Home / Pendekar / Luka Yang Menembus Langit / Bab 3 - Langkah Pertama Menuju Jalan Abadi

Share

Bab 3 - Langkah Pertama Menuju Jalan Abadi

Author: Akaiy
last update Last Updated: 2026-01-27 10:37:01

Pagi itu, kabut masih menyelimuti lembah seperti selimut tebal yang enggan dilepas. Lian Xue membangunkan Lian Mei dengan lembut, memberinya sisa nasi dingin yang dibungkus daun bambu. Adiknya makan dalam diam, matanya masih merah karena menangis semalaman.

"Kita akan pergi hari ini, Mei'er," kata Lian Xue pelan. "Kakak akan belajar menjadi kuat. Supaya tak ada lagi yang bisa menyakiti kita."

Lian Mei mengangguk kecil, meski tak sepenuhnya mengerti. Ia hanya tahu bahwa kakaknya adalah satu-satunya yang tersisa.

Tak lama kemudian, Feng Ying muncul kembali dari balik pepohonan. Jubah abu-abunya tampak lebih kusam di bawah sinar matahari pagi, tapi auranya tetap membuat udara bergetar samar. Di punggungnya tergantung sebuah tongkat kayu hitam sederhana, ujungnya sedikit bercahaya seperti disambar petir.

"Kau siap?" tanyanya singkat, tanpa basa-basi.

Lian Xue berdiri, menggendong Lian Mei di punggungnya. "Ya."

Feng Ying mengangguk, lalu berbalik dan mulai berjalan menuju arah utara, menyusuri sungai yang masih mengalir jernih meski desa di belakangnya telah musnah. Mereka berjalan tanpa banyak bicara. Lian Xue memperhatikan setiap gerak guru barunya itu, langkahnya ringan, seolah tak menyentuh tanah sepenuhnya, dan sesekali angin kecil berputar di sekitar kakinya seperti mengikuti irama.

Setelah dua jam berjalan, mereka meninggalkan lembah Yunhe dan memasuki hutan yang lebih dalam. Pohon-pohon di sini lebih tua, batangnya besar dan berlumut, cabang-cabangnya saling bertautan membentuk kanopi tebal yang membuat cahaya matahari hanya menetes-tipis.

Feng Ying berhenti di sebuah celah batu besar yang tersembunyi di balik semak belukar. Di baliknya, terdapat sebuah gua kecil dengan mata air mengalir dari dinding batu. Di tengah gua, ada lingkaran batu datar yang tampak dibentuk secara alami, tapi permukaannya terlalu halus untuk itu.

"Ini tempat latihan pertamamu," kata Feng Ying. "Kita akan tinggal di sini selama beberapa minggu. Makanan dari hutan, air dari mata air ini. Tak ada kemewahan. Hanya kerja keras."

Ia menoleh ke Lian Xue. "Turunkan adikmu. Dia bisa bermain di sekitar gua. Roh-roh kecil tak akan mendekat selama aku di sini."

Lian Mei diturunkan dengan hati-hati. Ia langsung duduk di dekat mata air, memainkan air dengan jari kecilnya, seolah mencari sedikit kedamaian di tengah dunia yang runtuh.

Feng Ying duduk bersila di lingkaran batu itu, lalu memberi isyarat pada Lian Xue untuk duduk di depannya.

"Pertama-tama, kau harus mengerti apa itu kultivasi."

Ia mengangkat tangan kanannya. Di telapaknya, muncul bola cahaya kecil berwarna biru keperakan seperti petir yang dibungkus kabut.

"Ini adalah qi. Energi langit dan bumi yang mengalir di seluruh alam semesta. Manusia biasa tak bisa merasakannya karena meridian mereka tertutup atau rusak sejak lahir. Kultivator membuka meridian itu, menarik qi ke dalam tubuh, menyempurnakannya, lalu menggunakannya untuk memperkuat daging, tulang, jiwa, hingga akhirnya melampaui batas kemanusiaan."

Feng Ying menatap mata Lian Xue tajam. "Kau punya bakat. Aku bisa merasakannya. Jiwa mu kuat, meski tubuhmu lemah. Tapi bakat saja tak cukup. Tanpa tekad, kau hanya akan mati sia-sia seperti keluargamu."

Kata-kata itu menusuk hati Lian Xue seperti pisau. Ia mengepalkan tangan hingga kuku menusuk telapaknya sendiri.

"Aku tak akan mati sia-sia."

"Bagus." Feng Ying mengangguk. "Hari ini, kita mulai dengan dasar: merasakan qi di sekitarmu."

Ia menyuruh Lian Xue duduk bersila di depannya, punggung tegak, tangan di atas lutut dengan telapak menghadap atas.

