LOGINHari-hari berikutnya berlalu dalam ritme yang keras namun teratur. Matahari terbit, Lian Xue bangun sebelum fajar. Ia membersihkan tubuh dengan air dingin mata air gua, lalu duduk di lingkaran batu yang sama. Feng Ying tak pernah absen, kadang duduk diam mengawasi, kadang menghilang ke hutan untuk mencari ramuan atau makanan, tapi selalu kembali tepat saat latihan dimulai.
Hari ini berbeda. Setelah pembukaan meridian pertama berhasil, Feng Ying memutuskan untuk mengajarkan Lian Xue cara mengendalikan qi yang sudah mengalir di tubuhnya. Bukan sekadar merasakan, tapi menggerakkannya sesuai kehendak. "Kau sudah punya Dantian sekarang," kata Feng Ying sambil berdiri di depan Lian Xue. "Sekarang kau harus belajar mengalirkannya melalui meridian utama. Jika kau biarkan qi mengalir sendiri, ia akan seperti sungai liar yang bisa membanjiri dan menghancurkan tubuhmu. Kau harus menjadi bendungan sekaligus saluran." Ia mengulurkan tangan. Di telapaknya, muncul pusaran kecil qi petir berwarna biru keunguan yang berderak pelan. "Lihat ini. Aku mengendalikan setiap helai petir di dalamnya. Begitu pula kau dengan elemen airmu." Lian Xue mengangguk. Ia duduk bersila, tangan di atas lutut, mata tertutup. Napasnya dalam dan teratur seperti yang sudah diajarkan. "Sekarang, tarik qi dari Dantian Bawah. Bayangkan ia seperti air yang kau tuang dari kendi. Jangan dipaksa, cukup diarahkan. Alirkan ke meridian tangan kananmu, lalu ke telapak tangan." Lian Xue mencoba. Ia merasakan pusaran dingin di perut bawah mulai bergerak. Awalnya lambat, seperti air yang enggan keluar dari sumbernya. Ia memaksa sedikit dan tiba-tiba qi melonjak terlalu cepat. Rasa sakit menusuk seperti jarum di sepanjang lengan kanannya. "Argh!" Ia membuka mata, memegang lengan yang gemetar. Ada garis merah samar di kulitnya, tanda meridian yang terlalu dipaksa. Feng Ying menggeleng pelan. "jangan khawatir Itu adalah kesalahan biasa bagi pemula. Kau terburu-buru, mulailah dengan perlahan. Qi bukan musuh yang harus ditaklukkan. Qi adalah bagian dari dirimu. Perlakukanlah seperti sungai yang kau kenal sejak kecil." Lian Xue menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia ingat sungai di desa Yunhe. Bagaimana airnya mengalir lembut di pagi hari, tapi bisa menjadi ganas saat hujan deras. Ia membayangkan dirinya sebagai bagian dari alirannya. Ia menutup mata lagi. Kali ini, ia tak memaksa. Ia hanya "mengarahkan" qi untuk bergerak. Pusaran di Dantian Bawah berputar lebih halus. Aliran dingin mulai naik pelan, menyusuri meridian seperti air mengalir di parit kecil. Tak ada lagi sakit yang menusuknya. Hanya sensasi sejuk yang menyenangkan. Saat qi mencapai telapak tangan kanannya, Lian Xue membuka mata. Di telapak tangannya, muncul tetesan air kecil yang mengambang di udara. Bukan air biasa, ia bercahaya samar biru pucat, berputar pelan seperti mutiara cair. Tetesan itu melayang naik-turun mengikuti napasnya. Feng Ying tersenyum lebar, senyum langka yang membuat wajah tuanya tampak lebih hidup. "Itu Manifestasi Elemen Pertama. Air Murni Tingkat Pemula. Kau berhasil mengeluarkannya dari tubuh tanpa meridian rusak. Sungguh luar biasa untuk seseorang yang baru tiga hari membuka Dantian." Lian Xue menatap tetesan air itu dengan takjub. Ia coba menggerakkan jarinya pelan, tetesan itu mengikuti, membentuk garis tipis, lalu kembali menjadi bola kecil. "Bagaimana rasanya?" tanya Feng Ying. "Sepertinya aku bisa bernapas melalui tangan ini. Dingin, tapi hidup." "Bagus. Itu artinya afinitas airmu sangat kuat. Elemen air adalah elemen yang paling adaptif. Ia bisa lembut seperti embun, ganas seperti tsunami, menyembuhkan seperti air suci, atau mematikan seperti es tajam. Tapi ingat, kekuatannya tergantung