Home / Pendekar / Luka Yang Menembus Langit / Bab 6 - Tubuh yang Ditempa, Jiwa yang Teruji

Share

Bab 6 - Tubuh yang Ditempa, Jiwa yang Teruji

Author: Akaiy
last update Last Updated: 2026-01-27 12:13:14

Hujan gerimis pagi itu sudah berhenti, meninggalkan udara segar dan tanah lembab di sekitar gua. Lian Xue berdiri di depan lingkaran batu, tubuhnya masih terasa berat setelah latihan kemarin, tapi ada semangat baru yang mengalir di nadinya seperti sungai yang akhirnya menemukan alur.

Feng Ying berdiri di hadapannya, tangan di belakang punggung, ekspresi datar tapi mata tajam mengamati setiap gerak muridnya.

"Hari ini kita mulai berlatih Body Tempering tahap pertama," katanya. "Qi yang kau kumpulkan di Dantian Bawah bukan hanya untuk serangan atau manifestasi elemen. Ia harus memperkuat daging, tulang, dan organ dalam. Jika tubuhmu tetap lemah seperti manusia biasa, qi sebesar apapun hanya akan merusakmu dari dalam."

Lian Xue mengangguk. Ia sudah merasakan sedikit perubahan sejak kemarin, napasnya lebih dalam, langkahnya lebih ringan, meski masih jauh dari kuat.

"Caranya?"

" Kita gunakan metode sederhana tapi brutal, kau akan memukul pohon itu dengan telapak tangan, menggunakan qi air untuk melindungi kulit dan memperkuat otot. Setiap pukulan, alirkan qi ke tangan, biarkan ia membungkus seperti lapisan air tipis. Jika kau berhasil, pukulanmu tak akan melukai tanganmu sendiri malah akan membuat tulang dan otot semakin keras."

Lian Xue mendekati pohon itu. Ia menarik napas dalam, mengumpulkan qi di Dantian Bawah, lalu mengalirkannya ke tangan kanan seperti kemarin. Lapisan tipis air bercahaya muncul di telapaknya, dingin dan bergetar pelan.

Ia mengayunkan tangan pertama.

*Plak!*

Suara benturan keras bergema. Rasa sakit langsung menjalar ke seluruh lengannya seperti sedang memukul batu. Kulit telapaknya memerah, tapi tak robek. Qi air itu menyerap sebagian benturan, membuat tulang terasa bergetar tapi tak patah.

"Terlalu lemah," komentar Feng Ying. "Qi-mu hanya melindungi permukaan. Kau harus biarkan ia menembus ke dalam otot dan tulang. Bayangkan air yang meresap ke tanah yang kering bukan hanya membasahi permukaan."

Lian Xue menggertakkan gigi. Ia memukul lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Setiap pukulan lebih sakit dari sebelumnya. Telapak tangannya mulai berdarah, meski qi air terus mencoba menyembuhkan luka kecil itu. Keringat bercucuran, napasnya tersengal, tapi ia tak berhenti. Di kepalanya, gambar keluarganya yang tewas terus muncul setiap kali rasa sakit hampir membuatnya menyerah.

*Plak! Plak! Plak!*

Setelah pukulan ke-87, sesuatu berubah. Qi air yang tadinya hanya lapisan tipis mulai meresap lebih dalam. Ia merasakan aliran dingin menyusup ke otot lengan, ke tulang dan dagingnya, bahkan ke sendi bahu. Rasa sakit tak hilang sepenuhnya, tapi berubah menjadi sensasi hangat yang aneh seperti logam yang ditempa berulang kali hingga menjadi lebih kuat.

Feng Ying mengangguk pelan.

"Bagus. Itu tahap pertama Body Tempering: Skin and Flesh Forging. Kulitmu mulai mengeras, otot mulai terlatih menahan qi. Lanjutkan sampai seratus pukulan. Setelah itu, ganti tangan kiri."

Lian Xue melanjutkan. Saat pukulan ke-100, ia berhenti sejenak. Telapak tangannya memerah dan bengkak, tapi tak ada luka terbuka lagi. Ia bisa merasakan kekuatan baru meresapinya, bukan kekuatan besar, tapi daya tahan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Ia beralih ke tangan kiri, mengulangi proses yang sama. Kali ini lebih cepat ia menemukan ritme. Qi mengalir lebih lancar, pukulan lebih terkontrol.

Lian Mei duduk di dekat gua, memandang kakaknya dengan mata lebar. Ia tak mengerti sepenuhnya apa yang terjadi, tapi ia melihat kakaknya tak lagi menangis atau gemetar.

