Home / Fantasi / Legenda Sang Immortal / Bab. 5. Apakah Anda Ingin Bermain Kecapi?

Share

Bab. 5. Apakah Anda Ingin Bermain Kecapi?

Author: Master KidOO
last update Last Updated: 2023-08-22 20:30:37

Melihat sosok Fang Han yang terhempas seperti layangan putus. Lin Feiyang menyeringai penuh penyesalan. “Sial, aku terlalu menikmati pertarungan. Pukulan tadi benar-benar terlalu keras.”

Lin Feiyang tentu tidak tahu banyak hal yang telah berubah dalam tubuh Fang Han. Hal itu pula yang membuat dia meremehkan Fang Han.

Namun, Lin Feiyang tidak larut dalam penyesalan. Dia bergerak cepat mengejar sosok tubuh Fang Han yang terhempas. Meskipun itu seonggok mayat, kesadaran spiritual masih bisa dilacak.

Ya, pada kenyataannya Fang Han belum mati sama sekali. Itu adalah fakta bahwa Fang Han terhempas jauh. Namun, tubuh si Pemuda sangat lah kuat meskipun arus True Qi di dalam tubuhnya mengaduk dan bergejolak tidak jelas arah.

Fang Han berada di antara sadar dan tidak sadar. Ketika siluet Lin Feiyang sekali lagi hampir benar-benar menangkap dirinya, Fang Han tidak peduli lagi pada hidupnya sendiri. Lagi pula tepat di belakang tubuh Fang Han ada jurang dalam.

Fang Han memfokuskan seluruh tenaga dalam yang tersisa untuk melepaskan pukulan terakhir. “Bangsat, Anda tidak akan pernah mendapatkan apa yang Anda inginkan.”

Swoossh!! ....

Angin pukulan ganas berhasil dilepaskan. Itu berwarna hitam pekat. Ada jejak panas yang membakar tanah ketika dilewati oleh angin pukulan itu.

Lin Feiyang terkekeh. “Bagus sekali, Adik Kecil. Anda belum mati.”

Lin Feiyang menyambut pukulan Fang Han. Namun, kali ini dia menahan diri, dan tidak melepaskan serangan dengan keras.

Meskipun begitu, pada saat kedua pukulan beradu. Ledakan keras tetap terjadi. Riak udara yang tertekan oleh kedua hawa pukulan menyebar ke segala arah.

Bumi bergetar keras. Fang Han tetap terlempar lebih keras dari sebelumnya. Itu sedikit mengejutkan Lin Feiyang. “Bukankah aku sudah menahan True Qi yang aku lepaskan?!”

Ya, tentu saja dia tidak paham. Bahwa Fang Han memanfaatkan ledakan dari adu pukulan terakhir untuk melemparkan diri ke dalam jurang jauh.

Fang Han sudah benar-benar akan menutup mata, dia sangat kelelahan dan hanya tinggal menunggu waktu untuk pingsan sambil terjatuh ke dalam jurang.

Semburat senyum kemenangan muncul di wajah Fang Han. Tapi, itu dengan cepat kembali menghilang. ‘Ini sudah berakhir, bahkan keparat itu tidak melepaskan mayatku.’

Fang Han benar-benar enggan untuk mati dalam keadaan ini.

Pada saat itu, Lin Feiyang yang tidak berhasil mengejar Fang Han tiba-tiba memanggil pedang dari cincin penyimpangan dan menaikinya. Itu sejenis artefak pedang terbang.

Fang Han tidak pernah memperkirakan hal itu. Di alam bawah, tidak ada pembudidaya yang menggunakan pedang untuk terbang. Lagipula, memang tidak ada pembudidaya yang bisa terbang. Semua praktisi hanya menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk bergerak dengan cepat.

Seringai penuh kemenangan terlihat di wajah Lin Feiyang. Dia mengontrol pedang terbang ke arah tubuh Fang Han yang jatuh dengan deras.

Pada saat pedang terbang semakin dekat dan Lin Feiyang akan segera menggapai tubuh Fang Han, rasa senang Lin Feiyang dengan cepat menghilang. Gerak terbang dari pedangnya terhenti begitu saja. Itu seolah-olah ada tenaga besar yang membentuk dinding, menahannya bergerak lebih jauh.

