Love Trap: The Billionaire's Regret

Love Trap: The Billionaire's Regret

last updateLast Updated : 2024-11-15
By:  Golden ButterflyCompleted
Language: English
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
176Chapters
19.8Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

[WARNING: MATURE CONTENT] BDSM. NO CHEATING! My wedding was a day I looked forward to the most throughout my teen. I couldn't contain my joy at the prospect of marrying the man who had been the object of my affection for such a long time—my future husband. But who would have thought I was merely a naive girl believing we shared similar emotions? My entire world came crashing down when my wedding night turned out to be the most horrifying night of my whole life. **** "Untie these cuffs!" I was in so much pain that I couldn't move, nor could I bear it any longer. "Why on earth would I do that? We aren't yet finished here." His tone was hostile. “What?” I was shocked beyond belief. He reached out and grabbed me by the restraint he had used to tie me up and pulled me closer to himself. Then he stroked my cheeks soothingly while staring me dead in the eyes. “Oh, honey. We have not yet had our first night!!"

View More

Chapter 1

CH.1

ANDRA

Hari ini aku resmi memiliki dua istri. Pernikahan kedua nekat kulakukan meski tahu apa konsekuensi ke depan.

Bagi Armila ini pasti berat, tapi seiring waktu ia akan terbiasa. Aku akan berusaha maksimal menjadikan kehidupan dua rumah tangga ini berjalan harmoni. Harapannya takkan ada yang tersakiti di kemudian hari.

Armila kuizinkan pulang ke rumah orang tuanya saat hari pernikahan ini. Nanti kujemput jika seminggu sudah kuhabiskan waktu bersama Resti.

"Mas."

Sapaan lembut Resti mereka membuyarkan lamunanku. Seketika kesadaran hadir bahwa aku tengah ada di antara banyak manusia.

*

Malam pertama kulewati bersama Resti. Begitu indah dan meledak-ledakan rasa. Hampir-hampir bayang kesedihan Armila hilang dari cerukan kepala.

Aku seperti kembali ke masa tiga tahun lalu. Ketika hari pertama mencicipi madu malam pengantin bersama Armila. Kini, lautan nikmat itu kureguk kembali bersama Resti.

"Mas," bisik Resti ketika fajar telah menyingsing.

Kemanjaan ini sangat kusukai. Kerling nakal dan senyum termanis membuatku seperti kesurupan semalam. Sampai tidur amat lelap hingga terlupa untuk membuka mata.

"Bobo lagi," balasku sambil merekatkan pelukan.

"Is, ayo bangun, katanya mau jalan-jalan."

Ya, ampun aku lupa sama sekali telah menjanjikan melewati pagi di kitaran villa ini. Baiklah, Sayang aku akan memberimu kebahagian sempurna.

Ayo jalan-jalan!

*

Hari ini aku menjemput Armila dan anak kami. Karena takut diinterogasi, aku cepat-cepat membawanya pergi. Meski heran, papa mertua tak bisa mencegah. Mungkin pikirnya aku sudah sangat rindu pada putrinya.

Sepanjang jalan kami jadi canggung. Bibir yang biasa merayunya mendadak kehilangan kemampuan bicara. Jangankan rayuan, sapaan pun tak keluar.

Armila lebih parah. Ia mengarahkan pandangan keluar jendela. Tak bergerak sama sekali sejak masuk mobil hingga keluar lagi.

Kesunyianlah yang menemani kami.

Tak apalah, mungkin belum terbiasa. Nanti pasti kembali seperti semula. Aku harus memberi Armila waktu untuk menata hati, menerima kondisi berbagi suami.

Sesampainya di rumah, Armila langsung membawa bayi kami masuk kamar. Aku mengikutinya hingga langkah kami sejajar.

Untuk mencairkan suasana, aku melingkarkan tangan di pinggang. Ingin bicara sebenarnya, tapi mulut ini tertahan.

Di kamar, Armila memberi ASI pada putra pertama kami. Ia ingin anaknya kembali tidur sebab memang belum lelap terlalu lama.

Aku sengaja merapatkan tubuh di sisinya sebagai cara lain mencairkan suasana. Ternyata Armila belum merespon. Ia hanya fokus pada putra kami.

Lepas menidurkan Affan, aku langsung merengkuh tubuh Armila. Aku bukan hanya ingin mencairkan suasana, tapi juga rindu padanya.

Meski ada Resti, perasaanku pada Armila tetap sama. Cinta dan selalu rindu. Hanya saja, kini berbeda. Kami tak bisa tiap hari bersama sebab ada istri lain yang harus kutemui juga.

"Aku kangen."

Seperti apapun aku merangkai kata, Armila tak merespon. Ia diam saja meski kuberi sentuhan liar.

"Kamu sakit?"

Armila diam

"Kalau begitu istirahat saja."

Armila tetap diam.

"Aku ambilkan minum, ya!"

Armila masih diam.

Akhirnya aku tak berkata lagi sebab bingung harus berkata dan bersikap apa.

"Sayang," bisikku lagi.

Wanitaku tetap diam.

*

Esoknya, Armila tetap diam. Ia menyediakan sarapan dan menemani makan tapi tanpa bicara satu kata pun.

Hingga siang dan sorenya Armila tetap tak bicara. Pun ketika malam kembali datang. Hanya tangis Affan yang masuk ke telinga ini.

Perubahan sikap Armila membuatku merasakan satu hal. Dunia ini menjadi sepi, sunyi.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
176 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status