Share

Wanita Racun

Author: Zhu Phi
last update publish date: 2025-12-01 22:18:11

Angin pagi melintas seperti hembusan napas terakhir dari rumah besar keluarga Shu. Udara itu membawa bau lembab yang menusuk hidung, bercampur abu tipis yang beterbangan dari bangunan yang pernah berdiri megah—kini tinggal kerangka hitam yang mencakar langit kelabu. Di pasir puing dan kayu yang terbelah, seorang pemuda bertopeng berdiri tegak. Ia tidak menoleh sedikit pun. Tidak ada alasan untuk melihat ke belakang; masa lalunya sudah terkubur bersama genangan darah yang membeku tiga hari lalu.

Nama Shu Jin telah mati untuk saat ini.

Kaisar Pedang sudah memerintahkannya... jika ingin hidup, ia harus terlahir kembali sebagai seseorang yang bukan dirinya sampai ia berhasil menguasai ilmu pedang terhebat sepanjang masa.

Pemuda itu—belum lagi terbiasa dengan wajah barunya—menunduk pada kilauan samar dari pecahan pedang tua yang tergeletak. Permukaan logam yang retak memantulkan sosok asing... topeng artefak membentuk rahang lebih tegas, garis wajah lebih keras, dan mata yang memantulkan dingin besi. Bibir tipis itu tampak seperti tidak pernah mengenal senyum atau kelembutan.

“Mulai sekarang…” bisiknya. Suaranya sendiri terdengar asing—lebih rendah, serak, seolah keluar dari tenggorokan seseorang yang kembali dari kematian.

“Aku adalah… Qing Jian.”

Nama itu lahir begitu saja, seperti pedang yang ditarik perlahan dari sarungnya—bersih, tajam, tidak meninggalkan jejak. Nama yang mudah dilupakan oleh dunia… dan itulah yang ia perlukan untuk saat ini sebelum ia kembali ke nama aslinya nanti.

Tanpa ragu, ia bergerak cepat. Jemarinya yang bergetar halus mengumpulkan serpihan pakaian yang masih layak pakai, mengikat rambutnya ke belakang dengan simpul kencang, menghapus setiap ciri yang bisa menyinggung asal-usul keluarga Shu. Pedang Dewa Ilahi ia sembunyikan dalam ruang dimensi kecil—hadiah dari Kaisar Pedang Abadi. Pedang itu seperti denyut jantung kedua; terasa berat, namun juga meyakinkan bahwa ia belum kehilangan segalanya.

Dengan langkah tenang namun mantap, pemuda bertopeng itu meninggalkan reruntuhan yang pernah ia sebut rumah. Tempat yang dulu dipenuhi tawa ayahnya, aroma obat ibunya, dan suara langkah adik-adik yang berebut latihan pedang. Kini semuanya hanya tersisa dalam bentuk abu dan memori yang pahit—direnggut oleh tangan tunangannya sendiri, Wu Chao-Xing, bersama Pangeran Ketiga Zhao Shin.

*****

Lin’an masih terbungkus kabut tipis saat Qing Jian memasuki jalan utama. Kabut itu memeluk atap-atap rumah seperti tirai sutra pucat. Meski hari baru dimulai, kota sudah bergerak: pintu-pintu toko dibuka, kain digulung ke samping, dan teriakan para pedagang mulai mendominasi udara.

“Sayur segar! Baru dipetik dari ladang!”

“Kain sutra Lin’an! Kualitas terbaik!”

Aroma roti panggang bercampur bau ikan asin, suara roda gerobak berderit, dan langkah ratusan kaki manusia membentuk hiruk-pikuk kehidupan.

Namun bagi Qing Jian, semua warna itu telah memudar.

Setiap senyum yang ia lihat hanyalah bayangan kesedihan yang tidak lagi menyentuh hatinya. Setiap tawa seperti gema jauh dari dunia yang sudah tidak ia miliki. Kehidupan manusia biasa terasa terlalu rapuh, terlalu jauh. Di dadanya, panas dendam masih membara tapi ia harus menekan dendam ini terlebih dahulu jika tidak ingin mati dengan sia-sia.