Hong!! ....

Suara tekanan udara yang meningkat terdengar. Itu seperti seseorang sedang memetik senar. Menciptakan gelombang tenaga dalam yang samar hanya dengan bunyi.

Lin Feiyang menjadi gelisah. Di atas pedang terbang dia benar-benar berhenti dan menangkupkan tangan di depan dada. “Cianpwe, junior tidak akan berani melangkah lebih jauh. Mohon kemurahan hati, Cianpwe.”

Tidak ada jawaban sama sekali. Tubuh Fang Han terus jatuh ke bawah. Tekanan gelombang tenaga dalam itu hanya menahan Lin Feiyang.

Setelah beberapa tarikan nafas. Sekali suara senar dipetik, dan gelombang tenaga menerpa ke atas mendorong Lin Feiyang dengan keras.

Penjahat kecil itu sadar akan kekuatan diri sendiri. Meskipun itu menyakitkan, hanya menerima serangan itu telah membuat wajah Lin Feiyang memucat pias.

Lin Feiyang tidak berani tinggal di sana lebih lama lagi. Memperoleh pengampunan dari orang lebih kuat itu benar-benar membuat dia lupa keganasannya sendiri beberapa waktu yang lalu.

***

Angin malam berhembus lembut, ada sedikit rasa dingin yang merasuk tulang bagi manusia biasa yang tidak berkultivasi.

Namun, suasana di tempat itu tidaklah sedingin angin malam. Alunan merdu kecapi terdengar mengalir seperti air yang tenang. Membawa ketenangan di dalam jiwa. Itu telah menghangatkan malam yang dingin.

Lagu kesembuhan—Musik Sembilan Lautan Penenang Jiwa—terus mengalun merdu seiring dengan jari-jari lincah yang bermain di atas senar.

“Uhhh!” Sosok yang terbaring di atas ranjang batu melenguh.

Musik Sembilan Lautan Penenang Jiwa berhenti dimainkan. Lalu, suara laki-laki paruh baya yang bernada lembut terdengar. “Anda sudah bangun, Anak Muda.”

Sosok di atas ranjang batu tidak menjawab. Dia memegang kepala yang berdenyut dengan rasa sakit yang melanda membuat ia seperti akan gila.

Sosok itu melihat ke sekeliling, ini adalah gazebo yang terlihat seperti berada di atas awan. Ada kabut tebal yang menyelimuti sekelilingnya. Suara ciptratan air jernih juga terdengar samar di telinga.

Laki-laki paruh baya yang bermain kecapi berada di ujung gazebo. Dia duduk bersila dengan santai. Kecapi indah dengan hiasan Naga dan Phoenix terlentang depannya. Ada dupa harum yang terbakar di atas meja.

Setelah beberapa saat, sosok di atas ranjang batu berkata, “Di mana ini? Apakah aku masih hidup?!”

Laki-laki paruh baya terlihat tenang. Akan tetapi, dia seperti sedang memikirkan banyak hal. Pada akhirnya, dia menghela nafas panjang dan berkata dengan lembut, “Apakah itu penting tentang tempat ini? Jika Anda merasakan sakit, bukankah Anda masih hidup?”

Sosok yang duduk di ranjang batu terpekur. Secara perlahan dia menjadi tenang. Memaksakan diri untuk menangkupkan tangan di depan dada. “Fang Han menyapa, senior. Mohon tanya, senior siapakah? Dan berapa lama junior sudah pingsan di sini?”

Laki-laki paruh baya bangkit dari duduk dan tersenyum lembut. Dia tidak berjalan ke arah Fang Han, namun berbalik dan menatap langit yang tertutup kabut tebal. Jari-jari tangannya bergerak lincah seperti orang yang sedang menghitung Feng Shui.

“Ini sudah tiga hari perputaran matahari sejak Anda terjatuh.” Seolah-olah kembali berpikir terhadap apa yang akan dia lakukan pada Fang Han untuk selanjutnya, tiba-tiba laki-laki paruh baya itu bertanya, “Apakah Anda tertarik untuk belajar bermain kecapi?”

