Beranda / Fantasi / Legenda Tongkat Semesta / Bab 22 Misteri Tubuh Lintang

Share

Bab 22 Misteri Tubuh Lintang

Penulis: Pujangga
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-30 20:51:07

“Ayo Limo, guru mungkin sudah menunggu kita di batas hutan,” ajak Lintang.

Pemuda itu masih berkemas memasukan berbagai macam barang ke dalam buntelannya.

Sementara beruang besar berwarna hitam tengah asik menyantap daging, dia duduk di lantai tanah seperti anak kecil pelit yang rakus memakan makanannya dengan posisi membelakangi Lintang.

Hari masih 1/3 malam, para ayam jantan masih terlelap dalam mimpi indahnya, Lintang sudah menyiapkan perbekalan cukup banyak untuk persediaan 3 bulan ke depan.

“Kwii, Kwiii.”

Limo bangkit seraya membersihkan mulut, dia berjalan dengan empat kaki, menarik-narik lengan Lintang menggunakan mulutnya.

“Beruang tengik, kau menghabiskan jatah dagingku, padahal aku juga belum makan,” ketus Lintang mendapatkan jatah sarapannya sudah lenyap tidak tersisa.

Limo melepaskan tangan pemuda itu dan menyeringai nakal tanpa rasa bersalah, sebetulnya Limo masih kesal kepada Lintang, seharian kemarin dirinya di tinggal pemuda itu entah kemana.

“Sudahlah, ayo kita beran
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Legenda Tongkat Semesta   Bab 375 Bangga Sora Vs Lintang

    “Tidak mungkin!” ucap Silah, Suwarna dan Asmaji secara bersamaan. Ke-empat orang tua itu kini sama-sama membelalakan mata tidak percaya.“Biar aku saja yang mengujinya,” ujar Bangga Sora tampak penasaran, namun meski begitu, hanya dia yang saat ini paling tenang, dimana para temannya tengah bergetar tidak dapat menguasai diri.Tidak bertanya atau menunggu penjelasan Tanwira terlebih dulu, Bangga Sora seketika mencabut pedang-nya dan melesat memberikan serangan kepada Lintang.Membuat pemuda itu langsung bergerak cepat menahan serangan Bangga Sora menggunakan tangan kosong.Hingga seluruh murid, guru dan tetua perguruan yang ada disana langsung melebarkan mata menyaksikan kemampuan Lintang.Meski serangan sesepuh mereka tidak menggunakan tenaga dalam, namun gerakan-nya sangat cepat dan mematikan, pendekar biasa tidak akan mungkin menangkis serangan itu, apa lagi menahannya dengan tangan kosong seperti Lintang, membuat semua orang jadi semakin penasaran akan siapa Lintang sebenarnya.Me

  • Legenda Tongkat Semesta   Bab 374 Perguruan milik Tanwira

    “Selain berlatih kanuragan, kami juga terus mengembangkan teknik pengobatan yang dulu sempat kau tinggalkan, hingga akhirnya kami menjadi seorang tabib pencipta pil” ungkap Tanwira.“Kutinggalkan? maksudmu?” tanya Lintang.“Pil yang kau tinggalkan dulu berhasil kami pelajari dan buat kembali, selain itu kami berhasil mengembangkan penciptaan pil lain yang berguna bagi manusia, sejak kepergianmu, seluruh pendekar aliran putih bekerja keras untuk dapat terus maju menciptakan kedamaian, tekadmu merebak bagai jamur di hati kami, hingga hampir semua bidang mengalami perkembangan sangat pesat,” jelas Tanwira.“Namun bangsa iblis menghancurkan itu semua,” tambah Tanwira, kemudian dia kembali menarik nafas panjang.Tanwira bercerita, setelah melakukan latihan selama 30 tahun, dia dan semua temannya kembali berlayar menuju benua besar dengan tujuan akan membuat perhitungan kepada bangsa iblis.Dia kira dengan adanya 6 pendekar dewa akan mampu menghadapi Kaisar Iblis, namun kenyataan begitu pah