Ia meraba peta usang yang ia temukan di perpustakaan keluarga Shu: tanda tinta hitam memanjang ke arah Pegunungan Yunhua. Di balik deretan tebing itu terdapat Sekte Racun Hitam—tersembunyi di balik rawa beracun, kabut hijau mematikan, dan cerita-cerita kelam yang membuat para cultivator biasa mengurungkan langkah.

Satu nama yang ia cari tercetak di sudut peta, ditulis dengan huruf kecil namun tajam:

Ang Tok Mo Kui – Yi Xue.

Penerus racun generasi ketiga. Wanita yang bisa membunuh cultivator tingkat tinggi hanya dengan satu ciuman.

Satu hal yang paling menyulitkannya—Yi Xue dikenal sangat membenci laki-laki.

Tantangan yang tepat untuk seseorang seperti dirinya… seseorang yang sudah “mati” dan terlahir sebagai sosok baru.

Qing Jian mempercepat langkah. Tubuhnya meledak dalam loncatan ringan, meninggalkan batas kota dengan kecepatan yang tak mungkin ditangkap mata manusia biasa. Meski qi di tubuhnya belum pulih sepenuhnya pasca tragedi tiga hari lalu, darah naga purba yang mengalir membuat stamina dan kekuatannya kembali jauh lebih cepat daripada manusia normal.

Hutan-hutan panjang ia lintasi seperti bayangan yang menggeser di antara pepohonan. Batu-batu besar yang menghalangi jalan ia lewati dengan sentuhan ringan pada ujung kaki. Udara malam menggigit kulit, namun dingin itu justru membuat pikirannya semakin tajam.

Jalan berbatu yang berliku, akar-akar pepohonan yang menjulur seperti tangan-tangan tua, hingga tebing curam yang tampak mustahil dilalui manusia biasa—semuanya ia tinggalkan hanya dalam satu malam perjalanan.

Di ujung malam itu, saat kabut hijau mulai terlihat di cakrawala…

Qing Jian tahu...

Perjalanannya menuju Sekte Racun Hitam baru saja dimulai.

*****

Ketika matahari terbit di ufuk timur, Qing Jian sudah berdiri di hadapan pegunungan yang tampak seperti ular raksasa yang melingkar ke langit.

Kabut hijau menggantung rendah, berputar seperti asap dari kuali racun.

Aroma getir menusuk hidungnya.

Tanah terasa lembab, seperti baru saja diguyur hujan racun.

Burung-burung menghindari kawasan itu sehingga suasana sangat sunyi mencekam.

Di kaki gunung, terdapat tugu batu kecil bertuliskan...

[DILARANG MASUK – RACUN YUNHUA]

Tulisan itu tampak baru—dan di bawahnya terlihat beberapa tulang manusia yang menghitam karena korosi.

“Ini benar-benar wilayah racun tingkat tinggi,” gumam Qing Jian. “Kalau aku manusia biasa… aku sudah mati sebelum masuk sepuluh langkah, tapi apa tidak berbahaya jika aku masuk semakin dalam ke dalam pegunungan ini?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
cerita yang sangat bagus
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Legenda Dewa Pedang    Ending : Benua Terlarang

    Benua Terlarang...Nama itu bergaung seperti kutukan di kalangan para Cultivator Song Selatan.Sebuah daratan luas yang jarang disebut tanpa nada takut—tempat yang oleh sebagian orang dijuluki Benua Dewa. Bukan karena kedamaiannya… melainkan karena para penghuninya yang melampaui batas manusia biasa.Tak banyak yang berani pergi ke sana.Bukan karena tak ingin.Tapi karena tahu—sekali melangkah ke wilayah itu, hidup dan mati bukan lagi milik sendiri.Di Benua Terlarang, kekuatan adalah hukum.Sosok yang lemah… hanya bahan pijakan.Langit di sana terasa lebih berat, seolah tekanan energi spiritual menindih siapa pun yang belum cukup kuat. Bahkan cultivator tingkat Inti Emas... yang di Song Selatan sudah dianggap elite... hanyalah lapisan terbawah di tempat itu.Lebih tinggi lagi... ada mereka yang telah menyentuh ambang keabadian.Immortal.Makhluk-makhluk yang tak lagi terikat sepenuhnya oleh hukum fana.Sekte-sekte pedang terkenal menjamur di sana.Transaksi sepenuhnya menggunakan bat

