LOGINHujan gerimis pagi itu sudah berhenti, meninggalkan udara segar dan tanah lembab di sekitar gua. Lian Xue berdiri di depan lingkaran batu, tubuhnya masih terasa berat setelah latihan kemarin, tapi ada semangat baru yang mengalir di nadinya seperti sungai yang akhirnya menemukan alur.
Feng Ying berdiri di hadapannya, tangan di belakang punggung, ekspresi datar tapi mata tajam mengamati setiap gerak muridnya. "Hari ini kita mulai berlatih Body Tempering tahap pertama," katanya. "Qi yang kau kumpulkan di Dantian Bawah bukan hanya untuk serangan atau manifestasi elemen. Ia harus memperkuat daging, tulang, dan organ dalam. Jika tubuhmu tetap lemah seperti manusia biasa, qi sebesar apapun hanya akan merusakmu dari dalam." Lian Xue mengangguk. Ia sudah merasakan sedikit perubahan sejak kemarin, napasnya lebih dalam, langkahnya lebih ringan, meski masih jauh dari kuat. "Caranya?" " Kita gunakan metode sederhana tapi brutal, kau akan memukul pohon itu dengan telapak tangan, menggunakan qi air untuk melindungi kulit dan memperkuat otot. Setiap pukulan, alirkan qi ke tangan, biarkan ia membungkus seperti lapisan air tipis. Jika kau berhasil, pukulanmu tak akan melukai tanganmu sendiri malah akan membuat tulang dan otot semakin keras." Lian Xue mendekati pohon itu. Ia menarik napas dalam, mengumpulkan qi di Dantian Bawah, lalu mengalirkannya ke tangan kanan seperti kemarin. Lapisan tipis air bercahaya muncul di telapaknya, dingin dan bergetar pelan. Ia mengayunkan tangan pertama. *Plak!* Suara benturan keras bergema. Rasa sakit langsung menjalar ke seluruh lengannya seperti sedang memukul batu. Kulit telapaknya memerah, tapi tak robek. Qi air itu menyerap sebagian benturan, membuat tulang terasa bergetar tapi tak patah. "Terlalu lemah," komentar Feng Ying. "Qi-mu hanya melindungi permukaan. Kau harus biarkan ia menembus ke dalam otot dan tulang. Bayangkan air yang meresap ke tanah yang kering bukan hanya membasahi permukaan." Lian Xue menggertakkan gigi. Ia memukul lagi. Dan lagi. Dan lagi. Setiap pukulan lebih sakit dari sebelumnya. Telapak tangannya mulai berdarah, meski qi air terus mencoba menyembuhkan luka kecil itu. Keringat bercucuran, napasnya tersengal, tapi ia tak berhenti. Di kepalanya, gambar keluarganya yang tewas terus muncul setiap kali rasa sakit hampir membuatnya menyerah. *Plak! Plak! Plak!* Setelah pukulan ke-87, sesuatu berubah. Qi air yang tadinya hanya lapisan tipis mulai meresap lebih dalam. Ia merasakan aliran dingin menyusup ke otot lengan, ke tulang dan dagingnya, bahkan ke sendi bahu. Rasa sakit tak hilang sepenuhnya, tapi berubah menjadi sensasi hangat yang aneh seperti logam yang ditempa berulang kali hingga menjadi lebih kuat. Feng Ying mengangguk pelan. "Bagus. Itu tahap pertama Body Tempering: Skin and Flesh Forging. Kulitmu mulai mengeras, otot mulai terlatih menahan qi. Lanjutkan sampai seratus pukulan. Setelah itu, ganti tangan kiri." Lian Xue melanjutkan. Saat pukulan ke-100, ia berhenti sejenak. Telapak tangannya memerah dan bengkak, tapi tak ada luka terbuka lagi. Ia bisa merasakan kekuatan baru meresapinya, bukan kekuatan besar, tapi daya tahan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Ia beralih ke tangan kiri, mengulangi proses yang sama. Kali ini lebih cepat ia menemukan ritme. Qi mengalir lebih lancar, pukulan lebih terkontrol. Lian Mei duduk di dekat gua, memandang kakaknya dengan mata lebar. Ia tak mengerti sepenuhnya apa yang terjadi, tapi ia melihat kakaknya tak lagi menangis atau gemetar. Saat matahari hampir tenggelam, Lian Xue menyelesaikan pukulan ke-200. Tubuhnya basah kuyup keringat, napasnya berat, tapi matanya bersinar. Ia mengepalkan