MasukWajah Celia langsung pucat, tak menyangka kebersamaannya dengan Leon dipergoki oleh sang istri sah. Sementara Leon berusaha untuk tetap tenang meski dalam hati merasa was-was.
“La-lady Irish ….” Suara Celia terbata, kalimatnya tercekat. Tampak kebingungan harus berkata apa.
Ini pertama kalinya Jane melihat Celia. Perempuan itu sangat anggun dengan dress panjang tebal dan rambut panjang dikepang di belakang. Dalam hati Jane mengakui kecantikan seorang Celia.
Akan tetapi, Jane tidak ingin memuji perempuan itu. Dia sangat tidak menyangka kalau Leon dan Celia memilih tempat terbuka untuk bertemu.
“Apa kalian tidak bisa bertemu di tempat lain yang lebih jauh atau tertutup? Kenapa harus di sini? Sudah tak kuat melepas rindukah?” ucap Jane menyindir.
“Kami tidak melakukan apa yang kamu pikirkan, Irish.” Leon bersuara. Tak ingin Celia terlihat buruk.
“Memangnya kamu tahu apa yang ada di pikiranku, Kapten?” Jane menatap Leon tanpa takut.
Melihat Leon terdiam, Celia mendekat dan berkata, “Maafkan aku, Lady Irish … aku dan Kapten Leon tidak sengaja bertemu di sini. Tadi aku hendak ke tempat saudara.”
Ingin sekali Jane tertawa mendengar ucapan Celia. Jelas sekali Celia sedang berbohong.
Kalau memang kebetulan, harusnya meeka cukup bicara sebentar saja dan tidak harus sembunyi. Apalagi perkataan Leon pada Celia tadi bukanlah pembicaraa yang kebetulan, tetapi suatu rencana yang mereka siapkan untuk menyingkirkan Irish.
“Terserah. Itu bukan urusanku. Hanya saja … lain kali kalian harus lebih hati-hati dan pandai menyembunyikan hubungan. Setidaknya, berpura-puralah kalau aku tidak tahu perselingkuhan ini,” ucap Jane dengan wajah datar.
Tidak ada teriakan atau makian yang biasa Irish lakukan jika bertemu Celia. Hal ini membuat Leon merasa sedikit malu dan juga … tak nyaman. Irish tampak benar-benar tidak peduli pada lelaki itu.
“Aku pergi. Lanjutkan saja obrolan kalian. Oh iya … Kapten Leon, tidak usah menunggu satu tahun untuk pembatalan pernikahan kita. Besok kamu urus semuanya agar pernikahan kita batal. Lebih cepat lebih baik.”
Setelah mengatakan itu, Jane berbalik. Dia berjalan menuju komplek tentara. Keinginannya untuk makan hilang begitu saja.
***
Pagi-pagi, saat menuju kamar mandi, Jane mendapati Leon sedang sarapan. Lelaki itu tampak segar dengan pakaian lapangan militer yang pas di tubuhnya.
“Aku sudah membeli beberapa bahan makanan. Kamu bisa memasaknya,” ujar Leon saat Jane sudah duduk di bangku di seberangnya.
Jane mengangguk, tangannya mengambil roti yang terhidang di meja makan. Melihat Leon tampak santai dan tidak merasa bersalah dengan kejadian semalam, Jane pun tidak ingin membahasnya.
Selesai sarapan, Leon memberikan beberapa koin uang pada Jane. “Ini untuk kamu belanja,” ucap Leon.
Jane tidak menolak. Dia ingin berkeliling pertokoan dan membeli barang yang diinginkannya.
Jane tahu kalau Irish pasti memiliki uang banyak. Hanya saja, Jane lupa untuk membawanya kemarin. Dia juga tidak tahu di mana tempat penyimpanan uang Irish.
Tak lama setelah Leon pergi, pintu rumah diketuk. Jane yang baru selesai berpakaian langsung berjalan menuju pintu.
“Selamat pagi, Nyonya Leon.” Beberapa wanita berdiri di hadapan Irish. Mereka bergantian menyapa Irish dengan wajah penuh senyuman.
“Ternyata Nyonya Leon Sangat cantik,” ucap wanita bergaun cokelat.
“Iya, benar … Kapten Leon sangat beruntung,” sahut yang lain.
Jane hanya diam dengan wajah heran. Siapa mereka? Penampilan wanita-wanita itu rapi dan bersih.
