Beranda / Fantasi / Legenda Tongkat Semesta / Bab 378 Tungku Penciptaan Pil

Share

Bab 378 Tungku Penciptaan Pil

Penulis: Pujangga
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-07 20:28:25

“Baiklah, dimana gedung pengobatan kalian? apa kalian menciptakan pil menggunakan sebuah tungku?” tanya Lintang memastikan.

“Gedung pengobatan ada di wilayah selatan berguruan dan tentu saja kami menggunakan tungku,” jelas Bangga Sora.

“Kalian pasti masih menggunakan tungku api manual bukan? tungku yang menggunakan kayu bakar untuk memanaskan,” kembali Lintang memastikan.

“Hahaha, tentu saja, memang-nya ada tungku yang memanaskan tanpa kayu bakar? lantas dengan apa memanaskannya? jangan bilang dengan energi bukan? itu sangat tidak mungkin,” Misantanu tertawa, dia mengira Lintang tengah bercanda dengan menanyakan tungku terlebih dahulu.

“Hahaha, memang benar, ada tungku yang menggunakan energi tenaga sebagai bahan bakarnya, dengan tungku model seperti itu kita dapat membuat pil lebih cepat 4 kali lipat dari tungku biasa,” Lintang ikut tertawa sebelum menjelaskan.

“A-apa kau tidak sedang bercanda?” Misantanu menggeleng seraya mengerutkan kening.

Sementara Bangga Sora dan yang lainnya se
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Legenda Tongkat Semesta   Bab 390 Pesta Sebelum Perang

    Di tempat Sugi, semua orang tertawa gembira menikmati pesta penyambutan, mereka menyantap berbagai hidangan daging dan olahan rebung bambu, sebuah makanan asing yang hanya terdapat di hutan bambu.“Bolehkan aku tahu nama anda?” tanya Sugi pada Raja Samhu.“Tentu saja tuan pendekar, orang memanggilku Samhu, raja dari bangsa kaum raksasa,” jawab Samhu sopan, membuat Sugi langsung mengerutkan kening tidak mengerti.“Raksasa?” tanya Sugi cepat.Sugi merasa heran dengan pengakuan Samhu, dimana wujudnya saat ini justru sebaliknya, alih-alih seorang raksasa, dia malah terlihat seperti seorang anak kecil berusia 7 tahun.Andai tidak memiliki wajah tua dan berjenggot, sudah sedari awal Sugi ingin mencubit pipinya karena lucu.Tidak hanya Samhu, tetapi ke empat makhluk kerdil yang bersamanya juga cukup aneh, mereka juga memiliki tubuh kerdil dengan wajah yang telah dewasa.Selain itu, telinga mereka juga sangat panjang dan runcing berbeda dengan manusia pada umunya, berkaki lebar, bahkan dua ka

  • Legenda Tongkat Semesta   Bab 389 Serangan

    “Kemana kita Asgar?” tanya Lintang terkejut saat dia baru saja bangun.Karena tubuhnya terlalu lelah, Lintang tertidur selama 4 hari, dan saat terbangun, lautan tiba-tiba telah bergejolak dengan badai besar menerjang dari segala arah.“Entahlah, padahal aku mengikuti petunjuk terus melaju ke arah barat,” jawab Asgar yang juga tampak bingung.“Apa kau tidak nyasar lagi?” tanya Lintang memastikan.“Tidak mungkin bodoh, ini memang arah yang benar,” maki Asgar.“Baiklah, baiklah, tapi di mana kita?” ucap Lintang, dia segera mengedarkan pandangan mencari sesuatu yang dapat dijadikannya petunjuk.“Sial, pegangan!” teriak Asgar segera menghindar.Tentu saja Lintang terkejut bukan buatan karena zona persepsinya tidak merasakan apa pun selain tekanan badai yang sangat kuat.Ternyata ada dua tombak besar bermata 3 seperti trisula meluncur dengan kecepatan tinggi, hampir saja tombak tersebut menusuk perut Asgar. Beruntung ular tengik itu masih sempat menghindarinya.“Mereka datang dari dalam air

