Share

7 - Sentuhan

Penulis: vrimerose
last update Tanggal publikasi: 2026-07-27 10:17:48

“Mau lagi?”

“Tidak. Jane mau datang ke sini. Aku tidak mau dia curiga, jadi aku harus segera merapikan semua ini.”

“Jane sungguh beruntung memilikimu.”

“Aku yang beruntung memiliki Jane. Dia adalah hidupku.”

“Hm. Tapi kamu selalu menghabiskan malam denganku, Henry.”

“Hanya untuk bersenang-senang. Lagi pula, kamu yang menawarkan tubuhmu, Eva.”

“Ya, aku tidak masalah hanya menjadi pelampiasan sesaatmu. Kita sama-sama menikmatinya. Tapi … bagaimana jika Jane tahu?”

“Pilihannya ada dua, aku akan membunuhmu atau aku yang mati. Jika kamu tidak memberitahu Jane, dia tidak akan tahu. Jane sangat polos dan selalu berpikir positif. Dia tidak akan curiga apa pun pada kita, Eva.”

“Kamu benar. Jane terlalu baik dan naif. Lagi pula, kita hanya punya waktu satu bulan sebelum kalian berdua menikah. Setelah itu kita tidak akan punya waktu untuk bertemu, benar ‘kan?”

“Tenang saja, Eva. Selama kamu tutup mulut dan Jane tidak tahu, kita masih bisa bertemu berdua.”

“Henry, kamu benar-benar lelaki idamanku. Sayang sekali aku hanya bisa merasakan tubuhmu, tanpa bisa memiliki hatimu. Andai saja aku lebih dulu mengenalmu, mungkin aku yang akan menjadi tunanganmu, bukan Jane.”

“Tidak. Bahkan jika ada sepuluh kali reinkarnasi pun, aku akan tetap mencintai Jane. Bukan yang lain.”

Tanpa dua orang itu ketahui, Jane yang sedang mereka bicarakan mendengar semuanya di balik pintu kamar apartemen. Gadis berambut sebahu itu diam mematung hingga akhirnya ….

Brak!

Kue yang dibuatnya untuk Henry, jatuh berantakan mengenai lantai. Jane langsung mengusap air matanya dan keluar dari apartemen sebelum dua orang di dalam kamar mengetahui keberadaannya.

“Kalian tega sekali,” lirih Jane setelah pintu lift tertutup dan membawanya ke lantai dasar.

Rencananya yang ingin memberi kejutan pada Henry di hari ulang tahun lelaki itu, hancur sudah. Henry memberi kejutan yang lebih besar yang tak pernah Jane duga.

Sampai di lobi, Jane segera menuju jalan utama. Dia tidak punya tujuan pasti, hanya mengikuti ke mana kakinya melangkah.

Saat akan menyeberang di belokan, tiba-tiba sebuah mobil muncul dengan sangat kencang. Jane yang tidak fokus, langsung terpental ke pinggir jalan.

Samar-samar, dia melihat seorang lelaki keluar dari mobil dan berjalan ke arahnya. Jane mengenali sosok itu. “E-Ed … ward,” bisiknya sebelum menutup mata dan hilang kesadaran.

***

Jane terbangun, dua malam ini dia terus memimpikan hal yang sama, kejadian sebelum dirinya kecelakaan dan terlempar ke dalam novel. Pertemuannya dengan Tristan di taman membuat Jane teringat dengan perselingkuhan yang dilakukan Henry hingga terbawa mimpi.

“Tristan benar-benar mirip Henry,” lirih Jane

Kemarin, setelah menolong lelaki itu, Jane memang langsung pergi. Namun, Jane bisa merasakan tatapan intens Tristan padanya. Sementaraitu, Celia hanya menyapa singkat dan melihat sekilas pada Tristan.

Hal itu semakin membuat Jane yakin kalau Tristan dan Celia tidak saling mengenal dan seharusnya yang menolong Tristan adalah Celia, seperti cerita asli.