pada hatimu. Jika hatimu kacau, air akan menjadi banjir yang menghancurkan dirimu sendiri." Lian Xue mengangguk pelan. Ia menarik kembali tetesan air itu ke dalam tubuhnya. Sensasi sejuk itu kembali ke Dantian Bawah, membuat pusaran qi di sana semakin stabil. Tiba-tiba Lian Mei berlari mendekat, membawa setangkai bunga liar yang ia petik di sekitar gua. "Kakak! Lihat ini! Cantik, kan?" Lian Xue tersenyum. Senyum pertama yang tulus sejak tragedi itu. Ia mengambil bunga itu, lalu dengan hati-hati mengalirkan sedikit qi air ke kelopaknya. Tetesan embun muncul di permukaan bunga, membuatnya tampak lebih segar dan bercahaya. Lian Mei bertepuk tangan kegirangan. "Kakak bisa bikin bunga jadi lebih cantik!" Feng Ying memperhatikan adegan itu dari kejauhan, matanya lembut untuk sesaat. "Satu hari kau akan bisa menyembuhkan luka dengan air itu," katanya pelan pada Lian Xue. "Atau membekukannya menjadi tombak es yang bisa menembus baja. Tapi hari ini cukup sampai disini. Kau sudah capek. Istirahatlah. Besok kita latih pertahanan dasar - Body Tempering dengan qi." Malam itu, Lian Xue duduk di mulut gua sambil memeluk Lian Mei yang sudah tertidur di pangkuannya. Ia memandang telapak tangannya sendiri. Tak ada tetesan air lagi, tapi ia masih bisa merasakan aliran dingin yang kini menjadi bagian dari dirinya. Untuk pertama kalinya, dendam di hatinya tak lagi sendirian. Ada sesuatu yang lain tumbuh di sana, ada harapan, tekad, dan sedikit kehangatan dari kekuatan baru yang mulai ia kuasai. Di kejauhan, petir menyambar langit tanpa suara. Feng Ying berdiri di atas batu tinggi, memandang arah Yulong yang jauh. "Anak ini sungguh menarik," gumamnya. "Tapi jalan ke depan masih panjang. Dan musuhnya jauh lebih besar dari roh liar biasa."Dengan warisan pengetahuan array tingkat tinggi dari Liang Qiao yang kini bersemayam di benaknya, Liang Xiao segera memulai pelatihannya di ruang rahasia bawah tanah. Tempat ini adalah surga bagi seorang kultivator , kolam spiritual yang memancarkan energi murni, rak rak buku giok yang tak terhitung jumlahnya, dan prasasti prasasti kuno yang mengukir teknik teknik terlarang. Namun, fokus utamanya saat ini adalah menginternalisasi dan mempraktikkan pengetahuan array yang baru saja ia serap secara instan namun masif tersebut.Liang Xiao duduk bersila di dekat kolam spiritual. Uap hangat yang membawa esensi bumi meresap ke dalam pori porinya, mempercepat proses pemulihan meridian dan memperkuat fondasi kultivasinya. Di dalam benaknya, ribuan pola array berputar putar seperti galaksi kecil, mulai dari formasi penyegelan dasar hingga struktur kompleks yang bahkan para master formasi di dunia luar
Ruangan rahasia di bawah reruntuhan itu bukan sekadar gudang penyimpanan; ia adalah sebuah ekosistem spiritual yang mandiri. Udara di dalamnya terasa berdenyut, seolah olah dinding dinding batu giok itu sendiri sedang bernapas. Cahaya keemasan dari kolam spiritual di tengah ruangan memantul pada permukaan rak rak buku yang jernih, menciptakan spektrum pelangi yang menari nari di langit langit aula yang tinggi. Liang Xiao melangkah perlahan, merasakan sensasi menggelitik di permukaan kulitnya saat pori porinya mulai menyerap energi murni yang meluap luap. Di tempat ini, konsentrasi Qi setidaknya sepuluh kali lipat lebih padat dibandingkan di dunia atas."Ini adalah jantung warisan Keluarga Liang," bisik Liang Xun. Wujud spiritualnya tampak lebih tenang di sini, seolah olah ia telah pulang ke rumah yang sebenarnya. "Kolam spiritual ini adalah Nadi Bumi yang dialirkan secara paksa oleh leluhur k
