MasukBOOK 2 OF HIS BODYGUARD WIFE: LOVE ME, NEMESIS Isang misteryosang babae na may malademonyong mga mata ang sumulpot sa underground at naghasik ng takot at paghanga sa lahat pero sino nga ba siya? At sino ang lalaki na umangkin sa isip at puso niya gayo'ng alam niyang nakatadhana na saktan nila ang isa't isa?
Lihat lebih banyakMaya memutar tubuhnya di depan cermin ruang tamu untuk kesekian kalinya. Blazer krem yang membalut tubuhnya masih sama elegannya seperti saat pertama ia beli dua tahun lalu, meski sekarang terasa sedikit lebih longgar. Enam tahun, bisiknya dalam hati. Enam tahun, dan tubuhnya malah makin kurus, bukannya tambah berisi... seperti yang seharusnya.
"Wah, cantik sekali, Bu." Pak Karyo muncul dari arah dapur, membawa secangkir teh hangat. Asisten rumah tangga yang sudah mengabdi sejak mereka pertama menikah itu tersenyum tulus. "Kayak foto pengantin yang di sana itu." Ia menunjuk ke figura yang tergantung di dinding—foto pernikahan Maya dan Irwan. Maya tersenyum tipis. "Ah, Pak Karyo bisa aja." Ia menerima teh yang disodorkan, menyesapnya perlahan. Aroma melati yang familiar bikin tubuhnya agak rileks. "Yang, dasi aku miring nggak?" Irwan keluar dari kamar, masih berkutat dengan simpul dasinya. Maya letakkan cangkir tehnya, lalu hampiri suaminya. "Sini." Dengan lembut ia membenarkan dasi Irwan. Dari jarak sedekat ini, ia bisa mencium aroma aftershave yang familiar—masih sama seperti enam tahun lalu. "Sudah." "Maya..." Irwan menangkap tangannya yang hendak menjauh. "Kamu oke?" Matanya menatap cemas. Maya mengangguk, meski keraguan jelas di matanya. "Cuma... nervous. Biasa." "Bu Maya, Pak Irwan," Pak Karyo berdeham pelan. "Udah jam setengah tujuh." "Oh iya," Irwan melepaskan tangan Maya, mengambil kunci mobil dari meja. "Kita harus berangkat sekarang kalau nggak mau telat." Maya mengambil tas tangannya, mengeluarkan lipstik untuk sentuhan terakhir. "Pak Karyo, tolong jaga rumah ya. Kita pulangnya mungkin agak maleman." "Siap, Bu." Pak Karyo mengikuti mereka ke teras depan rumah. Langit Jakarta sudah gelap, tapi udara masih terasa hangat. "Selamat ulang tahun pernikahan. Semoga Allah selalu memberkahi." Di mobil, Maya mengeluarkan ponselnya, mengecek alamat restoran untuk terakhir kali. Mereka memilih tempat Indonesia yang cukup berkelas di Menteng—tidak semewah hotel bintang lima, tapi cukup untuk menjaga gengsi keluarga besar mereka. "Siap?" Irwan remas tangannya lembut sebelum nyalakan mesin. Maya tarik napas panjang, ngerasain jemarinya gemetar. Dia tau banget apa yang nunggu mereka malam ini—tatapan penuh tanya, bisikan yang nggak keucap, harapan yang belum terpenuhi. "Siap," jawabnya, lebih buat yakinkan diri sendiri. Dua puluh menit kemudian, mobil mereka berhenti di depan restoran. Bangunan kolonial yang direstorasi itu tampak hangat dengan pencahayaan taman yang lembut. Maya bisa melihat beberapa mobil familiar sudah terparkir—keluarga mereka sudah mulai berdatangan. Maya merasakan genggaman Irwan mengerat. Mereka berdua tahu apa yang menanti di balik pintu kayu berukir itu—dua keluarga besar dengan ekspektasi yang lebih besar lagi. Ruangan VIP itu dirancang mengikuti konsep pendopo modern—luas dan elegan dengan sentuhan Jawa yang halus. Dua meja bundar besar dengan lazy susan kristal mendominasi ruangan. Aroma rempah dan bunga melati bercampur di udara, menciptakan atmosfer mewah yang tetap