“Apa novel ini akan berubah? Bagaimana cara agar aku kembali ke duniaku?” tanya Jane yang merasa semua ini tidak masuk akal.

Tiba-tiba, pipi Jane basah. Air mata jatuh begitu saja. Sakit hati karena diselingkuhi masih terasa perih, dan kini Jane harus terjebak dalam cerita novel yang membuatnya bingung.

Jane tidak tahu apakah di dunia nyata dirinya masih hidup atau tidak. Dia tidak tahu apakah bisa kembali atau akan berada di sini selamanya.

Setelah menghapus air matanya, Jane turun dari ranjang dan berjalan menuju ruang tamu. Dilihatnya jam yang berada di atas meja dekat perapian.

Jane mendesah menatap jam kuningan itu. Jam yang terdiri dari angka-angka dan hanya memiliki satu jarum, tidak ada jarum menit dan detik.  “Semuanya sangat asing dan kuno.”

Karena hampir pagi, Jane memilih untuk cuci muka dan memasak. Kemarin Jane bertanya beberapa resep masakan pada nyonya-nyonya yang mengajaknya ke taman.

Jane menyalakan tungku dan memasak air untuk minum dan mandi. Cuaca di sini sangat dingin sehingga harus mandi air hangat.

Jane mengambil gandum, kacang-kacangan dan sayuran untuk membuat pottage--sup kental atau bubur gandum. Jane memasukkan semua bahan ke dalam periuk.

Setelah air mendidih, Jane segera memasukkan air panas ke dalam bak, lalu menaruh periuk tadi ke atas tungku.

“Nyaman sekali …,” ucap Jane saat tubuhnya terendam air hangat. Tubuhnya terasa lebih ringan.

Jane sangat menikmati kegiatan mandinya. Namun, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Leon berdiri di ambang pintu.

“Ka-kamu … kenapa membuka pintu kamar mandi?” seru Jane. Dia lupa mengunci pintu saat akan mandi tadi.

“A-aku kira ada penyusup …,” sahut Leon pelan. Suaranya sedikit serak karena baru bangun tidur.

Akan tetapi, bukannya kembali menutup pintu dan pergi, Leon malah terpaku dan menatap Irish di dalam bak mandi. Leher jenjang, bahu dan dada yang tak tertutup air membuat Irish tampak menggoda di matanya.

Tatapan tak peduli yang biasa ditunjukkan Leon mendadak luntur. Sejak kemarin malam, harga dirinya terusik karena ucapan Irish yang meminta pembatalan pernikahan.

Semalam, Leon mendapat kabar tentang Irish yang menyelamatkan seorang lelaki di taman. Semakin membuatnya bingung dengan perubahan Irish.

Sialnya, efek alkohol dari mabuk semalam belum sepenuhnya hilang. Ego lelakinya yang terusik, rasa cemburu yang tak mau Leon akui dan hormon laki-laki di pagi hari membuat Leon bertindak di luar kendali.

“Ka-kamu mau apa? Pergi sana!” usir Jane saat Leon melangkah mendekat.

Jane ingin bangkit dan berdiri, tetapi sadar kalau dirinya tidak memakai pakaian sehelai pun. Membuat Jane tidak bisa berbuat apa-apa selain menyiramkan air ke arah Leon. Tentu saja hal itu sia-sia.

“Jangan mendekat!” Jane semakin panik.

Leon tidak menghiraukan seruan itu. Dia terus melangkah dan membuka baju lalu melemparkannya asal.

“Kita sudah menjadi suami istri, tidak masalah jika kita mandi bersama, bukan? Lagi pula kita sudah pernah melakukannya. Jangan bersikap seolah-olah ini baru pertama kali untukmu, Irish,” ucap Leon tersenyum kecil.

Saat sudah berada di samping bak, Leon mencondongkan tubuhnya dan berbisik di telinga Jane, “Bukankah ini yang kamu inginkan?”

Belum sempat Jane menyahut, Leon sudah menyatukan bibirnya pada bibir sang istri. Membuat Jane terkejut dan melebarkan matanya.

