Share

Bab 6

Author: Evi
Hari-hari berikutnya, Lina tidak lagi memperdulikan apa pun.

Dia hanya menunggu dengan penuh harap hari keberangkatan ke ibu kota.

Apa pun yang dikatakan Sam dan Lili, dia terima saja.

Hari pernikahan mereka makin dekat. Warga kompleks perumahan mulai menyiapkan suvenir, kue, dan perlengkapan pernikahan.

Orang-orang yang terampil membuat dekorasi di halaman. Setiap kali satu dekorasi selesai dibuat, yang lain segera memasangnya.

Seluruh pabrik kendaraan dipenuhi suasana meriah.

Tiga hari sebelum pernikahan, Sam membawa Lili ke studio foto untuk memotret foto pernikahan pada siang hari.

Saat kembali di malam hari, Sam memberikan Lina sebuah syal kotak-kotak.

Dia berkata dengan nada agak canggung, "Cuaca lagi dingin, aku lihat telingamu kedinginan. Aku melihat syal ini cocok untukmu, jadi kubelikan. Terimalah."

Lina tidak ingin menimbulkan keributan dan diam-diam menerimanya.

Sam merasakan sesuatu yang aneh di hatinya. Dia menahan Lina dengan memanggilnya, "Apa kamu nggak ingin mengatakan apa-apa?"

Lina menggeleng.

Sam kembali merasa marah. "Kamu!"

Namun, dia berkata dengan nada menahan emosi, "Lina, aku tahu aku bersalah padamu, kamu pasti kecewa, tapi aku nggak punya pilihan. Menikahi Lili dan tetap menanggungmu, ini sudah yang terbaik yang bisa kulakukan. Kuharap kamu bisa mengerti."

Kesedihan melintas di mata Lina. Dia tidak menoleh dan hanya berkata dengan tenang, "Aku tahu, aku nggak menyalahkanmu."

Namun, dia memutuskan untuk tidak menginginkan pria itu lagi.

Sam tampaknya masih merasa tidak puas.

Setelah terdiam sesaat, dia berbalik dan melangkah pergi.

Keesokan harinya, setelah menikmati sarapan buatan Lina, seperti biasa, Sam pergi bekerja, sementara Alan segera keluar untuk menemui Lili.

Lina dan putrinya tetap tinggal di rumah. Dia kembali mengecek barang-barang yang akan dibawa.

Alicia ikut menghitung bersama, seperti ekor kecil yang selalu menempel.

Barang-barang mereka berdua tidak banyak, hanya beberapa pakaian lama.

Lina menyembunyikan tiket kereta, lalu membawa Alicia keluar untuk membeli bahan makan siang.

Saat kembali ke rumah, matanya langsung menangkap pintu kamar kecilnya terbuka.

Perasaan tidak enak muncul di hati Lina, dia hendak bergegas masuk untuk memeriksa.

Namun, terdengar suara Lili dari samping.

"Alan, Tante ajari kamu. Batu giok ini kualitasnya buruk dan nggak berharga. Nanti jangan sampai ditipu orang, jangan bodoh menganggap barang sampah sebagai harta."

Lina segera menoleh.

Dia melihat Lili memegang liontin giok yang sudah sangat dikenalnya dan mengayunkannya di depan Alan.

Ekspresi Lina langsung berubah, dia tidak bisa menahan amarahnya lagi. "Kembalikan padaku!"

Lina berusaha merebutnya.

Lili menghindar sambil tersenyum. "Aku sudah bilang, barang ini nggak berharga, bahkan kalau dikasih pun aku nggak mau. Alan hanya ingin menunjukkannya padaku sebentar, nanti juga dikembalikan. Kenapa buru-buru begitu?"

Lina mengepalkan tangan kuat-kuat. "Alan Houston! Kenapa diam-diam mengambil barangku?"

Alan tekejut sejenak, lalu membantah dengan keras, "Siapa yang mencuri? Ini rumahku, aku boleh mengambil apa saja yang kuinginkan!"

Alan menatap Lina dengan marah. "Aku melihat sendiri, ayah diam-diam memberikan syal padamu di belakang Tante Lili dan kamu menerimanya! Dasar nggak tahu malu!

