เข้าสู่ระบบBab Utama : 11/25. Masih akumulasi bab utama tertunda sampai hari ini.
Guo Xiang menutup mata.Bukan untuk menghindar—melainkan untuk mengingat.Kilasan itu datang tanpa permisi... Lembah Racun Selatan. Tanah berlumpur kehijauan. Bau busuk yang menempel di tenggorokan. Tubuh-tubuh kultivator tergeletak membusuk, wajah mereka membeku dalam ekspresi yang bahkan kematian pun enggan menyempurnakan. Jeritan pernah ada di sana... ia tahu... namun racun telah mencabik pita suara sebelum suara sempat keluar.Pil itu lahir dari tempat itu.Bukan sebagai penyelamat.Melainkan sebagai peringatan.Guo Xiang membuka mata perlahan.“Kau ingin menyelamatkan dirimu,” katanya tenang, namun tajam, “atau kau ingin menyeret kami mati bersamamu?”Aylin Qara terdiam.Napasnya tertahan sepersekian detik—cukup lama untuk menunjukkan bahwa ini bukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan kebohongan.Lalu ia berbicara, pelan... tanpa kelicikan dan dramatis yang biasa ditunjukkannya.“Aku ingin kesempatan.”Guo Xiang menatapnya lurus.“Kesempatan apa?”“Untuk memilih,” jawab Aylin. S
Keheningan di Aula Pengadilan Dalam bukan keheningan yang menenangkan.Ia menekan—seperti paru-paru yang dipaksa menahan napas terlalu lama yang membuat dada sesak.Angin berputar tanpa kehendak. Sesaat menderu, sesaat terhenti mendadak, seolah ragu harus memihak siapa. Lentera kristal berayun pelan, memantulkan cahaya terpecah di wajah para tetua yang terpaku, mata mereka tak lepas dari satu titik di tengah reruntuhan.Di sanalah Aylin Qara bersandar pada dinding batu yang retak.Darah mengalir tipis dari bahunya, meresap ke kain hitam yang robek. Napasnya berat, tidak teratur—namun senyum di bibirnya tetap bertahan, keras kepala, seakan menolak runtuh bersama tubuhnya.Beberapa langkah di depannya, Guo Xiang berdiri tegak.Posturnya tenang, punggung lurus, wajah tanpa ekspresi. Namun hanya dia yang tahu—telapak tangannya sedingin es, Qi di dalam tubuhnya berputar lebih cepat dari biasanya.Di sisi lain, Qing Jian tidak menurunkan pedangnya.Ujung bilah itu mengarah lurus ke Aylin.“
Aula Pengadilan Dalam tidak lagi sekadar ruang batu. Ia berubah menjadi wadah tekanan—seolah udara di dalamnya diperas, dipelintir, dipaksa tunduk.Raungan Altan Yerqurt meledak dari dasar tenggorokan raksasanya. Suara itu menghantam kubah batu, membuat lentera kristal berderit dan berayun liar. Cahaya mereka bergetar, memantul di sisik emas kusam sang cacing gurun purba.Angin bangkit.Bukan sekadar berembus—ia ditarik, terseret oleh tubuh kolosal Altan Yerqurt yang menggeliat perlahan. Lantai batu bergetar, retakan halus merambat seperti urat di bawah kulit bumi.Di udara, Saryq Shamyr melesat rendah. Sayap kristalnya mengiris ruang, meninggalkan jejak cahaya biru pucat yang berdesis seperti bilah pedang.Dari sisi berlawanan—Qum Ursun meraung balasan.Raungan itu lebih liar. Lebih muda. Lebih lapar.Dua cacing roh saling berhadapan, kepala mereka terangkat, aura bertabrakan sebelum tubuh menyentuh. Tekanan dari pertemuan itu saja sudah cukup membuat lantai aula amblas setengah jeng
Ruang Angin Sunyi tidak pernah benar-benar sunyi.Angin tipis beredar tanpa arah pasti di lorong-lorong batu putih, menyusuri ukiran formasi kuno yang tertanam jauh di dinding dan lantai. Ia tidak hanya bergerak—ia mengingat. Setiap hembusan membawa gema masa lalu... jeritan yang terpotong, sumpah yang diucapkan dengan darah, dan keputusan-keputusan yang tidak pernah bisa ditarik kembali.Di antara arus itu, Aylin Qara melangkah.Tidak ada suara langkah. Tidak ada gesekan kain. Tubuhnya bergerak seperti bayangan yang dipinjamkan wujud oleh cahaya lentera. Segel tujuh lapis masih melingkar di pergelangan tangannya, namun kini hanya simbol mati—kulit kosong yang tetap dipertahankan agar orang lain percaya ia masih terbelenggu.Ia telah mematahkan segel itu perlahan.Bukan dengan kekuatan. Bukan dengan ledakan Qi.Melainkan dengan kesabaran—menunggu saat segel bernafas, saat formasi lengah, saat angin lebih mendengarnya dibanding perintah Gobi-Pay.“Zhi Lan terlalu mudah,” gumamnya nyari
Pagi tidak pernah ramah di Gurun Gobi.Ia tidak datang dengan cahaya keemasan atau kehangatan perlahan. Fajar di sini memutus malam seperti bilah dingin—langit kelabu pucat terbelah perlahan, dan angin turun dari tebing-tebing batu putih dengan tajam, menyusup ke setiap lorong Gobi-Pay. Udara menggigit kulit, membawa debu halus dan bau pasir tua yang telah menyaksikan terlalu banyak darah.Lonceng kristal angin bergetar serempak.Bukan denting nyaring. Melainkan nada rendah—dalam dan berlapis—mengalun panjang melalui formasi kuno.Itu bukan tanda bahaya.Itu adalah tanda kepulangan.Di Aula Angin Dalam, Madam Yao Shen berdiri paling depan. Posturnya tegak, jubah hijau pucatnya bergerak mengikuti arus Qi yang berdenyut pelan di ruangan itu. Di belakangnya, para tetua wanita telah berbaris rapi—rambut memutih, mata tajam, wajah penuh kerutan yang diukir oleh angin dan keputusan keras selama puluhan tahun menjaga sekte.Tekanan Qi mereka bersatu, membentuk lapisan tak terlihat yang memb
Ruang Aula Angin Dalam diselimuti cahaya pucat dari lentera kristal angin yang menggantung rendah. Cahaya itu tidak hangat—melainkan bening dan dingin, memantul di dinding batu berukir formasi spiral. Udara terasa ringan saat dihirup, namun menekan dada, seolah setiap tarikan napas diukur, ditimbang, lalu diputuskan layak atau tidak.Qing Jian berdiri di tengah aula.Jubahnya masih berdebu pasir gurun, sisa pertempuran belum sepenuhnya pergi. Punggungnya lurus, pedangnya tersarung rapi, namun auranya belum sepenuhnya tenang—seperti bilah yang masih panas setelah ditempa.Di hadapannya, Madam Yao Shen duduk di kursi batu berbentuk lingkaran mantra. Rambut putihnya terikat rapi, kedua tangannya disilangkan di pangkuan. Tatapannya tajam, namun dalam—seperti angin tua yang telah melihat terlalu banyak kematian.“Permintaanku sederhana,” kata Qing Jian, memecah keheningan yang terasa terlalu berat. “Golok Pembasmi Iblis. Aku telah memenuhi syarat. Pemimpin Iblis Gurun kubawa hidup-hidup.”M