***

Bersambung

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Lord Leon, Aku Hanya Pemeran Pengganti   54 - Maaf

    Setelah kepergian Tuan Tobias, Irish langsung merebahkan tubuhnya pada ranjang kayu yang ada di sana. Bangunan itu hanya memiliki satu ruangan kecil dengan dua ranjang kayu yang saling berhadapan. Bukan tempat tinggal warga, tetapi lebih mirip gudang penyimpanan obat-obatan dan makanan.Leon memandang Irish yang tampak tak terganggu dengan keadaan di ruangan itu. Irish sama sekali tak mengeluh meski tubuhnya harus tidur di atas ranjang kayu yang keras, tanpa kasur empuk atau selimut tebal.“Kamu tidak tidur?” tanya Irish melihat pada Leon yang masih duduk di tempatnya semula.Tidak ada lampu, penerangan tempat itu hanya dari perapian yang kini menyala kecil. Meski begitu, perapian itu cukup memberi hangat di saat cuaca malam mulai terasa dingin.“Apa kamu merasa tak nyaman tidur di tempat seperti ini?” Irish yang sudah berbaring, kembali duduk di pinggir ranjang. Ia tak tahu seperti apa kehidupan Leon, tetapi sebagai tentara harusnya lelaki itu tidak masalah dengan kondisi tempat ini.

  • Lord Leon, Aku Hanya Pemeran Pengganti   53 - Menemanimu

    “Kamu pulang saja, aku akan sedikit lama di sini,” ucap Irish mengusir Leon begitu mereka tiba di depan kedai Julian. Kereta yang mereka tumpangi sudah berhenti. Kedua tangan Irish memegang kotak kayu dan bersiap untuk turun.“Sudah kukatakan kalau aku akan menemanimu, Irish.” Leon turun lebih dulu tanpa mempedulikan wajah Irish yang tampak keberatan.Dalam hatinya, Leon pun tak tahu mengapa dirinya bersikap seperti itu. Ingin berada dekat dengan Irish. Lebih tepatnya, ia ingin tahu apa yang akan dilakukan Irish dan Julian. Leon tak akan membiarkan Irish berduaan dengan Julian.Irish menghela napas kasar. Padahal dirinya hanya ingin berterima kasih pada Julian dan meminta bantuan pada lelaki itu. Irish ingin menggunakan hadiah dari Ratu untuk membeli obat-obatan dan memberikannya pada Tuan Tobias di perkampungan hutan.Dengan berat hati, Irish turun dari kereta dan berjalan menuju kedai. Leon mengikutinya dari belakang.Suasana kedai cukup ramai, Irish yang tak melihat Julian di lant

  • Lord Leon, Aku Hanya Pemeran Pengganti   52 - Bimbang

    Ratu tersenyum melihat tingkah laku pasangan suami istri di hadapannya itu. Irish yang begitu antusias menerima tawaran Ratu, dan Leon yang tampak keberatan tetapi tak bisa berbuat apa-apa.“Bagaimana menurutmu, Kapten Leon? Apakah kamu setuju jika Lady Irish bekerja di markas? Tenang saja, Lady Irish akan mendapat bayaran yang layak atas pekerjaannya itu.” Ratu menatap Leon yang masih berwajah muram, seperti ada yang sedang dipikirkan oleh lelaki itu.Karena tak mendengar jawaban dari Leon, Irish menoleh ke arah samping, Leon pun langsung menatap sepasang mata istrinya itu. Irish mengerutkan dahi, tak mengerti maksud tatapan sang suami.Bukan hanya Irish, Ratu pun menunggu Leon membuka suara. Ingin mendengar apa yang menjadi keresahan lelaki itu. Bukankah jika Irish bekerja di markas maka Leon bisa memantaunya dari dekat?Tiba-tiba, sebuah pemikiran lain terlintas di benak Irish. Leon tidak ingin Irish bekerja di markas karena akan membuat Leon sulit untuk bertemu Celia. Gerak-gerik