Fang Han melenggak heran. Tidak tahu tujuan dari pertanyaan aneh laki-laki paruh baya itu. Dia berpikir sejenak, mungkin saja ada maksud tertentu dari pertanyaan itu.

“Senior, Anda siapakah? Apakah itu akan bermanfaat bagi junior untuk belajar bermain kecapi?” Fang Han coba menghargai tawaran laki-laki paruh baya itu.

Laki-laki paruh berbalik dan menghadap ke arah Fang Han. Raut wajahnya tidak terlihat lagi, itu seolah-olah ada kabut tipis yang menyelimutinya.

Sosoknya menghilang dari tempat semula dan telah berada di depan Fang Han. Tangannya bergerak lincah dan menotok dua belas titik jalur meridian utama milik Fang Han.

“Sekarang, apa yang Anda rasakan di dalam tubuh Anda, Anak Muda?!”

“....”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 117. Masalah Bersama

    Di area inti … angin panas berhembus pelan, namun cukup untuk membuat ujung jubah para kultivator berkibar tak beraturan. Udara terasa berat, seolah-olah setiap tarikan napas mengandung bara halus yang menggores paru-paru. Di hadapan mereka, tiga lapisan penghalang berdiri seperti tiga ujian yang memisahkan dunia luar dari misteri yang tersembunyi di dalam area inti.Dan kini, masalah yang dihadapi oleh semua orang di tempat itu, juga menjadi masalah yang harus dihadapi Fang Han—bagaimana cara memecah tiga lapisan penghalang tersebut dan masuk ke dalam area inti?Tidak ada jalan memutar. Tidak ada celah yang terlihat.Hanya ada penghalang yang harus dihancurkan. Lapisan pertama saja sudah sangat sulit untuk dipecahkan. Itu tidak hanya membutuhkan kerja sama, juga menguras Qi Sejati.Fang Han memandang dengan tenang, tetapi tatapannya tajam.Ia tidak hanya melihat api. Tapi merasakan struktur di baliknya.Energi roh yang menyelimuti kobaran itu bergerak dalam pola teratur—bukan kacau

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 116. Area Inti Tanah Salju Kuno

    Setelah menembus ke Ranah Yayasan Inti, Fang Han tidak langsung menghentikan kultivasinya melainkan masih terus duduk di tempat semula dan menstabilkan ranah kultivasi. Aura di sekeliling tubuhnya masih bergetar halus, Qi sejati di dalam dantiannya berputar dalam siklus yang lebih dalam dan lebih padat dibandingkan sebelumnya. Jika Fang Han menghentikan proses itu secara mendadak, fondasi yang baru saja terbentuk bisa menjadi tidak stabil.Fang Han menarik napas perlahan. Setiap helaannya terasa berbeda.Qi Sejati yang ia serap kini seperti memiliki saluran yang lebih luas, aliran meridian terasa lebih lancar dan kuat. Namun justru karena lonjakan itulah, ia tidak berani ceroboh.“Stabilkan dulu … jangan terburu-buru.” Fang Han berkata-kata di dalam.Ia terus memutar Qi, menghaluskan sisa-sisa gejolak energi yang masih bergema akibat penembusan ranah. Inti Yayasan di dalam dantiannya berdenyut lembut, memancarkan cahaya redup namun mantap.Proses itu tanpa disadari Fang Han telah m

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 115. Ranah Yayasan Inti

    Karena telah bersama Su Li Xiu kembali, Fang Han tidak langsung mengajak gadis itu ke area yang paling berbahaya, melainkan terlebih dahulu mempersiapkan segalanya dengan cermat. Fang Han memahami bahwa perjalanan mereka ke depan tidak akan mudah. Bahaya bisa muncul kapan saja, dan jika fondasinya sendiri belum benar-benar kokoh, maka bukan hanya dirinya yang akan terancam, tetapi juga Su Li Xiu.Fang Han menoleh sekilas ke arah gadis itu. Su Li Xiu berdiri tidak jauh darinya, pakaian birunya berkibar pelan tertiup angin lembah, wajahnya tampak tenang namun sorot matanya menyimpan kepercayaan penuh padanya. Justru karena kepercayaan itulah Fang Han semakin tidak ingin bertindak gegabah.“Li Xiu’er, Aku tidak akan masuk terlalu dalam dulu,” ujar Fang Han pelan.Su Li Xiu mengangkat alisnya sedikit. “Fang Han Gege, memiliki rencana lain?” tanyanya ringan, nada suaranya terdengar menggoda.Fang Han tersenyum tipis. “Iya, aku tidak ingin ceroboh.”Dia kemudian menambahkan dengan nada s

