Share

08. Waktu Yang Salah

Penulis: Bebby
last update Terakhir Diperbarui: 2025-04-14 04:45:11

Deras hujan menari-nari di atas atap Menara Lonceng, memercik di atas bebatuan yang dingin dan licin. Udara malam yang basah dan dingin terasa menyesakkan, seperti ikut menindih dada Shin Tian yang sudah penuh luka.

Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena udara dingin yang menusuk kulit, tapi juga karena kemarahan yang membuncah dalam dadanya. Ia berdiri dengan susah payah, darah menetes dari sudut bibirnya, mencampur air hujan di pipi.

"Beraninya... kalian memukulku!" desisnya, mencoba menegakkan tubuh dan suaranya yang bergetar. Mata hitamnya menatap tajam meski mulai memerah. "Kalau Ayah tahu... ia akan menghukum kalian... dengan seberat-beratnya!"

Ia merasa terhina dengan perlakuan mereka. Ia adalah pewaris pimpinan Keluarga Shin tapi ia tidak dihargai sama sekali oleh sekelompok pemuda yang masuk kasta rendah dalam Keluarga Shin.

Suara tawa mengejek membelah udara, kasar dan penuh hinaan. Seorang pemuda berambut acak-acakan melangkah maju, sorot matanya dingin bagai binatang buas yang mencium aroma darah.

"Ayahmu?" katanya sambil menyeringai. "Hah! Masih juga kau berlindung di balik bayangannya? Kau pikir dia masih peduli? Dia bahkan tak pernah menengokmu lagi sejak kegagalanmu di ujian klan!"

Shin Tian mengepalkan tangannya, buku-bukunya memutih. Kata-kata itu menancap lebih tajam dari pedang. Tapi ia tidak akan tunduk. Tidak sekarang. Tidak di hadapan mereka.

"Kurang ajar... kalian sudah kelewat batas!" raungnya, lalu melompat dengan sisa tenaga, melayangkan tinju ke wajah pemuda yang menghina ayahnya.

Namun...

Tinju itu hanya mengenai angin dann tidak bertenaga.

Tanpa aliran Qi yang dulu mengalir deras dalam tubuhnya, serangannya tak ubahnya seperti bayangan yang lewat.

PLAAAK!

Tamparan keras meledak di wajahnya, dan dunia seolah berputar. Tubuhnya terlempar seperti boneka kain, membentur pilar batu Menara Lonceng. Rasa nyeri menjalar tajam dari pipi ke leher, dan cairan hangat mengalir dari bibir yang pecah.

"Hhh—hahh..." napasnya tersengal, dadanya turun naik.

Langkah berat mendekat, bergema di antara denting hujan dan dentuman petir di kejauhan. Sosok bertubuh kekar—pemimpin dari kelompok itu—berdiri di hadapannya, tatapannya seperti palu yang siap menghancurkan harapan.

"Aku akan menghancurkan mesin iblismu itu," ucapnya dingin. "Dan aku sendiri yang akan melaporkan semua ini ke ayahmu. Kita lihat siapa yang benar-benar akan dihukum."

Shin Tian langsung membelalak, panik merayap naik ke tenggorokannya. Ia menggeleng cepat, kakinya lemas.

"Ja-jangan!" teriaknya. "Tunggu! Jangan sentuh itu!"

Namun tangan pemuda itu sudah terjulur menuju Mesin Waktu—alat yang Shin Tian bangun dengan cucuran keringat, darah, dan tekad selama bertahun-tahun.

Lalu...

BRATAKKK!!!

Petir menyambar! Tombak logam yang tertancap di atas menara menggelepar diterjang kilat. Kilasan cahaya putih membelah langit dan menyambar ujung Mesin Waktu, menyalurkan energi gila yang langsung meledak dalam semburan cahaya.

"AAAARGHH!"

Semua orang di sekitar terhempas oleh gelombang energi yang liar dan tidak terkendali. Tanah bergetar. Udara seperti terkoyak.

Dari pusat mesin, sebuah lingkaran cahaya biru muncul—berputar pelan, lalu semakin cepat, membentuk pusaran seperti mata badai. Cahaya dari pusaran itu menyilaukan, dan udara di sekitarnya berdesing tajam.

Shin Tian menatapnya, tubuhnya gemetar, bukan oleh ketakutan, tapi oleh campuran adrenalin dan harapan yang menyala kembali.

