Share

BAB 7

Author: Svara Laksmi
last update publish date: 2026-03-17 15:43:22

Waktu terasa berjalan sangat lambat. Berkali-kali Mila melirik jam di pergelangan tangannya. Gelombang suara, tawa keras, dentingan gelas, dan musik karaoke yang non stop membuat kepala Mila sedikit berat. Beberapa kali dirinya kembali terpaksa menyesap minuman yang disodorkan pria itu.

Ketika sesi akhirnya selesai dan Toni muncul di pintu memberi tanda waktu habis, Mila menarik napas dalam-dalam. Pak Hendra bergumam meminta extend yang dijawab dengan gelengan kepala Toni dan usapan tangan di punggung Pak Hendra. Toni selalu punya cara menolak dengan halus namun tegas.

Pak Hendra sempat menoleh ke belakang ketika beranjak keluar ruangan. “Milaaa.. nanti ya aku ke sini lagi.”

“Iya, Pak,” lambai Mila sambil melempar senyum terbaiknya. “Awas jatuh..”

Pak Hendra lalu merangkul kedua temannya sambil masih bersenda gurau. Langkahnya sesekali tersandung pelan lalu mereka tertawa cekikikan.

Begitu pintu tertutup di belakangnya, Mila menghembuskan napas panjang dan kembali duduk di sofa. Meminta waktu untuk menenangkan diri.

Toni menatapnya sekilas. “Aman Mil?”

Mila mengangguk, meskipun kepalanya terasa sedikit goyang. Toni melihat kertas jadwal di tangannya. Ia membolak balikkan halaman dan menelusuri daftar yang berderet.

“Mil, lo ada request lagi.”

Mila mengerutkan kening. “Sekarang?”

Toni mengangguk dan membalas tatapan Mila. “Sanggup?”

Pria itu kembali mengecek. “Kalau engga, gue bisa oper. Yang ini last minute soalnya..”

Mila berdiri dan mendekat ke cermin yang ada di ruangan lalu merapikan rambutnya sebentar dengan tangan.

“Gas lah, nanggung juga.”

Toni pun mengangguk dan menyodorkan parfum yang sudah disiapkannya lalu kembali menunggu Mila. Kemudian mengantarnya berjalan ke arah ruangan lain. Pintu itu sudah setengah terbuka.

Toni mendorongnya pelan.

Langkah Mila terhenti ketika mendengar Toni menyapa tamunya. Pria yang sedang duduk di sofa itu mendongak ketika pintu terbuka lebih lebar. Menatap Mila yang juga menatapnya.

Riven.

Seorang diri.

Pria itu lalu beranjak berdiri ketika Mila melangkah masuk. Suara Toni mendadak terdengar jauh di telinga Mila. Dia berusaha mengukir senyumnya sesantai mungkin meskipun debar jantungnya mendadak menjadi cepat.

“Silakan,” pamit Toni seraya menurunkan cahaya lampu lalu menutup pintu dan ruangan itu kembali sepi.

Mila masih berdiri, menunggu pria itu menentukan posisi duduknya.

“Lo mau duduk di mana?” tanya Riven.

Mila menatapnya genit, berpikir sebelum menjawab, “di sebelah lo?”

Riven mengangguk lalu menunjuk sisi sofa di sebelahnya.

Mila berjalan mendekat. Melangkah hati-hati ketika mendadak keseimbangannya sedikit hilang. Sensasi hangat dari sisa alkohol sebelumnya terasa menggantung di tenggorokannya. Riven membiarkan Mila duduk terlebih dahulu sebelum ikut duduk di sebelahnya. Mila melirik pada jarak mereka namun memilih tidak berkomentar apapun.

“Gue ngga nyangka lo tamunya,” ujar Mila berterus terang.

Senyuman sedikit menghiasi wajah pria itu. “Oya? Jadinya mendingan gue atau bukan?”

Mila menoleh sambil menyilangkan kakinya yang sedikit kaku. “Tergantung...”

“Lo bakal nyanyi atau cuman mau diem-dieman,” lanjutnya sambil menatap Riven dengan alis terangkat, berusaha memancing reaksi pria itu.

Riven ikut tertawa. Tangannya meraih remote di meja lalu menyerahkannya pada Mila. “Coba lo pilihin lagunya.”

