Love in Chaos: Falling For My Billonaire Husband’s Brother

Love in Chaos: Falling For My Billonaire Husband’s Brother

last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-23
Oleh:  Kecey GreenOngoing
Bahasa: English
goodnovel16goodnovel
10
1 Peringkat. 1 Ulasan
85Bab
1.9KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Lily, a reserved girl finds herself bound by a contract to marry Thomas Weston, a ruthless heir of a billionaire empire. Her father, overwhelmed by a $400 million debt to a Geoffery Weston, a powerful billionaire, and Thomas’s father, enters a desperate agreement to use his daughter as collateral. Upon his death, she is thrust into an engagement with cold and merciless Thomas. She takes up a mission to save him while performing the contract which is the reason Geoffery Weston wants her to marry irredeemable Thomas. Complicating matters, Simon Weston, Thomas's half-brother, returns home after eight years away. He is her former love and carries his own vendetta against his father and stepmother. As he reenters their lives just in time for the engagement, old feelings resurface, and his desire for revenge complicates the situation. Thomas is determined to fulfill the contract and exert his will over her. He finds himself in a fierce battle not just with his half-brother, but with his own heart though cruel mother opposes the union. Lily is torn between her obligation to her father's debt and her rekindled love for Simon.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Chapter ONE: HOW OUR LOVE STARTED

"Aku butuh istri."

Suara itu tenang dan dalam, seolah pria itu baru saja meminta sebotol air mineral.

Marigold Vale—Meri—menyeka tangannya yang belepotan bubuk sihir ke celemek lusuh. Matanya menyipit, menatap sosok jangkung dan tampan di hadapannya. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena pesona, tapi karena kebingungan murni.

"Apa kau yakin... kau tidak salah alamat?" balas Meri, nada suaranya lebih tajam dari yang ia duga. "Ini toko sihir, Tuan. Bukan biro jodoh."

Pria itu, Adrian Montclair—namanya selalu muncul di berita gosip selebriti, dan Meri tidak akan salah mengenali rahang tegas serta tatapan dingin itu—mengabaikan sindiran Meri. "Aku tahu persis di mana aku berada," jawabnya kalem. "Dan aku tahu kau satu-satunya yang bisa membantuku."

Meri menyilangkan tangan di dada, mencoba tidak silau oleh kilatan jam tangan mewah di pergelangan Adrian, yang sepertinya bisa membayar sewa tokonya selama setahun penuh. "Kalau ini soal ramuan cinta, stokku tinggal satu botol," ia berkata datar, menyiratkan bahwa dia tidak punya waktu untuk lelucon murahan.

"Aku terkutuk," kata Adrian tanpa ekspresi, seolah membicarakan cuaca. "Dan satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah menikah dengan penyihir berdarah murni. Sebelum aku berusia 30."

Meri mengerjap. Sekali. Dua kali. Otaknya berputar, mencari punchline dari lelucon terburuk abad ini. Lalu tawa kecil keluar dari tenggorokannya, sumbang dan nyaris histeris. "Oke, kalau ini prank, kalian hampir berhasil."

"Ini bukan lelucon."

Adrian membuka dua kancing kemejanya, memperlihatkan dada kirinya. Napas Meri tercekat di tenggorokan, seolah semua udara tiba-tiba dihisap keluar dari paru-parunya. Udara di sekelilingnya mendadak terasa berat, pekat, seolah sihir kuno itu menyedot semua oksigen dari ruangan.

Simbol di dada Adrian terukir samar namun jelas, seolah digambar dengan bayangan paling gelap. Simbol itu… kuno, tua, dan tidak main-main. Sebuah sensasi dingin merayap di kulit Meri.

Ia pernah melihatnya di buku: informasi tentang kematian dan kutukan yang tak terpecahkan.

"Simbol itu cuma muncul kalau—" Meri berbisik, suaranya nyaris hilang, otaknya kalut.

"Kalau hidup seseorang di ambang maut," potong Adrian tenang, seolah sedang membicarakan resep pai. "Tepatnya, empat bulan dari sekarang. Di hari ulang tahunku yang ke-30."

Empat bulan. Ini bukan sekadar kutukan, ini adalah jadwal kematian yang sudah diatur.

