INICIAR SESIÓN“Ayo kita mulai lagi, sialan!” teriak Warok dengan penuh semangat.Meski kekuatannya berada jauh di bawah panglima Wathir, Warok tidak akan pernah gentar.Bagaimanapun, dia adalah pasukan Lintang, pasukan yang siap mati demi menciptakan kedamaian.Nyawa memang penting, tetapi tidak lebih penting dari sebuah kehormatan, berjuang bersama Lintang adalah sebuah kehormatan terbesar bagi bangsa Buto, untuk itu Warok tidak akan pernah mundur dari pertarungan.Selama dia masih memiliki nafas, Warok akan terus bertarung sampai titik darah penghabisan, sampai dimana tubuhnya tidak lagi bisa bergerak dan nyawa sudah terpisah dari raganya.“Hahaha, memalukan! Kau tidak ubahnya seperti kucing yang berlagak seperti harimau, kucing tetaplah kucing, tidak akan dapat mengalahkanku,” Panglima Iblis Wathir tertawa.Dia memang sempat terkejut karena Warok dapat kembali berdiri setelah terluka parah, namun ketika merasakan energi siluman itu tidak bertambah, Panglima Iblis Wathir kembali sadar bahwa musuh
Bawana masih terlihat tenang menyaksikan jurus tertinggi dari makhluk iblis tersebut, meski tidak dapat dipungkiri bulu kuduknya sedikit berdiri saat merasakan tekanan dari kekuatannya.“Hahaha, tidak ada yang dapat hidup setelah menerima jurus iblis kemurkaan dariku,” panglima Zhana tertawa terbahak-bahak menanti tubuh Bawana yang sebentar lagi meledak dan hangus terbakar.Tapi tawanya tidak berlangsung lama karena setelah itu, mata panglima Zhana terbelalak lebar dengan perasaan yang sangat kesal, hampir saja dia muntah darah karena penyesalan.Dimana di kejauhan, Bawana dengan mudah dapat menahan serangannya sebelum kemudian dilemparkan ke tengah kumpulan pasukan iblis.Membuat 5000 prajurit iblis dan 1000 pendekar golongan hitam tewas begitu saja dengan tubuh hancur menjadi serpihan sebelum akhirnya berubah menjadi debu karena terbakar oleh api hitam.Sepuluh di antaranya adalah komandan iblis dan tetua golongan hitam, sehingga panglima Zhana sangat menyesal karena telah melepaska
Setelah menyeringai, Bawana tidak lagi membuang waktu, dia segera melesat kembali menyerang panglima Iblis Zhana.Kali ini mahluk itu menyadari kedatangan Bawana, membuat dia dengan cepat mengelak menghindari serangan pertama.Namun Bawana tidak berhenti sampai di sana, dimana pedang pusaka miliknya segera ditarik kembali dan dengan cepat di putarkan ke belakang menggunakan ayunan 180 derajat hingga pedang tersebut telak mengenai dada panglima iblis Zhana. Menciptakan luka robek cukup besar yang mengucurkan banyak darah.“Bangssat!” umpat Panglima Iblis Zhana berdecak kesal. Dia segera menendang angin untuk menjauh mengambil jarak.“Hahaha, dasar lemah!” seru Bawana dengan nada dingin, bibirnya membentuk lengkungan aneh yang terlihat sangat mengerikan bagi para musuhnya.Membuat Panglima Iblis Zhana tanpa sadar telah menelan ludahnya, dia pikir Bawana adalah pendekar sakti yang selalu diceritakan para panglima iblis lain.Namun anehnya, mengapa pendekar itu tidak menggunakan tongkat?
Malam di sekitar wilayah padang pasir semakin larut ditandai dengan kemunculan rembulan di atas kepala.Itu merupakan pertanda baik dimana para pasukan lelembut mendapatkan 2 kali lipat energinya saat malam, hanya saja mereka tetap harus menghemat tenaga karena perang masihlah sangat panjang.Saat ini, pasukan iblis yang dipimpin oleh Panglima Zhana semakin mendekati batas hutan bambu, membuat Bawana segera bersiap-siap untuk bertempur.“Kakang,” seru Tresna Ayu membuat Bawana segera berbalik mengedarkan pandangan.“Iya Ayu?” ujar Bawana.“Hati-hati!” seru Tresna Ayu seraya menggenggam erat pedangnya.Sudah sedari awal dia ingin melompat ke medan perang, namun Tresna Ayu sadar, dia tetap harus mengikuti siasat perang yang sudah ditetapkan.“Kau jangan khawatir Ayu,” tanggap Bawana seraya melemparkan senyuman lembut.“Benar Ayu, percayalah, Tuan Bawana adalah pendekar yang hebat,” ucap Sugi yang berada tidak jauh dari gadis itu.“I-iyah g-guru,” ujar Tresna Ayu.“Baiklah, Warok, Lanang
“Warok, bersiaplah, sekarang kita akan bertarung jarak dekat!” seru Bawana.“Siap tuan!” seru Warok menanggapi dengan cepat, mereka segera menggenggam erat senjata gada berduri karena saat Bawana memberi perintah, semua pasukan Buto harus langsung melesat menyambut pasukan musuh.Namun sebelum memberi perintah kepada semua pasukan kaum Buto, Bawana kembali mengangkat tangan kanannya dengan dua jari diacungkan lurus ke atas, sementara tiga jari lain terkepal ke bawah.Melihat isyarat dari Bawana, Datuk Ambu segera membagi pasukan perdamaian ke dalam dua titik serang.Satu mengincar para pejuang suku Pukko yang berada di atas udara, dan satu lagi mengincar para pasukan mayat hidup.Datuk Ambu mengerti dengan maksud dari Bawana, dimana pasukan mayat hidup harus dibantai lebih dulu karena akan merusak rencana selanjutnya.Mereka berlari tanpa menggunakan ilmu meringankan tubuh yang jika dibiarkan, maka jebakan pasir kedua akan terinjak oleh pasukan boneka tersebut.Ini tentu sangat tidak
2000 anak panah beracun meluncur secara bersamaan, menuju barisan pasukan iblis yang berada paling belakang, membuat mereka kalang kabut karena menghindari hujan anak panah tersebut.Mendapati itu, panglima Zhana segera menghentikan laju pasukan, bersama panglima Wathir, dengan cepat dia terbang menuju barisan belakang untuk membantu menahan terjangan hujan anak panah.Namun terlambat, dimana hampir 1500 pasukan lebih telah tergores anak panah tersebut, sebagian langsung tewas di tempat karena terkena telak pada area vital tubuh mereka, sepeti pada kepala, jantung serta tenggorokan.Dan pasukan yang tergores pun tidak bisa bertahan lama, karena setelah 10 tarikan nafas, mereka langsung tewas mengenaskan dengan tubuh membiru.Dengan artian, tidak ada satu pun anak panah pasukan perdamaian yang meleset, semua panah beracun tepat mengenai sasaran.Mendapati itu, semua pasukan menjadi panik terpecah ke segala arah, membuat panglima Iblis Wathir segera berseru agar mereka tetap tenang dan







