เข้าสู่ระบบAwal Mula Pertumpahan Darah – PART 2
Tanpa ragu sedikit pun, Tang Chuan langsung menjawab, “Bukankah itu sudah jelas?” “Penyuapan Lei Hong oleh Yang Minghua mustahil tidak diketahui Luo Minghai.” Suara pemuda itu tenang, tetapi setiap katanya terasa tajam. “Lei Hong adalah orang kepercayaan mereka. Namun tidak ada seorang pun yang memperingatkan Ge Yingxing agar waspada terhadap penyergapan itu.”Awal Mula Pertumpahan Darah – PART 2 Tanpa ragu sedikit pun, Tang Chuan langsung menjawab, “Bukankah itu sudah jelas?” “Penyuapan Lei Hong oleh Yang Minghua mustahil tidak diketahui Luo Minghai.” Suara pemuda itu tenang, tetapi setiap katanya terasa tajam. “Lei Hong adalah orang kepercayaan mereka. Namun tidak ada seorang pun yang memperingatkan Ge Yingxing agar waspada terhadap penyergapan itu.” Tang Chuan menatap Bai Chuan lurus-lurus. “Menurutmu itu kebetulan?” Bai Chuan membeku. Angin malam berembus pelan melewati jendela kedai teh. Cahaya lampu minyak bergoyang samar, membuat bayangan di wajah Tang Chuan tampak semakin dalam. “Setelah kematian Yang Minghua, keseimbangan kekuasaan di keluarga Zi Chuan hancur total.” “Dan Ge Yingxing...” Tang Chuan berhenti sejenak. “A
Awal Mula Pertumpahan Darah – PART 1 Pada 28 Maret 779 Kalender Kekaisaran, saat sedang dalam perjalanan kembali menuju Timur Jauh dari ibu kota, Komandan Ge Yingxing disergap oleh mantan wakil komandan Pasukan Timur Jauh, Lei Hong, yang telah disuap oleh Yang Minghua dan memimpin tiga puluh ribu pasukan elite. Pertempuran berdarah pecah di tengah malam yang dingin. Jeritan perang mengguncang dataran liar. Cahaya api memantul di bilah pedang yang saling beradu tanpa henti. Bau darah bercampur debu dan asap memenuhi udara, sementara mayat mulai bergelimpangan di bawah derap kuda perang. Enam ribu pengawal pribadi Ge Yingxing bertempur mati-matian demi melindungi komandan mereka. Tak satu pun selamat. Ge Yingxing yang terluka parah akhirnya berhasil dibawa keluar dari kepungan oleh beberapa ratus pengawal yang tersisa. Dengan tubuh penuh luka, mereka membuka jalan menggunakan nyawa mereka s
Pertumpahan Darah – PART 2 Hari Zi Chuan Xiu resmi dipindahkan ke pasukan cadangan… ia berdiri lama di depan kantornya sendiri. Tatapannya penuh kesedihan. Ruangan luas itu baru saja ia renovasi beberapa bulan lalu. Meja mahal. Sofa empuk. Karpet merah. Lemari minuman. Bahkan sekretaris cantik berkaki jenjang dengan rok mini… semuanya harus ditinggalkan. Zi Chuan Xiu memegang kusen pintu dengan ekspresi pilu. “Aku belum sempat memastikan…” “Dia masih perawan atau tidak…” Nada suaranya benar-benar dipenuhi penyesalan mendalam. Akibat keputusan itu… sore harinya kediaman Zi Chuan Xiu langsung ricuh. “Apa?!” Shirakawa membanting meja. “Kenapa kami juga ikut dipindahkan ke pasukan cadangan?!” Roge
Pertumpahan Darah – PART 1 Menurut catatan sejarah, meskipun tragedi berdarah di ibu kota sangat mengerikan, kekacauan itu sebenarnya hanya berlangsung satu malam. Pagi harinya, berbagai pengumuman mulai ditempel di jalanan ibu kota. Isinya sangat singkat: “Sudah puas mainnya?” “Kalau sebelum tengah hari belum balik ke markas, siap-siap mampus.” — Di Lin 27 Maret Para sejarawan di masa berikutnya sangat senang mengkritik pengumuman itu. Mereka menganggap isi perintah tersebut penuh masalah. Pertama, targetnya tidak jelas. Siapa sebenarnya yang dimaksud dengan “kalian bajingan”? Kedua, istilah “tengah hari” terlalu ambigu. Apakah maksudnya jam dua belas tepat? Atau setelah matahari naik tinggi?
Kasih Sayang Dalam semalam saja, Zi Chuan Canxing tampak seolah bertambah muda sepuluh tahun. Aura wibawanya kini jauh lebih kuat dibanding sebelumnya. Begitu melihat Zi Chuan Xiu masuk, ia tersenyum tipis. “Oh, Ah Xiu? Pagi-pagi sekali kau sudah datang. Aku baru saja bangun… ada urusan penting?” Zi Chuan Xiu menundukkan kepala lalu menceritakan semuanya. Tentang Di Lin. Tentang para perwira Pasukan Pusat. Tentang hukuman mati. Semakin lama mendengar, alis Zi Chuan Canxing semakin berkerut. Sementara suara Zi Chuan Xiu justru semakin pelan. Namun pada akhirnya, ia tetap memberanikan diri menyampaikan permohonannya. “Komandan… mohon ampuni mereka.” “Mereka benar-benar tidak ikut memberontak tadi malam.” Kerutan di wajah Zi Chuan Canxing perlahan mengendur. Nada s
Badai Akan Datang Cahaya pertama fajar perlahan menembus jendela aula rapat Pasukan Pusat. Namun ruangan luas yang dipenuhi lebih dari tiga ratus perwira itu tetap sunyi mencekam. Tak seorang pun berbicara. Wajah mereka pucat pasi, mata memerah dipenuhi urat darah. Semalaman penuh, tidak ada satu pun yang benar-benar memejamkan mata. Sepanjang malam mereka mendengar semuanya. Teriakan pasukan Timur Jauh saat memasuki kota. Dentuman ribuan kaki kuda. Benturan senjata. Jerit kematian. Pengumuman tentang tewasnya Yang Minghua. Tangisan perempuan. Suara rumah-rumah yang terbakar runtuh. Tolong-menolong yang berubah menjadi jeritan putus asa. Kutukan rakyat. Dan di sela semua kekacauan itu… terdengar pula suara lirih salju yang jatuh ke tanah. Sementara me