tangan, kulitnya terasa lebih tebal, seperti ada lapisan tak terlihat yang melindungi. Feng Ying mendekat, memeriksa telapak tangan muridnya. "Tak ada retak tulang. Meridian stabil. Kulit sudah mulai membentuk lapisan pelindung qi pasif. Untuk tahap pemula, ini sudah sangat baik." Ia menepuk bahu Lian Xue, tepat di tempat yang paling sakit tadi. Lian Xue meringis, tapi tak jatuh. "Besok kita tingkatkan lagi latihannya. Kau akan memukul batu, bukan pohon. Dan qi-mu harus menembus lebih dalam ke organ dalam. Jika berhasil, kau bisa bertahan dari serangan binatang biasa tanpa terluka parah." Lian Xue mengangguk, suaranya serak karena kelelahan. "Terima kasih, Guru. Aku bisa merasakannya. Tubuh ini mulai menjadi lebih kuat." Feng Ying tersenyum tipis. "Senjata yang baik tak hanya tajam ia juga tak mudah patah. Ingat itu." Malam itu, Lian Xue tidur lebih nyenyak dari sebelumnya. Di dalam tubuhnya, qi air terus berputar pelan, memperbaiki otot-otot yang lelah, memperkuat tulang yang telah ia tempa siang tadi. Di luar, angin malam membawa suara samar binatang buas dari hutan dalam. Feng Ying duduk sendirian, memandang kegelapan. "Anak ini tumbuh cepat," gumamnya. "Tapi dunia di luar sana tak akan menunggu. Klan-klan besar dan kekuatan gelap yang menggerakkan roh liar itu mereka sudah mulai bergerak." Petir kecil melintas di ujung jarinya, seolah menyetujui.Pagi itu, sinar matahari menembus kanopi hutan dengan lebih terang dari biasanya, seolah alam memberi isyarat bahwa hari ini akan menjadi titik balik. Lian Xue berdiri di depan sebuah batu besar setinggi pinggangnya permukaannya kasar, berlumut, dan tampak tak tergoyahkan. Bekas pukulan pohon kemarin masih terasa di telapak tangannya, tapi kini ada lapisan ketahanan baru yang membuatnya tak lagi gemetar. Feng Ying berdiri di samping, tongkat kayu hitamnya mengetuk tanah pelan. "Hari ini kau akan berlatih dengan batu ini. Ingat batu ini lebih keras, lebih tak kenal ampun. Jika qi-mu tak menembus cukup dalam, tulang tanganmu akan retak sebelum batu itu gores sedikit pun." Lian Xue mengangguk. Ia sudah siap. Tubuhnya terasa lebih ringan setelah malam penuh pemulihan qi otot-ototnya seperti sudah terbiasa dengan aliran dingin yang terus-menerus memperbaiki dan memperkuat. Ia menarik napas dalam, mengumpulkan qi air di Dantian Bawah hingga pusarannya berputar lebih cepat. Kali ini, ia
Hujan gerimis pagi itu sudah berhenti, meninggalkan udara segar dan tanah lembab di sekitar gua. Lian Xue berdiri di depan lingkaran batu, tubuhnya masih terasa berat setelah latihan kemarin, tapi ada semangat baru yang mengalir di nadinya seperti sungai yang akhirnya menemukan alur.Feng Ying berdiri di hadapannya, tangan di belakang punggung, ekspresi datar tapi mata tajam mengamati setiap gerak muridnya."Hari ini kita mulai berlatih Body Tempering tahap pertama," katanya. "Qi yang kau kumpulkan di Dantian Bawah bukan hanya untuk serangan atau manifestasi elemen. Ia harus memperkuat daging, tulang, dan organ dalam. Jika tubuhmu tetap lemah seperti manusia biasa, qi sebesar apapun hanya akan merusakmu dari dalam."Lian Xue mengangguk. Ia sudah merasakan sedikit perubahan sejak kemarin, napasnya lebih dalam, langkahnya lebih ringan, meski masih jauh dari kuat."Caranya?"" Kita gunakan metode sederhana tapi brutal, kau akan memukul pohon itu dengan telapak tangan, menggunakan qi air
