Beranda / Pendekar / Luka Yang Menembus Langit / Bab 2 -Abu dan Dendam

Share

Bab 2 -Abu dan Dendam

Penulis: Akaiy
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-27 10:36:52

Malam itu terasa tak berakhir. Di dalam gua kecil yang lembab di tepi sungai, Lian Xue memeluk tubuh kecil Lian Mei yang terus bergetar. Adiknya sudah kehabisan air mata, kini hanya isakan pelan yang tersisa, seperti hembusan angin dingin yang menyusup melalui celah-celah batu. Bau darah dan asap masih menempel di pakaian mereka, meski api desa sudah jauh di belakang.

Lian Xue menatap kegelapan di luar mulut gua. Bulan purnama menyelinap di antara awan, menerangi reruntuhan Yunhe yang kini hanya puing-puing berasap. Rumah-rumah kayu yang dulu hangat kini menjadi bara merah yang perlahan padam. Tubuh-tubuh penduduk berserakan di jalan tanah. Beberapa utuh, sebagian lagi tak lagi bisa dikenali. Roh-roh liar itu telah pergi secepat mereka datang, meninggalkan kehancuran tanpa alasan yang jelas.

"Kak... Ayah dan Ibu... mereka akan kembali, kan?" suara Lian Mei kecil sekali, hampir tak terdengar.

Lian Xue menelan ludah. Tenggorokannya terasa seperti terbakar. Ia ingin berbohong, ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja seperti cerita yang biasa dibacakan ibu mereka sebelum tidur. Tapi kata-kata itu tak mau keluar. Yang ada hanyalah kehampaan yang menggerogoti dadanya.

"Mereka... sudah pergi ke tempat yang lebih baik, Mei'er," akhirnya ia berkata, suaranya serak. "Mereka menjaga kita dari langit sekarang."

Lian Mei mengangguk lemah, tapi matanya kosong. Ia meringkuk lebih erat di pelukan kakaknya, seolah takut jika melepaskan, kakaknya juga akan lenyap.

Pagi menyingsing dengan dingin yang menusuk tulang. Kabut tebal menyelimuti lembah, membuat dunia terasa seperti lukisan yang pudar. Lian Xue keluar dari gua dengan hati-hati, memastikan tak ada roh liar yang tersisa. Ia kembali ke desa untuk mencari apa saja yang bisa diselamatkan.

Pemandangan itu lebih mengerikan di siang hari. Mayat ayahnya tergeletak di dekat ladang, dadanya robek, matanya masih terbuka seolah menatap sesuatu di kejauhan. Lian Xue berlutut di sampingnya, tangannya gemetar saat menyentuh wajah ayah yang sudah dingin. Ia menutup mata ayahnya dengan lembut, lalu menggali tanah dengan tangan kosong untuk mengubur tubuh itu. Tak ada peti mati, tak ada kain kafan hanya tanah basah dan batu-batu kecil sebagai tanda.

Ibu dan beberapa tetangga lainnya ia kubur di dekat sungai, di bawah pohon willow tua yang dulu sering menjadi tempat mereka bermain. Setiap gali, setiap tumpuk tanah, membuat dadanya semakin sesak. Dendam mulai mengakar di hatinya, bukan hanya pada roh-roh liar itu, tapi pada dunia yang membiarkan hal seperti ini terjadi. Pada kekuatan yang hanya dimiliki segelintir orang, sementara yang lemah harus mati begitu saja.

Saat matahari hampir tenggelam, Lian Xue kembali ke gua dengan beberapa barang yang berhasil diselamatkan. Sebilah pisau kecil ayahnya, kain selendang ibunya, dan sedikit beras yang masih tersisa di gudang yang setengah roboh. Lian Mei masih tidur lelap, kelelahan setelah menangis sepanjang hari.

Malam kedua, Lian Xue tak bisa tidur. Ia duduk di mulut gua, memandang langit berbintang. Pikirannya berputar. Kemana mereka harus pergi? Desa terdekat berjarak tiga hari perjalanan kaki, melewati hutan yang penuh bahaya. Mereka tak punya makanan cukup, tak punya perlindungan. Dan yang paling menakutkan. bagaimana jika roh-roh itu kembali?

Tiba-tiba, angin berhembus kencang. Daun-daun bergoyang liar, dan aroma samar-samar tercium bau setelah petir menyambar. Lian Xue berdiri tegak, tangannya meraih pisau kecil itu meski ia tahu itu tak akan berguna melawan apa pun yang kuat.

Dari kegelapan hutan, muncul sebuah sosok. Pria tua berjubah abu-abu lusuh, rambut putihnya panjang terurai, diikat longgar. Matanya tajam seperti elang, dan di sekitar tubuhnya terasa aliran energi yang membuat udara bergetar. Petir kecil sesekali melompat di ujung jarinya, seolah hidup sendiri.

