ホーム / Pendekar / Luka Yang Menembus Langit / Bab 5 - Aliran yang Tak Terlihat

共有

Bab 5 - Aliran yang Tak Terlihat

作者: Akaiy
last update 公開日: 2026-01-27 11:38:18

Hari-hari berikutnya berlalu dalam ritme yang keras namun teratur. Matahari terbit, Lian Xue bangun sebelum fajar. Ia membersihkan tubuh dengan air dingin mata air gua, lalu duduk di lingkaran batu yang sama. Feng Ying tak pernah absen, kadang duduk diam mengawasi, kadang menghilang ke hutan untuk mencari ramuan atau makanan, tapi selalu kembali tepat saat latihan dimulai.

Hari ini berbeda. Setelah pembukaan meridian pertama berhasil, Feng Ying memutuskan untuk mengajarkan Lian Xue cara mengendalikan qi yang sudah mengalir di tubuhnya. Bukan sekadar merasakan, tapi menggerakkannya sesuai kehendak.

"Kau sudah punya Dantian sekarang," kata Feng Ying sambil berdiri di depan Lian Xue. "Sekarang kau harus belajar mengalirkannya melalui meridian utama. Jika kau biarkan qi mengalir sendiri, ia akan seperti sungai liar yang bisa membanjiri dan menghancurkan tubuhmu. Kau harus menjadi bendungan sekaligus saluran."

Ia mengulurkan tangan. Di telapaknya, muncul pusaran kecil qi petir berwarna biru keunguan yang berderak pelan.

"Lihat ini. Aku mengendalikan setiap helai petir di dalamnya. Begitu pula kau dengan elemen airmu."

Lian Xue mengangguk. Ia duduk bersila, tangan di atas lutut, mata tertutup. Napasnya dalam dan teratur seperti yang sudah diajarkan.

"Sekarang, tarik qi dari Dantian Bawah. Bayangkan ia seperti air yang kau tuang dari kendi. Jangan dipaksa, cukup diarahkan. Alirkan ke meridian tangan kananmu, lalu ke telapak tangan."

Lian Xue mencoba. Ia merasakan pusaran dingin di perut bawah mulai bergerak. Awalnya lambat, seperti air yang enggan keluar dari sumbernya. Ia memaksa sedikit dan tiba-tiba qi melonjak terlalu cepat. Rasa sakit menusuk seperti jarum di sepanjang lengan kanannya.

"Argh!"

Ia membuka mata, memegang lengan yang gemetar. Ada garis merah samar di kulitnya, tanda meridian yang terlalu dipaksa.

Feng Ying menggeleng pelan. "jangan khawatir Itu adalah kesalahan biasa bagi pemula. Kau terburu-buru, mulailah dengan perlahan. Qi bukan musuh yang harus ditaklukkan. Qi adalah bagian dari dirimu. Perlakukanlah seperti sungai yang kau kenal sejak kecil."

Lian Xue menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia ingat sungai di desa Yunhe. Bagaimana airnya mengalir lembut di pagi hari, tapi bisa menjadi ganas saat hujan deras. Ia membayangkan dirinya sebagai bagian dari alirannya.

Ia menutup mata lagi. Kali ini, ia tak memaksa. Ia hanya "mengarahkan" qi untuk bergerak. Pusaran di Dantian Bawah berputar lebih halus. Aliran dingin mulai naik pelan, menyusuri meridian seperti air mengalir di parit kecil. Tak ada lagi sakit yang menusuknya. Hanya sensasi sejuk yang menyenangkan.

Saat qi mencapai telapak tangan kanannya, Lian Xue membuka mata.

Di telapak tangannya, muncul tetesan air kecil yang mengambang di udara. Bukan air biasa, ia bercahaya samar biru pucat, berputar pelan seperti mutiara cair. Tetesan itu melayang naik-turun mengikuti napasnya.

