Masuk2000 anak panah beracun meluncur secara bersamaan, menuju barisan pasukan iblis yang berada paling belakang, membuat mereka kalang kabut karena menghindari hujan anak panah tersebut.Mendapati itu, panglima Zhana segera menghentikan laju pasukan, bersama panglima Wathir, dengan cepat dia terbang menuju barisan belakang untuk membantu menahan terjangan hujan anak panah.Namun terlambat, dimana hampir 1500 pasukan lebih telah tergores anak panah tersebut, sebagian langsung tewas di tempat karena terkena telak pada area vital tubuh mereka, sepeti pada kepala, jantung serta tenggorokan.Dan pasukan yang tergores pun tidak bisa bertahan lama, karena setelah 10 tarikan nafas, mereka langsung tewas mengenaskan dengan tubuh membiru.Dengan artian, tidak ada satu pun anak panah pasukan perdamaian yang meleset, semua panah beracun tepat mengenai sasaran.Mendapati itu, semua pasukan menjadi panik terpecah ke segala arah, membuat panglima Iblis Wathir segera berseru agar mereka tetap tenang dan
“Kaum raksasa?” gumam Aghura.“Benar kakang, mereka merupakan siluman kuat yang pernah bertarung dengan pasukanku di wilayah pergunungan barat,” ungkap Garwakala.“Sial, apa itu kelompok siluman yang membuat pasukanmu mundur tempo dulu?” tanya Aghura.“Benar, jumlah mereka sangat banyak bahkan dapat mencapai puluhan ribu siluman,” jawab Garwakala.Mendengar itu Aghura terlihat merenung dan mulai memikirkan siasat terbaik untuk melanjutkan penyerangan.Dia tidak bisa mengirim langsung semua pasukan karena belum mengetahui seberapa besar kekuatan lawan.Terlebih di sana terdapat pendekar cerdas seperti Lintang, membuat dia halus lebih berhati-hati dalam mengambil langkah.Kekalahannya di benteng pertahanan pulau Sindur selalu menjadi bayang-bayang pahit bagi Aghura.“Baiklah, Zhana, Wathir, Muriah, kalian bertiga pimpin 50.000 pasukan untuk menyerang mereka!” seru Aghura pada 3 panglima iblis.“Siap Tuan. Tapi mengapa hanya kami? Padahal jika diserang dengan kekuatan mereka pasti binasa
“Lihatlah, apa itu mereka?” seru Panglima Kenil.“Sial! Sepertinya memang mereka,” ujar Panglima Kubo.Keduanya terkejut menyaksikan lautan pasukan iblis yang berjalan dengan kecepatan tinggi, mereka melaju layaknya badai yang menerpa padang pasir.Begitu juga dengan di atas langit, dimana terdapat ribuan pasukan udara yang menunggangi kadal terbang. Seperti dugaan Bawana, mereka terbukti menyerang dari dua sisi, yaitu daratan dan angkasa.“Ayo kita kembali ke bawah, Tuan Wana harus segera tahu tentang ini,” ajak Panglima Kenil.“Kau benar, ayo kembali,” seru Panglima Kubo.Selanjutnya mereka pun berubah menjadi asap hitam dan lenyap diterpa angin, sebagai kaum lelembut, keduanya mampu berpindah tempat dalam waktu singkat hingga dalam beberapa tarikan nafas, Panglima Kenil dan Kubo seketika kembali muncul tepat di hadapan Bawana dan semua pasukan.Mendapati mereka telah kembali, Bawana segera menanyakan posisi terbaru pasukan iblis agar dia dapat memperhitungkan langkah selanjutnya.“
Selesai sedikit berbincang dan bercanda, dengan berat hati Asgar melanjutkan perjalanan memimpin semua pasukan menuju padepokan Hutan bambu.Bangga Sora dan semua orang menumpang menunggangi bangsa ular, sementara Misantanu, Suwarna, Asmaji dan Tanwira, mereka menumpang menunggangi bangsa naga.Terbang bersama para makhluk mengerikan seperti sebuah mimpi bagi mereka, mengikuti Lintang adalah pilihan terbaik, dimana bersamanya, semua orang dapat lebih mengerti apa itu persahabatan dan keluarga.Wujud tidaklah penting, karena menjalin persahabatan tidak membutuhkan itu, mereka hanya memerlukan hati untuk dapat saling mengerti.“Berapa lama kita akan tiba di sana Kakang?” tanya Putri Adia kepada Asgar.“Jika aku tidak salah perhitungan, dalam tiga hari ke depan kita akan tiba di sana, Putri,” jawab Asgar.“Baiklah, asalkan terus bersamamu, selama apa pun aku bersedia terbang seperti ini,” ungkap Putri Adia seraya tersenyum lembut.“Hahaha, ternyata kau sangat manja Putri,” goda Asgar.Me
“Baiklah, apa ini sudah cukup?” tanya Lintang.“Su-sudah, Tuan,” jawab Putri Adia terbata.Mendengar itu Lintang segera menggabungkan kembali seluruh energinya menjadi energi naga, kemudian dia langsung memanggil Asgar agar mendekat.“Menyerap energi Batu Bintang setidaknya akan membutuhkan waktu sekitar 7 hari, aku harus melakukan itu untuk bisa menghadapi Kaisar Iblis, kau pimpin semua pasukan kita ke tempat Sugi, firasatku semakin buruk terhadap mereka, bawa juga pasanganmu ini ke sana, jika benar ada sesuatu yang buruk terjadi, berusahalah bertahan sampai aku datang,” ungkap Lintang.“Apa aku tidak bisa menunggumu di sini? Bukankah di sana ada Bawana dan seluruh kaum raksasa?” sergah Asgar, ular tengik itu seperti enggan berpisah dengan Lintang.“Aku tahu, tapi kau juga mengetahuinya bukan? firasatku tidak pernah meleset,” kembali Lintang berkata meyakinkan.“Kau adalah penguasa dari semua penguasa, maka sudah sepantasnya tugas ini kuserahkan padamu,” tambah Lintang, membuat Asgar
“Batu Bintang? apa itu?” tanya Lintang penasaran.“Itu adalah unsur energi dari dunia kegelapan, leluhur kami menemukannya jauh di kedalaman laut,” jelas Putri Adia.“Dunia kegelapan? ternyata selain Batu Wulung, di sana juga terdapat Batu Bintang, sebenarnya dunia macam apa itu?” gumam Lintang di dalam hati.“jika itu energi, mengapa kau tidak menggunakannya Putri, atau siapa pun di kerajaan naga ini?” kembali Lintang bertanya.“Tidak Tuan, sejak lahir bangsa kami telah memiliki 3 energi, jadi kami tidak dapat memiliki energi lain lagi, terlebih energi Batu Bintang adalah energi kegelapan, jika tidak dimurnikan, maka bisa-bisa kita akan termakan,” ungkap Putri Adia.Lintang tidak heran mendengar itu, dimana dirinya sendiri memiliki serpihan Batu Wulung titisan dari Sang Ayah.“Jika Anda menghendaki, Tuan bisa menggunakan batu itu, namun kami tidak tahu entah bagaimana cara memurnikannya,” ucap Putri Adia.Mendengar tawaran itu, tentu saja Lintang senang, dengan energi Batu Bintang di