"Akhirnya..." bisiknya. "...kesempatanku. Satu-satunya jalan keluar dari Keluarga Shin... Aku harus mencari jawaban!"

Tanpa ragu, ia berlari. Langkahnya tidak sempurna—terbata, tapi mantap. Ia lompat ke dalam pusaran energi, membiarkan tubuhnya diseret oleh kekuatan besar yang tak bisa ditahan.

Namun...

Saat cahaya mengelilingi tubuhnya, sensasi aneh menjalar ke seluruh syarafnya. Ruang seolah terbalik, waktu terasa mengalir mundur dan maju sekaligus. Detak jantungnya tak beraturan. Dunia di sekelilingnya membias dan bergetar.

Lalu, semuanya sunyi.

Ketika ia membuka mata, bukan masa depan yang ia kenali yang menyambutnya.

Tanah di bawah kakinya kasar dan berdebu, langitnya merah saga, dan udara membawa aroma asing yang tajam. Ia berdiri di tempat yang belum pernah dilihatnya.

Shin Tian terdiam, matanya membulat.

"Aku... di mana ini?"

Ia telah terbawa ke waktu yang salah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Legenda Sang Genius Immortal   61. Formasi Pelindung Leluhur Keluarga Shin

    Langit di atas alun-alun berputar liar, awan-awan kelabu tersedot ke satu titik, membentuk pusaran hitam yang menganga seperti mata raksasa. Udara mengerang. Tekanan qi melonjak tak terkendali, menusuk paru-paru, menghancurkan keseimbangan.Beberapa kultivator muda langsung terhempas berlutut. Darah menyembur dari mulut mereka, bercampur dengan debu dan hujan energi yang tak kasatmata.Shin Tian melompat mundur, menghentakkan kaki ke tanah untuk menancapkan dirinya.Braak!Permukaan batu retak di bawah telapak sepatunya.“Gerbang semu…” gumamnya lirih, mata menajam menatap pusaran itu. “Mereka benar-benar gila.”Di tengah kekacauan, Qian Mu berdiri—namun yang tersisa dari dirinya hanyalah bentuk. Sesuatu yang lain menggerakkan tubuh itu kini.Dagingnya menggelembung, tulang-tulang bergeser. Kulitnya pecah, memperlihatkan lapisan hitam berkilau seperti baja iblis. Dari punggungnya, kabut pekat memadat, membentuk sepasang sayap yang berdenyut seirama dengan pusaran di langit.Suara yang

  • Legenda Sang Genius Immortal   60. Bahaya Susulan

    Langit di atas Kota Xian Jin belum sepenuhnya cerah ketika tanda bahaya berikutnya muncul.BUUUM...!!!Getaran berat merambat dari kejauhan, bukan dari gerbang, bukan dari dalam kota—melainkan dari tanah di bawah kaki mereka. Batu-batu kecil melompat, air di selokan beriak liar, dan burung-burung yang tadi kembali bertengger mendadak beterbangan panik.Shin Tian mengerutkan kening.“Tidak mungkin hanya satu Jenderal Roh Iblis,” gumamnya. “Itu terlalu… biasa.”Belum selesai kalimatnya...KRAAAKKK!Tanah di tengah kota... alun-alun utama terbelah dua.Teriakan histeris terdengar dari warga kota.Warga berhamburan. Pedagang menjatuhkan barang dagangan, anak-anak tersandung, orang-orang saling bertabrakan dalam kepanikan. Dari celah tanah itu, kabut hitam merembes keluar, lebih kental, lebih licik, seperti asap yang berpikir.“Formasi Pertahanan!” teriak Shin Wang. “Lindungi rakyat!”Para tetua Klan Shin bergerak cepat, membentuk lingkaran qi di sekeliling alun-alun. Namun kabut itu menye

  • Legenda Sang Genius Immortal   59. Jenderal Roh Iblis

    Aura gelap itu datang seperti napas kematian.Tidak meledak, tidak meraung—melainkan menekan. Langit di atas Kota Xian Jin meredup, seolah matahari ditelan kabut hitam. Sorak kemenangan rakyat perlahan meredam, digantikan keheningan yang membuat bulu kuduk berdiri.Shin Tian mengangkat kepala.Udara… menjadi pekat dan berat.“Semua mundur!” teriaknya keras. “Sekarang!”Belum semua orang memahami perintah itu—BOOOM!Tanah di luar gerbang timur terbelah.Retakan raksasa menjalar seperti urat hitam, dan dari celah itu, sesuatu bangkit perlahan.Bukan hewan.Bukan sepenuhnya roh.Ia berdiri setinggi menara pengawas, tubuhnya diselimuti kabut pekat, tulangnya hitam legam dengan simbol merah menyala terukir di setiap sendi. Kepalanya menyerupai tengkorak banteng, dengan tanduk bengkok yang berdenyut seperti nadi hidup.Jenderal Roh Iblis.Makhluk yang seharusnya tertidur di lapisan terdalam Lembah Iblis.“Tidak mungkin…” bisik Shin Wang, wajahnya pucat. “Makhluk itu… setara Pembentukan Int

