LOGINPagi itu, kabut masih menyelimuti lembah seperti selimut tebal yang enggan dilepas. Lian Xue membangunkan Lian Mei dengan lembut, memberinya sisa nasi dingin yang dibungkus daun bambu. Adiknya makan dalam diam, matanya masih merah karena menangis semalaman.
"Kita akan pergi hari ini, Mei'er," kata Lian Xue pelan. "Kakak akan belajar menjadi kuat. Supaya tak ada lagi yang bisa menyakiti kita." Lian Mei mengangguk kecil, meski tak sepenuhnya mengerti. Ia hanya tahu bahwa kakaknya adalah satu-satunya yang tersisa. Tak lama kemudian, Feng Ying muncul kembali dari balik pepohonan. Jubah abu-abunya tampak lebih kusam di bawah sinar matahari pagi, tapi auranya tetap membuat udara bergetar samar. Di punggungnya tergantung sebuah tongkat kayu hitam sederhana, ujungnya sedikit bercahaya seperti disambar petir. "Kau siap?" tanyanya singkat, tanpa basa-basi. Lian Xue berdiri, menggendong Lian Mei di punggungnya. "Ya." Feng Ying mengangguk, lalu berbalik dan mulai berjalan menuju arah utara, menyusuri sungai yang masih mengalir jernih meski desa di belakangnya telah musnah. Mereka berjalan tanpa banyak bicara. Lian Xue memperhatikan setiap gerak guru barunya itu, langkahnya ringan, seolah tak menyentuh tanah sepenuhnya, dan sesekali angin kecil berputar di sekitar kakinya seperti mengikuti irama. Setelah dua jam berjalan, mereka meninggalkan lembah Yunhe dan memasuki hutan yang lebih dalam. Pohon-pohon di sini lebih tua, batangnya besar dan berlumut, cabang-cabangnya saling bertautan membentuk kanopi tebal yang membuat cahaya matahari hanya menetes-tipis. Feng Ying berhenti di sebuah celah batu besar yang tersembunyi di balik semak belukar. Di baliknya, terdapat sebuah gua kecil dengan mata air mengalir dari dinding batu. Di tengah gua, ada lingkaran batu datar yang tampak dibentuk secara alami, tapi permukaannya terlalu halus untuk itu. "Ini tempat latihan pertamamu," kata Feng Ying. "Kita akan tinggal di sini selama beberapa minggu. Makanan dari hutan, air dari mata air ini. Tak ada kemewahan. Hanya kerja keras." Ia menoleh ke Lian Xue. "Turunkan adikmu. Dia bisa bermain di sekitar gua. Roh-roh kecil tak akan mendekat selama aku di sini." Lian Mei diturunkan dengan hati-hati. Ia langsung duduk di dekat mata air, memainkan air dengan jari kecilnya, seolah mencari sedikit kedamaian di tengah dunia yang runtuh. Feng Ying duduk bersila di lingkaran batu itu, lalu memberi isyarat pada Lian Xue untuk duduk di depannya. "Pertama-tama, kau harus mengerti apa itu kultivasi." Ia mengangkat tangan kanannya. Di telapaknya, muncul bola cahaya kecil berwarna biru keperakan seperti petir yang dibungkus kabut. "Ini adalah qi. Energi langit dan bumi yang mengalir di seluruh alam semesta. Manusia biasa tak bisa merasakannya karena meridian mereka tertutup atau rusak sejak lahir. Kultivator membuka meridian itu, menarik qi ke dalam tubuh, menyempurnakannya, lalu menggunakannya untuk memperkuat daging, tulang, jiwa, hingga akhirnya melampaui batas kemanusiaan." Feng Ying menatap mata Lian Xue tajam. "Kau punya bakat. Aku bisa merasakannya. Jiwa mu kuat, meski tubuhmu lemah. Tapi bakat saja tak cukup. Tanpa tekad, kau hanya akan mati sia-sia seperti keluargamu." Kata-kata itu menusuk hati Lian Xue seperti pisau. Ia mengepalkan tangan hingga kuku menusuk telapaknya sendiri. "Aku tak akan mati sia-sia." "Bagus." Feng Ying mengangguk. "Hari ini, kita mulai dengan dasar: merasakan qi di sekitarmu." Ia menyuruh Lian Xue duduk bersila di depannya, punggung tegak, tangan di atas lutut dengan telapak menghadap atas. "Tutup mata. Tarik napas dalam-dalam melalui hidung, hembuskan lewat mulut. Lupakan segalanya dendam, kesedihan, bahkan adikmu untuk sesaat. Hanya fokus pada napas. Biarkan pikiran mengalir seperti air sungai." Lian Xue menurut. Awalnya sulit. Gambar ayahnya yang robek, ibunya yang kejang karena racun, jeritan Lian Mei. Semuanya berputar di