Mila mendadak semangat. Dengan sigap dia mengambil remote dari tangan Riven. Jarinya bersentuhan sekilas. Mila tadinya menganggap hal itu biasa saja namun dari sudut matanya, Mila melihat Riven mengatupkan bibirnya seperti menahan sesuatu sebelum menarik tangannya kembali.

Tak lama kemudian pintu diketuk pelan. Seorang pelayan masuk membawa nampan kecil. Dua gelas air mineral, segelas es jeruk dengan irisan tipis jeruk di bibir gelas, dan sepiring kecil camilan goreng.

Pelayan itu menata semuanya dengan cepat sebelum keluar lagi. Begitu pintu kembali tertutup, Mila sudah selesai memilihkan lagu.

Lagu pertama mengalun.

Riven mengerutkan keningnya, matanya menyipit, tampak sedang berusaha mengingat lagu itu. Beberapa detik kemudian intro gitar yang sangat familiar terdengar dari speaker.

Alis Riven langsung terangkat.

“Serius?”

Mila menoleh padanya dengan wajah polos.

“Apa?”

Riven menunjuk layar TV yang menampilkan lima pria dengan gaya boyband khas awal tahun dua ribuan.

“Ini pilihan lo?”

Mila mengangguk sambil ikut tertawa. “Gue yakin lo hafal lagu ini di luar kepala.”

Disodorkannya mikrofon pada pria itu namun Riven menggelengkan kepalanya pelan, masih tertawa. Akhirnya Mila mendekatkan mikrofon ke mulutnya dan mulai mengikuti liriknya.

Untuk beberapa saat, Riven hanya memperhatikannya, menikmati cara Mila tertawa kecil di sela-sela lagu, cara Mila mencoba mempraktekan gerakan dance khas boyband itu secara dramatis, lalu ditutup dengan gerakan tangan yang seolah menyapa para penggemar.

“Gue ngga heran sih kalau lo banyak yang request, Mil,” ujar Riven sambil sedikit terkekeh ketika lagu pertama selesai dan Mila kembali duduk dengan napas sedikit terengah.

“Asal lo tau,” jawab Mila sambil meletakkan microfon di sebelahnya. “Gue waiting list sampai tahun depan.”

Riven tertawa pada jawaban Mila yang asal-asalan.

“Tadi,” kata Riven, “gue dikasi tahu kalau belum tentu bisa request lo karena lo lagi ada tamu yang kemungkinan extend.”

Mila mengecilkan volume lagu sedikit agar tidak berlomba dengan volume suara mereka ngobrol. Lalu menyandarkan punggungnya di sofa.

“Oh, iya kah?”

Riven mengangguk.

“Tadi tamu gue emang mau extend,” lanjut Mila. Tangannya menutupi mulutnya yang hendak menguap. “Tapi Toni ngga kasih.”

Riven masih menatap Mila yang merebahkan kepalanya dan perlahan memejamkan matanya seolah hanya sedang mengingat sesuatu. Tapi ketika beberapa detik berlalu, Mila masih diam dengan mata terpejam dan kepala mendongak.

Lampu ruangan yang temaram membuat bulu mata Mila berbayang. Dari jarak sedekat itu, Riven bisa melihat sapuan kilau dari make-upnya bersinar tertimpa cahaya lampu. Bahu Mila yang sebelumnya sedikit tegang perlahan turun. Alisnya perlahan tampak berubah lebih relax dan tangan Mila yang juga mulai terkulai di kedua sisinya.

Ragu, Riven mendekat. Lalu menurunkan wajahnya, semakin mendekat pada wajah Mila sampai pria itu bisa mendengar suara napasnya. Matanya turun menatap pipi Mila yang bersemu merah muda dan bibirnya yang sedikit terbuka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Luka Mila   BAB 90

