ANMELDENMelihat para bandit menerjang ke arahnya, He Long juga melesat ke depan seperti kilatan cahaya.
Slash... Pedang Naga Api menebas leher 1 bandit dan kepala pria itu terlempar. "Aaargh..." Darah menyembur ke udara dan mayat bandit itu roboh. "Apa?" Bandit lain terkejut dan serangan mereka menjadi kacau. Whush... He Long menghilang dari pandangan mereka dan muncul di sisi kanan 2 bandit. Slash... Slash... 2 kepala kembali terbang dan darah membasahi jalan Desa. "Bunuh dia! Cepat bunuh dia!" Ketua bandit meraung marah dan menghunus golok besarnya. Whush... Whush... Belasan bandit melesat dari berbagai arah dan mengayunkan senjata mereka. Klang... Klang... Suara senjata beradu menggema dan He Long memutar Pedang Naga Api dengan santai. Setiap serangan berhasil dia patahkan tanpa kesulitan. Whush... Dia kembali melesat dan mengayunkan pedangnya. Slash... Tombak terpotong menjadi 2 dan tebasan itu tidak berhenti. Slash... Bandit yang memegang tombak itu ikut terbelah menjadi 2. "Aaargh..." Jeritan menyedihkan menggema dan darah mengalir deras. "Bajingan! Mati kamu!" 1 bandit melompat dari belakang dan mengayunkan kapaknya. He Long memiringkan kepala dan kapak itu hanya melewati rambutnya. Whush... Dia memutar badan dan mengayunkan pedangnya. Slash... "Aaargh..." Lengan bandit itu putus dan bandit itu menjerit kesakitan. Slash... He Long kembali mengayunkan pedangnya dan kepala bandit itu terpisah dari lehernya. Melihat kejadian itu, para penduduk Desa hanya bisa menatap dengan napas tertahan. Mereka tidak mengenal pemuda itu. Namun setiap ayunan pedangnya membawa kematian bagi para bandit. Whush... He Long melompat ke tengah kerumunan bandit. Slash... Slash... 3 kepala kembali terbang dan darah terus berhamburan. Kurang dari 10 tarikan napas kemudian, lebih dari 20 bandit sudah berubah menjadi mayat. "Wakil Ketua! Cepat bantu aku!" Ketua bandit berteriak marah. "Baik!" Pria berjanggut dengan kultivasi ahli Bumi bintang 5 tahap akhir melesat dan menusukkan pedangnya. Whush... Pedang itu mengarah ke dada He Long dengan kecepatan tinggi. Klang... He Long menahan serangan itu dan Pedang bandit itu retak. "Apa?" Wakil Ketua bandit terkejut. Slash... Namun pedang He Long melintas dan kepala Wakil Ketua bandit terbang tanpa sempat bereaksi. Mayatnya pun roboh dan darah mengalir di jalan. Ketua bandit menggertakkan gigi. "Siapa kamu sebenarnya?" teriaknya marah. "Aku hanya orang yang tidak suka melihat rakyat dibantai." He Long menatap dingin ke arah Ketua bandit. "Bajingan! Mati!" Whush... Ketua bandit mengerahkan semua Energi Qi miliknya dan mengayunkan golok besar. Golok itu membawa angin kencang dan mengarah ke kepala He Long. Namun He Long tidak menghindar dan mengayunkan pedangnya juga. Klaang... Pedang Naga Api beradu dengan golok dan Golok itu retak hanya dalam 1 benturan. "Apa?" Ketua bandit terkejut. Whush... Namun He Long sudah melesat ke depan. Slash... Satu tebasan dilepaskan dan lengan Ketua bandit putus. "Aaargh..." Pria itu menjerit kesakitan dan berbalik ingin melarikan diri. "Kamu ingin lari?" He Long tersenyum menggeleng dan muncul di depan Ketua bandit. "Tolong ampuni aku!" Ketua bandit berlutut dengan wajah dipenuhi ketakutan. "Aku punya harta! Aku punya koin emas! Aku akan memberikan semuanya padamu!" ucapnya ketakutan. He Long menatap pria itu tanpa belas kasihan. "Kamu membantai rakyat yang tidak berdosa dan membakar rumah mereka. Kamu tidak pantas hidup." jawab He Long dingin dan mengayunkan pedangnya. Slash... Pedang Naga Api melintas dan kepala Ketua bandit terbang ke udara. Bandit yang masih hidup pun menjadi ketakutan. "Lari! Lari!" Whush... Whush... Mereka berpencar ke segala arah dan melarikan diri dengan kecepatan tinggi. He Long menggeleng pelan. "Kalau aku membiarkan kalian hidup, Kalian hanya akan membantai Desa lain." Whush... Dia melesat seperti angin dan menebas mereka satu persatu. Kurang dari 10 menit kemudian, puluhan bandit berubah menjadi mayat. Tidak ada satu pun yang berhasil