"Siapa kau?" tanya Lian Xue, suaranya tegas meski lututnya gemetar.

Pria tua itu memandangnya lama, lalu melihat ke arah gua di mana Lian Mei tertidur.

"Anak yang selamat dari pembantaian Yunhe," gumamnya pelan, seolah membaca sesuatu yang tak terucap. "Kau punya dendam di mata. Dan kau punya jiwa yang tak mudah patah."

Lian Xue menegang. "Kau tahu apa yang terjadi di desaku?"

"Aku merasakannya dari jauh. Energi kacau itu bukan serangan biasa. Ada tangan yang menggerakkannya." Pria tua itu melangkah mendekat, tapi tak agresif. "Namaku Feng Ying. Dulunya aku seorang pengembara. Kini hanya seorang tua yang lelah." Pria tua itu mengenalkan dirinya sendiri

"Apa yang kau inginkan dariku?" Lian Xue tak mundur, meski ia tahu perbedaan kekuatan mereka seperti langit dan bumi.

Feng Ying tersenyum tipis, tapi ada kesedihan di situ. "Aku tak menginginkan apa-apa. Tapi kau... kau butuh sesuatu. Kekuatan. Pengetahuan. Kesempatan untuk tak lagi menjadi korban."

Ia mengulurkan tangan. Di telapaknya, ada kilatan cahaya kecil seperti benih petir yang berputar pelan.

"Jika kau ingin balas dendam, jika kau ingin melindungi adikmu, dan jika kau tak takut mati seribu kali dalam prosesnya ikutlah denganku. Aku akan mengajarimu apa artinya menjadi kultivator. Tapi ingat, jalan ini tak ada jalan kembali."

Lian Xue menatap tangan itu lama. Di belakangnya, Lian Mei bergumam dalam tidur, memanggil nama ibunya. Air mata kembali mengalir di pipi Lian Xue, tapi kali ini bukan karena kesedihan semata. Ada api yang mulai menyala di dadanya.

Ia mengangguk pelan.

"Aku akan ikut."

Feng Ying mengangguk, lalu menoleh ke hutan. "Besok pagi kita berangkat. Istirahat sekarang. Malam ini, kau masih manusia biasa. Mulai besok, kau mulai menjadi sesuatu yang lain."

Sosok tua itu berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan aroma petir dan harapan yang rapuh di udara.

Lian Xue kembali ke gua, memeluk adiknya erat-erat. Untuk pertama kalinya sejak tragedi itu, ia merasa ada secercah cahaya di ujung terowongan gelap.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 75 - Menguasai Array Kuno dan Penemuan Baru

    Dengan warisan pengetahuan array tingkat tinggi dari Liang Qiao yang kini bersemayam di benaknya, Liang Xiao segera memulai pelatihannya di ruang rahasia bawah tanah. Tempat ini adalah surga bagi seorang kultivator , kolam spiritual yang memancarkan energi murni, rak rak buku giok yang tak terhitung jumlahnya, dan prasasti prasasti kuno yang mengukir teknik teknik terlarang. Namun, fokus utamanya saat ini adalah menginternalisasi dan mempraktikkan pengetahuan array yang baru saja ia serap secara instan namun masif tersebut.Liang Xiao duduk bersila di dekat kolam spiritual. Uap hangat yang membawa esensi bumi meresap ke dalam pori porinya, mempercepat proses pemulihan meridian dan memperkuat fondasi kultivasinya. Di dalam benaknya, ribuan pola array berputar putar seperti galaksi kecil, mulai dari formasi penyegelan dasar hingga struktur kompleks yang bahkan para master formasi di dunia luar

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 74 - Warisan Array Agung dan Pengetahuan yang Mengalir

    Ruangan rahasia di bawah reruntuhan itu bukan sekadar gudang penyimpanan; ia adalah sebuah ekosistem spiritual yang mandiri. Udara di dalamnya terasa berdenyut, seolah olah dinding dinding batu giok itu sendiri sedang bernapas. Cahaya keemasan dari kolam spiritual di tengah ruangan memantul pada permukaan rak rak buku yang jernih, menciptakan spektrum pelangi yang menari nari di langit langit aula yang tinggi. Liang Xiao melangkah perlahan, merasakan sensasi menggelitik di permukaan kulitnya saat pori porinya mulai menyerap energi murni yang meluap luap. Di tempat ini, konsentrasi Qi setidaknya sepuluh kali lipat lebih padat dibandingkan di dunia atas."Ini adalah jantung warisan Keluarga Liang," bisik Liang Xun. Wujud spiritualnya tampak lebih tenang di sini, seolah olah ia telah pulang ke rumah yang sebenarnya. "Kolam spiritual ini adalah Nadi Bumi yang dialirkan secara paksa oleh leluhur k

