Let Me Hate You

Let Me Hate You

last updateLast Updated : 2026-01-17
By:  AnjaaniOngoing
Language: English
goodnovel16goodnovel
9.8
49 ratings. 49 reviews
75Chapters
15.3Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Ever wonder how one of the best days of your life turns into a lifelong nightmare? Two people, two different worlds yet bound by the same emotion, "HATE." Marriage is supposed to be an eternal bond filled with love and happiness. This was far from the truth for Asmaira and Amaan. Two broken souls entangle in the game of destiny, which ends their dream of everlasting love. For one, it was a journey of redemption, and for another, it was to seek vengeance. Amaan was forced to marry Asmaira, who knew how much he hated her, yet, she agreed to the marriage, knowing well the thorny path coming her way. What is the past that connects both Asmara and Amaan, and why do they hate each other so much without meeting each other? "Please......." was the only word she could say while trying to get out of his grip. "Please let me go," she stammered in between her hiccup, shaking her head with pleading eyes and folded hands. "Why are you scared, baby? I know I was wrong to not accept you as my wife, but now I want to correct my mistake. Let's start once again our marriage. How about I gift you something to celebrate?" He said near her ear, emphasizing the word 'gift.' Sensing her fright, he grabs her waist while using the other to stroke her cheek, "how about giving you a baby tonight?" Asmaira gaped. "I know it is your first time, and.." he trailed, hitching Asmaira's breath, "I would make sure you would never forget it."

View More

Chapter 1

First Night

Aku adalah seorang ibu susu. Hari ini aku pergi ke rumah Pak Farid untuk menyusui putranya.

Lantaran payudaraku sedang membengkak karena ASI, belakangan ini aku jarang mengenakan bra. Jika tidak, tekanannya akan terlalu kencang dan selalu terasa nyeri yang samar.

Terlebih lagi, karena terus-menerus diisap dan dijilat oleh bayi, putingku menjadi begitu sensitif. Gesekan sekecil apa pun akan membuatnya menegang, lalu setelah itu ASI akan merembes keluar tanpa bisa dikendalikan.

Aku sudah terlalu sering mengalami situasi memalukan di luar saat bagian dadaku basah kuyup. Tatapan membara dari orang-orang di sekitar membuatku merasa malu sekaligus bergairah. Hal itu justru membuat dadaku makin tak terkendali, hingga akhirnya rembesan ASI menembus seluruh kemejaku.

Saat hendak keluar rumah, aku sengaja memilih kemeja berwarna abu-abu, sehingga meskipun basah, tidak akan sampai memperlihatkan tubuhku di depan umum seperti halnya jika aku memakai kemeja putih.

Siapa sangka cuaca tidak mendukung. Belum sampai di halte bus, hujan badai sudah turun dengan derasnya.

Saat aku tiba di rumah Pak Farid, pakaianku sudah hampir basah kuyup, benar-benar basah kuyup dari kepala hingga kaki.

Ketika aku berdiri di depan pintu rumah bos, aku melirik ke arah tubuhku sendiri dan dalam hati berseru, 'Gawat!'

Aku lupa bahwa ASI berwarna putih. Meskipun kemeja berwarna gelap tidak mudah memperlihatkan bentuk tubuh saat basah kuyup, putingku kini ternoda oleh bekas ASI. Bagian ujungnya tampak putih bersih, bahkan bisa terlihat cairan yang terus merembes keluar tanpa henti dari sana ….

Dengan sedikit panik, aku menggosok-gosok kain di bagian putingku dengan tangan. Namun, hal itu malah menyentuh titik sensitifku. Seketika aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerang pelan di depan pintu. Kakiku terasa begitu lemas hingga hampir saja terjatuh.

Namun, tubuhku ditangkap oleh seseorang.

Aku mengangkat kepala, menatap ke arah depan dengan pandangan sedikit kosong.

Entah kapan pintu itu terbuka. Pak Farid sudah berdiri di sana. Dia mengulurkan tangannya untuk menopangku.

Pak Farid sempat terpaku sejenak melihat penampilanku yang kacau balau. Pandangannya terhenti saat menyapu bagian dadaku yang ternoda ASI. Namun, dia tetap tidak mengatakan apa pun dan memintaku masuk ke dalam.

Berjalan di belakangnya, aku merasa sedikit tidak enak hati. Kemudian, tanpa sadar aku menarik-narik bajuku.

Begitu melirik jam, sepertinya aku sudah terlambat cukup lama.

Aku pun menjelaskan situasiku pada Pak Farid dengan terbata-bata, sambil terus merasa cemas karena bagian dadaku masih terus membasahi kemeja. Akan tetapi, usahaku untuk menutupi dadaku dengan tangan justru membuatnya makin terlihat jelas, hingga memancing Pak Farid untuk terus menatap ke arah sana.