Feng Ying tersenyum lebar, senyum langka yang membuat wajah tuanya tampak lebih hidup.

"Itu Manifestasi Elemen Pertama. Air Murni Tingkat Pemula. Kau berhasil mengeluarkannya dari tubuh tanpa meridian rusak. Sungguh luar biasa untuk seseorang yang baru tiga hari membuka Dantian."

Lian Xue menatap tetesan air itu dengan takjub. Ia coba menggerakkan jarinya pelan, tetesan itu mengikuti, membentuk garis tipis, lalu kembali menjadi bola kecil.

"Bagaimana rasanya?" tanya Feng Ying.

"Sepertinya aku bisa bernapas melalui tangan ini. Dingin, tapi hidup."

"Bagus. Itu artinya afinitas airmu sangat kuat. Elemen air adalah elemen yang paling adaptif. Ia bisa lembut seperti embun, ganas seperti tsunami, menyembuhkan seperti air suci, atau mematikan seperti es tajam. Tapi ingat, kekuatannya tergantung pada hatimu. Jika hatimu kacau, air akan menjadi banjir yang menghancurkan dirimu sendiri."

Lian Xue mengangguk pelan. Ia menarik kembali tetesan air itu ke dalam tubuhnya. Sensasi sejuk itu kembali ke Dantian Bawah, membuat pusaran qi di sana semakin stabil.

Tiba-tiba Lian Mei berlari mendekat, membawa setangkai bunga liar yang ia petik di sekitar gua.

"Kakak! Lihat ini! Cantik, kan?"

Lian Xue tersenyum. Senyum pertama yang tulus sejak tragedi itu. Ia mengambil bunga itu, lalu dengan hati-hati mengalirkan sedikit qi air ke kelopaknya. Tetesan embun muncul di permukaan bunga, membuatnya tampak lebih segar dan bercahaya.

Lian Mei bertepuk tangan kegirangan. "Kakak bisa bikin bunga jadi lebih cantik!"

Feng Ying memperhatikan adegan itu dari kejauhan, matanya lembut untuk sesaat.

"Satu hari kau akan bisa menyembuhkan luka dengan air itu," katanya pelan pada Lian Xue. "Atau membekukannya menjadi tombak es yang bisa menembus baja. Tapi hari ini cukup sampai disini. Kau sudah capek. Istirahatlah. Besok kita latih pertahanan dasar - Body Tempering dengan qi."

Malam itu, Lian Xue duduk di mulut gua sambil memeluk Lian Mei yang sudah tertidur di pangkuannya. Ia memandang telapak tangannya sendiri. Tak ada tetesan air lagi, tapi ia masih bisa merasakan aliran dingin yang kini menjadi bagian dari dirinya.

Untuk pertama kalinya, dendam di hatinya tak lagi sendirian. Ada sesuatu yang lain tumbuh di sana, ada harapan, tekad, dan sedikit kehangatan dari kekuatan baru yang mulai ia kuasai.

Di kejauhan, petir menyambar langit tanpa suara. Feng Ying berdiri di atas batu tinggi, memandang arah Yulong yang jauh.

"Anak ini sungguh menarik," gumamnya. "Tapi jalan ke depan masih panjang. Dan musuhnya jauh lebih besar dari roh liar biasa."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 163 - Perlawanan Terakhir

    Udara di sekeliling Liang Xiao mendadak membeku, bukan karena suhu salju yang turun, melainkan karena tekanan spiritual yang luar biasa dahsyat dari proyeksi jiwa Ketua Sekte Bayangan Hitam, Mo Wuhen. Sosok raksasa yang terbentuk dari kabut hitam itu melayang angkuh di atas Cermin Pelacak Langit, matanya yang semerah darah menatap rendah ke arah Liang Xiao seolah-olah pemuda itu hanyalah seekor semut lancang yang sedang menunggu untuk diinjak."Jadi, kaulah serangga kecil yang berani mencuri apa yang seharusnya menjadi milikku?" Suara Mo Wuhen menggetarkan gendang telinga dengan resonansi energi yang menyakitkan, menyebabkan pepohonan kuno di Lembah Tabib Mistis tumbang seketika seolah-olah dihantam badai tak terlihat. "Berlututlah di hadapanku, serahkan fragmen itu, dan mungkin aku akan membiarkan jiwamu tetap utuh untuk kujadikan budak abadi di penjara kegelapan."