Lina menatapnya dengan pandangan yang membuat Alan gemetar hingga bersembunyi di belakang Lili.

Lili mencemooh, "Gimana? Berani berbuat, tapi nggak berani bertanggung jawab?"

Dia mengayunkan liontin giok itu sambil mengejek, "Aku akan menikah dengan Sam besok. Kamu diam-diam menerima barangnya, wajar kalau aku marah ke kamu. Sudah untung wajahmu nggak kupukul sampai hancur. Cepatlah berterima kasih padaku!"

Lina menarik napas dalam-dalam. "Lili, aku nggak ingin berdebat denganmu. Aku akan kembalikan syal itu, kembalikan liontin giokku."

Lili tersenyum mengejek. "Berdebat denganku? Kamu punya hak apa? Menukar syal dengan liontin giok? Oke, ambillah."

Lina berbalik dan dengan cepat mengambil syal yang diberikan semalam.

Lili tersenyum sinis. "Ambil gunting, potong menjadi potongan kecil."

Lina mengambil gunting dan tanpa ragu memotong syal itu hingga hancur.

"Cukup?"

Lili mengangguk. "Oke, ini untukmu."

Belum selesai berbicara, dia melempar liontin giok itu keluar jendela.

Wajah Lina pucat pasi. Dia segera berlari keluar dan menemukan liontin giok putihnya sudah hancur berkeping-keping, hanya tali merah yang memudar yang tetap utuh.

Lina berlutut dan tangannya gemetar memandangi pecahan-pecahan itu. Air matanya jatuh satu demi satu.

Seseorang bertanya, "Apa yang pecah?"

Lina meraih pecahan-pecahan itu ke telapak tangannya, tiba-tiba dia menengadah, lalu mengambil sebuah batu bata dan menerjang Lili.

Lili menjerit, "Ada pembunuhan! Tolong!"

Namun, Lina sudah mencapai batas kesabarannya. Satu-satunya warisan kakeknya telah hancur.

Saat itu, dia hanya ingin bertarung habis-habisan. Matanya memerah, seperti orang gila.

Semua orang ketakutan.

Lina menerjang ke arah Lili, batu bata di tangannya siap menghantam Lili.

Orang-orang di sekeliling menjerit ketakutan.

Tepat satu detik sebelum batu bata menghantam Lili, tangan Lina ditahan.

Sam berkata dengan suara berat, "Lina, apa yang kamu lakukan?"

Lina mencoba melepaskan beberapa kali, tetapi cengkeraman Sam makin kuat dan hampir hampir mematahkan pergelangan tangannya.

Dia sadar kekuatannya kalah jauh dari Sam. Akhirnya, Lina terpaksa melepaskan batu bata itu.

Lina mengulurkan tangan lainnya, serpihan giok putih di telapak tangannya melukainya hingga berdarah.

Lina berkata dengan suara gemetar, "Dia menghancurkan satu-satunya warisan kakekku."

Sam terkejut dan reflek membela, "Lili pasti nggak sengaja..."

Lina menutup mata sejenak, saat membukanya, tatapannya pada Sam seperti menatap orang asing.

Dia tidak berkata sepatah kata pun, lalu berbalik pergi.

Di belakang, Sam memanggil dengan gelisah, "Lina..."

Lina pura-pura tidak mendengar dan berjalan tanpa menoleh.

Lili sudah meringkuk ke pelukan Sam. "Sam, aku kaget sekali, untung kamu datang! Aku memang nggak sengaja. Besok kita kasih dia suvenir yang banyak, dan gaji bulan ini kita tambah sepuluh ribu sebagai permintaan maaf..."

Lina mendengar Sam menjawab, "Besok kita menikah. Lili, kamu harus tidur lebih awal malam ini."

Lina menutup pintu.

Alicia memeluknya. "Ibu, jangan menangis. Di sini penuh orang jahat. Besok kita pergi dan jangan kembali lagi!"

Lina memeluk putrinya erat, sambil terisak mengangguk.

Malam itu, Sam mengetuk pintu lagi.

Lina tidak menanggapi.