  • Lord Leon, Aku Hanya Pemeran Pengganti   51 - Hadiah

    Bab 51-“Sandiwaramu sungguh bagus, Leon,” cibir Irish menoleh pada Leon saat mereka telah meninggalkan ruangan itu. Dia sangat lega karena sang ayah tidak akan memaksanya untuk menikah dengan Tuan Harrington.“Sepertinya kamu salah paham, Irish. Aku tidak bersandiwara.” Leon meyejajarkan langkah Irish yang berjalan cepat di depannya.Sebelum keluar ruangan, Tuan Arlo menyuruh Irish dan Leon untuk menemui Ratu. Katanya, ada yang ingin Ratu sampaikan terkait kejadian semalam.Irish menoleh sekilas, mengerutkan dahi dan menatap Leon penuh selidik. “Jangan katakan kalau kamu benar-benar jatuh cinta padaku, Leon. Aku tidak mengharapkan itu. Kamu sudah memiliki kekasih, begitu juga denganku. Mari kita lanjutkan pernikahan formalitas ini dengan damai. Aku akan mencabut gugatan pembatalan pernikahan kita, dan sebagai imbalannya … jangan melarangku melakukan apa pun yang kuinginkan.”Setelah mengatakan itu, Irish melanjutkan langkahnya. Leon segera mengejar Irish. Saat sudah dekat, dia menari

  • Lord Leon, Aku Hanya Pemeran Pengganti   50 - Janji

    Irish dan Leon terus melangkah menuju paviliun paling ujung. Langkah kaki mereka menelusuri koridor yang panjang di istana samping. Meski hari libur, tampak beberapa petugas yang berlalu lalang. Ada juga para kerabat kerajaan dari luar kota yang menginap di istana setelah pesta semalam.Begitu tiba di depan ruangan Kanselir Arlo, Irish langsung membuka pintu. Di dalam, kedua orang tua Irish sudah menunggu. Kanselir Arlo tampak tak senang saat tahu kalau Irish tak datang sendiri. Wajahnya yang dari tadi menahan kesal, tampak semakin masam.Irish langsung masuk dan menyapa kedua orang tuanya singkat. Leon yang mengikuti dari belakang, hanya mengangguk dan berdiri di samping Irish.“Kemasi barangmu sekarang. Siang ini kamu harus ikut kami pulang dan menyelesaikan pembatalan pernikahanmu,” ujar Kanselir Arlo dengan suara lantang. “Sudah cukup kamu mempermalukan keluarga kita, Irish. Setelah pembatalan selesai, kamu akan segera menikah dengan Tuan Harrington. Jangan membantah lagi!”Kata-ka

  • Lord Leon, Aku Hanya Pemeran Pengganti   49 - Kepergok

    Matahari sudah bersinar cerah saat Irish membuka mata. Sebuah tangan yang melingkar di perutnya membuat Irish terkesiap. Dia menoleh perlahan ke samping. Wajah tampan Leon yang terlelap begitu dekat dengannya. Embusan napas teratur sang kapten menyapu lembut pucuk kepalanya.Mengingat apa yang terjadi semalam, kening Irish berkerut. Rasa pusing yang berdenyut di pelipisnya seketika menyadarkan Irish akan kebodohannya sendiri. Dia ingat rasa manis anggur ungu yang diberikan Tuan Harrington di balkon, ingatan samar tentang tatapan lapar pria paruh baya itu, lalu ... suara bentakan seseorang sebelum semuanya menggelap.Irish berusaha menggeser lengan kekar Leon yang mengunci pinggangnya, namun gerakan kecil itu justru membuat pelukan sang suami semakin mengerat. Leon melenguh pelan, lalu perlahan membuka kelopak matanya dan langsung menatap lurus pada Irish.“Sudah bangun?” seru Leon serak. Alih-alih melepaskan tangannya, Leon justru menarik tubuh Irish sedikit merapat.“Lepaskan, Leon,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status