akrab. Di meja pertama, keluarga Maya sudah berkumpul. Papanya lagi diskusi serius sama Om Hadi soal harga properti di BSD, sementara Mamanya dan Tante Mira bahas rencana umroh tahun depan. Sepupunya, Andi, sibuk dengan iPad-nya—paling lagi closing another deal, pikir Maya. Typical keluarganya—bisnis nggak pernah berhenti, bahkan di acara keluarga. Di meja satunya, keluarga Irwan mulai berdatangan. Mama mertuanya langsung hampiri Maya, peluk dia dengan kehangatan yang terasa sedikit beda dari biasanya. "Selamat ulang tahun pernikahan ya, Nak. Enam tahun... masya Allah, nggak kerasa ya?" Justru kerasa setiap detiknya, Maya membatin, bales pelukan mertuanya dengan senyum profesional yang biasa dia pake di meeting. Percakapan ngalir ke berbagai topik. Om Hadi dan Papa balik tenggelam dalam diskusi properti mereka. Di sisi lain meja, Tante Astrid lagi cerita dengan antusias soal gallery batik barunya di Kemang. Mama Irwan sesekali nimpal, tapi Maya bisa ngerasain tatapannya yang sesekali arah ke blazer krem yang bungkus tubuh rampingnya. "Oh iya, Dik Linda udah masuk bulan ketujuh ya, Bu?" Tante Astrid beralih ke Mama Irwan. "Anak kedua..." Maya merasakan jemarinya mencengkeram garpu lebih erat. Linda, adik Irwan, baru menikah dua tahun lalu. Tapi sudah hamil anak kedua, sementara dia.... "Alhamdulillah," Mama Irwan senyum bangga. "Semoga lancar kayak yang pertama." Matanya lirik sekilas ke arah Maya. "Sekarang tinggal..." "Eh, soto konro-nya enak ya," Irwan motong cepat, tangannya di bawah meja remas lembut jari Maya yang mulai gemetar. "Tante mau tambah?" "Eh, nanti dulu," Tante Astrid senyum, matanya beralih ke Maya. "Maya sendiri gimana? Udah coba program lagi?" Maya merasakan jemarinya semakin dingin dalam genggaman Irwan. Ia memaksakan senyum profesional yang biasa ia gunakan saat presentasi sulit di kantor. "Lagi fokus kerja dulu, Tante. Project baru..." "Aih, kerja melulu." Tante Mira dari seberang meja ikut nimbrung. "Lihat Linda tuh, baru dua tahun nikah udah anak kedua. Padahal dia juga kerja." Maya teguk air putihnya pelan, berusaha tenangkan diri. Blazer krem yang tadi terasa pas kini kayak mencekik lehernya. Dari sudut matanya, dia bisa lihat Mama Irwan yang mulai gelisah dengan arah pembicaraan ini. "Maya ini emang kebanyakan mikir," Papa coba cairkan suasana. "Semua mesti direncanain detail. Iya kan, Wan?" "Iya, Pak." Irwan ngangguk, tangannya masih genggam erat jemari Maya di bawah meja. "Tapi bagus kan? Lihat aja pemilihan menu malam ini, semua—" "Ah, menu mah gampang diatur," potong Om Hadi, "tapi ada hal-hal yang nggak bisa diatur pake Excel sheet. Iya kan, Maya?" Tawa kecil menyebar di meja. Maya tersenyum tipis, merasakan keringat dingin mulai mengalir di punggungnya. Enam tahun, dan komentar-komentar seperti ini masih bisa menusuknya sedalam hari pertama. "Bu Maya," pelayan datang di saat yang tepat, "hidangan utamanya udah siap. Rendang atau ayam bakar?" Maya hampir menghela napas lega dengan interupsi ini, tapi Tante Astrid rupanya belum selesai. "Nanti coba tanya Linda ya, Maya. Dia pake dokter bagus di Menteng. Katanya ada program khusus buat... yang agak susah." Kali ini, Maya merasakan tangan Irwan yang gemetar dalam genggamannya. "Rendang saja," Maya menjawab pelan, bersyukur bisa mengalihkan pandangannya dari tatapan penuh arti Tante Astrid. Hidangan utama disajikan dengan elegan di atas