Dia berdiri di pintu dan berkata dengan suara pelan, "Lina, satu-satunya warisan kakekmu hilang. Aku mengerti perasaanmu, aku juga sedih. Nanti aku akan menggantinya dengan yang lebih baik, oke? Jangan marah pada Lili, dia nggak sengaja."

"Syalmu rusak, nanti kubelikan yang baru, tanpa sepengetahuan Alan."

Itulah kompensasinya.

Lina tersenyum sinis.

Lina tidak tidur semalaman, sambil menunggu waktu tiba. Saat waktunya tiba, Lina membawa bungkusan barang dengan satu tangan dan menggendong Alicia dengan tangan lainnya. Lina meninggalkan Rumah Keluarga Houston tanpa menoleh ke belakang.

Dia berjalan cepat menuju stasiun kereta.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an   Bab 15

    Wajah David tampak tenang, setiap ucapan Lina selalu dia iyakan.Lina tahu, meskipun David mengangguk setuju, saat membeli sesuatu David tetap saja tidak ragu mengeluarkan uang.Beberapa kali sebelumnya dia juga begitu."Jangan cuma bilang iya, tapi tetap nggak dilakukan..."Kalimat itu belum selesai, Lina sudah melihat Sam dan Alan yang tampak jauh lebih kurus.Dia terhenti sesaat, lalu kembali bersikap biasa dan melanjutkan ucapannya, "Kalau nggak, uangnya kamu titip saja ke aku. Nanti setelah pulang baru kukembalikan. Kalau nggak begitu, aku nggak ikut pergi."David tersenyum ramah. "Oke."Dia langsung merogoh dompetnya.Saat berpapasan, bibir Sam bergetar, suara seraknya memanggil nama yang telah terpatri dalam jiwanya, "Lina."Alan juga ikut memanggil lirih, "Ibu."David menoleh ke arah Lina, tetapi Lina bertingkah seakan tidak mendengar dan malah mendesak David, "Cepat, nanti bukunya keburu habis."David menjawab singkat, lalu menyambar kesempatan untuk menggenggam tangan Lina da

  • Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an   Bab 14

    Alisa jatuh sakit karena marah dan akhirnya dibawa ke rumah sakit.Sam lalu pulang ke rumah untuk mengemas barang-barangnya, bersiap pergi ke ibu kota.Dia berniat membawa serta Alan. Dalam hatinya, Sam berpikir, sekalipun Lina marah padanya, begitu melihat putra mereka, hatinya pasti akan luluh dan bersedia ikut pulang.Asal Lina bisa kembali, Sam yakin masih punya banyak waktu untuk perlahan-lahan membuatnya berubah pikiran.Pada akhirnya, mereka bisa kembali menjadi keluarga harmonis beranggotakan empat orang.Soal masa depan ataupun impian besar, semua itu tidak lagi penting baginya.Alan tampak lesu dan diliputi rasa takut. "Ayah, kalau ibu nggak mau memaafkan kita, bagaimana?"Beberapa waktu terakhir, sikap Lili terhadapnya berubah drastis, dia sering memukul dan memarahi Alan.Barulah saat itu, Alan benar-benar mengerti apa yang dimaksud teman-teman sekolahnya ketika berkata bahwa ibu tiri selalu jahat.Ditambah lagi, di kompleks perumahan, semua orang tahu Alan itu anak durhaka

  • Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an   Bab 13

    David yang bekerja di bidang bisnis, memiliki relasi yang cukup luas.Beberapa hari setelah tahun baru, dia diam-diam meminta orang untuk membantu mengurus administrasi kependudukan dan pendidikan. Lina pun bisa mulai sekolah dan mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi.Setelah diterima di universitas, Lina akan memiliki ijazah.Bahkan pendaftaran izin praktik kedokteran pun sudah diuruskan, sehingga saat ujian dimulai Lina bisa langsung mengikutinya.Semua ini tidak pernah diminta oleh Lina, tetapi Keluarga Hopper telah memikirkan semuanya untuknya.Masa depan Lina hanya akan makin baik, mustahil menjadi lebih buruk.Lina tidak tahu harus bagaimana membalas semua itu. Dia hanya bisa bekerja lebih keras serta belajar lebih tekun demi menghadapi ujian.Baru sebentar dia dan putrinya berada di klinik, Alicia perlahan kembali seperti saat tinggal di desa tempat Keluarga Houston tinggal.Ceria dan suka tertawa.Lina merawat kedua anaknya dengan sangat baik.Meskipun Sam jarang pulang, k

  • Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an   Bab 12

    Seusai makan, Keluarga Hopper mengajak Lina dan putrinya ke Klinik Pengobatan Tradisional Keluarga Hopper.Kamar untuk ibu dan anak itu sudah lama disiapkan, begitu juga dengan pekerjaan."Aku dan istriku sudah tahu kemampuan pengobatanmu. Kamu tinggal bekerja dengan tenang di sini. Klinik akan memberimu gaji setiap bulan. Jumlahnya nggak banyak, dua puluh ribu lebih rendah dari gaji Johan."Kak Johan mewarisi usaha orang tuanya dan juga menjadi dokter pengobatan tradisional. Sekarang, dia membuka praktik di klinik pengobatan tradisional, sementara istrinya bertugas meracik obat.Hanya David yang tidak berminat pada dunia pengobatan, beberapa tahun terakhir dia menekuni dunia bisnis.Mendengar perkataan Melissa, David langsung tertawa. "Ibu ini bagaimana, sih? Waktu Lina belum datang, tiap hari Ibu selalu memujinya dan bilang dia jauh lebih hebat dari kakak. Sekarang, Lina sudah datang, gajinya malah dua puluh ribu lebih rendah dari kakak! Aku ini tipe orang yang membela yang benar, bu

  • Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an   Bab 11

    Perpisahan itu berlangsung hampir sepuluh tahun.Saat Lina masih tinggal di desa tempat Keluarga Houston tinggal, Peter dan istrinya sesekali mengirimkan barang-barang yang hanya ada di ibu kota seperti buku, pakaian, makanan, dan minuman.Lina pun membalas dengan menulis surat serta mengirimkan hasil bumi khas desa dan ramuan obat.Meskipun jarak jauh dan transportasi tidak mudah, hubungan mereka tidak pernah terputus.Namun, dua bulan lalu, ketika Lina pergi ke pabrik kendaraan untuk mencari Sam, dia justru mendapati bahwa Sam sudah memiliki pasangan dan hendak menikah lagi.Sejak saat itu, Lina hanya menjadi seorang pembantu tanpa sandaran.Dalam dua bulan tersebut, Peter dan istrinya tidak berhasil menghubungi Lina dan merasa sangat khawatir.Mereka berusaha keras mencari tahu kabarnya di Alverton. Setelah mengetahui ada yang tidak beres, mereka segera memintanya datang ke ibu kota.Sekarang, akhirnya mereka dapat berkumpul kembali.Peter dan istrinya begitu gembira. "Ayo, kami aja

  • Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an   Bab 10

    Lina alergi terhadap ubi, tetapi Sam dengan sengaja menyuruhnya membuat kue ubi.Kemarin, peninggalan kakeknya hancur, Lina mengambil batu bata untuk memukul Lili, tetapi Sam mencegahnya.Tenaga Lina terlalu besar, jadi Sam pun menggunakan seluruh kekuatannya.Sam tahu betul seberapa besar tenaga yang dimilikinya.Apa pergelangan tangan Lina terluka karena ulahnya?Sam mengangkat tangan dan menampar dirinya sendiri dengan keras.Evan terkejut. "Pak Sam? Apa yang sedang kamu lakukan?"Sam menggelengkan kepala. "Nggak apa-apa. Om Evan yakin mendengar dengan jelas, dia bilang mau mengejar kereta?"Evan mengangguk. "Saat aku bertugas semalam, aku hanya bertemu ibu dan anak itu. Hanya itu yang aku bicarakan dengannya, nggak mungkin aku salah ingat."Dia menambahkan, "Kalau bukan untuk mengejar kereta, mana mungkin dia berangkat dini hari sekitar pukul tiga atau empat."Kening Sam yang semula berkerut pun mengendur. "Om Evan, kamu benar. Terima kasih. Aku pergi mencari orang dulu, nanti aku

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status