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 114. Tidak Akan Kenal Jika Tidak Bertarung

    Namun, mesti Fang Han telah mengerahkan segenap kemampuan istimewanya itu. Guo Tiandu tetap unggul banyak. Niat pedang yang dikuasai Guo Tiandu walaupun belum mencapai ranah penyatuan manusia dan pedang. Namun, itu hanya satu level di bawah Fang Han. Guo Tiandu diuntungkan oleh kultivasinya yang tinggi. Lagipula, ia juga seorang praktisi yang sanggup bertarung melawan lintas ranah.Di medan es yang telah porak-poranda itu, perbedaan satu level tersebut meski terasa seperti jurang yang dalam. Namun, Guo Tiandu memiliki fondasi kultivasi yang lebih tinggi.Setiap kali pedang mereka beradu, Fang Han dapat merasakan tekanan berat yang bukan hanya berasal dari kekuatan fisik, melainkan dari kedalaman pemahaman. Niat pedang Guo Tiandu stabil, padat, dan bersih. Tidak liar, tidak berlebihan. Justru karena kestabilan itulah, ia menjadi menakutkan.Fang Han mengayunkan pedangnya dengan cepat. Aura hitam bergetar mengikuti gerakan bilah, memecah udara dan memadatkan tekanan di sekitarnya. S

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 113. Niat Pedang Vs Niat Pedang

    Fang Han yang terdesak hebat akhirnya tidak punya pilihan lain selain mengeluarkan potensi terbaik yang ia miliki. Di bawah tekanan serangan Guo Tiandu yang semakin menggila, ia memforsir kedalaman Qi Sejati miliknya dengan cara yang hampir tak masuk akal. Aliran energi di dalam tubuh Fang Han berputar cepat, menghantam dinding meridian satu demi satu, menimbulkan rasa nyeri yang tajam seperti jarum menusuk dari dalam. Namun Fang Han tidak peduli. Dalam situasi seperti ini, sedikit kelengahan saja sudah cukup untuk membuatnya terjungkal.Teknik Langkah Dewa Seribu Tapak pun ia kembangkan secara ekstrem.Setiap langkah yang diambil Fang Han hampir tidak lagi meninggalkan jejak. Tubuh Fang Han bergerak dengan kecepatan tinggi, berpindah posisi dalam jarak pendek dengan ritme yang tidak beraturan, seolah-olah ruang di sekitarnya terlipat dan dibuka kembali sesuai kehendaknya. Di mata orang luar, bayangan Fang Han tampak berlapis, sulit ditangkap dengan penglihatan biasa.Untuk terus

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 112. Guo Tiandu Mengambil Tindakan

    Fang Han tersenyum santai. Senyum itu tipis, nyaris tak terlihat, namun cukup untuk memperlihatkan bahwa ia sama sekali tidak tertekan oleh tudingan maupun sikap Guo Tiandu. Tatapan Fang Han tenang, jernih, seolah ia sedang berbincang ringan, bukan berdiri di hadapan dua orang yang jelas-jelas menghalangi jalannya.Dengan nada lugas dan tidak berbelit, Fang Han pun berbicara.“Sebagai seorang Kultivator,” ujar Fang Han dengan perlahan dan santai. “Harusnya Saudara Guo paham, bahwa kita tidak banyak berbicara dan langsung bekerja dengan tindakan.”Kalimat itu terdengar sederhana, namun sarat makna. Fang Han tidak meninggikan suara, tidak pula menunjukkan emosi berlebihan. Justru ketenangannya itulah yang membuat ucapannya terasa lebih tajam.“Karena yang terlalu banyak berbicara,” lanjut Fang Han tanpa ragu dan menyindir. “Hanyalah seorang pengecut. Tidak memiliki kemampuan, lalu sibuk memprovokasi sana dan sini.”Chu Yang yang berdiri di samping Guo Tiandu langsung menegang.Meski F

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status