"Tutup mata. Tarik napas dalam-dalam melalui hidung, hembuskan lewat mulut. Lupakan segalanya dendam, kesedihan, bahkan adikmu untuk sesaat. Hanya fokus pada napas. Biarkan pikiran mengalir seperti air sungai."

Lian Xue menurut. Awalnya sulit. Gambar ayahnya yang robek, ibunya yang kejang karena racun, jeritan Lian Mei. Semuanya berputar di kepalanya seperti badai. Tapi ia memaksa diri untuk bernapas. Satu... dua... tiga...

Setelah hampir satu jam, sesuatu berubah.

Ada hembusan dingin yang masuk melalui pori-pori kulitnya. Seperti angin musim dingin, tapi lebih halus, lebih lembut. Ia merasakannya mengalir ke dalam dada, lalu menyebar ke seluruh tubuh seperti sungai kecil yang mencari jalannya sendiri.

"Itu qi elemen air," kata Feng Ying tiba-tiba, suaranya terdengar dari kejauhan meski ia masih duduk di depan. "Kau punya afinitas alami dengannya. Bagus. Itu akan menjadi fondasi pertamamu."

Lian Xue membuka mata, napasnya tersengal. Keringat membasahi punggungnya meski udara gua dingin.

"Bagaimana rasanya?" tanya Feng Ying.

"Seperti... ada sungai di dalam dadaku. Dingin, tapi menenangkan."

Feng Ying tersenyum tipis, senyum pertama yang Lian Xue lihat darinya.

"Itu baru permulaan. Besok kita akan membuka meridian utama pertama: Dantian Bawah. Itu akan sakit. Sangat sakit. Banyak orang gagal di tahap ini dan meridian mereka rusak selamanya. Kau siap?"

Lian Xue menatap mata guru itu tanpa ragu.

"Aku siap mati untuk ini."

Feng Ying tertawa pelan, suara seperti guntur jauh.

"Bagus. Karena di jalan ini, kau memang akan mati berkali-kali sebelum akhirnya lahir kembali."

Malam itu, Lian Xue tidur di samping Lian Mei yang sudah terlelap. Di dadanya, aliran qi kecil itu masih berputar pelan, seperti janji bahwa esok hari akan berbeda.

Di luar gua, angin malam membawa aroma petir samar. Feng Ying duduk sendirian di atas batu besar, memandang langit berbintang.

"Anak itu... mungkin dia yang kutunggu selama puluhan tahun," gumamnya pada dirinya sendiri. "Atau mungkin dia hanya akan menjadi korban berikutnya dari kutukan dunia ini."

Tapi matanya tak menunjukkan keraguan. Hanya tekad yang sama seperti yang kini mulai tumbuh di hati murid barunya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 75 - Menguasai Array Kuno dan Penemuan Baru

    Dengan warisan pengetahuan array tingkat tinggi dari Liang Qiao yang kini bersemayam di benaknya, Liang Xiao segera memulai pelatihannya di ruang rahasia bawah tanah. Tempat ini adalah surga bagi seorang kultivator , kolam spiritual yang memancarkan energi murni, rak rak buku giok yang tak terhitung jumlahnya, dan prasasti prasasti kuno yang mengukir teknik teknik terlarang. Namun, fokus utamanya saat ini adalah menginternalisasi dan mempraktikkan pengetahuan array yang baru saja ia serap secara instan namun masif tersebut.Liang Xiao duduk bersila di dekat kolam spiritual. Uap hangat yang membawa esensi bumi meresap ke dalam pori porinya, mempercepat proses pemulihan meridian dan memperkuat fondasi kultivasinya. Di dalam benaknya, ribuan pola array berputar putar seperti galaksi kecil, mulai dari formasi penyegelan dasar hingga struktur kompleks yang bahkan para master formasi di dunia luar

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 74 - Warisan Array Agung dan Pengetahuan yang Mengalir

    Ruangan rahasia di bawah reruntuhan itu bukan sekadar gudang penyimpanan; ia adalah sebuah ekosistem spiritual yang mandiri. Udara di dalamnya terasa berdenyut, seolah olah dinding dinding batu giok itu sendiri sedang bernapas. Cahaya keemasan dari kolam spiritual di tengah ruangan memantul pada permukaan rak rak buku yang jernih, menciptakan spektrum pelangi yang menari nari di langit langit aula yang tinggi. Liang Xiao melangkah perlahan, merasakan sensasi menggelitik di permukaan kulitnya saat pori porinya mulai menyerap energi murni yang meluap luap. Di tempat ini, konsentrasi Qi setidaknya sepuluh kali lipat lebih padat dibandingkan di dunia atas."Ini adalah jantung warisan Keluarga Liang," bisik Liang Xun. Wujud spiritualnya tampak lebih tenang di sini, seolah olah ia telah pulang ke rumah yang sebenarnya. "Kolam spiritual ini adalah Nadi Bumi yang dialirkan secara paksa oleh leluhur k