piring porselen putih. Maya menatap rendang di hadapannya, aroma rempah yang biasanya menggugah selera kini terasa mencekik. Dia bisa denger percakapan di sekitarnya mulai beralih ke topik lain—bisnis properti Om Hadi, rencana umroh Mama, gallery batik Tante Astrid—tapi telinganya masih berdenging dengan komentar soal Linda... "Maya," Om Hadi tiba-tiba manggil dia dari seberang meja, suaranya yang berat bikin beberapa kepala noleh. "Kalo mau cepet hamil, kuncinya tuh posisi sama durasi." "Om Hadi..." Maya usaha senyum, tapi jarinya yang gemetar hampir jatuhin garpu. "Irwan ini kebanyakan kerja sih," Om Hadi nyendok rendangnya santai, matanya lirik penuh arti. "Minimal mesti tiga jam sehari, posisi yang tepat. Biar gravitasi bantu." Dia kedip mata. "Kalo cuma lima menit sebelum tidur, ya mana bisa?" Bisikan tawa tertahan terdengar di sekitar meja. Maya merasakan wajahnya terbakar, teringat rutinitas malam mereka yang memang hanya berlangsung singkat—Irwan selalu terlalu lelah setelah lembur. "Dan jangan lupa, posisinya harus yang dalem," Om Hadi lanjut dengan nada sok tau, seolah-olah dia ahli fertilitas. "Kalo cuma missionary standar gitu, susah nembus. Harus yang..." Dia bikin gerakan pake tangannya yang bikin Mama Irwan kesedak tehnya. Maya menunduk, tangannya mencengkeram garpu semakin erat. Di sampingnya, ia bisa merasakan tubuh Irwan menegang, keringat mulai membasahi telapak tangannya yang menggenggam jemari Maya. Mereka berdua tahu persis semua yang disebutkan Om Hadi adalah kebalikan dari rutinitas intim mereka yang singkat dan mekanis. Irwan berdeham keras. "Om Hadi, soal properti di BSD tadi—" "Oh iya, Maya," Mama Irwan motong, suaranya melembut dengan cara yang bikin Maya pengen nangis. "Mama denger di Malaysia ada treatment baru. Temen Mama sukses setelah lima tahun nyoba. Mau Mama minta kontaknya?" Maya merasakan pandangan semua orang tertuju padanya. Blazer kremnya yang sudah terasa longgar kini seolah menyusut, mencengkeram tubuhnya seperti tangan-tangan yang menuntut jawaban. "Makasih, Ma." Maya denger suaranya sendiri jawab, tenang dan terkontrol kayak pas dia mimpin rapat direksi. "Nanti kita omongin." Mama Irwan mengangguk, tapi Maya bisa melihat kekecewaan samar di matanya. Enam tahun, dan mereka masih menunggu. Enam tahun, dan setiap pertemuan keluarga masih berakhir dengan tatapan yang sama. Sisa makan malam berlalu dalam gerakan-gerakan mekanis. Maya mengiris rendangnya menjadi potongan-potongan kecil yang nyaris tidak ia sentuh. Irwan di sampingnya berusaha keras menjaga percakapan tetap pada topik-topik aman—politik, bisnis, cuaca—apa saja selain bayi dan kehamilan. Ketika hidangan penutup disajikan—es teler premium dengan kelapa muda Australia—Maya sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Setiap suapan terasa seperti abu di mulutnya. "Udah jam sembilan," Irwan akhirnya umumkan, lirik jam tangannya. "Maya besok ada meeting pagi." "Ah, masih sibuk aja," Tante Mira senyum penuh arti. "Padahal harusnya—" "Iya, meeting sama client dari Singapore," potong Maya cepat, bangkit dari kursinya. Blazer kremnya yang longgar dia rapetin kayak armor. "Makasih semuanya. Maaf kita harus duluan." Pelukan dan ciuman perpisahan terasa seperti siksaan. Setiap pelukan disertai bisikan "Sabar ya", "Jangan stress", "Coba konsul ke..." yang Maya tanggapi dengan senyum profesionalnya. Di mobil, Maya melepas