kepalanya seperti badai. Tapi ia memaksa diri untuk bernapas. Satu... dua... tiga... Setelah hampir satu jam, sesuatu berubah. Ada hembusan dingin yang masuk melalui pori-pori kulitnya. Seperti angin musim dingin, tapi lebih halus, lebih lembut. Ia merasakannya mengalir ke dalam dada, lalu menyebar ke seluruh tubuh seperti sungai kecil yang mencari jalannya sendiri. "Itu qi elemen air," kata Feng Ying tiba-tiba, suaranya terdengar dari kejauhan meski ia masih duduk di depan. "Kau punya afinitas alami dengannya. Bagus. Itu akan menjadi fondasi pertamamu." Lian Xue membuka mata, napasnya tersengal. Keringat membasahi punggungnya meski udara gua dingin. "Bagaimana rasanya?" tanya Feng Ying. "Seperti... ada sungai di dalam dadaku. Dingin, tapi menenangkan." Feng Ying tersenyum tipis, senyum pertama yang Lian Xue lihat darinya. "Itu baru permulaan. Besok kita akan membuka meridian utama pertama: Dantian Bawah. Itu akan sakit. Sangat sakit. Banyak orang gagal di tahap ini dan meridian mereka rusak selamanya. Kau siap?" Lian Xue menatap mata guru itu tanpa ragu. "Aku siap mati untuk ini." Feng Ying tertawa pelan, suara seperti guntur jauh. "Bagus. Karena di jalan ini, kau memang akan mati berkali-kali sebelum akhirnya lahir kembali." Malam itu, Lian Xue tidur di samping Lian Mei yang sudah terlelap. Di dadanya, aliran qi kecil itu masih berputar pelan, seperti janji bahwa esok hari akan berbeda. Di luar gua, angin malam membawa aroma petir samar. Feng Ying duduk sendirian di atas batu besar, memandang langit berbintang. "Anak itu... mungkin dia yang kutunggu selama puluhan tahun," gumamnya pada dirinya sendiri. "Atau mungkin dia hanya akan menjadi korban berikutnya dari kutukan dunia ini." Tapi matanya tak menunjukkan keraguan. Hanya tekad yang sama seperti yang kini mulai tumbuh di hati murid barunya.Pagi itu, sinar matahari menembus kanopi hutan dengan lebih terang dari biasanya, seolah alam memberi isyarat bahwa hari ini akan menjadi titik balik. Lian Xue berdiri di depan sebuah batu besar setinggi pinggangnya permukaannya kasar, berlumut, dan tampak tak tergoyahkan. Bekas pukulan pohon kemarin masih terasa di telapak tangannya, tapi kini ada lapisan ketahanan baru yang membuatnya tak lagi gemetar. Feng Ying berdiri di samping, tongkat kayu hitamnya mengetuk tanah pelan. "Hari ini kau akan berlatih dengan batu ini. Ingat batu ini lebih keras, lebih tak kenal ampun. Jika qi-mu tak menembus cukup dalam, tulang tanganmu akan retak sebelum batu itu gores sedikit pun." Lian Xue mengangguk. Ia sudah siap. Tubuhnya terasa lebih ringan setelah malam penuh pemulihan qi otot-ototnya seperti sudah terbiasa dengan aliran dingin yang terus-menerus memperbaiki dan memperkuat. Ia menarik napas dalam, mengumpulkan qi air di Dantian Bawah hingga pusarannya berputar lebih cepat. Kali ini, ia
Hujan gerimis pagi itu sudah berhenti, meninggalkan udara segar dan tanah lembab di sekitar gua. Lian Xue berdiri di depan lingkaran batu, tubuhnya masih terasa berat setelah latihan kemarin, tapi ada semangat baru yang mengalir di nadinya seperti sungai yang akhirnya menemukan alur.Feng Ying berdiri di hadapannya, tangan di belakang punggung, ekspresi datar tapi mata tajam mengamati setiap gerak muridnya."Hari ini kita mulai berlatih Body Tempering tahap pertama," katanya. "Qi yang kau kumpulkan di Dantian Bawah bukan hanya untuk serangan atau manifestasi elemen. Ia harus memperkuat daging, tulang, dan organ dalam. Jika tubuhmu tetap lemah seperti manusia biasa, qi sebesar apapun hanya akan merusakmu dari dalam."Lian Xue mengangguk. Ia sudah merasakan sedikit perubahan sejak kemarin, napasnya lebih dalam, langkahnya lebih ringan, meski masih jauh dari kuat."Caranya?"" Kita gunakan metode sederhana tapi brutal, kau akan memukul pohon itu dengan telapak tangan, menggunakan qi air