melarikan diri. He Long kemudian mengibaskan darah dari Pedang Naga Api dan menyimpannya. "Semua bandit mati." "Kita selamat." Para penduduk Desa menatap He Long dengan rasa syukur. Tidak sedikit yang menangis melihat keluarga mereka masih hidup. Namun ada juga yang menangis di samping jasad anggota keluarga mereka. He Long menghela napas saat melihat rumah-rumah kayu terbakar. Whush... Dia mengambil ember dan membantu memadamkan api bersama para penduduk. Dia juga membantu memindahkan kayu yang masih bisa digunakan. Walau dia adalah Pangeran Kerajaan He, dia tidak menganggap pekerjaan itu memalukan. Di matanya, mereka semua adalah rakyat Kerajaan He. Dan sebagai seorang Pangeran, dia memiliki kewajiban untuk melindungi mereka. "Huff..." Seorang pria tua menghela napas panjang dan menghampiri He Long. "Anak muda, Terima kasih sudah menyelamatkan Desa kami." pria tua itu menangkupkan kedua tangan dengan hormat. He Long membalas penghormatan itu. "Kakek tidak perlu seperti ini. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan." Pria tua itu mengangguk pelan. "Namaku Luo Shan. Aku Kepala Desa ini." "Kepala Desa, Apakah masih ada warga yang terluka?" He Long menatap pria tua itu. "Ada." Kepala Desa mengangguk. "Tolong kumpulkan mereka." ucap He Long. "Baik." Kepala Desa mengangguk dan memanggil para warga. Tidak lama kemudian, puluhan warga yang terluka itu sudah berkumpul. He Long kemudian mengeluarkan Pil Penyembuh dan membagikannya pada mereka "Terima kasih, Anak Muda." Kepala Desa menangkupkan tangan dan membagikan Pil pada para warga. Tidak lama kemudian, luka mereka membaik dengan kecepatan yang mengejutkan. "Pil yang luar biasa." "Siapa sebenarnya pemuda ini?" "Tidak mungkin dia orang biasa." Bisik-bisik tetangga para warga terdengar pelan. Namun He Long tidak menghiraukan mereka. Whush... Dia mengeluarkan cincin penyimpanan dan memberikannya pada Kepala Desa. "Bagikan pada warga untuk membangun kembali rumah mereka." ucapnya meletakkan cincin itu di tangan Kepala Desa. "Ini...?" Kepala Desa sangat terkejut. Namun dia juga penasaran dengan isi cincin penyimpanan dan memeriksanya. "Apa? 10 ribu koin emas?" Kepala Desa terkejut dan hampir terjatuh. Para warga yang mendengarnya juga menahan nafas mereka. Jumlah itu terlalu besar bagi Desa kecil seperti mereka.7 hari kemudian.Mentari baru saja muncul dari balik pegunungan dan lonceng Sekte Gunung Langit berbunyi 9 kali.Dong... Dong... Dong...Suara lonceng bergema ke berbagai puncak gunung dan para Murid menghentikan kultivasi mereka.Hari ini adalah hari Kompetisi Murid Pemburu.Di Halaman Utama Murid Pemburu.Arena batu berukuran raksasa sudah dipenuhi para Murid Pemburu dan para Tetua.Di kursi paling depan, Tetua Lin dan Tetua Gu duduk dengan wajah tenang.Tidak jauh dari mereka, Ketua Sekte juga hadir bersama para Tetua lainnya.Para Murid Dalam dan Murid Elite hanya bisa melihat dari luar arena.Mereka tidak memiliki hak untuk memasuki wilayah Murid Pemburu.Whush...He Long melesat dari puncak gunung miliknya dan mendarat di pinggir arena.Hari ini dia masih menggunakan nama Han Li.Pakaiannya berwarna putih dengan corak emas dan pedang tergantung di pinggangnya.Saat dia muncul, hanya sedikit Murid yang mengenalinya."Itu Han Li.""Murid baru yang dijadikan Murid Pemburu.""Aku de
Lelang kembali berlanjut. Setelah beberapa item dilelang, wanita pelelang membawa sebuah kotak kecil. "Item terakhir dalam sesi ketiga." "Jamur Kaisar Langit." Begitu nama itu terdengar, para Murid Pemburu berubah serius. Wanita pelelang membuka kotak tersebut. Sebuah jamur putih dengan pola emas terlihat di dalamnya. "Jamur ini berasal dari wilayah rahasia kuno." "Jika dikonsumsi oleh ahli Langit, benda ini bisa membantu meningkatkan kultivasi 1 tahap." "Untuk Murid Pemburu yang sedang mencari terobosan, item ini memiliki nilai luar biasa." jelas si wanita. Penjelasan itu membuat banyak peserta tertarik. Harga awal diumumkan. "10 juta koin emas." "20 juta koin emas." "30 juta koin emas."