"Kenapa aku?" tanyanya pelan, mencoba menstabilkan suaranya yang gemetar. Campuran rasa takut dan tidak percaya membanjiri dirinya.

"Karena kau penyihir berdarah murni, dan... kau cukup putus asa untuk mempertimbangkan tawaranku." Adrian menatap sekeliling toko yang retak di sana-sini, rak ramuan yang nyaris tumbang, dan lilin aromaterapi yang sebagian sudah meleleh dan terlihat menyedihkan.

 Kata-katanya menusuk, menghantam Meri tepat di ulu hati, tapi juga tepat sasaran. Dia tahu. Adrian tahu segalanya.

Meri mengangkat dagunya, menantang. "Tawaran apa?"

Adrian mengeluarkan surat kontrak dari tasnya, menaruhnya di atas meja. "Pernikahan kontrak. Tidak perlu cinta. Aku hanya butuh istri untuk mematahkan kutukan ini, dan kau butuh... toko yang tidak ambruk minggu depan."

Sebelum ia sempat membuka mulut untuk memprotes, Adrian sudah bicara lagi—tenang, padat, dan tanpa memberi ruang debat.

"Enam bulan. Aku akan membiayai penuh renovasi tokomu, menanggung operasional sampai tahun depan…" Ia mengeluarkan selembar cek dari dalam jasnya dan meletakkannya di meja. "…dan ini. Kosong. Tulis angka yang kau mau."

Tangan Meri terasa dingin saat menatap cek kosong yang tergeletak di meja. Angka nol yang bisa ia tulis di sana terasa ironis sekaligus menakutkan. "Kau bercanda," ucapnya, lebih kepada dirinya sendiri, bibirnya terasa kebas.

"Aku tidak pernah bercanda soal hidup dan mati." Adrian menyodorkan satu map tebal. "Ini kontraknya. Semua klausul legal sudah lengkap, tinggal tanda tangan."

Meri menyipitkan mata. Sebuah seringai tipis muncul di bibirnya meski jantungnya bergemuruh tak karuan. "Jadi… kau pikir aku bisa diyakinkan dengan cek kosong dan kertas hukum itu?"

Adrian menatapnya, datar tapi tajam, tatapannya seolah menembus setiap lapis pertahanan Meri, melihat jauh ke dalam kerentanannya. "Tidak. Tapi aku tahu kau sedang kehabisan pilihan."

Meri melirik cek kosong, kemudian ke seluruh sudut tokonya yang memprihatinkan. Jalan keluar dari mimpi buruknya, atau jebakan baru yang lebih besar? Pikirannya kalut.

"Cuma enam bulan," ulang Adrian, suaranya kini sedikit lebih lembut, penuh harap. "Kau hanya harus jadi istriku, mainkan peran itu. Setelah itu, bebas. Hidupmu kembali, tokomu selamat."

Meri menghela napas panjang, menimbang antara akal sehat dan rasa ingin tahu yang mematikan. Ini bisa jadi jebakan, namun bisa juga jalan keluar dari mimpi buruk finansial yang sedang dia jalani. Matanya beralih pada Adrian, mencari celah dalam tatapan dingin pria itu.

"Tapi aku punya satu syarat," kata Meri sambil menyunggingkan senyum licik.

"Apa itu?" Adrian mencondongkan tubuhnya sedikit, alisnya sedikit terangkat.

"Aku pilih gaun pengantinku sendiri. Dan aku mau pesta yang berkilau."

Adrian terdiam sejenak, lalu tawa pelan, kering, namun tulus keluar dari bibirnya. Meri menatapnya, terkejut. Itu tawa yang tak terduga dari pria kaku itu. "Setuju. Ambil gaunmu, tapi pernikahan kita sah di catatan sipil. Tanpa pesta."

Meri mengerutkan kening, berpikir sebentar, lalu—senyum liciknya kembali, sedikit lebih lebar. Dia punya ide.

"Deal.”

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Ulasan-ulasan

Jubilee Jack
Jubilee Jack
Interesting so far. Simon took her virginity and broke her heart and now she's engaged to his brother. I want to know what's going to happen when Simon eventually finds out. I'm still reading to see who Lily will choose in the end.
2025-04-13 06:46:10
0
0
85 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status