Hari-hari berikutnya berlalu dalam ritme yang keras namun teratur. Matahari terbit, Lian Xue bangun sebelum fajar. Ia membersihkan tubuh dengan air dingin mata air gua, lalu duduk di lingkaran batu yang sama. Feng Ying tak pernah absen, kadang duduk diam mengawasi, kadang menghilang ke hutan untuk mencari ramuan atau makanan, tapi selalu kembali tepat saat latihan dimulai.Hari ini berbeda. Setelah pembukaan meridian pertama berhasil, Feng Ying memutuskan untuk mengajarkan Lian Xue cara mengendalikan qi yang sudah mengalir di tubuhnya. Bukan sekadar merasakan, tapi menggerakkannya sesuai kehendak."Kau sudah punya Dantian sekarang," kata Feng Ying sambil berdiri di depan Lian Xue. "Sekarang kau harus belajar mengalirkannya melalui meridian utama. Jika kau biarkan qi mengalir sendiri, ia akan seperti sungai liar yang bisa membanjiri dan menghancurkan tubuhmu. Kau harus menjadi bendungan sekaligus saluran."Ia mengulurkan tangan. Di telapaknya, muncul pusaran kecil qi petir berwarna bir
Pagi berikutnya datang dengan hujan gerimis tipis yang membuat udara gua terasa lebih dingin dan lembab. Lian Xue terbangun sebelum fajar, tubuhnya sudah basah keringat meski belum melakukan apa pun. Feng Ying sudah duduk di lingkaran batu yang sama sejak subuh. Di depannya terletak sebuah botol kecil dari giok hijau, di dalamnya terlihat cairan bercahaya samar seperti embun yang menangkap cahaya petir."Ini adalah Cairan Pembuka Meridian Kelas Rendah," kata Feng Ying tanpa menoleh. "Dibuat dari ramuan langka yang kutemukan di reruntuhan purba. Satu tetes saja cukup untuk membuka jalur pertama di Dantian Bawah. Tapi prosesnya akan sangat menyakitkan."Lian Xue menelan ludah. "Berapa lama?""Bisa satu jam, bisa seharian, bisa tiga hari. Tergantung ketahanan jiwamu. Jika kau pingsan terlalu lama atau qi-mu berbalik arah, meridianmu bisa rusak permanen. Kau akan menjadi cacat seumur hidup bahkan bisa mati."Lian Mei masih tertidur di sudut gua, dibungkus selendang ibu mereka. Lian Xue m
Pagi itu, kabut masih menyelimuti lembah seperti selimut tebal yang enggan dilepas. Lian Xue membangunkan Lian Mei dengan lembut, memberinya sisa nasi dingin yang dibungkus daun bambu. Adiknya makan dalam diam, matanya masih merah karena menangis semalaman. "Kita akan pergi hari ini, Mei'er," kata Lian Xue pelan. "Kakak akan belajar menjadi kuat. Supaya tak ada lagi yang bisa menyakiti kita." Lian Mei mengangguk kecil, meski tak sepenuhnya mengerti. Ia hanya tahu bahwa kakaknya adalah satu-satunya yang tersisa. Tak lama kemudian, Feng Ying muncul kembali dari balik pepohonan. Jubah abu-abunya tampak lebih kusam di bawah sinar matahari pagi, tapi auranya tetap membuat udara bergetar samar. Di punggungnya tergantung sebuah tongkat kayu hitam sederhana, ujungnya sedikit bercahaya seperti disambar petir. "Kau siap?" tanyanya singkat, tanpa basa-basi. Lian Xue berdiri, menggendong Lian Mei di punggungnya. "Ya." Feng Ying mengangguk, lalu berbalik dan mulai berjalan menuju arah
Malam itu terasa tak berakhir. Di dalam gua kecil yang lembab di tepi sungai, Lian Xue memeluk tubuh kecil Lian Mei yang terus bergetar. Adiknya sudah kehabisan air mata, kini hanya isakan pelan yang tersisa, seperti hembusan angin dingin yang menyusup melalui celah-celah batu. Bau darah dan asap masih menempel di pakaian mereka, meski api desa sudah jauh di belakang. Lian Xue menatap kegelapan di luar mulut gua. Bulan purnama menyelinap di antara awan, menerangi reruntuhan Yunhe yang kini hanya puing-puing berasap. Rumah-rumah kayu yang dulu hangat kini menjadi bara merah yang perlahan padam. Tubuh-tubuh penduduk berserakan di jalan tanah. Beberapa utuh, sebagian lagi tak lagi bisa dikenali. Roh-roh liar itu telah pergi secepat mereka datang, meninggalkan kehancuran tanpa alasan yang jelas. "Kak... Ayah dan Ibu... mereka akan kembali, kan?" suara Lian Mei kecil sekali, hampir tak terdengar. Lian Xue menelan ludah. Tenggorokannya terasa seperti terbakar. Ia ingin berbohong, ingi