Saat matahari hampir tenggelam, Lian Xue menyelesaikan pukulan ke-200. Tubuhnya basah kuyup keringat, napasnya berat, tapi matanya bersinar. Ia mengepalkan tangan, kulitnya terasa lebih tebal, seperti ada lapisan tak terlihat yang melindungi.

Feng Ying mendekat, memeriksa telapak tangan muridnya.

"Tak ada retak tulang. Meridian stabil. Kulit sudah mulai membentuk lapisan pelindung qi pasif. Untuk tahap pemula, ini sudah sangat baik."

Ia menepuk bahu Lian Xue, tepat di tempat yang paling sakit tadi. Lian Xue meringis, tapi tak jatuh.

"Besok kita tingkatkan lagi latihannya. Kau akan memukul batu, bukan pohon. Dan qi-mu harus menembus lebih dalam ke organ dalam. Jika berhasil, kau bisa bertahan dari serangan binatang biasa tanpa terluka parah."

Lian Xue mengangguk, suaranya serak karena kelelahan.

"Terima kasih, Guru. Aku bisa merasakannya. Tubuh ini mulai menjadi lebih kuat."

Feng Ying tersenyum tipis.

"Senjata yang baik tak hanya tajam ia juga tak mudah patah. Ingat itu."

Malam itu, Lian Xue tidur lebih nyenyak dari sebelumnya. Di dalam tubuhnya, qi air terus berputar pelan, memperbaiki otot-otot yang lelah, memperkuat tulang yang telah ia tempa siang tadi.

Di luar, angin malam membawa suara samar binatang buas dari hutan dalam. Feng Ying duduk sendirian, memandang kegelapan.

"Anak ini tumbuh cepat," gumamnya. "Tapi dunia di luar sana tak akan menunggu. Klan-klan besar dan kekuatan gelap yang menggerakkan roh liar itu mereka sudah mulai bergerak."

Petir kecil melintas di ujung jarinya, seolah menyetujui.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Putri borlian
seramnya tapi seru
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 75 - Menguasai Array Kuno dan Penemuan Baru

    Dengan warisan pengetahuan array tingkat tinggi dari Liang Qiao yang kini bersemayam di benaknya, Liang Xiao segera memulai pelatihannya di ruang rahasia bawah tanah. Tempat ini adalah surga bagi seorang kultivator , kolam spiritual yang memancarkan energi murni, rak rak buku giok yang tak terhitung jumlahnya, dan prasasti prasasti kuno yang mengukir teknik teknik terlarang. Namun, fokus utamanya saat ini adalah menginternalisasi dan mempraktikkan pengetahuan array yang baru saja ia serap secara instan namun masif tersebut.Liang Xiao duduk bersila di dekat kolam spiritual. Uap hangat yang membawa esensi bumi meresap ke dalam pori porinya, mempercepat proses pemulihan meridian dan memperkuat fondasi kultivasinya. Di dalam benaknya, ribuan pola array berputar putar seperti galaksi kecil, mulai dari formasi penyegelan dasar hingga struktur kompleks yang bahkan para master formasi di dunia luar

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 74 - Warisan Array Agung dan Pengetahuan yang Mengalir

    Ruangan rahasia di bawah reruntuhan itu bukan sekadar gudang penyimpanan; ia adalah sebuah ekosistem spiritual yang mandiri. Udara di dalamnya terasa berdenyut, seolah olah dinding dinding batu giok itu sendiri sedang bernapas. Cahaya keemasan dari kolam spiritual di tengah ruangan memantul pada permukaan rak rak buku yang jernih, menciptakan spektrum pelangi yang menari nari di langit langit aula yang tinggi. Liang Xiao melangkah perlahan, merasakan sensasi menggelitik di permukaan kulitnya saat pori porinya mulai menyerap energi murni yang meluap luap. Di tempat ini, konsentrasi Qi setidaknya sepuluh kali lipat lebih padat dibandingkan di dunia atas."Ini adalah jantung warisan Keluarga Liang," bisik Liang Xun. Wujud spiritualnya tampak lebih tenang di sini, seolah olah ia telah pulang ke rumah yang sebenarnya. "Kolam spiritual ini adalah Nadi Bumi yang dialirkan secara paksa oleh leluhur k