sepatunya dengan gerakan lelah. Irwan menyalakan mesin dalam diam, membiarkan AC mobil mengisi keheningan di antara mereka. "Yang..." Irwan akhirnya ngomong setelah mereka keluar dari area parkir. "Jangan sekarang," Maya potong pelan, matanya terpejam. "Please." Irwan mengangguk, tangannya menggenggam kemudi lebih erat. Enam tahun, dan mereka masih belum menemukan kata-kata yang tepat untuk saat-saat seperti ini.LAST CHAPTER|THIRD PERSON POV|"Future!" Sigaw ni Nathan at akmang yayakap kay Dawn pero mabilis na pumagitna sa harapan nila si Zior na nakakunot ang noo"Don't you dare to hug my Coolybab." Malamig na sabi nito kaya kumunot ang noo ni Nathan"Coolybab? Yuck! Ang baduy mo talaga." Kunwari ay nasusuka nitong sabi tsaka siya tinabig at tuluyang niyakap si DawnWell, it's been a year but Nathan love to pissed him off.And Zior hate it."What the hell!? You fucking asshole!" Sabay sabay na sigaw nila Fawn, North at Zior tsaka hinatak si Nathan palayo kay Dawn at pinagkukutusan ito.Zior hates it when other men approach Dawn especially when he knows that they have a feelings for her.Alam niya naman na nakamove on na si Nathan at gusto lang siyang inisin pero hindi niya pa rin maiwasan na hindi umayon sa gusto nito.Samantalang si North at Fawn naman ay likas ng ayaw talaga pahawakan sa ibang lalaki ang babae."Waaahhh! Help me Future!" Sigaw ni Nathan kaya napailing si Dawn tsaka umupo
CHAPTER 63:|THIRD PERSON POV|NAKAUPO si Zior sa harapan ng puntod ng kanyang ama at ina.Hindi ito ang unang beses na dinalaw niya ang mga ito.He's been going there once a month since a years ago matapos niyang malaman kung saan nakalibing ang mga ito.He's mad to Kris for killing his dad na hindi niya man lang nakilala. Pero ano pang magagawa niya? Patay na ito.Isa pa, he learned from his uncle storm that he and his brother Rain experienced the same thing from the mendoza's couple.Pinatay rin ng mga ito ang parent nila at ginamit sila.Hindi mapapatawad ni Zior si Kris kahit kailan pero ayaw niya na itong masyadong isipin pa dahil paniguradong bibigat lang ang pakiramdam niya.If you were asking kung nasaan ang katawan ni Kris ay wala na ito. Kahit patay na si Kris ay tinorture pa ito nila west bago pinagpasyahan na itapon sa malayong lugar kung saan unti-unti itong kakainin ng uwak West did that because they believed that kris do not deserve to die just like that. Naniniwala
CHAPTER 62:|THIRD PERSON POV|"Coolybab!" Nakangiting sinalubong ni Zior si Dawn na kabababa lang ng sasakyanKumunot ang noo nito."I miss you, Coolybab." Sabi niya tsaka ito niyakapNapailing nalang si Dawn ng maramdaman ang pagkabasa ng kanyang uniform.Kahapon lang sila hindi nag-kita ay miss agad siya nito? Sa bahay kasi ng lolo Luiz ito tumutuloy.Alam na rin ng lola at mga lolo ang tungkol sa relasyon nila at hindi naman tutol ang mga ito bagkus ay masaya pa para sa kanya.Hindi kasi ine-expect ng mga ito na ang kagaya niyang cold hearted ay maiinlove ng husto.She sighed.Bakit ba ito umiiyak?"Tsk! Huwag ka ngang umiyak Zior, hindi ka ba nahihiya sa mga nakakakita sayo? Isa pa, napag-usapan na natin 'to." Ani Dawn kaya kumalas ito mula sa pagkakayakap sa kanya"I-i'm sorry Coolyba—" Hindi na natapos pa ni Zior ang sasabihin ng halikan siya ni Dawn dahilan para mapapikit siyaSawa na ang tenga nito kakasabi niya ng sorry.Isa pa, ayaw ni Dawn na nakikitang umiiyak ang lalaki.