  • Legenda Dewa Pedang    Pertempuran Lembah Hantu - Pesan Terakhir

    “Kenapa… ia tidak melawan?”Suara Shu Jin terdengar serak, nyaris tak dikenali. Ia berdiri membeku di tengah sisa panas yang masih beriak di udara. Abu halus beterbangan di sekelilingnya... sisa tubuh Wu Chao-Ming yang baru saja lenyap dilahap api. Bau hangus masih menempel di tenggorokan, pahit, menyesakkan.Tangannya gemetar.Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai… ia ragu.Langkah tertatih terdengar dari belakang.Tetua Wu Chao-Pei muncul dari antara reruntuhan tubuh murid-murid Wu. Napasnya berat, darah masih menetes dari sudut bibirnya, tapi matanya tetap jernih—penuh kelelahan… dan sesuatu yang lebih dalam.Guo Xiang langsung bergerak ke depan. Pedangnya terangkat, siap kapan saja menebas jika pria tua itu mencoba sesuatu.Namun Wu Chao-Pei hanya berhenti beberapa langkah dari Shu Jin.Tidak ada niat menyerang.Hanya satu gerakan pelan... ia mengeluarkan sebuah surat yang sudah kusut dari balik jubahnya.“Ini… dari ayahmu, Shu Jin,” ucapnya lirih. “Bacalah… maka kau akan

  • Legenda Dewa Pedang    Pertempuran Lembah Hantu - Rahasia Besar

    Wu Chao-Ming sudah menyadarinya.Sebelum Shu Jin dan Guo Xiang benar-benar tiba, sebelum ujung serangan mereka menyentuh sasaran—mata pria tua itu telah terbuka perlahan, seperti seseorang yang memang telah menunggu momen ini sejak lama.Dalam satu tarikan napas, dua bayangan menerjang.Namun yang mereka hantam… hanya ruang kosong.Energi pedang mencabik udara tanpa mengenai apa pun.Shu Jin langsung memutar tubuhnya ke belakang.Wu Chao-Ming kini telah berdiri di belakang mereka.Tegak dan tenang. Seolah perpindahan barusan hanyalah langkah biasa yang tak berarti.Jubahnya bergoyang pelan, wajahnya tetap datar, namun sorot matanya… dalam. Terlalu dalam untuk dibaca.“Aku sudah tahu hari ini akan datang…” suaranya berat, mengandung sesuatu yang tak mudah dijelaskan. “Tapi, Shu Jin… apa yang kau lihat… belum tentu adalah kebenaran yang sebenarnya.”Ucapan itu membuat suasana semakin memanas.Mata Shu Jin langsung menyala.“Bandot tua sialan!” suaranya pecah, penuh amarah yang tak lagi t

  • Legenda Dewa Pedang    Pertempuran Lembah Hantu – Menghancurkan Keluarga Besar Wu

    Shu Jin dan Guo Xiang melesat maju tanpa ragu.Kaki mereka tidak benar-benar menyentuh tanah... keduanya melayang rendah, menapak udara dengan kecepatan yang memecah angin. Hantu-hantu kelaparan di bawah mereka mengangkat tangan-tangan busuk, mencoba meraih, namun yang tertangkap hanya bayangan yang sudah melintas.Desingan udara berdengung di telinga.Satu… dua… puluhan sosok hantu terlewati dalam sekejap.Dan tiba-tiba... pemandangan berubah.Mereka mendarat di sebuah tempat yang kontras dengan neraka di belakang: sebuah dataran yang tenang, hampir indah. Tanahnya bersih, udara terasa lebih ringan, seolah wilayah ini dilindungi oleh sesuatu yang tak kasat mata.Namun ketenangan itu semu.Karena di sana... Keluarga Besar Wu telah menunggu.Ratusan murid berdiri berlapis, membentuk barisan kokoh yang menghadang jalan. Mata mereka tajam, penuh kewaspadaan, sebagian menyimpan keraguan, sebagian lagi menyala dengan niat membunuh.Dan di belakang mereka, seorang pria tua duduk bersila.Wu