    Beberapa hari setelahnya, Hans meminta Mila datang ke Seven Zone. Tanpa banyak penjelasan, Mila hanya diminta datang lebih awal. Bukan ke lantai utama. Tapi ke salah satu ruang private di lantai atas.Ruangan itu lebih tenang. Lampunya redup, tapi tidak seramai bar. Suara musik hanya terdengar samar dari bawah.Mila duduk di sofa, satu kaki menyilang, jemarinya mengetuk ringan permukaan meja.Menunggu.Ketika pintu terbuka, Mila menoleh. Hans melangkah masuk diikuti oleh seorang wanita. Wanita itu. Langkahnya tenang. Mila refleks berdiri ketika melihatnya. Tatapan mereka pun bertemu.Hans berdiri di antara mereka.“Ini Mila,” ujar Hans pada wanita itu. Mila melihatnya mengangguk pelan.“Ini Nadine.”Mila pun mengangguk dan menyambut uluran tangannya. Jabat tangan wanita itu terasa erat dan penuh percaya diri.“Hi,” sapanya ringan.Mila tersenyum. “Hallo…”Hans bergerak ke arah mini bar yang ada di ruangan itu, sengaja memberi keduanya waktu. Nadine melirik Hans sekilas sebelum kembali

  • Luka Mila   BAB 89

    Dengan napas tersenggal, Mila berusaha mengimbangi gerakan Hans yang begitu intense. Pria itu tidak menunggu untuk membuka seluruh helai kain yang ada di tubuh Mila. Masih dengan gairah yang menggebu, Hans pun menyapukan tangannya yang bersabun pada setiap jengkal kulit Mila yang terasa halus dan licin.“Hhmmm…” erang Mila ketika Hans yang kini berdiri di belakangnya menyelipkan jarinya ke dalam area intimnya. Sementara tangan yang satunya meremas buah dada Mila dan memainkan ujung-ujungnya.Mila bisa merasakan bagian tubuh Hans yang mengeras di belakangnya. Sambil menggerakkan pinggulnya, Mila sengaja merapatkan bagian belakang tubuhnya pada Hans. Membuat pria itu semakin terbuai oleh gesekan kulit mereka.Dengan satu gerakan, Hans kembali memutar tubuh Mila hingga mereka berhadapan. Mila menyapukan pandangannya ke tubuh hans sekilas. Jarinya mengusap bahu pria itu. Lalu mata mereka beradu dan tangan Hans membawa satu kaki Mila melingkar naik ke pinggulnya. Alis Hans bergerak naik ke

  • Luka Mila   BAB 88

    Wanita itu tidak membantah. Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali menatap Mila. Senyum tipis itu masih ada.“See you around, Mila,” kata wanita itu pamit.Ia berbalik. Langkahnya tenang, menyusul Hans yang sudah lebih dulu bergerak ke arah pintu. Meninggalkan Mila yang masih berusaha memutar memori di otaknya.Mila yakin pernah lihat wajah wanita itu. Ia tahu ia sangat baik mengingat wajah orang. Ia mengerutkan kening. Mencoba menarik satu per satu potongan ingatan yang terasa… nyaris.“Mil.”Mila tersentak. Adrian sudah berdiri di sampingnya.“Pulang bareng? Aku drop sekalian,” tawarnya santai.Mila menggeleng kecil. “Nggak, aku sama Edo.”Adrian mengangguk, tidak memaksa. “Oke. Hati-hati ya.”“Iya.”Adrian melangkah lebih dulu meninggalkannya. Mila ikut berjalan keluar ruangan. Pikiran itu masih melayang-layang di benaknya.***Hari itu di Seven Zone sedikit lebih ramai dari biasanya. Mila duduk di bar menikmati hari-harinya yang menunggu bookingan. Toni lalu lalang dengan kening

  • Luka Mila   BAB 87

    Pesan yang diketik Riven akhirnya muncul di layar ponsel Mila.Waktu itu harusnya gue nggak biarin lo pergi gitu aja.Mila menatap layar ponselnya. Terdiam menatap tulisan di ponselnya. Jarinya sudah bergerak di atas keyboard ponselnya. Tapi ia tidak tahu harus merespon apa.Meskipun rasanya berat memutuskan tidak bertemu pria itu, tapi ada sisi lain di hatinya yang merasa rindu dan ingin bertemu.Akhirnya ia hanya meletakkan kembali ponsel di meja samping dan menarik selimut menutupi tubuhnya.**Pagi itu Mila bangun dengan pikiran yang bercabang. Ia tahu harusnya ia lebih memikirkan masalah tatonya yang ternyata menyimpan banyak informasi yang bisa menentukan kehidupannya. Tapi ia malah mengejar jawaban soal dua gelas yang dipegang Riven.Ia mengerang pelan dengan sedikit rasa frustrasi. Tidak bisa disangkal lagi sekuat apapun Mila mencoba menghindar dari pria itu, hatinya tetap mencari cara untuk kembali padanya.Seminggu, batinnya kembali mengingatkan.Seminggu itu bisa lama, bisa

