로그인Waktu terasa berjalan sangat lambat. Berkali-kali Mila melirik jam di pergelangan tangannya. Gelombang suara, tawa keras, dentingan gelas, dan musik karaoke yang non stop membuat kepala Mila sedikit berat. Beberapa kali dirinya kembali terpaksa menyesap minuman yang disodorkan pria itu.
Ketika sesi akhirnya selesai dan Toni muncul di pintu memberi tanda waktu habis, Mila menarik napas dalam-dalam. Pak Hendra bergumam meminta extend yang dijawab dengan gelengan kepala Toni dan usapan tangan di punggung Pak Hendra. Toni selalu punya cara menolak dengan halus namun tegas.
Pak Hendra sempat menoleh ke belakang ketika beranjak keluar ruangan. “Milaaa.. nanti ya aku ke sini lagi.”
“Iya, Pak,” lambai Mila sambil melempar senyum terbaiknya. “Awas jatuh..”
Pak Hendra lalu merangkul kedua temannya sambil masih bersenda gurau. Langkahnya sesekali tersandung pelan lalu mereka tertawa cekikikan.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, Mila menghembuskan napas panjang dan kembali duduk di sofa. Meminta waktu untuk menenangkan diri.
Toni menatapnya sekilas. “Aman Mil?”
Mila mengangguk, meskipun kepalanya terasa sedikit goyang. Toni melihat kertas jadwal di tangannya. Ia membolak balikkan halaman dan menelusuri daftar yang berderet.
“Mil, lo ada request lagi.”
Mila mengerutkan kening. “Sekarang?”
Toni mengangguk dan membalas tatapan Mila. “Sanggup?”
Pria itu kembali mengecek. “Kalau engga, gue bisa oper. Yang ini last minute soalnya..”
Mila berdiri dan mendekat ke cermin yang ada di ruangan lalu merapikan rambutnya sebentar dengan tangan.
“Gas lah, nanggung juga.”
Toni pun mengangguk dan menyodorkan parfum yang sudah disiapkannya lalu kembali menunggu Mila. Kemudian mengantarnya berjalan ke arah ruangan lain. Pintu itu sudah setengah terbuka.
Toni mendorongnya pelan.
Langkah Mila terhenti ketika mendengar Toni menyapa tamunya. Pria yang sedang duduk di sofa itu mendongak ketika pintu terbuka lebih lebar. Menatap Mila yang juga menatapnya.
Riven.
Seorang diri.
Pria itu lalu beranjak berdiri ketika Mila melangkah masuk. Suara Toni mendadak terdengar jauh di telinga Mila. Dia berusaha mengukir senyumnya sesantai mungkin meskipun debar jantungnya mendadak menjadi cepat.
“Silakan,” pamit Toni seraya menurunkan cahaya lampu lalu menutup pintu dan ruangan itu kembali sepi.
Mila masih berdiri, menunggu pria itu menentukan posisi duduknya.
“Lo mau duduk di mana?” tanya Riven.
Mila menatapnya genit, berpikir sebelum menjawab, “di sebelah lo?”
Riven mengangguk lalu menunjuk sisi sofa di sebelahnya.
Mila berjalan mendekat. Melangkah hati-hati ketika mendadak keseimbangannya sedikit hilang. Sensasi hangat dari sisa alkohol sebelumnya terasa menggantung di tenggorokannya. Riven membiarkan Mila duduk terlebih dahulu sebelum ikut duduk di sebelahnya. Mila melirik pada jarak mereka namun memilih tidak berkomentar apapun.
“Gue ngga nyangka lo tamunya,” ujar Mila berterus terang.
Senyuman sedikit menghiasi wajah pria itu. “Oya? Jadinya mendingan gue atau bukan?”
Mila menoleh sambil menyilangkan kakinya yang sedikit kaku. “Tergantung...”
“Lo bakal nyanyi atau cuman mau diem-dieman,” lanjutnya sambil menatap Riven dengan alis terangkat, berusaha memancing reaksi pria itu.
Riven ikut tertawa. Tangannya meraih remote di meja lalu menyerahkannya pada Mila. “Coba lo pilihin lagunya.”
Mila mendadak semangat. Dengan sigap dia mengambil remote dari tangan Riven. Jarinya bersentuhan sekilas. Mila tadinya menganggap hal itu biasa saja namun dari sudut matanya, Mila melihat Riven mengatupkan bibirnya seperti menahan sesuatu sebelum menarik tangannya kembali.
Tak lama kemudian pintu diketuk pelan. Seorang pelayan masuk membawa nampan kecil. Dua gelas air mineral, segelas es jeruk dengan irisan tipis jeruk di bibir gelas, dan sepiring kecil camilan goreng.
Pelayan itu menata semuanya dengan cepat sebelum keluar lagi. Begitu pintu kembali tertutup, Mila sudah selesai memilihkan lagu.
Lagu pertama mengalun.
Riven mengerutkan keningnya, matanya menyipit, tampak sedang berusaha mengingat lagu itu. Beberapa detik kemudian intro gitar yang sangat familiar terdengar dari speaker.
