MasukDi tengah histeria Alesha, Rayhan sadar bahwa ini bukan lagi soal emosi; ini adalah krisis medis. Stres yang berlebihan bisa memicu kontraksi atau pendarahan.Rayhan segera menghubungi dokter Dian. "Dok, ke apartemen Alesha sekarang! Stat! Dia mengalami emotional distress berat, dia tahu tentang SIP. Bawa sedatif ringan dan peralatan darurat!"Rayhan menggendong Alesha, memindahkannya kembali ke tempat tidur dengan sangat hati-hati. Ia memeluknya, tubuhnya gemetar karena takut."Aku melindungi kariernya, dan dia menghancurkan karierku. Aku melindungi rahasianya, dan dia menghancurkan rahasia itu. Dan sekarang, aku bisa kehilangan anakku," pikir Rayhan, merasakan keputusasaan total. Ia harus mengalihkan fokus dari kekalahan profesionalnya menuju keselamatan keluarganya.Sambil menunggu dokter Dian tiba, Rayhan kembali ke perannya sebagai dokter dan kekasih. Ia mengelus perut Alesha, bernapas bersamanya, membisikkan kata-kata penenang."Tenang, Sayang. Dengarkan aku. Tarik napas
Ia membuka tas kerja Rayhan—kuncinya memang tidak terlalu aman. Di dalamnya, ada beberapa berkas hukum dan sebuah amplop tebal berwarna cokelat, berstempel resmi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan lambang Garuda yang sangat formal.Alesha menarik napas dalam, membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Ia membaca cepat. Awalnya, ia melihat Surat Panggilan Sidang Etik. Itu sudah ia duga. Tetapi kemudian, ia melihat dokumen kedua, yang lebih singkat, lebih formal, dan sangat menghancurkan: Surat Pemberitahuan Pembekuan Sementara Surat Izin Praktek (SIP).Alesha merasakan dunia di sekitarnya runtuh, seolah-olah fondasi tempat ia berdiri tiba-tiba lenyap.Pencabutan SIP. Itu berarti Rayhan tidak bisa lagi menjadi dokter, bahkan jika ia memenangkan sidang etik nanti, ada kemungkinan besar Papa Arif telah merusak reputasinya selamanya di mata dewan. Tidak di Medika Utama, tidak di klinik swasta, tidak di mana pun. Kariernya tidak hanya hilang; kariernya dimatikan secara hukum, diakhiri
Alesha memejamkan mata. Ia tahu Rayhan menyembunyikan sesuatu. Ia hanya berharap, rahasia itu tidak akan menghancurkan Rayhan lebih dari yang sudah ia hancurkan. Ia memegang cincin pertunangan baru di jarinya, itu adalah satu-satunya jaminan masa depannya.Rayhan menarik nafas panjang. Karier lamanya sudah mati. Kini, yang ia miliki adalah masa depan yang harus ia beli dengan perjuangan dan uang. Ia harus fokus pada satu hal: memenangkan sidang IDI agar ia tetap bisa merawat Alesha dan anak mereka sebagai seorang dokter, tidak hanya sebagai seorang suami.Tujuh hari. Pelarian dan perang yang harus dimenangkan.***Setelah konfrontasi terbuka dengan Papa Arif dan ancaman pencabutan gelar dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Rayhan dan Laura sepakat: Alesha tidak boleh lagi berada di Medika Utama. Lingkungan rumah sakit kini bukan lagi tempat penyembuhan, melainkan pusat konspirasi. Arif bisa menggunakan kekuasaannya untuk memblokir akses atau bahkan memindahkan Alesha secara
Laura, yang kembali ke kamar suite pada sore hari, merasakan aura ketegangan baru dari Rayhan. Naluri keibuannya mengatakan ada yang tidak beres. Ia melihat Rayhan terlalu sering memeriksa ponsel dan menyembunyikan sesuatu di balik senyumnya yang sedikit dipaksakan."Rayhan," kata Laura pelan, setelah Alesha tertidur lagi dengan napas teratur. "Apa yang terjadi? Aku tahu ada sesuatu. Berhentilah mencoba melindungi putriku, aku adalah Mamanya Alesha. Jika ini tentang Arif, aku harus tahu. Wajahmu terlihat seperti kamu sedang merencanakan perang dunia."Rayhan menarik napas panjang. Ia memutuskan untuk hanya mengatakan sebagian kebenaran kepada Laura, sekutu yang berharga yang harus ia jaga agar tetap fokus pada pernikahan."Arif tidak berhenti setelah pengunduran diriku, Laura. Dia melanjutkannya ke tingkat yang lebih tinggi. Dia telah melancarkan serangan melalui IDI. Dia mencoba mencabut hak praktik ku seumur hidup. Ini adalah serangan pribadi, bukan profesional. Dia ingin menghan
Rayhan membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, terdapat dua dokumen:Pertama, Surat Panggilan Sidang Etik Komite Disiplin IDI. Rayhan dipanggil untuk menghadiri sidang disiplin dalam waktu 7 hari ke depan atas dasar aduan pelanggaran berat Sumpah Hippocrates, termasuk hubungan terlarang dengan pasien/di bawah umur (merujuk pada Alesha), penyalahgunaan obat terlarang (tuduhan palsu Livia), dan—yang paling menghancurkan—pemaksaan pengguguran kandungan (tuduhan yang Livia sebarkan).Kedua, Surat Pemberitahuan Peninjauan Surat Izin Praktek (SIP). Surat ini menyatakan bahwa, sehubungan dengan seriusnya aduan tersebut, Surat Izin Praktek (SIP) Rayhan untuk sementara dibekukan sambil menunggu hasil sidang.Pikiran Rayhan kosong. SIP-nya dibekukan. Dia tidak bisa lagi melakukan pemeriksaan, menulis resep, atau bahkan menyentuh peralatan medis. Dia adalah ahli bedah ortopedi terkemuka, dokter terbaik di generasinya, dan dalam hitungan detik, ia berubah menjadi orang biasa, di
Laura, yang terdiam di ruangan itu, kini melihat ikatan itu begitu kuat sehingga tidak ada yang bisa memisahkannya. Ia menghela napas panjang, sebuah beban berat terangkat dari pundaknya."Baiklah," kata Laura, suaranya lelah namun tegas. "Aku akan menghubungi pengacara. Kita harus segera mencari tempat yang aman bagi kalian berdua. Kita akan percepat pernikahan itu. Alesha, Papamu tidak akan berhenti. Kamu harus keluar dari rumah sakit ini dan menikah sebelum ia memblokir paspormu atau mengambil tindakan hukum lain."Alesha mengangguk, masih terisak di pelukan Rayhan. "Ya, Ma. Tolong bantu kami. Aku tidak ingin dia mengambil anakku."Rayhan menatap Laura, memberikan pandangan mata yang penuh rasa terima kasih. Ia telah kehilangan kariernya, tetapi ia telah mendapatkan dukungan dari Mama Alesha dan, yang terpenting, ia telah mendapatkan kekuatan sejati dari Alesha. Pengunduran dirinya memang adalah pengorbanan terbesar. Tetapi pemberontakan Alesha hari ini membuktikan bahwa pengo







