MasukAfter helping to free her sister from the chain of her abusive ex-husband, Zena left to find her path, and it has been 7 years since she moved to a new city, and everything was going great for her, she moved up in her job and she also has a stable relationship, Zena life was perfect but sometimes perfect can be boring, missing the thrill of an adventure, Zena embarked on an undercover mission to caught a dangerous criminal, but the universe had other plans for her as it leads her back to where she never thought she would end up in again. Back with Leonardo Conti.
Lihat lebih banyak“BUK!”
Suara tendangan keras bercampur dengan rasa nyeri yang menyakitkan di tulang rusuknya membuat pemuda berpakaian lusuh itu terbangun dari kegelapan yang pekat. Tubuhnya terhempas ke tanah yang keras, berdebu, dan bau tanah lembab bercampur darah. Bibirnya pecah, ada rasa besi yang pahit mengalir dari ujung lidah ke tenggorokan.
Jason Winata, begitu ia dipanggil di dunia sebelumnya tampak mengerjap. Pandangannya kabur, berbayang-bayang, namun perlahan mulai fokus. Di atasnya, tiga sosok berdiri. Mereka bukan berpakaian ala masa kini, melainkan mengenakan jubah panjang dan ikat pinggang khas zaman kuno, seolah baru keluar dari layar film kerajaan.
"Apa… ini lokasi syuting? Atau aku lagi ikut prank gila?" pikirnya, bingung. Tapi logika itu tak sempat bertahan lama.
Tendangan lain, lebih brutal, menghantam tulang rusuknya dari samping. “KRAK!” terdengar samar suara yang membuat perutnya serasa melilit. Rasa sakit menjalar, membuat tubuhnya gemetar.
“Sudah sadar rupanya kau, pecundang miskin!” seru salah satu pria dengan nada mengejek.
Jason mengangkat wajahnya, mata merah menatap kabur ke arah mereka. “Kalian siapa…?” suaranya serak, lemah tapi penuh kebingungan.
Pria bertubuh besar, jelas pemimpin dari gerombolan itu, menyeringai. “Jason… Jason… kau bahkan pura-pura tidak kenal kami?” suaranya berat, setiap kata diucapkan dengan nada penuh penghinaan.
Jason terperangah. ‘Mereka tahu namaku? Tapi kenapa aku begini? Kenapa aku pakaiannya compang-camping begini, seperti gelandangan di film sejarah? Di mana setelan mahal Armani-ku?’
Pria bertubuh besar itu tidak memberi kesempatan Jason berpikir. Sepatunya yang kasar dan penuh lumpur menginjak dada Jason, menekan keras hingga napasnya tercekat. Jason berusaha mendorong, tapi tenaganya habis.
“Aku kira kau sudah mati tadi. Nafasmu bahkan sudah berhenti! Tapi rupanya kau keras kepala. Sayang sekali, itu cuma menunda penderitaanmu,” desis pria besar itu dengan senyum bengis. “Sekarang… bayar hutangmu pada Tuan Besar Felix, atau aku akan patahkan tangan dan kakimu satu per satu!”
Jason meringis kesakitan, namun masih sempat membalas dengan nada geram, meski bingung. “Tuan Besar Felix? Aku tidak kenal kalian, juga tidak kenal dia! Kenapa kalian terus memukulku? Apa aku ada salah pesan makanan di klub? Atau… aku lupa bayar minuman di VIP lounge?!” Ia menatap pakaiannya sendiri dengan panik. “Apa ini? Mana jas Armani-ku? Mana jam tangan Patek Phillipe-ku?!”
Ketiga pria itu saling pandang, lalu tertawa terbahak-bahak. Suaranya bergema di udara malam yang dingin.
“Klub? VIP lounge? Dasar tolol!” salah satu dari mereka menepuk lutut sambil menahan tawa.
“Sepertinya kepalamu benar-benar sudah rusak. Kamu ini hanya pemuda miskin yang punya hutang besar pada Tuan Besar!”Jason tertegun. ‘Pemuda miskin? Aku?’ Jantungnya berdetak kencang, kepalanya pusing seperti dipenuhi kabut. Tapi ia masih sempat menggertakkan gigi.
“Itu tidak mungkin! Aku Jason Winata, dokter bedah terkenal di Kota Braxton! Aku punya rumah mewah, mobil sport, dan rekening yang tidak akan pernah kosong! Mana mungkin aku berhutang pada orang yang bahkan tidak aku kenal?!” teriaknya dengan suara parau.
Pria besar itu menatapnya dingin, lalu menunduk mendekat. Napasnya berbau arak murahan bercampur darah. “Dokter bedah kaya, katamu? Hmph, sudah gila rupanya kau. Ingat ini, Jason... di mata kami, kau bukan siapa-siapa. Kau hanya sampah miskin yang hidup dari belas kasihan. Mulai malam ini, hidupmu tidak lagi milikmu.”
PLAAAK!
Suara tamparan itu membelah udara, keras, hingga pipi Jason terasa panas berdenyut, seperti terbakar. Kepala Jason terpelanting ke samping, bibirnya pecah, darah hangat mengalir menuruni dagunya.
Jason terengah, nafasnya berat. Pipi kirinya berdenyut, telinganya berdenging akibat kerasnya tamparan itu. Tubuhnya remuk, tapi pikirannya jauh lebih kacau.