  • Legenda Sang Genius Immortal   58. Serangan Hewan Roh Lembah Iblis

    Gerbang timur Kota Xian Jin runtuh dengan suara menggelegar.Bukan runtuh perlahan—melainkan dihantam dari luar oleh sesuatu yang berat dan hidup. Balok kayu tebal terlepas, batu bata beterbangan, dan jeritan panik rakyat bercampur dengan auman yang membuat qi para kultivator muda bergetar ketakutan.“AUUUUU—!”Seekor Serigala Tulang menerobos masuk pertama kali. Tubuhnya setinggi kuda, bulunya rontok memperlihatkan rangka putih berkilau, mata hijau fosfor menyala seperti lentera neraka. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar.Di belakangnya, Kera Api melompat dari atap ke atap, tubuhnya diselimuti nyala merah, ekornya menyapu udara hingga menyisakan bau gosong. Angin berputar liar ketika Ular Angin melingkar di langit, sisiknya transparan seperti kaca, menyayat udara dengan desisan tajam.Kota Xian Jin—yang pagi tadi masih dipenuhi aroma bubur hangat dan teriakan pedagang—kini berubah menjadi ladang teror.“Lariii—!”“Anak-anak—selamatkan anak-anak!”“Penjaga kota! Di mana penjaga

  • Legenda Sang Genius Immortal   57. Kebangkitan Sang Genius

    Shin Tian mengikuti langkah pamannya melewati koridor kayu yang sunyi. Derit papan lantai terdengar pelan di bawah telapak kakinya, seolah rumah tua itu sendiri menahan napas. Di ujung lorong, pintu ruang utama terbuka setengah—dan di sanalah ia melihat sosok yang sejak tadi berputar-putar di kepalanya.Seorang pria berdiri membelakangi mereka.Punggungnya tegap, namun garis bahunya kaku. Rambut hitam yang dulu selalu terikat rapi kini diselipi beberapa helai perak. Tangan pria itu bertumpu di atas meja kayu tua, seakan sedang menahan beban yang tak terlihat.Shin Tian berhenti.Dadanya terasa sesak.“Ayah…” suaranya nyaris tak terdengar.Tubuh pria itu bergetar halus. Perlahan, sangat perlahan, ia berbalik.Tatapan tajam yang selama ini hanya dikenal Shin Tian sebagai tatapan dingin penuh tuntutan kini bertabrakan langsung dengan matanya. Untuk sesaat, tak ada kata. Hanya keheningan yang menegang.Shin Long.Kepala Keluarga Shin.Pria yang selama ini Shin Tian yakini membencinya.Waja

  • Legenda Sang Genius Immortal   56. Pulang

    Udara dingin musim semi menyusup ke pori-pori Shin Tian ketika kesadarannya kembali perlahan. Helaan napas pertamanya terasa seperti menarik dunia baru—meski ia tahu, ini dunia lamanya. Aroma tanah basah bercampur serpihan wangi bambu dan sisa hujan menari memasuki hidungnya. Embun tipis menempel di rambut dan alisnya, seakan alam sendiri sedang memeriksa apakah ia benar-benar kembali, atau hanya bayang-bayang yang tersesat di antara lipatan waktu.Ia berbaring di atas lantai batu yang dinginnya membekukan tulang. Saat pandangannya mengarah ke atas, bentuk raksasa menjulang menutup langit... menara tua yang tubuhnya diselimuti lumut, dan di puncaknya tergantung sebuah lonceng perunggu raksasa, diam tetapi sekaligus mengancam.Sebelum kesadarannya benar-benar kembali, terdengar...DONG! DONG! DONG!Suara lonceng itu menggema di seluruh dadanya seperti palu yang memaku jiwanya kembali ke dunia nyata. Detak waktu meneguhkan keberadaannya.Mata Shin Tian terbelalak. Bibirnya bergetar.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status