Salah satu wanita yang tampak menonjol dengan topi di rambutnya menangkap keheranan Jane. “Kami adalah tetanggamu, Nyonya Leon. Perkenalkan, aku Nyonya Roderick, suamiku atasan Kapten Leon,” ucapnya tersenyum lebar.
Yang lain pun memperkenalkan diri mereka di depan pintu. Jane masih enggan menyuruh tamu tak diundang itu untuk masuk.
“Hari ini kita akan pergi ke taman bunga, Nyonya Leon pasti bersedia untuk ikut. Sangat menyenangkan jika kita bisa berjalan di taman yang indah, bukan?” Nyonya Roderick menarik lengan Jane keluar rumah.
Tentu saja ucapan Nyonya Roderick bukan tawaran, tetapi sebuah pemaksaaan. Dan, Jane yang masih baru di lingkungan ini terpaksa mengikutinya. Selain itu, dia juga harus mengenal tetangganya agar bisa meminta bantuan sewaktu-waktu.
Mereka terdiri dari tujuh orang, berjalan di depan Jane. Sepanjang perjalanan ketujuh wanita itu tak henti bercerita. Tentang apa pun yang bisa mereka ceritakan, seolah-olah dunia akan kiamat jika mereka berhenti bicara.
Sementara Jane hanya menanggapi dengan senyuman dan anggukan singkat. Jane tidak tahu harus bercerita tentang apa. Tidak mungkin dia mengatakan kalau dirinya berasal dari dunia lain, bukan?
Saat melewati distrik pertokoan, mereka berbelanja beberapa bahan makanan. Jane pun ikut memilih beberapa makanan yang dibutuhkannya.
“Apa masih jauh?” tanya Jane setelah mereka keluar dari pertokoan. Matahari sudah mulai tinggi. Entah berapa lama mereka berjalan.
“Sebentar lagi,” sahut wanita yang berjalan di samping Jane.
Setelah melewati satu belokan, pemandangan mulai berganti dengan pepohonan rindang. Mereka berjalan menembus pepohonan itu. Ternyata, ada hamparan rumput dan berbagai bunga indah di baliknya.
“Indah sekali,” ucap Jane.
Taman itu di kelilingi pepohonan tinggi. Ada danau kecil di tengahnya.
Mereka mencari tempat untuk duduk dan menikmati makanan yang dibawa. Setelah cukup, Jane memilih berkeliling taman. Yang lain pun berpencar mencari pemandangan yang diinginkan.
Tiba-tiba, seseorang berpakaian hitam berlari dari pepohonan sebelah kanan. Langkahnya tak seimbang, hingga akhirnya jatuh di dekat Jane.
“To … long … aku,” ucap orang itu. Perawakan dan suaranya menunjukkan kalau orang itu adalah laki-laki.
Jane dan yang lain langsung mendekat. Mereka mengerubungi orang asing itu dengan sedikit panik.
Jane melihat kaki lelaki itu berdarah. Dia lalu berjongkok dan menyingkap sedikit celana orang itu ke atas. Sebuah luka besar terbuka tampak masih baru.
Naluri Jane sebagai dokter langsung bertindak cepat. “Apakah tadi ada yang membeli madu dan cuka apel?” tanyanya.
Dua barang itu yang terlintas di benak Jane karena tahu tidak mungkin ada cairan alkohol atau plester luka di sini.
Nyonya Roderick membuka tasnya dna menyerahkan kedua barang itu pada Jane. Dengan cekatan jane menuangkan cuka apel untuk membersihkan luka.
“Tahan sedikit, ini sedikit sakit,” ucap Jane.
Lelaki yang menggunakan syal untuk menutupi sebagian wajahnya itu mengangguk. Dia sedikit mengerang saat cairan itu mengenai lukanya.
Kemudian Jane mengoleskan madu ke sekitar luka itu untuk mencegah bakteri masuk dan membunuh kuman sehingga luka tidak infeksi. Jane merobek sedikit baju bawahnya untuk membungkus luka itu.
“Tuan, nanti Anda harus membuka kain ini agar lukanya tidak lembap.” Jane menurunkan ujung celana lelaki itu perlahan.
“Terima kasih,” ujar lelaki itu lemah, “kalau boleh tahu … siapakah nama Anda, Nona?”
“Namaku Irish,” jawab Jane singkat.
Salah satu wanita memberikan minum yang langsung diterima lelaki itu. Saat syal itu terbuka, Jane langsung terkejut melihat wajah sang lelaki.