Langkah kaki Liang Xiao menggema pelan di atas lantai batu yang retak. Debu tebal yang menyelimuti reruntuhan aula utama berterbangan setiap kali ujung jubahnya menyapu lantai. Di depannya, sosok transparan Liang Xun melayang dengan anggun, namun raut wajah spiritualnya memancarkan ketegangan yang nyata. Sisa jiwa itu berhenti tepat di depan sebuah dinding batu yang tampak tidak istimewa. Permukaannya kasar, ditumbuhi lumut kering, dan penuh dengan goresan akibat cuaca ekstrem selama bertahun tahun. Secara kasat mata, dinding itu hanyalah bagian dari struktur bangunan yang telah mati.Liang Xun mengangkat tangan kanannya yang berpendar biru pucat. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah titik spesifik yang terletak setinggi dada di permukaan batu tersebut. "Jangan tertipu oleh penampilan luar, Liang Xiao. Dunia luar mengenal klan kita sebagai keluarga bangsawan yang kaya, namun mereka tidak pernah tahu b
Langkah kaki Liang Xiao terasa berat saat ia menapaki ubin batu yang retak di gerbang utama kediaman klan nya. Setelah bersujud sebagai tanda hormat terakhir kepada para leluhur di ambang pintu yang hancur, ia melangkah masuk ke dalam area yang kini lebih mirip pemakaman massal daripada sebuah kediaman bangsawan. Debu tebal yang telah mengendap selama bertahun tahun terbang tertiup angin, menyelimuti bayangan struktur struktur megah yang kini hanya tinggal kerangka kayu yang melapuk dan ditelan tanaman merambat liar. Di beberapa sudut, jejak kebakaran hebat masih terlihat jelas; arang hitam yang menyatu dengan batu menjadi saksi bisu betapa brutalnya api yang melahap tempat ini di masa lalu. Udara di sini terasa dingin dan menyesakkan, seolah setiap inci tanahnya masih menyimpan memori kesedihan dan teriakan kematian yang tak sempat terbalaskan.Liang Xiao melangkah dengan waspada, tangan kanannya menggeng
Kesunyian akademi saat masa liburan memberikan keleluasaan bagi Liang Xiao untuk menuntaskan rasa penasarannya. Berbekal akses dari Perpustakaan Terlarang Tingkat Tinggi, ia menghabiskan waktu berhari hari untuk membedah setiap inchi perkamen pemberian Feng Ying. Simbol simbol kuno yang awalnya tampak seperti coretan acak mulai bertransformasi menjadi koordinat geografis yang presisi. Setelah melalui penelitian intensif yang menguras energi mental, peta itu akhirnya menunjuk pada satu titik di ujung utara yang terisolasi, sebuah wilayah yang dikenal dengan nama mengerikan: "Sungai Abu".Sungai Abu bukanlah sekadar nama kiasan. Wilayah ini adalah lembah kematian di mana vegetasi enggan tumbuh dan udara terasa seperti mengandung serpihan logam. Sungai yang mengalir di dasarnya membawa sedimen vulkanik berwarna abu abu pekat, menciptakan ilusi visual seolah olah seluruh dunia di sana telah hangus terbakar oleh api langit. Masyarakat sekitar menghindari tempat ini, menyebutnya sebagai tan
Suasana hangat yang diciptakan oleh kehadiran Liang Mei di penginapan perlahan memudar seiring malam yang larut. Setelah memastikan adiknya tertidur lelap, Liang Xiao kembali ke kamarnya. Ia duduk bersila di atas kasur, matanya menatap kosong ke dinding di depannya, namun pikirannya berkelana jauh ke masa lalu. Kemenangan atas Ming Yu dan posisi barunya di peringkat sepuluh besar Daftar Seratus Murid Berbakat adalah pencapaian yang membanggakan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ini hanyalah sebuah sarana, bukan tujuan akhir.Pengingat akan senyum tulus adiknya, kemurnian hatinya, adalah tamparan yang lembut namun kuat. Semua yang ia lakukan, semua bahaya yang ia hadapi, semua intrik yang ia lalui, pada akhirnya adalah demi keamanan dan masa depan Liang Mei, serta untuk memenuhi sumpah yang telah ia ukir di hatinya: balas dendam atas pembantaian keluarganya.Dengan pijakan yang kini semakin kokoh di Akademi Bintang Jatuh, dengan akses ke sumber daya yang lebih luas, dan deng