Hari-hari berikutnya berlalu dalam ritme yang keras namun teratur. Matahari terbit, Lian Xue bangun sebelum fajar. Ia membersihkan tubuh dengan air dingin mata air gua, lalu duduk di lingkaran batu yang sama. Feng Ying tak pernah absen, kadang duduk diam mengawasi, kadang menghilang ke hutan untuk mencari ramuan atau makanan, tapi selalu kembali tepat saat latihan dimulai.Hari ini berbeda. Setelah pembukaan meridian pertama berhasil, Feng Ying memutuskan untuk mengajarkan Lian Xue cara mengendalikan qi yang sudah mengalir di tubuhnya. Bukan sekadar merasakan, tapi menggerakkannya sesuai kehendak."Kau sudah punya Dantian sekarang," kata Feng Ying sambil berdiri di depan Lian Xue. "Sekarang kau harus belajar mengalirkannya melalui meridian utama. Jika kau biarkan qi mengalir sendiri, ia akan seperti sungai liar yang bisa membanjiri dan menghancurkan tubuhmu. Kau harus menjadi bendungan sekaligus saluran."Ia mengulurkan tangan. Di telapaknya, muncul pusaran kecil qi petir berwarna bir
Pagi berikutnya datang dengan hujan gerimis tipis yang membuat udara gua terasa lebih dingin dan lembab. Lian Xue terbangun sebelum fajar, tubuhnya sudah basah keringat meski belum melakukan apa pun. Feng Ying sudah duduk di lingkaran batu yang sama sejak subuh. Di depannya terletak sebuah botol kecil dari giok hijau, di dalamnya terlihat cairan bercahaya samar seperti embun yang menangkap cahaya petir."Ini adalah Cairan Pembuka Meridian Kelas Rendah," kata Feng Ying tanpa menoleh. "Dibuat dari ramuan langka yang kutemukan di reruntuhan purba. Satu tetes saja cukup untuk membuka jalur pertama di Dantian Bawah. Tapi prosesnya akan sangat menyakitkan."Lian Xue menelan ludah. "Berapa lama?""Bisa satu jam, bisa seharian, bisa tiga hari. Tergantung ketahanan jiwamu. Jika kau pingsan terlalu lama atau qi-mu berbalik arah, meridianmu bisa rusak permanen. Kau akan menjadi cacat seumur hidup bahkan bisa mati."Lian Mei masih tertidur di sudut gua, dibungkus selendang ibu mereka. Lian Xue m
Pagi itu, kabut masih menyelimuti lembah seperti selimut tebal yang enggan dilepas. Lian Xue membangunkan Lian Mei dengan lembut, memberinya sisa nasi dingin yang dibungkus daun bambu. Adiknya makan dalam diam, matanya masih merah karena menangis semalaman. "Kita akan pergi hari ini, Mei'er," kata Lian Xue pelan. "Kakak akan belajar menjadi kuat. Supaya tak ada lagi yang bisa menyakiti kita." Lian Mei mengangguk kecil, meski tak sepenuhnya mengerti. Ia hanya tahu bahwa kakaknya adalah satu-satunya yang tersisa. Tak lama kemudian, Feng Ying muncul kembali dari balik pepohonan. Jubah abu-abunya tampak lebih kusam di bawah sinar matahari pagi, tapi auranya tetap membuat udara bergetar samar. Di punggungnya tergantung sebuah tongkat kayu hitam sederhana, ujungnya sedikit bercahaya seperti disambar petir. "Kau siap?" tanyanya singkat, tanpa basa-basi. Lian Xue berdiri, menggendong Lian Mei di punggungnya. "Ya." Feng Ying mengangguk, lalu berbalik dan mulai berjalan menuju arah
Malam itu terasa tak berakhir. Di dalam gua kecil yang lembab di tepi sungai, Lian Xue memeluk tubuh kecil Lian Mei yang terus bergetar. Adiknya sudah kehabisan air mata, kini hanya isakan pelan yang tersisa, seperti hembusan angin dingin yang menyusup melalui celah-celah batu. Bau darah dan asap masih menempel di pakaian mereka, meski api desa sudah jauh di belakang. Lian Xue menatap kegelapan di luar mulut gua. Bulan purnama menyelinap di antara awan, menerangi reruntuhan Yunhe yang kini hanya puing-puing berasap. Rumah-rumah kayu yang dulu hangat kini menjadi bara merah yang perlahan padam. Tubuh-tubuh penduduk berserakan di jalan tanah. Beberapa utuh, sebagian lagi tak lagi bisa dikenali. Roh-roh liar itu telah pergi secepat mereka datang, meninggalkan kehancuran tanpa alasan yang jelas. "Kak... Ayah dan Ibu... mereka akan kembali, kan?" suara Lian Mei kecil sekali, hampir tak terdengar. Lian Xue menelan ludah. Tenggorokannya terasa seperti terbakar. Ia ingin berbohong, ingi