CHAPTER 61:|THIRD PERSON POV|NAKASUOT ng itim ang lahat habang nakatitig sa taong nasa loob ng kabaon.Isang linggo na ang lumipas matapos nilang malaman ang lahat.Matapos nilang malaman na si Yahiko ay si Zior at si SAITAN ay si Dawn. At ang isa pang Saitan ay si Sayron.Ngayon ay ibabaon na sa hukay ang kabaon ni Rain. Katabi ng puntod ni Zack."Simula noong una palang napakabait na niya. Noong mawala si Zack palagi siyang nandyan para iparamdam sa akin na hindi ako nag-iisa, p-pero ngayon w-wala na rin siya. W-wala na rin si R-rain." Naaawang niyakap ni West si Nanay Nelia ng umiyak itoNoong una ay si Zack ang nawala sa kanila ngayon naman ay si Rain."S-sorry po, wala akong nagawa para iligtas siya." Nakayukong ani WestSinisisi ang pagkamatay ni Rain sa kanyang sarili dahil hindi niya ito nailigtas."W-wala kang kasalanan iha, huwag mong sisihin ang sarili mo." Umiiling na sambit ni Nelia kaya malungkot siyang ngumiti"X-xana." Nilingon niya si Kath na umiiyak habang papalapi
CHAPTER 58:|THIRD PERSON POV|*BANG* *BANG* *BOOGHHSS* *BOOGHHSS* Wala kang ibang maririnig sa buong 7th floor kung hindi ang tunog ng bala ng baril at mga butong nababali.I-sama mo na rin ang hiyawan ng mga matatamaan ng bala, dagger at kamao ng mga kasama nila West.Napatay nila ang lahat ng kalaban
CHAPTER 53:|DAWN AZURE POV|"Di ba sila North 'yon, Coolybab?" Ani Zior kaya napatingin ako sa itinuturo niyaNapangiti nalang ako ng makita si north at Fawn na naghahabulan. Kahit kailan talaga ay isip bata ang dalawang 'yon."Coolybab, Gusto mo bang pumunta sa bahay mamayang uwian? Gusto ka ulit kasi
CHAPTER 52:|THIRD PERSON POV|"Bakit dito kami hinatid ng mga tauhan ni mom, lolo?" Tanong ni Fawn kay Luiz habang nasa sala sila"Namiss ko kasi kayo bigla kaya naman sinabi kong dito nalang muna kayo." Sagot ni Luiz kahit sa totoo lang ay may iba pang dahilan bukod roon.Alam niyang nakipag-laban sil
CHAPTER 50:|THIRD PERSON POV|NATUWA sila Steve sa nalaman na inrelationship na si Dawn at Zior. Masaya sila para sa dalawa especially para kay Dawn. Sana lang ay hindi na ito maging cold hearted.Pero syempre, may mga tao na hindi rin natutuwa sa nalaman. Isa na roon si Nathan at North. Isama mo na r




![Just One Night [Tagalog]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)

Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Ulasan-ulasan