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 73 - Peninggalan Leluhur

    Langkah kaki Liang Xiao menggema pelan di atas lantai batu yang retak. Debu tebal yang menyelimuti reruntuhan aula utama berterbangan setiap kali ujung jubahnya menyapu lantai. Di depannya, sosok transparan Liang Xun melayang dengan anggun, namun raut wajah spiritualnya memancarkan ketegangan yang nyata. Sisa jiwa itu berhenti tepat di depan sebuah dinding batu yang tampak tidak istimewa. Permukaannya kasar, ditumbuhi lumut kering, dan penuh dengan goresan akibat cuaca ekstrem selama bertahun tahun. Secara kasat mata, dinding itu hanyalah bagian dari struktur bangunan yang telah mati.Liang Xun mengangkat tangan kanannya yang berpendar biru pucat. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah titik spesifik yang terletak setinggi dada di permukaan batu tersebut. "Jangan tertipu oleh penampilan luar, Liang Xiao. Dunia luar mengenal klan kita sebagai keluarga bangsawan yang kaya, namun mereka tidak pernah tahu b

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 72 - Rahasia Tersembunyi Keluarga Liang

    Langkah kaki Liang Xiao terasa berat saat ia menapaki ubin batu yang retak di gerbang utama kediaman klan nya. Setelah bersujud sebagai tanda hormat terakhir kepada para leluhur di ambang pintu yang hancur, ia melangkah masuk ke dalam area yang kini lebih mirip pemakaman massal daripada sebuah kediaman bangsawan. Debu tebal yang telah mengendap selama bertahun tahun terbang tertiup angin, menyelimuti bayangan struktur struktur megah yang kini hanya tinggal kerangka kayu yang melapuk dan ditelan tanaman merambat liar. Di beberapa sudut, jejak kebakaran hebat masih terlihat jelas; arang hitam yang menyatu dengan batu menjadi saksi bisu betapa brutalnya api yang melahap tempat ini di masa lalu. Udara di sini terasa dingin dan menyesakkan, seolah setiap inci tanahnya masih menyimpan memori kesedihan dan teriakan kematian yang tak sempat terbalaskan.Liang Xiao melangkah dengan waspada, tangan kanannya menggeng

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 71 - Bersujud di Gerbang yang Membeku

    Kesunyian akademi saat masa liburan memberikan keleluasaan bagi Liang Xiao untuk menuntaskan rasa penasarannya. Berbekal akses dari Perpustakaan Terlarang Tingkat Tinggi, ia menghabiskan waktu berhari hari untuk membedah setiap inchi perkamen pemberian Feng Ying. Simbol simbol kuno yang awalnya tampak seperti coretan acak mulai bertransformasi menjadi koordinat geografis yang presisi. Setelah melalui penelitian intensif yang menguras energi mental, peta itu akhirnya menunjuk pada satu titik di ujung utara yang terisolasi, sebuah wilayah yang dikenal dengan nama mengerikan: "Sungai Abu".Sungai Abu bukanlah sekadar nama kiasan. Wilayah ini adalah lembah kematian di mana vegetasi enggan tumbuh dan udara terasa seperti mengandung serpihan logam. Sungai yang mengalir di dasarnya membawa sedimen vulkanik berwarna abu abu pekat, menciptakan ilusi visual seolah olah seluruh dunia di sana telah hangus terbakar oleh api langit. Masyarakat sekitar menghindari tempat ini, menyebutnya sebagai tan

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 70 - Dendam yang Kembali Menyala

    Suasana hangat yang diciptakan oleh kehadiran Liang Mei di penginapan perlahan memudar seiring malam yang larut. Setelah memastikan adiknya tertidur lelap, Liang Xiao kembali ke kamarnya. Ia duduk bersila di atas kasur, matanya menatap kosong ke dinding di depannya, namun pikirannya berkelana jauh ke masa lalu. Kemenangan atas Ming Yu dan posisi barunya di peringkat sepuluh besar Daftar Seratus Murid Berbakat adalah pencapaian yang membanggakan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ini hanyalah sebuah sarana, bukan tujuan akhir.Pengingat akan senyum tulus adiknya, kemurnian hatinya, adalah tamparan yang lembut namun kuat. Semua yang ia lakukan, semua bahaya yang ia hadapi, semua intrik yang ia lalui, pada akhirnya adalah demi keamanan dan masa depan Liang Mei, serta untuk memenuhi sumpah yang telah ia ukir di hatinya: balas dendam atas pembantaian keluarganya.Dengan pijakan yang kini semakin kokoh di Akademi Bintang Jatuh, dengan akses ke sumber daya yang lebih luas, dan deng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status