Henry?
Ya, wajah lelaki itu sangat mirip dengan Henry, kekasih Jane yang berselingkuh. Dia tidak menyangka kalau lelaki itu juga ada di dalam novel.
“Bukankah Anda Tuan Tristan dari kerajaan Stark?” kata salah satu wanita.
Tristan?
Jane ingat nama itu. Di dalam novel, Tristan adalah lelaki yang sangat mencintai Celia karena berhutang nyawa. Celia menyelamatkan Tristan saat lelaki itu terluka.
Deg!
Perasaan Jane tiba-tiba tak enak. Seharusnya Irish tidak bertemu Tristan. Sampai akhir cerita, mereka tidak pernah bertemu sekali pun.
“Bukankah itu Lady Celia?” tunjuk wanita di samping Jane ke arah yang tidak jauh dari mereka.
Jane menoleh, menatap Celia yang sedang berjalan bersama pelayannya. Apa seharusnya Celia yang menyelamatkan Tristan? Bagaimana ini? Apa cerita ini akan berubah?
***
Di sebuah ruangan putih, tubuh Jane asli terbaring dengan berbagai selang dan alat-alat di tubuhnya. Matanya tertutup. Di monitor menampilkan detak jantung yang stabil.
Sebuah buku bertuliskan “The Captain’s Love” tiba-tiba terbuka, huruf-huruf di dalamnya bergerak sendiri dan kalimat demi kalimatnya berganti. Cerita novel itu kini telah berubah dengan takdir baru yang belum tertulis sebelumnya.
***
Bersambung
Setelah kepergian Tuan Tobias, Irish langsung merebahkan tubuhnya pada ranjang kayu yang ada di sana. Bangunan itu hanya memiliki satu ruangan kecil dengan dua ranjang kayu yang saling berhadapan. Bukan tempat tinggal warga, tetapi lebih mirip gudang penyimpanan obat-obatan dan makanan.Leon memandang Irish yang tampak tak terganggu dengan keadaan di ruangan itu. Irish sama sekali tak mengeluh meski tubuhnya harus tidur di atas ranjang kayu yang keras, tanpa kasur empuk atau selimut tebal.“Kamu tidak tidur?” tanya Irish melihat pada Leon yang masih duduk di tempatnya semula.Tidak ada lampu, penerangan tempat itu hanya dari perapian yang kini menyala kecil. Meski begitu, perapian itu cukup memberi hangat di saat cuaca malam mulai terasa dingin.“Apa kamu merasa tak nyaman tidur di tempat seperti ini?” Irish yang sudah berbaring, kembali duduk di pinggir ranjang. Ia tak tahu seperti apa kehidupan Leon, tetapi sebagai tentara harusnya lelaki itu tidak masalah dengan kondisi tempat ini.
“Kamu pulang saja, aku akan sedikit lama di sini,” ucap Irish mengusir Leon begitu mereka tiba di depan kedai Julian. Kereta yang mereka tumpangi sudah berhenti. Kedua tangan Irish memegang kotak kayu dan bersiap untuk turun.“Sudah kukatakan kalau aku akan menemanimu, Irish.” Leon turun lebih dulu tanpa mempedulikan wajah Irish yang tampak keberatan.Dalam hatinya, Leon pun tak tahu mengapa dirinya bersikap seperti itu. Ingin berada dekat dengan Irish. Lebih tepatnya, ia ingin tahu apa yang akan dilakukan Irish dan Julian. Leon tak akan membiarkan Irish berduaan dengan Julian.Irish menghela napas kasar. Padahal dirinya hanya ingin berterima kasih pada Julian dan meminta bantuan pada lelaki itu. Irish ingin menggunakan hadiah dari Ratu untuk membeli obat-obatan dan memberikannya pada Tuan Tobias di perkampungan hutan.Dengan berat hati, Irish turun dari kereta dan berjalan menuju kedai. Leon mengikutinya dari belakang.Suasana kedai cukup ramai, Irish yang tak melihat Julian di lant
