LOGINElina mengalami kecelakaan kerja yang membuatnya tewas di tempat. Tapi tiba-tiba saja ia terbangun di dalam tubuh tokoh antagonis komik yang terakhir dibacanya! Ellisha De Faelwen. Tokoh yang nantinya akan mati di tangan suaminya sendiri. Elina bertekad untuk mengubah alur cerita tersebut. Tapi mengapa ia seperti tetap berada di jalan yang sama? Sebenarnya apa yang salah? Ikuti kisah perjalanan Elina bersama tokoh favoritnya, Duke Charless!
View MoreGelap.
Elina menggapai udara berulang kali. Tidak ada satu pun cahaya di sana. Ia menoleh ke segala arah sembari berjala tanpa arah.
"Tolong selamatkan tubuhku!"
Elina dengan cepat menoleh ke belakang. "Siapa di sana?!"
"Kamu ... kamu pasti bisa menyelamatkan tubuhku!"
"Siapa kamu? Aku tidak bisa melihat apa-apa!" teriak Elina.
"Jalan lurus ke depan, jangan menoleh ke belakang. Kamu akan menemukan cahaya untuk pulang."
Tiba-tiba saja di belakang Elina seperti terdengar suara hewan buas. Secepat mungkin ia berlari, lurus tanpa menoleh seperti yang dikatakan sosok tak kasat mata tersebut.
"Haaahhhh!!!"
Elina menarik napas dalam-dalam saat kedua matanya terbuka. Tubuhnya yang semula terbaring langsung dipaksa duduk.
"Nona sudah bangun!"
Elina menoleh ke arah suara tersebut. Ia sangat terkejut melihat banyak sekali orang berpakaian seperti pelayan. Ia mengerutkan dahinya begitu melihat ruangan yang begitu menyilaukan mata.
"I-ini ... di mana?"
Elina sontak menutup mulutnya saat ia mengucapkan bahasa asing. Padahal selama ini ia tidak pernah belajar bahasa tersebut.
"Apa ada bagian tubuh Nona yang sakit?"
Elina langsung melompat dari kasurnya saat seorang pelayan mencoba menyentuhnya. Ia melempar bantal ke arah orang-orang tersebut.
"Jangan berani mendekat!" seru Elina.
"Mika, lebih baik kita keluar saja. Seperti kata nyonya, dia sudah tidak waras."
Perlahan orang-orang yang ada di ruangan itu keluar. Elina langsung berkeliling ruangan mencari cermin. Seingatnya ia sudah mati saat kecelakaan lift. Tapi mengapa saat ini ia ada di tempat aneh ini.
Setibanya di depan cermin besar, Elina langsung mematung. Ia tidak melihat dirinya di cermin, hanya ada pantulan sosok yang begitu menawan. Namun wajahnya seperti tidak asing. Ia pernah melihat wajah ini di suatu tempat.
Brak!!
"Ellisha De Faelwen!"
Mata Elina langsung membulat saat mendengar nama itu disebut. Sebab nama itu milik karakter antagonis di novel favoritnya. Ia semakin terkejut saat melihat sosok wanita berpakaian mewah yang baru saja membanting pintu.
"Si-siapa Anda?" tanya Elina.
Wanita itu langsung melotot. "Setelah percobaan bunuh diri, sekarang kamu berpura-pura hilang ingatan hanya karena tidak mau menghadiri pesta di istana?"
Elina mengerutkan dahinya sembari mengerjap berulang kali. Apa ini mimpi karena terlalu sering membaca novel itu?
Elina menggeleng pelan. "Ti-tidak, saya benar-benar tidak mengenal Anda."
"Nyonya, kereta kuda sudah siap."
Ucapan penjaga gerbang utama itu langsung membuat wanita bernama Roseria semakin membulatkan matanya. Ia menunjuk ke arah Elina yang sangat ketakutan.
"Cepat rapikan anak ini!"
Elina semakin mundur saat beberapa pelayan yang dibawa Roseria mendekat. Secepat mungkin ia menyambar vas bunga yang ada di dekatnya, lalu melemparnya ke lantai agar tidak ada yang bisa mendekat.
Semua pelayan sontak mundur, kecuali Roseria. Ia justru semakin mendekat dengan wajah garangnya.
"Sudah cukup, Ellisha! Hari masih sangat pagi, tapi kamu memancing amarahku!"
Roseria mengambil tongkat kayu dari salah satu pelayannya. Lalu ia berjalan cepat ke arah Elina. Ia tersenyum miring sembari mengangkat tongkat tersebut.
"Sepertinya kamu belum bangun ya? Kalau begitu 10 pukulan pasti bisa membangunkanmu!"
~~~
"Tolong pelan-pelan," ujar Elina sembari menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Bukan sepuluh, tapi dua puluh cambukan karena Elina sempat melakukan perlawanan. Kini ia yakin kalau keberadaannya di tempat asing ini bukan mimpi.
"Nona, saya akan mengoleskan salep yang diberikan Yang Mulia Putri."
Elina sontak menoleh. Ia merampas salep dan memeriksa semua tulisan di tempat bulat tersebut. Ia mengenal jelas nama yang tertulis di sana. Nama yang selalu dipuja dan dibanggakan oleh pembaca karena kebaikan hati dan kecantikan parasnya.