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 73 - Peninggalan Leluhur

    Langkah kaki Liang Xiao menggema pelan di atas lantai batu yang retak. Debu tebal yang menyelimuti reruntuhan aula utama berterbangan setiap kali ujung jubahnya menyapu lantai. Di depannya, sosok transparan Liang Xun melayang dengan anggun, namun raut wajah spiritualnya memancarkan ketegangan yang nyata. Sisa jiwa itu berhenti tepat di depan sebuah dinding batu yang tampak tidak istimewa. Permukaannya kasar, ditumbuhi lumut kering, dan penuh dengan goresan akibat cuaca ekstrem selama bertahun tahun. Secara kasat mata, dinding itu hanyalah bagian dari struktur bangunan yang telah mati.Liang Xun mengangkat tangan kanannya yang berpendar biru pucat. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah titik spesifik yang terletak setinggi dada di permukaan batu tersebut. "Jangan tertipu oleh penampilan luar, Liang Xiao. Dunia luar mengenal klan kita sebagai keluarga bangsawan yang kaya, namun mereka tidak pernah tahu b

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 72 - Rahasia Tersembunyi Keluarga Liang

    Langkah kaki Liang Xiao terasa berat saat ia menapaki ubin batu yang retak di gerbang utama kediaman klan nya. Setelah bersujud sebagai tanda hormat terakhir kepada para leluhur di ambang pintu yang hancur, ia melangkah masuk ke dalam area yang kini lebih mirip pemakaman massal daripada sebuah kediaman bangsawan. Debu tebal yang telah mengendap selama bertahun tahun terbang tertiup angin, menyelimuti bayangan struktur struktur megah yang kini hanya tinggal kerangka kayu yang melapuk dan ditelan tanaman merambat liar. Di beberapa sudut, jejak kebakaran hebat masih terlihat jelas; arang hitam yang menyatu dengan batu menjadi saksi bisu betapa brutalnya api yang melahap tempat ini di masa lalu. Udara di sini terasa dingin dan menyesakkan, seolah setiap inci tanahnya masih menyimpan memori kesedihan dan teriakan kematian yang tak sempat terbalaskan.Liang Xiao melangkah dengan waspada, tangan kanannya menggeng

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 71 - Bersujud di Gerbang yang Membeku

    Kesunyian akademi saat masa liburan memberikan keleluasaan bagi Liang Xiao untuk menuntaskan rasa penasarannya. Berbekal akses dari Perpustakaan Terlarang Tingkat Tinggi, ia menghabiskan waktu berhari hari untuk membedah setiap inchi perkamen pemberian Feng Ying. Simbol simbol kuno yang awalnya tampak seperti coretan acak mulai bertransformasi menjadi koordinat geografis yang presisi. Setelah melalui penelitian intensif yang menguras energi mental, peta itu akhirnya menunjuk pada satu titik di ujung utara yang terisolasi, sebuah wilayah yang dikenal dengan nama mengerikan: "Sungai Abu".Sungai Abu bukanlah sekadar nama kiasan. Wilayah ini adalah lembah kematian di mana vegetasi enggan tumbuh dan udara terasa seperti mengandung serpihan logam. Sungai yang mengalir di dasarnya membawa sedimen vulkanik berwarna abu abu pekat, menciptakan ilusi visual seolah olah seluruh dunia di sana telah hangus terbakar oleh api langit. Masyarakat sekitar menghindari tempat ini, menyebutnya sebagai tan

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 70 - Dendam yang Kembali Menyala

    Suasana hangat yang diciptakan oleh kehadiran Liang Mei di penginapan perlahan memudar seiring malam yang larut. Setelah memastikan adiknya tertidur lelap, Liang Xiao kembali ke kamarnya. Ia duduk bersila di atas kasur, matanya menatap kosong ke dinding di depannya, namun pikirannya berkelana jauh ke masa lalu. Kemenangan atas Ming Yu dan posisi barunya di peringkat sepuluh besar Daftar Seratus Murid Berbakat adalah pencapaian yang membanggakan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ini hanyalah sebuah sarana, bukan tujuan akhir.Pengingat akan senyum tulus adiknya, kemurnian hatinya, adalah tamparan yang lembut namun kuat. Semua yang ia lakukan, semua bahaya yang ia hadapi, semua intrik yang ia lalui, pada akhirnya adalah demi keamanan dan masa depan Liang Mei, serta untuk memenuhi sumpah yang telah ia ukir di hatinya: balas dendam atas pembantaian keluarganya.Dengan pijakan yang kini semakin kokoh di Akademi Bintang Jatuh, dengan akses ke sumber daya yang lebih luas, dan deng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status