"Nggak apa-apa. Hujan di luar sangat deras, bisa dimengerti."

Pak Farid tersenyum dan memaafkan keterlambatanku. Namun, secara tidak sadar pandangannya tertuju ke arah dadaku.

Di tengah puncak musim kemarau, kemeja yang kukenakan begitu tipis. Pakaian yang basah itu melekat erat di tubuhku, membuat bentuk bulat dari kedua payudaraku terlihat begitu jelas. Pak Farid pasti juga menyadari bahwa aku tidak mengenakan bra.

Pada saat ini, noda ASI putih sudah merembes turun dari bagian putingku, mengalir mengikuti garis payudara dan membentuk lekukan tubuhku dengan jelas di atas kemeja yang berwarna gelap.

Aku merasa sangat malu dan segera menarik-narik bajuku untuk menutupi diri. Namun, anehnya tubuhku justru terasa sedikit panas.

Terus-menerus ditatapi oleh Pak Farid seperti itu membuatku merasa begitu malu hingga rasanya ingin menghilang ditelan bumi. Aku pun berkata dengan gugup, "Itu .… Mana Dodo? Aku mau menyusuinya."

"Nggak perlu buru-buru. Mandilah dulu. Jangan sampai kamu kedinginan dan jatuh sakit," ucap Pak Farid dengan nada penuh perhatian.

Pak Farid menatap kemejaku yang berantakan dengan penuh arti, lalu menambahkan, "Ganti juga baju yang kamu kenakan itu. Akan kucarikan yang baru untukmu."

Hatiku terasa hangat. Aku menatap Pak Farid dengan rasa terima kasih. Namun, aku tetap mengatakan tidak perlu.

Lagi pula, rumah mereka adalah apartemen mewah yang begitu luas dengan dekorasi yang begitu megah. Sebagai seorang wanita, aku merasa sangat sungkan jika harus mandi di rumah mereka.

Pak Farid sepertinya melihat keraguanku. Dia tersenyum dan kembali berkata, "Baiknya mandi dulu saja. Nggak enak juga kan kalau badan anakku jadi ikut basah waktu kamu menyusuinya, 'kan?"

Terdengar nada yang tidak menerima penolakan dalam suaranya, sehingga aku hanya bisa menganggukkan kepala.

Kamar mandi di rumah Pak Farid sangat besar. Luas area toiletnya saja sudah melebihi luas rumah yang aku dan suamiku sewa saat ini.

Aku melepaskan pakaianku yang basah kuyup, lalu berdiri di depan cermin besar yang ada di samping gantungan jubah mandi. Sambil menatap tubuh rampingku di dalam cermin serta bagian dadaku yang berisi dan membanggakan, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengulurkan kedua tangan untuk menopang dan meraba keduanya.

Bagian dadaku yang pada dasarnya memang masih merembeskan ASI menjadi makin tidak terkendali karena gerakanku tadi.

Dua gumpalan payudara yang berisi ini dahulu pernah memberiku kesulitan besar. Waktu masih sekolah dahulu, aku bahkan pernah diejek sebagai "sapi perah" oleh teman-teman sekelas. Tidak kusangka sekarang ini justru menjadi sarana bagiku untuk menyambung hidup, membuatku tidak tahu apakah harus merasa senang atau malah merasa miris.

Akan tetapi, saat teringat bagaimana Pak Farid menatap dadaku dengan mata yang berbinar tadi, jantungku pun tidak bisa berhenti berdegap kencang.

Tepat di saat aku sedang melamunkan hal yang tidak-tidak, pintu tiba-tiba terbuka. Tak disangka-sangka Pak Farid masuk ke dalam dengan membawa satu setel pakaian baru yang cantik di tangannya.

Aku menjerit kaget. Dalam kepanikan aku buru-buru menutupi tubuhku dengan tangan sambil berseru cemas, "Kamu … kenapa kamu masuk? Cepat keluar!"
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Ratings

10
96%(47)
9
2%(1)
8
0%(0)
7
0%(0)
6
2%(1)
5
0%(0)
4
0%(0)
3
0%(0)
2
0%(0)
1
0%(0)
9.8 / 10.0
49 ratings · 49 reviews
Write a review

reviewsMore

Bia
Bia
please please please please please please please please please please please update
2026-03-20 20:36:57
1
0
Bia
Bia
oh com'on author like seriously you're not gonna update. it's been almost a month.
2026-03-05 19:06:01
1
0
Bia
Bia
author please update please please please please please please please please please please please please please
2026-03-04 22:48:24
1
0
Arshiya Noureen
Arshiya Noureen
please update this story
2026-02-12 13:00:17
1
0
Bia
Bia
pleaseeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee updateeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee
2025-12-28 03:12:57
1
1
75 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status