"500 ribu koin emas, apakah ada yang ingin memberikan penawaran lebih tinggi?" tanya wanita pelelang. Namun tidak ada suara lain. "Terjual kepada Tuan Muda di bagian belakang dengan harga 500 ribu koin emas." ucap wanita pelelang sambil mengetuk palu kayu. He Long menerima Bunga Naga Api beberapa saat kemudian. Dia menyimpan bunga itu ke dalam cincin penyimpanan. Para peserta kembali melihatnya dengan rasa penasaran. Namun tidak ada yang mengetahui identitas aslinya. Lelang terus berlanjut. He Long beberapa kali memberikan penawaran untuk beberapa bahan kultivasi langka. Setiap kali dia membeli sesuatu, para Murid lain semakin penasaran. "Siapa pemuda itu?" "Aku belum pernah melihatnya di Sekte." "Dia berani menghabiskan ratusan ribu k
"Senior." He Long melihat seorang Murid Elite dan memanggilnya. "Ada yang bisa ku bantu?" tanya Murid itu menoleh. He Long menganggukkan kepala. "Kenapa begitu banyak Tuan Muda dan Nona Muda naik ke lantai 3?" tanyanya. Murid Elite itu tersenyum. "Adik junior baru datang ke Sekte?" "Benar Senior." He Long menganggukkan kepala. "Hari ini ada Pelelangan Tahunan Paviliun Harta Karun." jelasnya. "Pelelangan?" kening He Long kembali terangkat. "Setiap tahun Paviliun Harta Karun melelang berbagai harta langka." "Kadang ada Pil tingkat tinggi, senjata kuno dan teknik kultivasi langka." "Semua barang itu berasal dari Reruntuhan kuno dan wilayah rahasia." Murid Elite itu menganggukkan kepala. He Long sedikit tertarik dengan pelelangan ini. Kalau benar ada berbagai harta langka, mungkin dia menemukan sesuatu yang be
Tidak lama kemudian dia tiba di lantai 2. Ruangan itu jauh lebih tenang dibandingkan lantai 1. Jumlah kios juga lebih sedikit. Namun aura berbagai harta jauh lebih kuat. Di setiap kios terlihat berbagai herbal berusia ratusan bahkan ribuan tahun. He Long pun menganggukkan kepala dengan puas. "Seperti yang diduga. Tempat ini memang berbeda." gumamnya pelan. Dia kemudian mengelilingi setiap kios dan melihat berbagai barang langka. Ada Buah Api Seribu Tahun, Teratai Es Ungu dan ada juga Batu Bintang Hitam yang biasa digunakan untuk menempa senjata. Namun semua itu bukan tujuan utamanya. Dia terus mencari hingga langkahnya berhenti di depan sebuah kios kecil. Di atas meja kayu itu terlihat 2 tanaman yang sangat dikenalnya. Jamur berwarna u
Beberapa saat kemudian, He Long dan semua Murid Pemburu tiba di sana. Tanpa membuang waktu, He Long lebih dulu naik ke arena pertarungan. "Siapa yang lebih dulu?" tanyanya menyapu pandangannya. "Cukup sombong juga bocah ini." para Murid Senior tertegun melihat mental He Long. Mereka tidak menyangka Murid baru yang berusia 18 tahun itu begitu berani. "Baik. Aku yang naik lebih dulu." teriak seorang Murid laki-laki dan melompat ke arena pertarungan. "Ada apa ini?" namun tiba-tiba sebuah suara datang dari langit. Semua Murid pun langsung mendongak dan membungkuk hormat. "Salam Tetua." ucap para Murid dengan hormat. "Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Tetua Gu dengan suara berat. Pemuda yang bernama Zhao Feng pun menangkupkan tangan. "Tetua Gu, kami hanya