Alis Riven langsung terangkat.
“Serius?”
Mila menoleh padanya dengan wajah polos.
“Apa?”
Riven menunjuk layar TV yang menampilkan lima pria dengan gaya boyband khas awal tahun dua ribuan.
“Ini pilihan lo?”
Mila mengangguk sambil ikut tertawa. “Gue yakin lo hafal lagu ini di luar kepala.”
Disodorkannya mikrofon pada pria itu namun Riven menggelengkan kepalanya pelan, masih tertawa. Akhirnya Mila mendekatkan mikrofon ke mulutnya dan mulai mengikuti liriknya.
Untuk beberapa saat, Riven hanya memperhatikannya, menikmati cara Mila tertawa kecil di sela-sela lagu, cara Mila mencoba mempraktekan gerakan dance khas boyband itu secara dramatis, lalu ditutup dengan gerakan tangan yang seolah menyapa para penggemar.
“Gue ngga heran sih kalau lo banyak yang request, Mil,” ujar Riven sambil sedikit terkekeh ketika lagu pertama selesai dan Mila kembali duduk dengan napas sedikit terengah.
“Asal lo tau,” jawab Mila sambil meletakkan microfon di sebelahnya. “Gue waiting list sampai tahun depan.”
Riven tertawa pada jawaban Mila yang asal-asalan.
“Tadi,” kata Riven, “gue dikasi tahu kalau belum tentu bisa request lo karena lo lagi ada tamu yang kemungkinan extend.”
Mila mengecilkan volume lagu sedikit agar tidak berlomba dengan volume suara mereka ngobrol. Lalu menyandarkan punggungnya di sofa.
“Oh, iya kah?”
Riven mengangguk.
“Tadi tamu gue emang mau extend,” lanjut Mila. Tangannya menutupi mulutnya yang hendak menguap. “Tapi Toni ngga kasih.”
Riven masih menatap Mila yang merebahkan kepalanya dan perlahan memejamkan matanya seolah hanya sedang mengingat sesuatu. Tapi ketika beberapa detik berlalu, Mila masih diam dengan mata terpejam dan kepala mendongak.
Lampu ruangan yang temaram membuat bulu mata Mila berbayang. Dari jarak sedekat itu, Riven bisa melihat sapuan kilau dari make-upnya bersinar tertimpa cahaya lampu. Bahu Mila yang sebelumnya sedikit tegang perlahan turun. Alisnya perlahan tampak berubah lebih relax dan tangan Mila yang juga mulai terkulai di kedua sisinya.
Ragu, Riven mendekat. Lalu menurunkan wajahnya, semakin mendekat pada wajah Mila sampai pria itu bisa mendengar suara napasnya. Matanya turun menatap pipi Mila yang bersemu merah muda dan bibirnya yang sedikit terbuka.
Mila masih memejamkan matanya ketika wajah Riven semakin mendekat. Perlahan, Riven menghirup napasnya dalam. Mencoba mencium aroma napas Mila.Alkohol.Riven pun perlahan kembali menjauhkan wajahnya. Seketika raut wajahnya berubah. Penilaiannya benar. Pria itu lalu menghembuskan napas panjang.“Mil,” panggilnya.Tentu saja Mila tidak bergeming. Suara napasnya semakin dalam. Bahu gadis itu semakin turun perlahan seolah semua tenaga yang sejak tadi dipaksa bertahan akhirnya menyerah juga.“Mil.”Kali ini tubuh Mila bergerak sedikit. Kepalanya bergeser dari sandaran sofa dan nyaris terkulai ke samping. Sebelum benar-benar kehilangan keseimbangan, tangan Riven sudah lebih dulu terangkat menahan bahunya.Hangat. Ringan. Dan terasa rapuh.Untuk sepersekian detik, Riven menyadari betapa mudahnya tubuh itu ia kendalikan. Refleks genggaman tangannya berubah menjadi lebih hati-hati.Mila mengerang pelan, matanya masih tertutup. Riven tidak langsung melepaskan bahunya. Baru setelah beberapa deti
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Berkali-kali Mila melirik jam di pergelangan tangannya. Gelombang suara, tawa keras, dentingan gelas, dan musik karaoke yang non stop membuat kepala Mila sedikit berat. Beberapa kali dirinya kembali terpaksa menyesap minuman yang disodorkan pria itu.Ketika sesi akhirnya selesai dan Toni muncul di pintu memberi tanda waktu habis, Mila menarik napas dalam-dalam. Pak Hendra bergumam meminta extend yang dijawab dengan gelengan kepala Toni dan usapan tangan di punggung Pak Hendra. Toni selalu punya cara menolak dengan halus namun tegas.Pak Hendra sempat menoleh ke belakang ketika beranjak keluar ruangan. “Milaaa.. nanti ya aku ke sini lagi.”“Iya, Pak,” lambai Mila sambil melempar senyum terbaiknya. “Awas jatuh..”Pak Hendra lalu merangkul kedua temannya sambil masih bersenda gurau. Langkahnya sesekali tersandung pelan lalu mereka tertawa cekikikan.Begitu pintu tertutup di belakangnya, Mila menghembuskan napas panjang dan kembali duduk di sofa. Memin
