공유

BAB 8

작가: Svara Laksmi
last update 게시일: 2026-03-17 19:38:05

Mila masih memejamkan matanya ketika wajah Riven semakin mendekat. Perlahan, Riven menghirup napasnya dalam. Mencoba mencium aroma napas Mila.

Alkohol.

Riven pun perlahan kembali menjauhkan wajahnya. Seketika raut wajahnya berubah. Penilaiannya benar. Pria itu lalu menghembuskan napas panjang.

“Mil,” panggilnya.

Tentu saja Mila tidak bergeming. Suara napasnya semakin dalam. Bahu gadis itu semakin turun perlahan seolah semua tenaga yang sejak tadi dipaksa bertahan akhirnya menyerah juga.

“Mil.”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Luka Mila   BAB 8

    Mila masih memejamkan matanya ketika wajah Riven semakin mendekat. Perlahan, Riven menghirup napasnya dalam. Mencoba mencium aroma napas Mila.Alkohol.Riven pun perlahan kembali menjauhkan wajahnya. Seketika raut wajahnya berubah. Penilaiannya benar. Pria itu lalu menghembuskan napas panjang.“Mil,” panggilnya.Tentu saja Mila tidak bergeming. Suara napasnya semakin dalam. Bahu gadis itu semakin turun perlahan seolah semua tenaga yang sejak tadi dipaksa bertahan akhirnya menyerah juga.“Mil.”Kali ini tubuh Mila bergerak sedikit. Kepalanya bergeser dari sandaran sofa dan nyaris terkulai ke samping. Sebelum benar-benar kehilangan keseimbangan, tangan Riven sudah lebih dulu terangkat menahan bahunya.Hangat. Ringan. Dan terasa rapuh.Untuk sepersekian detik, Riven menyadari betapa mudahnya tubuh itu ia kendalikan. Refleks genggaman tangannya berubah menjadi lebih hati-hati.Mila mengerang pelan, matanya masih tertutup. Riven tidak langsung melepaskan bahunya. Baru setelah beberapa deti

  • Luka Mila   BAB 7

    Waktu terasa berjalan sangat lambat. Berkali-kali Mila melirik jam di pergelangan tangannya. Gelombang suara, tawa keras, dentingan gelas, dan musik karaoke yang non stop membuat kepala Mila sedikit berat. Beberapa kali dirinya kembali terpaksa menyesap minuman yang disodorkan pria itu.Ketika sesi akhirnya selesai dan Toni muncul di pintu memberi tanda waktu habis, Mila menarik napas dalam-dalam. Pak Hendra bergumam meminta extend yang dijawab dengan gelengan kepala Toni dan usapan tangan di punggung Pak Hendra. Toni selalu punya cara menolak dengan halus namun tegas.Pak Hendra sempat menoleh ke belakang ketika beranjak keluar ruangan. “Milaaa.. nanti ya aku ke sini lagi.”“Iya, Pak,” lambai Mila sambil melempar senyum terbaiknya. “Awas jatuh..”Pak Hendra lalu merangkul kedua temannya sambil masih bersenda gurau. Langkahnya sesekali tersandung pelan lalu mereka tertawa cekikikan.Begitu pintu tertutup di belakangnya, Mila menghembuskan napas panjang dan kembali duduk di sofa. Memin

  • Luka Mila   BAB 6

    Terlalu sering Mila menghadapi berbagai kelakuan gombal termanis sejagat raya sehingga apapun yang Mila rasakan pada malam itu, menguap keesokan harinya. Pagi itu Mila bangun seperti biasa. Menguap, menggeliat, menatap langit-langit kamar kost-annya lalu mengambil ponsel dari meja samping tempat tidurnya.Matanya masih belum sepenuhnya terbuka ketika jarinya membuka deretan pesan masuk. Dari Toni, Andin, dan sederet nomor tak dikenal. Mila menghela napas berat ketika membaca pesan singkat dari Toni.Malam ini lo di-request Pak Hendra. Pak Hendra adalah tamunya yang suka mabuk. Setiap kali sesi Pak Hendra, pria itu selalu mabuk. Belum lagi teman-temannya yang berisik dan banyak tingkah. Belum apa-apa Mila sudah merasa malas untuk pergi kerja.Tapi dirinya tidak punya pilihan lain. Jadi sore itu Mila sudah tiba di tempat kerjanya lebih awal meskipun dengan setengah hati. Rambutnya belum sepenuhnya rapi sehingga Mila memutuskan untuk mengerjakannya di ruang locker.Andin sedang membantu