  • Luka Mila   BAB 86

    Mila tidak langsung menjawab. Tatapannya turun sambil menarik napas dalam-dalam. Tangannya menyisir rambutnya dengan jari. Mencoba meredakan kegalauan di hatinya.“Lo selalu ngomong kayak semua ini gede banget,” gumamnya berusaha terdengar ringan. “Padahal mungkin nggak se-serius itu.”Hans tidak tersenyum. Ia hanya menatap Mila.“Kalau nggak serius,” katanya pelan, “…gue nggak akan repot jagain lo, Mil.”Mila memiringkan kepalanya, matanya menyipit meragukan ucapan Hans yang bersandar lagi di kursinya, seolah tidak peduli apakah Mila tetap menuntut jawabannya atau tidak.“Terserah lo,” kata pria itu santai.Mila mendengus.“Gue udah cape nebak-nebak,” jawabnya. “Mending lo kasih tau gue deh, Hans.”Hans tidak langsung merespon. Ia hanya menatap Mila beberapa detik lebih lama, seolah memastikan. Lalu ia tersenyum tipis.“Lo keras kepala juga ya,” gumamnya.Ia bangkit dari kursinya, melangkah mendekat. Tatapannya turun ke arah tulang selangka Mila.“Tato ini bukan hiasan, Mil. Bukan ju

  • Luka Mila   BAB 85

    Pintu mobil tertutup di belakangnya. Mila melangkah cepat sampai di seberang jalan. Pikirannya kosong atau terlalu penuh, Mila sendiri tidak tahu. Yang jelas, ia tidak punya rencana apapun mau berkata apa pada pria itu.Riven berdiri di depan minimarket, ponsel di tangannya. Jaket gelap yang ia pakai terlihat familiar. Seolah waktu tidak bergerak sejak terakhir kali mereka bertemu.Mila menahan napasnya menatap punggung pria itu sebelum membuka suara dan memaksa mulutnya memanggil nama itu.“Riv…”Riven menoleh lalu membalikkan badannya. Menatap Mila dengan tatapan yang sama terkejutnya dengan Mila dengan tindakannya.“Mil? Lo… Gue… tiba-tiba banget lo ada di sini?”Mila memaksakan tawa yang malah jadi terdengar aneh. “Gue liat lo, jadi pikir nyamperin aja.”Riven mengangguk. Tangannya menggenggam dua gelas kopi. Tatapan Mila turun pada gelas yang dipegang Riven. Ada dua.“Lo sendirian?” tanya Riven.Mila mengangguk lalu menggeleng, “Gue abis kerja…”Riven menatap Mila dengan tatapan

  • Luka Mila   BAB 31

    Kalau bisa memilih, sebenarnya Mila lebih suka melayani tamu yang jelas maunya apa. Mau curhat, mau menggoda, mau nyanyi tanpa di-judge, mau mabuk. Mila bisa terima itu semua. Sudah beratus-ratus tamu dia lewati.Tapi kali ini, tamunya membuat Mila harus menahan sabar.

  • Luka Mila   BAB 23

    Siang itu, Mila membuka ponselnya yang bergetar. Pesan dari Toni yang menginfokan dirinya off dua hari. Mila tahu, Hans yang melakukannya.Di bawah nama Toni, nama itu hadir. Pesan yang terakhir Mila baca.Lo jaga diri ya. See you soon.Mila menghela napas dalam-dala

  • Luka Mila   BAB 21

    “Tapi jangan jauhin gue cuma karena lo pikir gue nggak akan ngerti kondisi lo, Mil.”Mila mendengus pelan setiap kalimat itu kembali terputar di kepalanya. Setelah berhari-hari mengendap, emosinya baru muncul. Apa iya pria itu akan ngerti? Akan menerima? Apa R

  • Luka Mila   BAB 19

    Mila tahu dia tidak bisa selalu berada di balik alasan “takut merepotkan” karena sudah jelas Riven berkata dia tidak masalah kalaupun direpotkan oleh Mila.Tapi semalam, Mila tidak mengabarkan pria itu jelas bukan karena takut merepotkan. Namun lebih ke memilih mengabaikannya d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status