Casia Von Ande Abraham.
Pemeran utama wanita sekaligus penyebab utama kematian Ellisha De Faelwen.
Kalau aku menghindari Putri Casia, Charless tidak mungkin membunuhku 'kan?
Elina merasa sangat takut saat Galiard datang membaca barang yang diminta oleh Charless. Tidak ada satu pun yang bicara. Apalagi saat Charless nampak sedang menempelkan besi di bara yang menyala."Maafkan saya, Nona. Tapi separuh perjalanan hidup, saya habiskan bersama pekerjaan ini," ujar Charless.Elina tidak menjawab. Matanya tidak bisa berpaling dari besi yang sebagiannya sudah berwarna merah."Baiklah. Saya akan mulai dengan pertanyaan yang mudah," ujar Zetrian sembari berjalan ke belakang Elina.Elina menelan ludahnya dengan kasar. Besi panas itu sudah digenggam oleh Charless. Hanya jawabannya yang bisa menentukan besi itu menempel di wajahnya atau tidak."Apa Nona tau rencana ayah Anda?" tanya Zetrian.Elina menggeleng pelan. Tatapannya bertemu dengan Charless. Zetrian mendeham beberapa kali, namun tidak ada pergerakan."Duke?" panggil Zetrian.Charless mengerjap, lalu menoleh ke arah Zetrian. "Ya?""Mengapa kau melamun? Dasar bodoh!"Zetrian langsung mengambil alih besi itu, n
Charless merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia mengusap wajah dengan kasar saat teringat ucapan Zetrian. Nampaknya pria itu benar-benar ingin membuat Ellisha membuka mulut terkait aktivitas ilegal yang dilakukan ayahnya."Bagaimana jika gadis itu tidak bicara, bahkan setelah besi panas menempel di wajahnya?"Charless mendesah gusar. Ia bergegas bangun dan mengenakan mantel hitam panjangnya. Begitu keluar kamar, ia langsung menemukan Ellisha tengah berdiri di balkon lantai dua.Entah mengapa Charless selalu merasa ada kesedihan yang menyelimuti gadis itu. Apalagi saat tengah berdiri sendirian di tengah malam seperti ini."Anda tidak tidur, Nona?" tanya Charless."Se-sebentar lagi."Kedua tangan Charless terkepal kuat. Bagaimana bisa gadis yang terlihat sangat rapuh itu terlibat dengan Torico. Salah satu kandidat yang dicurigai ingin melakukan pemberontakan.Charless berdiri di samping Ellisha yang hanya setinggi dadanya. Gadis itu nampak kedinginan karena tidak mengenakan mantel. Tanpa di
Elina meronta saat Zetrian secara langsung turun tangan merantai kedua tangannya. Padahal ia yakin selama ini tidak pernah melakukan kesalahan yang melibatkan kerajaan."Tunggu sebentar, Yang Mulia Pangeran!" seru Elina sembari membungkuk. Ia masih harus menjaga sopan santunnya."Kebohongan apa lagi yang ingin Anda sebarkan, Nona Faelwen?" tanya Zetrian, senyum miring terpasang di wajahnya.Kedua tangan Elina terkepal kuat. Jika tidak dirantai, mungkin saja ia sudah memukul wajah tampan pria tersebut."Saya tidak tahu alasan Yang Mulia menangkap saya.""Tidak perlu alasan untuk menyeret keluarga Faelwen, termasuk Anda, Nona!"Dahi Elina mengkerut. "Tapi saya tidak melakukan kesalahan apa pun!""Bawa dia keluar!" seru Zetrian.Tubuh Elina yang belum terisi makanan apa pun itu nyaris terbang saat pengawal menarik rantai yang ada di tangannya. Ia bisa merasakan nyeri hebat di sekitar pergelangan tangan. Namun memohon seperti apa pun tidak akan mendapat belas kasihan dari Zetrian yang sud
Gosip mengenai Ellisha De Faelwen menyebar luas. Ada yang mengatakan bahwa sang antagonis itu bertobat karena usianya tidak lama lagi. Ada pula yang mengatakan kalau Ellisha sang pembuat onar mengalami gegar otak saat jatuh ke sungai beberapa bulan lalu.Mau bertobat atau pun gegar otak, keduanya sama-sama menarik perhatian Pangeran Zetrian. Pria yang selama ini tutup mata soal Ellisha De Faelwen, mulai mengirim mata-mata untuk mengawasi wanita tersebut."Apakah kabar itu benar?" tanya Zetrian.Charless menghela napas pelan. "Masih belum dipastikan kebenarannya, Pangeran."Zetrian memijat keningnya. "Jangan sampai ada yang terlewat. Bisa saja ini direncanakan untuk menutupi kebusukan Count Faelwen.""Apa maksud Anda, Pangeran?"Zetrian menatap sahabat lamanya itu dengan wajah bingung. Ia tertawa pelan penuh paksaan. Sedetik kemudian raut wajahnya kembali serius."Jangan hanya karena perubahan kecil, kau sampai melupakan semua kejahatan gadis itu!" kata Zetrian dengan tegas.Charless m
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.