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 73 - Peninggalan Leluhur

    Langkah kaki Liang Xiao menggema pelan di atas lantai batu yang retak. Debu tebal yang menyelimuti reruntuhan aula utama berterbangan setiap kali ujung jubahnya menyapu lantai. Di depannya, sosok transparan Liang Xun melayang dengan anggun, namun raut wajah spiritualnya memancarkan ketegangan yang nyata. Sisa jiwa itu berhenti tepat di depan sebuah dinding batu yang tampak tidak istimewa. Permukaannya kasar, ditumbuhi lumut kering, dan penuh dengan goresan akibat cuaca ekstrem selama bertahun tahun. Secara kasat mata, dinding itu hanyalah bagian dari struktur bangunan yang telah mati.Liang Xun mengangkat tangan kanannya yang berpendar biru pucat. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah titik spesifik yang terletak setinggi dada di permukaan batu tersebut. "Jangan tertipu oleh penampilan luar, Liang Xiao. Dunia luar mengenal klan kita sebagai keluarga bangsawan yang kaya, namun mereka tidak pernah tahu b

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 72 - Rahasia Tersembunyi Keluarga Liang

    Langkah kaki Liang Xiao terasa berat saat ia menapaki ubin batu yang retak di gerbang utama kediaman klan nya. Setelah bersujud sebagai tanda hormat terakhir kepada para leluhur di ambang pintu yang hancur, ia melangkah masuk ke dalam area yang kini lebih mirip pemakaman massal daripada sebuah kediaman bangsawan. Debu tebal yang telah mengendap selama bertahun tahun terbang tertiup angin, menyelimuti bayangan struktur struktur megah yang kini hanya tinggal kerangka kayu yang melapuk dan ditelan tanaman merambat liar. Di beberapa sudut, jejak kebakaran hebat masih terlihat jelas; arang hitam yang menyatu dengan batu menjadi saksi bisu betapa brutalnya api yang melahap tempat ini di masa lalu. Udara di sini terasa dingin dan menyesakkan, seolah setiap inci tanahnya masih menyimpan memori kesedihan dan teriakan kematian yang tak sempat terbalaskan.Liang Xiao melangkah dengan waspada, tangan kanannya menggeng

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 71 - Bersujud di Gerbang yang Membeku

    Kesunyian akademi saat masa liburan memberikan keleluasaan bagi Liang Xiao untuk menuntaskan rasa penasarannya. Berbekal akses dari Perpustakaan Terlarang Tingkat Tinggi, ia menghabiskan waktu berhari hari untuk membedah setiap inchi perkamen pemberian Feng Ying. Simbol simbol kuno yang awalnya tampak seperti coretan acak mulai bertransformasi menjadi koordinat geografis yang presisi. Setelah melalui penelitian intensif yang menguras energi mental, peta itu akhirnya menunjuk pada satu titik di ujung utara yang terisolasi, sebuah wilayah yang dikenal dengan nama mengerikan: "Sungai Abu".Sungai Abu bukanlah sekadar nama kiasan. Wilayah ini adalah lembah kematian di mana vegetasi enggan tumbuh dan udara terasa seperti mengandung serpihan logam. Sungai yang mengalir di dasarnya membawa sedimen vulkanik berwarna abu abu pekat, menciptakan ilusi visual seolah olah seluruh dunia di sana telah hangus terbakar oleh api langit. Masyarakat sekitar menghindari tempat ini, menyebutnya sebagai tan

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 70 - Dendam yang Kembali Menyala

    Suasana hangat yang diciptakan oleh kehadiran Liang Mei di penginapan perlahan memudar seiring malam yang larut. Setelah memastikan adiknya tertidur lelap, Liang Xiao kembali ke kamarnya. Ia duduk bersila di atas kasur, matanya menatap kosong ke dinding di depannya, namun pikirannya berkelana jauh ke masa lalu. Kemenangan atas Ming Yu dan posisi barunya di peringkat sepuluh besar Daftar Seratus Murid Berbakat adalah pencapaian yang membanggakan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ini hanyalah sebuah sarana, bukan tujuan akhir.Pengingat akan senyum tulus adiknya, kemurnian hatinya, adalah tamparan yang lembut namun kuat. Semua yang ia lakukan, semua bahaya yang ia hadapi, semua intrik yang ia lalui, pada akhirnya adalah demi keamanan dan masa depan Liang Mei, serta untuk memenuhi sumpah yang telah ia ukir di hatinya: balas dendam atas pembantaian keluarganya.Dengan pijakan yang kini semakin kokoh di Akademi Bintang Jatuh, dengan akses ke sumber daya yang lebih luas, dan deng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status