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 162: Prahara di Lembah Tabib Mistis

    Langit di atas Lembah Tabib Mistis yang biasanya tenang dan diselimuti kabut putih, kini terbelah secara paksa oleh cahaya perak dingin yang memancar dari Cermin Pelacak Langit. Cahaya itu bukan sekadar penerang, melainkan energi destruktif yang mengoyak ketenangan alam. Di bawah pancaran cahaya yang mengintimidasi tersebut, sosok utusan khusus Sekte Bayangan Hitam, Zuo Yan, berdiri dengan angkuh di atas dahan pohon tua yang meranggas.Zuo Yan bukanlah praktisi sembarangan. Ia adalah pria dengan aura pedang yang sangat tajam dan tipis, dikenal di dunia persilatan sebagai "Pencabut Nyawa Tanpa Bayangan". Kecepatannya melegenda; konon, ia bisa memenggal kepala lawan sebelum bayangannya sendiri sempat bergerak mengikuti tubuhnya.Liang Xiao melangkah maju dengan tenang, menapakkan kakinya di atas tanah lembah

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 161: Penyatuan Yin dan Yang di Kolam Teratai Surgawi

    Aroma kayu cendana yang menenangkan berpadu dengan uap pekat dari rebusan tanaman herbal langka, memenuhi setiap sudut ruangan kayu milik Tabib Bertangan Dewa. Di atas ranjang bambu yang sederhana, Ling Er terbaring dengan napas yang semakin pendek dan berat. Keadaan fisiknya sangat memprihatinkan; kulitnya yang seputih salju kini dihiasi gurat-gurat merah membara yang menjalar seperti akar pohon—pertanda mengerikan bahwa energi Naga Langit yang maskulin dari fragmen kedua mulai melahap habis fondasi energi Yin murni miliknya.Tabib Bertangan Dewa, yang bernama asli Yao Jing, menghela napas panjang setelah melepaskan jemarinya dari denyut nadi Ling Er yang tidak teratur. "Energi Naga Langit itu terlalu murni, terlalu tajam, dan terlalu maskulin untuk tubuh seorang wanita tanpa persiapan khusus. Gadis ini telah meng

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 160: Jejak Darah Menuju Lembah Tabib Mistis

    Hembusan angin dingin yang menusuk di Puncak Salju Abadi perlahan-lahan berganti dengan udara yang lebih lembap, membawa aroma tanah basah dan lumut purba saat Liang Xiao dan Ling Er menuruni lereng curam pegunungan. Meskipun ancaman utama dari para eksekutor di puncak telah ditumbangkan dengan tragis, kondisi fisik Ling Er mulai menunjukkan tanda-tanda yang sangat mengkhawatirkan. Wajahnya yang semula merona hangat setelah proses penyatuan jiwa kini tampak sepucat pualam, dan langkah kakinya mulai kehilangan koordinasi, seringkali tersandung di atas permukaan tanah yang tidak rata."Ling Er, bertahanlah sedikit lagi. Kita hampir keluar dari zona beku ini," bisik Liang Xiao dengan nada penuh kecemasan sambil merangkul pinggang ramping gadis itu, memberikan seluruh dukungan fisiknya agar ia tidak jatuh terjerembab."Energi Naga Langit itu... ternyata terlalu mas

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 159: Kepungan Salju dan Amukan Naga