  • Legenda Tongkat Semesta   Bab 388 Pergerakan Bangsa Iblis

    “Hormat hamba, Baginda, seluruh pasukan telah siap menerima perintah,” ucap panglima Iblis Aghura dengan penuh hormat.“Hmmm, bawa mereka dan bumi hanguskan semua penghuni bumi, setelah pemurnian Batu Bintang terakhir, aku akan menyusul kalian,” seru Kaisar Iblis seraya mengibaskan tangan pertanda Aghura harus segera pergi.“Baik Baginda, titahmu segera kami laksanakan,” ucap Aghura, sosoknya kemudian lenyap berubah menjadi kepulan asap hitam.Aghura tida-tiba kembali muncul tepat di belakang Garwakala, di atas menara pengintai di depan gerbang pertama kekaisaran.“Kakang!” seru Garwakala, merasakan ada hawa keberadaaan Aghura, dia segera berbalik seraya melemparkan senyum menggoda, membuat Aghura langsung menggigit bibir menyaksikannya.“Sial, andai tidak dalam situasi berperang, sudah kunikmati dia 5 hari 5 malam tanpa henti,” umpat Aghura dalam hati.Selanjutnya Aghura mengangguk menanggapi sapaan Garwalaka, kemudian menarik nafas panjang sebelum berbicara pada semua pasukan.Di ha

  • Legenda Tongkat Semesta   Bab 387 Persiapan Bangsa Iblis

    “Baiklah, kita mendarat di sini!” seru Bawana kepada semua orang.Dia mendarat di atas dataran pasir tepat di perbatasan hutan bambu, sementara Tresna Ayu telah masuk lebih dulu menuju padepokan milik Sugi.“Tunggulah sebentar, ini tidak akan lama,” ucap Bawana pada semuanya.Anantari dan Kelenting Sari mengangguk secara bersamaan, begitu juga dengan Madu Lanang, Samhu serta ke 4 panglimanya.“Kwii, kwii, kwii,” ucap Limo pada Bawana.Membuat pemuda itu tersenyum masam karena tidak mengerti entah apa maksud dari perkataannya, sementara Kelenting Sari hanya menggeleng menatap Limo dalam pelukan Anantari.Bawana segera melompat sejauh 50 depa menghampiri hutan Bambu agar lebih dekat, sesampainya disana, dia langsung mengeluarkan 50% energinya, membuat gelombang energi besar seketika terbentuk dan menerpa apa pun yang dilewatinya.Sehingga Kelenting Sari langsung menciptakan dinding es raksasa agar tidak terkena gelombang energi Bawana.Karena jika dibiarkan, Kuna, Mosir, Sasana, dan Wal

  • Legenda Tongkat Semesta   Bab 386 Prisai Gaib Pelundung Hutan Bambu

    Bawana dan rombongannya tidak sadar sebelumnya mereka telah di-ikuti, dimana Panglima Iblis Bala memiliki keahlian menyamarkan aura yang sangat tinggi.Hingga baik Bawana, Samhu, Anantari bahkan Kelenting Sari sekalipun tidak mampu mendeteksinya.Mereka kini terus terbang melintasi gurun pasir selatan yang tandus dan luas.Menyaksikan gurun pasir tersebut membuat Kelenting Sari dan Madu Lanang tampak sedih teringat terhadap kenangan perang masa lalu. Dimana di tempat itulah, orang-orang terdekat mereka meregang nyawa.“Masih lekat dalam ingatanku saat menyaksikan sesepuh Awan Selatan dan Dewi Rhuyi menghembuskan nafas terakhir mereka di gurun ini,” ucap Madu Lanang pada Kelenting Sari.Terdapat setitik bening di sudut mata pemuda itu saat mengatakannya. Sehingga Tresna Ayu dan Bawana seketika berbalik dan melihat ke arahnya.“Sudahlah Lanang, itu telah berlalu,” ujar Kelenting Sari yang tidak ingin mengingat peristiwa kelam tersebut.Dia memang tidak menyaksikan langsung bagaimana Dew

  • Legenda Tongkat Semesta   Bab 385 Rencana Bangsa Iblis

    Jauh di pesisir pantai Benua besar, sesosok panglima iblis baru saja lewat terbang membelah langit dari arah barat.Dia adalah Bala, salah satu panglima tertinggi Kaisar Iblis yang diberi tugas untuk mencari keberadaan Lintang.Saat dirinya tengah menyusuri langit barat, Bala melihat ada satu rombongan pendekar sakti yang terbang ke arah timur, dengan penuh kehati-hatian panglima iblis tersebut mengikuti mereka secara diam-diam.Bala tidak berani menampakkan diri apa lagi mencegat mereka, dimana pada rombongan musuh terdapat 5 makhluk kuat, bahkan hampir setara dengan kekuatan dirinya.Mencegat mereka sama saja dengan bunuh diri, membuat Bala tidak dapat berbuat banyak, selain mengintai dari kejauhan.Setelah mengetahui arah perjalanan mereka yang menuju padang pasir selatan, Bala segera berbalik arah menuju Istana Kaisar iblis untuk memberikan laporan.Untuk sampai di Istana kekaisaran bangsa iblis, panglima Bala membutuhkan waktu setidaknya 3 hari dari pesisir pantai.Sepanjang jala

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status