Ratu tersenyum melihat tingkah laku pasangan suami istri di hadapannya itu. Irish yang begitu antusias menerima tawaran Ratu, dan Leon yang tampak keberatan tetapi tak bisa berbuat apa-apa.“Bagaimana menurutmu, Kapten Leon? Apakah kamu setuju jika Lady Irish bekerja di markas? Tenang saja, Lady Irish akan mendapat bayaran yang layak atas pekerjaannya itu.” Ratu menatap Leon yang masih berwajah muram, seperti ada yang sedang dipikirkan oleh lelaki itu.Karena tak mendengar jawaban dari Leon, Irish menoleh ke arah samping, Leon pun langsung menatap sepasang mata istrinya itu. Irish mengerutkan dahi, tak mengerti maksud tatapan sang suami.Bukan hanya Irish, Ratu pun menunggu Leon membuka suara. Ingin mendengar apa yang menjadi keresahan lelaki itu. Bukankah jika Irish bekerja di markas maka Leon bisa memantaunya dari dekat?Tiba-tiba, sebuah pemikiran lain terlintas di benak Irish. Leon tidak ingin Irish bekerja di markas karena akan membuat Leon sulit untuk bertemu Celia. Gerak-gerik
Bab 51-“Sandiwaramu sungguh bagus, Leon,” cibir Irish menoleh pada Leon saat mereka telah meninggalkan ruangan itu. Dia sangat lega karena sang ayah tidak akan memaksanya untuk menikah dengan Tuan Harrington.“Sepertinya kamu salah paham, Irish. Aku tidak bersandiwara.” Leon meyejajarkan langkah Irish yang berjalan cepat di depannya.Sebelum keluar ruangan, Tuan Arlo menyuruh Irish dan Leon untuk menemui Ratu. Katanya, ada yang ingin Ratu sampaikan terkait kejadian semalam.Irish menoleh sekilas, mengerutkan dahi dan menatap Leon penuh selidik. “Jangan katakan kalau kamu benar-benar jatuh cinta padaku, Leon. Aku tidak mengharapkan itu. Kamu sudah memiliki kekasih, begitu juga denganku. Mari kita lanjutkan pernikahan formalitas ini dengan damai. Aku akan mencabut gugatan pembatalan pernikahan kita, dan sebagai imbalannya … jangan melarangku melakukan apa pun yang kuinginkan.”Setelah mengatakan itu, Irish melanjutkan langkahnya. Leon segera mengejar Irish. Saat sudah dekat, dia menari
Irish dan Leon terus melangkah menuju paviliun paling ujung. Langkah kaki mereka menelusuri koridor yang panjang di istana samping. Meski hari libur, tampak beberapa petugas yang berlalu lalang. Ada juga para kerabat kerajaan dari luar kota yang menginap di istana setelah pesta semalam.Begitu tiba di depan ruangan Kanselir Arlo, Irish langsung membuka pintu. Di dalam, kedua orang tua Irish sudah menunggu. Kanselir Arlo tampak tak senang saat tahu kalau Irish tak datang sendiri. Wajahnya yang dari tadi menahan kesal, tampak semakin masam.Irish langsung masuk dan menyapa kedua orang tuanya singkat. Leon yang mengikuti dari belakang, hanya mengangguk dan berdiri di samping Irish.“Kemasi barangmu sekarang. Siang ini kamu harus ikut kami pulang dan menyelesaikan pembatalan pernikahanmu,” ujar Kanselir Arlo dengan suara lantang. “Sudah cukup kamu mempermalukan keluarga kita, Irish. Setelah pembatalan selesai, kamu akan segera menikah dengan Tuan Harrington. Jangan membantah lagi!”Kata-ka
Matahari sudah bersinar cerah saat Irish membuka mata. Sebuah tangan yang melingkar di perutnya membuat Irish terkesiap. Dia menoleh perlahan ke samping. Wajah tampan Leon yang terlelap begitu dekat dengannya. Embusan napas teratur sang kapten menyapu lembut pucuk kepalanya.Mengingat apa yang terjadi semalam, kening Irish berkerut. Rasa pusing yang berdenyut di pelipisnya seketika menyadarkan Irish akan kebodohannya sendiri. Dia ingat rasa manis anggur ungu yang diberikan Tuan Harrington di balkon, ingatan samar tentang tatapan lapar pria paruh baya itu, lalu ... suara bentakan seseorang sebelum semuanya menggelap.Irish berusaha menggeser lengan kekar Leon yang mengunci pinggangnya, namun gerakan kecil itu justru membuat pelukan sang suami semakin mengerat. Leon melenguh pelan, lalu perlahan membuka kelopak matanya dan langsung menatap lurus pada Irish.“Sudah bangun?” seru Leon serak. Alih-alih melepaskan tangannya, Leon justru menarik tubuh Irish sedikit merapat.“Lepaskan, Leon,