  • Luka Mila   BAB 5

    Bukan Mila namanya kalau ada tantanganngga dia tantangin. Ketika mobil Riven belok ke jalanan sepimenjauh dari ibukota, Mila mulai menyesali tawarannya untuk extend pada priaitu. Mila melirik. Riven memegang stir mobil dengan kedua tangannya. Matanyafokus menatap jalanan menanjak di depannya yang gelap dan sepi.Lampu jalan yang remang-remang munculsesekali. Di sisi kanan dan kiri yang mereka lewati bergantian tampak semaktinggi, rumah dengan lampu redup di terasnya, hamparan rumput kosong, danderetan tanaman yang sepertinya dijual kalau siang hari.“Ada berapa banyak organ gue yang bakal lo jual kalau ternyata lo pembunuh?”tanya Mila tiba-tiba.Riven tidak langsung menoleh.“Minimal dua,” jawabnya tenang. “Ginjal lo masih lengkap kan?”Mila mendengus. “Gue serius.”“Gue juga.”Mila menatapnya beberapa detik sebelum menggeleng kecil.“Ini jauh amat buat sekadar ‘spot’.”“Ngga jauh, Mil,” kata Riven. “Lima menit lagi.”“Lima menit lagi dari tadi lima menit,” gumam Mila mulai k

  • Luka Mila   BAB 4

    Pagi itu, Mila meneguk isi bungkusan yang diberikan Andin sebelum tugasextendnya berakhir di hadapan cermin kamar mandi di apartemen Noval.Setelah Noval mengantar Mila kembali ke tempat kerjanya, Mila melakukanabsen di aplikasinya, absen jari di ruangan locker, lalu memesan ojek onlineuntuk pulang.Jeki sedang menyapu di depan warteg ketika melihat Mila turun dari motor.Mengembalikan helm dan menoleh pada Jeki.“Baru pulang, lo?” sapanya. Menatap lekat pada wajah Mila yang sedikitpucat, make upnya yang sudah luntur, dan rambutnya yang sedikit berantakan.Mila hanya mengangguk kecil lalu menunjuk pojokan dekat pintu warteg, “Nohbelum kesapu."Jeki hanya menoleh ke arah yang Mila tunjuk lalu kembali memusatkantatapannya pada Mila, “dari mane lo?”“Lo ngga liat gue cape, Jek,” balas Mila sedikit ketus, tapi dia duduk dikursi panjang warteg. Membiarkan Jeki menaruh sapunya lalu duduk di hadapannya.“Si Tiara bilang, chatnya ngga lo bales,” kata Jeki laporan.Mila menoleh pada pon

  • Luka Mila   BAB 3

    Semakin hari, Mila semakin menerima banyak tugas. Yang tadinya semingguhanya perlu 2 atau 3 kali kerja, sekarang hampir 5 hari Mila menerimanotifikasi di ponselnya. Kadang dalam sehari, dia setuju untuk menerima lebihdari 1 slot.“Tip lo pasti lumayan ya?” komentar Andin, teman kerjanya yang seringbareng.Ruangan locker terasa dingin. Mereka sudah memakai seragam, Andin sedangmembereskan barang-barang di lockernya.Mila mengerutkan kening, “Tip?”Andin menunjukkan ponselnya, “Lo liat menu ini, ini tip lo.”Mila mengambil ponsel dari tas kecilnya di locker, mengecek, lalu matanyaterbelakak.“Buset,” gumam Mila tipis.Andin terkekeh lalu mengunci lockernya. Mereka pun saling melambai ketikaToni datang dan memisahkan mereka pada ruangan yang berbeda. Mila menarik napasdalam-dalam sebelum melangkah masuk ke ruangan di depannya. Hanya 4 jam, batinMila.“Silakan, Pak Noval,” sapa Toni sambil memberi gesture pada Mila dan rekanseruangannya untuk masuk.4 jam kali ini, Mila merasa s

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status