    Sisa-sisa uap panas dari penyatuan jiwa yang sakral antara Liang Xiao dan Ling Er masih menyelimuti ceruk es sempit itu saat realitas pahit kembali menghantam mereka dengan keras. Hawa membunuh yang sangat dingin, lebih tajam dan lebih menusuk daripada badai salju Puncak Salju Abadi, merayap masuk hingga ke tulang sumsum. Liang Xiao segera mengenakan pakaian perangnya dengan gerakan yang kini jauh lebih ringan, presisi, dan bertenaga. Kultivasi ganda yang baru saja mereka lakukan tidak hanya menstabilkan gejolak energinya yang liar, tetapi juga berhasil menjebol sumbatan meridian utama yang selama ini menjadi penghambat kemajuan ilmunya menuju puncak tingkat Nascent Soul."Mereka memiliki metode pelacakan yang jauh lebih cepat dari yang kita perkirakan," bisik Ling Er sambil merapikan jubah sutra birunya yang kini tampak berpendar dengan aura es yang jauh lebih pekat dan murni. "Sekte Bayangan Hitam tidak

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 158 - Gejolak Darah dan Penyatuan Jiwa

    Udara di luar gua Puncak Salju Abadi terasa begitu kontras dengan kebekuan purba yang baru saja mereka tinggalkan di dalam jantung gunung. Sinar matahari yang memantul di hamparan salju putih yang tak berujung menciptakan pantulan yang menyilaukan mata, namun bagi Liang Xiao, rasa hangat yang menyentuh kulitnya tidak mampu meredam gejolak energi yang sedang mengamuk hebat di dalam pembuluh darahnya. Ritual persembahan darah yang baru saja ia lakukan untuk memicu pelepasan fragmen kedua Segel Kunci telah membangkitkan sesuatu yang sangat purba, liar, dan menuntut di dalam dirinya.Ling Er mendekat dengan langkah tertatih, wajahnya yang cantik tampak pucat pasi karena kelelahan yang luar biasa setelah pelarian yang sangat sempit dari kejaran Jenderal Feng. "Kakak Xiao, kau terlihat sangat tidak stabil. Energi Naga Langit Es itu... ia tidak hanya menyatu, ia sedang mencoba mengambil alih kesadaranmu. Ia menol

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 8 - Langkah Menuju Dunia Luas

    Pagi berikutnya, gua kecil yang selama berminggu-minggu menjadi rumah mereka terasa lebih sempit dari biasanya. Lian Xue bangun sebelum fajar, membersihkan tubuh dengan air dari mata air untuk terakhir kalinya. Ia memeriksa barang-barang yang tersisa. Pisau kecil ayahnya, selendang ibunya yang kini

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 7 - Ujian Batu dan Bayangan Pertama

    Pagi itu, sinar matahari menembus kanopi hutan dengan lebih terang dari biasanya, seolah alam memberi isyarat bahwa hari ini akan menjadi titik balik. Lian Xue berdiri di depan sebuah batu besar setinggi pinggangnya permukaannya kasar, berlumut, dan tampak tak tergoyahkan. Bekas pukulan pohon kemar

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 6 - Tubuh yang Ditempa, Jiwa yang Teruji

    Hujan gerimis pagi itu sudah berhenti, meninggalkan udara segar dan tanah lembab di sekitar gua. Lian Xue berdiri di depan lingkaran batu, tubuhnya masih terasa berat setelah latihan kemarin, tapi ada semangat baru yang mengalir di nadinya seperti sungai yang akhirnya menemukan alur.Feng Ying berd

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 4 - Api Pembukaan Meridian

    Pagi berikutnya datang dengan hujan gerimis tipis yang membuat udara gua terasa lebih dingin dan lembab. Lian Xue terbangun sebelum fajar, tubuhnya sudah basah keringat meski belum melakukan apa pun. Feng Ying sudah duduk di lingkaran batu yang sama sejak subuh. Di depannya terletak sebuah botol k

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status