  • Legenda Tongkat Semesta   Bab 373 Pulau Buni Nagara

    Sang Kepala Desa segera melesat terbang menuju tempat Lintang, dengan cepat dia menahan pagar kayu yang pemuda itu gunakan sebagai pedang.Jika tidak, Kepala Desa khawatir Lintang terlanjur melepaskan serangannya, maka bila itu terjadi, 100 pendekar pedang akan tewas dalam waktu singkat.“Tunggu anak muda, cukup, aku minta maaf,” seru Kepala Desa seraya menahan pagar kayu menggunakan pedangnya.“Apa kau sudah mengenaliku, Wira?” tanya Lintang dengan nada datar tanpa ekspresi.DEG!Mendengar pertanyaan itu, Sang kepala desa seketika mematung tidak lagi mampu berkata-kata.Bibir bergetar namun tidak mengeluarkan suara, kedua matanya terbelalak lebar sebelum dia kembali menyipit memandangi Lintang penuh selidik.“S-siapa kau anak muda? M-mengapa mengetahui namaku?” tanya kepala desa dengan terbata.“Kukira kau mengenaliku, ternyata masih belum, dasar payah,” umpat Lintang.“S-siapa kau?” tanya kepala desa.“Baiklah, jika jurus yang kau saksikan dan nada bicaraku masih tidak kau kenali, m

  • Legenda Tongkat Semesta   Bab 372 Ketidak sengajaan yang diharapkan

    Meski sosok kepala desa itu sudah tua, namun dia tidak pernah melupakan wajah dari temannya dahulu.Lintang yakin dia adalah Tanwira, saudara seperguruan-nya dari Awan Selatan, namun bukankah menurut kabar Tanwira seorang tabib? tapi mengapa dia jadi pemimpin desa?Banyak pertanyaan di kepala Lintang, tapi semua itu tidak akan terjawab jika tidak dia tanyakan langsung kepada orangnya.“Pimpinan, kami menemukan Kisanak ini di depan gerbang desa, katanya dia merupakan seorang pengembara yang tersesat,” jelas pria penjaga.Mendengar itu, sang kepala desa langsung menyipitkan mata memandangi Lintang dengan penuh curiga.Tidak mungkin ada orang tersesat ke daratan tersebut dimana daratan itu terletak sangat jauh dari peradaban.Merasa curiga dan khawatir membawa bahaya bagi semua penduduk, sang kepala desa segera menjentikan jarinya, membuat 100 pendekar pedang tiba-tiba bermunculan di depan halaman kediamannya.“Jika tidak pengikut iblis, kau pasti pendekar aliran hitam yang menjelajah, m

  • Legenda Tongkat Semesta   Bab 371 Pulau Asing

    Bab 371 Pulau Asing“Apa kau merasakan-nya?” tanya Asgar pada Lintang.“Ya, batas ruang dan waktu selalu berbeda setiap kali kita memasukinya,” jawab Lintang.“Pasti ada yang salah dengan ini,” ungkap Asgar.“Apa ini dikendalikan oleh para dewa?” tanya Lintang.“Tidak mungkin, alam biasanya berjalan sendiri sesuai kodratnya, para dewa hanya menguasai saja, tidak mengatur,” jelas Asgar.“Kalau begitu cepatlah, jangan sampai kita salah lagi mengambil jalan,” pinta Lintang.“Aku tahu cerewet, kau sendiri dapat melihat tanda energi bukan, jaraknya semakin menjauh dari tempat semula,” ujar Asgar.“Jagat! bawa kami secepatnya kesana,” seru Lintang.Mendengar itu tongkat semesta segera melesat membawa Lintang dan Asgar menuju pintu gerbang dunia Narapada.Tiba di sana, Jagat lantas merobek ruang itu dan membawa keduanya masuk melompati gerbang dimensi.Suasana berubah gelap seketika dimana Lintang dan Asgar tidak mampu melihat apa pun, dan sadar-sadar mereka telah terlempar pada hutan lebat

  • Legenda Tongkat Semesta   Bab 370 Perkenalan Samhu

    Saat ini semua bangsa ular telah masuk ke dunia dimensi milik Lintang, mereka dengan suka rela menyatakan sumpah setia akan mambantu memerangi bangsa iblis.Lintang lupa bahwa di dalam dunia dimensinya masih terdapat Samhu raja dari kaum raksasa.Sehingga ketika bangsa ular tiba, Samhu begitu panik dan ketakutan, merasakan energi dari 6000 siluman ular siapa pun tentu akan berkeringat dingin.Termasuk Samhu, terlebih kali ini energinya masih tersegel oleh jurus mantera dari Ki Taji Saketi.Membuatnya semakin panik dan ketakutan, andai salah satu siluman ular menyerangnya, maka habislah sudah, Samhu tidak akan mampu menghindar.Dengan energi sejatinya Samhu mampu menghadapi 4 sampai 6 siluman ular, namun dengan energi-nya sekarang, satu siluman pun tidak akan mampu dia sentuh.Hingga Samhu terus mundur menjauhi bangsa ular, “Sial, mengapa Maha Raja mengirim mereka kemari? bagaimana jika bangsa ular itu masih haus darah? atau ada salah satu dari mereka yang masih menyukai daging siluman

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status