menghantam lantai batu. Telapak tangannya mencengkeram permukaan dingin itu dengan putus asa, kuku-kukunya menggesek batu, meninggalkan garis-garis tipis.“—UGH!”Darah hitam menyembur dari mulutnya.Bukan merah segar, melainkan pekat dan kental, berbau pahit menusuk hidung. Cairan itu menodai telapak tangannya, menutupi simbol sumpah gurun yang masih samar berpendar—seolah sumpah i
Guo Xiang menutup mata.Bukan untuk menghindar—melainkan untuk mengingat.Kilasan itu datang tanpa permisi... Lembah Racun Selatan. Tanah berlumpur kehijauan. Bau busuk yang menempel di tenggorokan. Tubuh-tubuh kultivator tergeletak membusuk, wajah mereka membeku dalam ekspresi yang bahkan kematian pun enggan menyempurnakan. Jeritan pernah ada di sana... ia tahu... namun racun telah mencabik pita suara sebelum suara sempat keluar.Pil itu lahir dari tempat itu.Bukan sebagai penyelamat. Melainkan sebagai peringatan.Guo Xiang membuka mata perlahan.“Kau ingin menyelamatkan dirimu,” katanya tenang, namun tajam, “atau kau ingin menyeret kami mati bersamamu?”Aylin Qara terdiam.Napasnya tertahan sepersekian detik—cukup lama untuk menunjukkan bahwa ini bukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan kebohongan.Lalu ia berbicara, pelan... tanpa kelicikan dan dramatis yang biasa ditunjukkannya.“Aku ingin kesempatan.”Guo Xiang menatapnya lurus.“Kesempatan apa?”“Untuk memilih,” jawab Aylin. S
Keheningan di Aula Pengadilan Dalam bukan keheningan yang menenangkan. Ia menekan—seperti paru-paru yang dipaksa menahan napas terlalu lama yang membuat dada sesak.Angin berputar tanpa kehendak. Sesaat menderu, sesaat terhenti mendadak, seolah ragu harus memihak siapa. Lentera kristal berayun pelan, memantulkan cahaya terpecah di wajah para tetua yang terpaku, mata mereka tak lepas dari satu titik di tengah reruntuhan.Di sanalah Aylin Qara bersandar pada dinding batu yang retak.Darah mengalir tipis dari bahunya, meresap ke kain hitam yang robek. Napasnya berat, tidak teratur—namun senyum di bibirnya tetap bertahan, keras kepala, seakan menolak runtuh bersama tubuhnya.Beberapa langkah di depannya, Guo Xiang berdiri tegak.Posturnya tenang, punggung lurus, wajah tanpa ekspresi. Namun hanya dia yang tahu—telapak tangannya sedingin es, Qi di dalam tubuhnya berputar lebih cepat dari biasanya.Di sisi lain, Qing Jian tidak menurunkan pedangnya.Ujung bilah itu mengarah lurus ke Aylin.“
Aula Pengadilan Dalam tidak lagi sekadar ruang batu. Ia berubah menjadi wadah tekanan—seolah udara di dalamnya diperas, dipelintir, dipaksa tunduk.Raungan Altan Yerqurt meledak dari dasar tenggorokan raksasanya. Suara itu menghantam kubah batu, membuat lentera kristal berderit dan berayun liar. Cahaya mereka bergetar, memantul di sisik emas kusam sang cacing gurun purba.Angin bangkit.Bukan sekadar berembus—ia ditarik, terseret oleh tubuh kolosal Altan Yerqurt yang menggeliat perlahan. Lantai batu bergetar, retakan halus merambat seperti urat di bawah kulit bumi.Di udara, Saryq Shamyr melesat rendah. Sayap kristalnya mengiris ruang, meninggalkan jejak cahaya biru pucat yang berdesis seperti bilah pedang.Dari sisi berlawanan—Qum Ursun meraung balasan.Raungan itu lebih liar. Lebih muda. Lebih lapar.Dua cacing roh saling berhadapan, kepala mereka terangkat, aura bertabrakan sebelum tubuh menyentuh. Tekanan dari pertemuan itu saja sudah cukup membuat lantai aula amblas setengah jeng
Ruang Angin Sunyi tidak pernah benar-benar sunyi.Angin tipis beredar tanpa arah pasti di lorong-lorong batu putih, menyusuri ukiran formasi kuno yang tertanam jauh di dinding dan lantai. Ia tidak hanya bergerak—ia mengingat. Setiap hembusan membawa gema masa lalu... jeritan yang terpotong, sumpah yang diucapkan dengan darah, dan keputusan-keputusan yang tidak pernah bisa ditarik kembali.Di antara arus itu, Aylin Qara melangkah.Tidak ada suara langkah. Tidak ada gesekan kain. Tubuhnya bergerak seperti bayangan yang dipinjamkan wujud oleh cahaya lentera. Segel tujuh lapis masih melingkar di pergelangan tangannya, namun kini hanya simbol mati—kulit kosong yang tetap dipertahankan agar orang lain percaya ia masih terbelenggu.Ia telah mematahkan segel itu perlahan.Bukan dengan kekuatan. Bukan dengan ledakan Qi.Melainkan dengan kesabaran—menunggu saat segel bernafas, saat formasi lengah, saat angin lebih mendengarnya dibanding perintah Gobi-Pay.“Zhi Lan terlalu mudah,” gumamnya nyari