Terlalu sering Mila menghadapi berbagai kelakuan gombal termanis sejagat raya sehingga apapun yang Mila rasakan pada malam itu, menguap keesokan harinya. Pagi itu Mila bangun seperti biasa. Menguap, menggeliat, menatap langit-langit kamar kost-annya lalu mengambil ponsel dari meja samping tempat tidurnya.Matanya masih belum sepenuhnya terbuka ketika jarinya membuka deretan pesan masuk. Dari Toni, Andin, dan sederet nomor tak dikenal. Mila menghela napas berat ketika membaca pesan singkat dari Toni.Malam ini lo di-request Pak Hendra. Pak Hendra adalah tamunya yang suka mabuk. Setiap kali sesi Pak Hendra, pria itu selalu mabuk. Belum lagi teman-temannya yang berisik dan banyak tingkah. Belum apa-apa Mila sudah merasa malas untuk pergi kerja.Tapi dirinya tidak punya pilihan lain. Jadi sore itu Mila sudah tiba di tempat kerjanya lebih awal meskipun dengan setengah hati. Rambutnya belum sepenuhnya rapi sehingga Mila memutuskan untuk mengerjakannya di ruang locker.Andin sedang membantu
Bukan Mila namanya kalau ada tantanganngga dia tantangin. Ketika mobil Riven belok ke jalanan sepimenjauh dari ibukota, Mila mulai menyesali tawarannya untuk extend pada priaitu. Mila melirik. Riven memegang stir mobil dengan kedua tangannya. Matanyafokus menatap jalanan menanjak di depannya yang gelap dan sepi.Lampu jalan yang remang-remang munculsesekali. Di sisi kanan dan kiri yang mereka lewati bergantian tampak semaktinggi, rumah dengan lampu redup di terasnya, hamparan rumput kosong, danderetan tanaman yang sepertinya dijual kalau siang hari.“Ada berapa banyak organ gue yang bakal lo jual kalau ternyata lo pembunuh?”tanya Mila tiba-tiba.Riven tidak langsung menoleh.“Minimal dua,” jawabnya tenang. “Ginjal lo masih lengkap kan?”Mila mendengus. “Gue serius.”“Gue juga.”Mila menatapnya beberapa detik sebelum menggeleng kecil.“Ini jauh amat buat sekadar ‘spot’.”“Ngga jauh, Mil,” kata Riven. “Lima menit lagi.”“Lima menit lagi dari tadi lima menit,” gumam Mila mulai k
Pagi itu, Mila meneguk isi bungkusan yang diberikan Andin sebelum tugasextendnya berakhir di hadapan cermin kamar mandi di apartemen Noval.Setelah Noval mengantar Mila kembali ke tempat kerjanya, Mila melakukanabsen di aplikasinya, absen jari di ruangan locker, lalu memesan ojek onlineuntuk pulang.Jeki sedang menyapu di depan warteg ketika melihat Mila turun dari motor.Mengembalikan helm dan menoleh pada Jeki.“Baru pulang, lo?” sapanya. Menatap lekat pada wajah Mila yang sedikitpucat, make upnya yang sudah luntur, dan rambutnya yang sedikit berantakan.Mila hanya mengangguk kecil lalu menunjuk pojokan dekat pintu warteg, “Nohbelum kesapu."Jeki hanya menoleh ke arah yang Mila tunjuk lalu kembali memusatkantatapannya pada Mila, “dari mane lo?”“Lo ngga liat gue cape, Jek,” balas Mila sedikit ketus, tapi dia duduk dikursi panjang warteg. Membiarkan Jeki menaruh sapunya lalu duduk di hadapannya.“Si Tiara bilang, chatnya ngga lo bales,” kata Jeki laporan.Mila menoleh pada pon
Semakin hari, Mila semakin menerima banyak tugas. Yang tadinya semingguhanya perlu 2 atau 3 kali kerja, sekarang hampir 5 hari Mila menerimanotifikasi di ponselnya. Kadang dalam sehari, dia setuju untuk menerima lebihdari 1 slot.“Tip lo pasti lumayan ya?” komentar Andin, teman kerjanya yang seringbareng.Ruangan locker terasa dingin. Mereka sudah memakai seragam, Andin sedangmembereskan barang-barang di lockernya.Mila mengerutkan kening, “Tip?”Andin menunjukkan ponselnya, “Lo liat menu ini, ini tip lo.”Mila mengambil ponsel dari tas kecilnya di locker, mengecek, lalu matanyaterbelakak.“Buset,” gumam Mila tipis.Andin terkekeh lalu mengunci lockernya. Mereka pun saling melambai ketikaToni datang dan memisahkan mereka pada ruangan yang berbeda. Mila menarik napasdalam-dalam sebelum melangkah masuk ke ruangan di depannya. Hanya 4 jam, batinMila.“Silakan, Pak Noval,” sapa Toni sambil memberi gesture pada Mila dan rekanseruangannya untuk masuk.4 jam kali ini, Mila merasa s