‘Apa-apaan ini?!’ Seingatnya, ia sedang berpesta di klub mewah Kota Braxton bersama teman-teman sesama pemuda kaya, ditemani botol anggur mahal dan gadis-gadis cantik yang tertawa genit di sekeliling mereka. Panggilan darurat operasi masuk di tengah pesta itu, membuatnya harus beranjak dengan mabuk setengah sadar… lalu setelah itu—gelap.
‘Terus sekarang? Kenapa aku ada di gubuk reyot penuh bau apek, dipukuli sampai babak belur oleh orang-orang berpakaian kuno?!’
Jason meludah, darah bercampur air liur menodai lantai tanah. “Kalian siapa? Apa Simon yang bayar kalian untuk menjebakku?!”
Pria bertubuh besar mendengus kasar. “Simon? Omong kosong apa itu? Jangan alihkan pembicaraan! Bayar hutangmu sekarang juga! Jangan banyak alasan, dasar miskin!”
Kakinya yang besar sudah terangkat, siap menghantam tulang rusuk Jason lagi.
Tepat pada saat itu....
“Ding!”
Jason terbelalak. Sebuah tampilan layar transparan berwarna biru pucat tiba-tiba muncul tepat di depan wajahnya, melayang di udara seperti hologram.
[Selamat, Tuan Jason. Anda mendapatkan Sistem Medis!]
Jason membeku. Matanya melebar. ‘Apa-apaan ini?’
“Tunggu!” teriak Jason tiba-tiba, kedua tangannya refleks terangkat, menghentikan langkah kaki sang pria besar.
Zena’s POVThe second the words left my mouth, every pair of eyes turned toward me.Even the wind seemed to stop.Beside me, Leonardo went completely still.“No.”The word came instantly.I looked up at him.His jaw was clenched so tightly I thought his teeth might crack.“I don’t need you to protect me. I am not your little princess, Leonardo.”“No.”His arm immediately tightened around me, pulling me against his side and keeping me there.Hugo laughed.“Interesting.”“Shut up, Hugo,” Leonardo growled without taking his eyes off me.I swallowed.“You haven’t seen me in years. A lot has changed. Don’t go playing hero.”“A lot has changed?” His voice rose. “Going with a psychopath who buys human beings?”“What I do is none of your business. I am not your business.”The words felt strange in my mouth because I wasn’t entirely sure they were true.Something flashed across Leonardo’s face.Anger.Not the cold, controlled kind he usually wore like a second skin.This was different. Raw. Da
Zena's POVMy eyes peeled open slowly, wincing against the light bleeding through the windows. Everything was moving. I was in a car.I tried to piece together what had happened, but my thoughts were slippery, fragmented. Leonardo. I had seen Leonardo again. That much I knew.I attempted to shift in my seat and immediately regretted it. A sharp pain exploded through my skull and drove me back against the headrest. I pressed my eyes shut, breathing through it.This is bad.When I tried to move again, I felt the resistance. My wrists were bound.Adrenaline hit me like cold water."What the hell is going on?" I snapped, jerking upright despite the pain. "Where are you taking me?"One of the two figures in the front seat turned around. Leonardo.A traitorous flicker of relief moved through my chest before I shut it down. Relief was the last thing I should be feeling right now. I had a mission. A carefully constructed, months-in-the-making mission, and he was unravelling it thread by thread
Zena's POVI froze in shock as the strange man in a mask said my name. I was confused. No one here knew my real name, so how was this even possible? As a cop on an undercover mission, I knew this was bad for me, having someone who knew my real name."Who the hell are you?" I screamed as I forcefully freed myself from his grip.The man in the mask did not say a word. He just kept looking at me with those compelling eyes of his as he moved closer."Don't come close," I yelled, picking up a stick from a broken table and threatening to hit him."Zena," the man said again, his familiar voice laced with confusion and surprise."How do you know my name? No one knows my name here," I asked, trying my best not to show fear.A smile crept across the stranger's face as he stepped back and removed the mask. My heart stopped when I saw who was staring at me."Leonardo Conti?""Oh Zena, you are still the spitfire I remember," he said, and I was beyond confused."How... why?" I mumbled, unable to for
Leo’s POV“Do I hear twenty for this ravishing beauty?” the auctioneer called.Silence followed.“Ten thousand, going once… going twice…”That was my bid.The gavel hovered, seconds from sealing my win, when a voice cut through the room.“Twenty thousand.”I turned sharply. Hugo.The smug bastard leaned back in his chair like this was a game.“Do I hear twenty-five?” the auctioneer asked, excitement rising.Heat crawled up my neck. I didn’t know why Hugo was interfering, but I wasn’t about to lose.“Forty thousand,” I said.The crowd murmured.“Do I hear fifty?”“One hundred thousand,” Hugo replied lazily.My jaw tightened. He was doing this on purpose.“Three hundred thousand,” I snapped before the auctioneer could even breathe.Hugo smirked at me.“Four hundred thousand for that lovely lady.”“Five hundred thousand.”I barely heard myself anymore. All I could think about was the woman in the blue mask. Something about her had pulled my attention the moment she stepped onto the stage.












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.