  • Legenda Dewa Pedang    Pertempuran Lembah Hantu - Pasukan Hantu

    Kebingungan itu bahkan belum sempat mengendap di benak Shu Jin—baru saja ia menyadari ada sesuatu yang janggal... ketika teror berikutnya datang tanpa memberi ruang untuk bernapas.Kabut Lembah Hantu yang sebelumnya menutup pandangan kini telah tersibak sepenuhnya.tapi apa yang tersembunyi di baliknya… membuat udara seakan membeku.Ratusan sosok muncul.Mereka tidak berjalan tapi mereka meluncur. Bergerak cepat, tak beraturan, dengan aura membunuh yang begitu pekat hingga membuat dada terasa ditekan. Tanah bergetar pelan setiap kali gelombang hantu itu mendekat, seperti gelombang kematian yang tak bisa dihentikan.Mata Shu Jin menyipit tajam.Hantu-hantu itu bukan sekadar roh gentayangan.Mereka dikendalikan.Namun… oleh siapa?Beberapa di antara mereka memiliki cakar panjang, hitam, berkilat seperti logam basah... racun menetes dari ujungnya, menguap saat menyentuh tanah. Hantu yang lain diselimuti kobaran api hijau kebiruan, nyalanya tidak memberi cahaya hangat, justru memancarkan h

  • Legenda Dewa Pedang    Pertempuran Lembah Hantu – Sekte Pedang Surgawi

    “Tiarap!”Suara Shu Jin meledak memecah sunyi, tajam seperti petir yang menyambar di tengah kabut tebal. Dalam detik yang sama, ribuan anak panah berujung api melesat dari balik kabut dingin—menderu, berdesing, menyayat udara dengan panas yang langsung menggigit kulit.Shu Jin menjatuhkan tubuhnya tanpa ragu. Tanah lembap menyambut dengan dingin yang menusuk. Di kanan kirinya, Guo Xiang dan Zhang Yin bergerak seirama, tubuh mereka menghantam permukaan tanah hampir bersamaan. Lima wanita iblis di belakangnya juga bereaksi cepat—menjatuhkan diri, menempel pada tanah, napas tertahan.Namun di barisan belakang, ratusan murid dan anggota Gobi Pay tidak seberuntung itu.Teriakan keras terdengar menyayat hati..Beberapa bahkan belum sempat memahami perintah ketika hujan panah itu tiba. Api menyambar pakaian, menembus daging, membakar kulit. Bau gosong langsung memenuhi udara—campuran antara kain terbakar dan darah yang mendidih. Tubuh-tubuh berjatuhan, sebagian menggeliat kesakitan, sebagian

  • Legenda Dewa Pedang    Pria Bermata Ungu Gelap

    Angin gurun tiba-tiba mengamuk.Bukan hembusan biasa—melainkan raungan rendah yang menggulung dari segala arah, menghantam dinding batu, mencabik pasir dari tanah dan mengangkatnya ke udara. Butiran pasir berputar liar, membentuk pusaran yang menanjak ke langit malam seperti naga tanpa kepala.Aylin

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Legenda Dewa Pedang    Kedatangan Musuh Kuat

    Di dalam gua, dunia terasa terpisah dari keganasan gurun.Badai pasir masih meraung di luar, namun dinding batu tebal meredamnya menjadi dengung jauh—seperti napas makhluk raksasa yang tertahan. Api kecil yang dinyalakan dari batu roh menyala stabil, memantulkan cahaya temaram ke dinding gua yang ka

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Legenda Dewa Pedang    Mencari Tabib Iblis

    Angin sore Kota Lin’an berembus pelan, membawa aroma pasar, wangi rempah, dan suara riuh penduduk yang memenuhi jalanan. Di antara keramaian itu, Qing Jian berjalan tanpa suara, menyembunyikan aura kultivasinya serendah mungkin. Langkahnya mantap namun hatinya berat meninggalkan Gunung Yunhua dan ke

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Legenda Dewa Pedang    Teknik Penyatuan Energi Murni

    Tubuh Qing Jian kembali bergetar.Namun bukan getaran biasa— Ini seperti gelombang kejut yang meledak dari dalam tulangnya, mengalir ke kulitnya dalam hantaman kasar yang membuat ranjang obat berderit keras.KRAAAK—KRAAAK—!Urat-urat biru dan merah saling berbenturan di permukaan kulitnya seperti d

    last updateLast Updated : 2026-03-18
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status