LOGINPagi itu, sinar matahari menembus kanopi hutan dengan lebih terang dari biasanya, seolah alam memberi isyarat bahwa hari ini akan menjadi titik balik. Lian Xue berdiri di depan sebuah batu besar setinggi pinggangnya permukaannya kasar, berlumut, dan tampak tak tergoyahkan. Bekas pukulan pohon kemarin masih terasa di telapak tangannya, tapi kini ada lapisan ketahanan baru yang membuatnya tak lagi gemetar.
Feng Ying berdiri di samping, tongkat kayu hitamnya mengetuk tanah pelan. "Hari ini kau akan berlatih dengan batu ini. Ingat batu ini lebih keras, lebih tak kenal ampun. Jika qi-mu tak menembus cukup dalam, tulang tanganmu akan retak sebelum batu itu gores sedikit pun." Lian Xue mengangguk. Ia sudah siap. Tubuhnya terasa lebih ringan setelah malam penuh pemulihan qi otot-ototnya seperti sudah terbiasa dengan aliran dingin yang terus-menerus memperbaiki dan memperkuat. Ia menarik napas dalam, mengumpulkan qi air di Dantian Bawah hingga pusarannya berputar lebih cepat. Kali ini, ia tak hanya membungkus telapak tangan dengan lapisan tipis, ia membiarkan qi meresap lebih dalam, menyusup ke otot lengan, ke tulang, bahkan ke sendi. Sensasi dingin itu berubah menjadi tekanan kuat, seperti air yang dipadatkan menjadi es tak terlihat. Pukulan pertama. *Crack!* Bukan suara batu pecah, itu suara tulang tangannya sendiri yang bergetar hebat. Rasa sakit menyambar seperti kilat, tapi Lian Xue tak mundur. Ia melihat retakan kecil di permukaan batu, seukuran kuku jari. Darah menetes dari buku-buku jarinya, tapi qi air langsung mengalir ke luka, menutupnya dengan lapisan embun dingin yang menyembuhkan. "Lagi," kata Feng Ying singkat. Lian Xue memukul lagi. Dan lagi. Setiap pukulan lebih kuat, qi-nya lebih terkendali. Suara benturan berganti dari *plak* menjadi *thud* yang lebih dalam. Retakan di batu mulai melebar. Keringat bercampur darah menetes ke tanah, tapi matanya tak pernah goyah. Pada pukulan ke-47, sesuatu terjadi. Saat tinjunya menyentuh batu, qi air melonjak keluar bukan sebagai lapisan pelindung, melainkan sebagai gelombang kecil yang menembus permukaan. Batu itu bergetar lalu sebuah pecahan sebesar kepalan tangan terlepas, jatuh ke tanah dengan suara *klak*. Lian Xue terengah-engah, tapi bibirnya tersenyum tipis. Ia merasakan perubahan: tubuhnya tak lagi hanya bertahan, ia mulai menyerang dengan ganas. thud … thud …. thud Feng Ying mengangguk puas. "Body Tempering tahap kedua: Bone Forging. Tulangmu mulai menyerap qi, menjadi lebih padat dan elastis. Kau sudah bisa meninggalkan bekas pada batu biasa. Untuk tahap ini, kita sudahi sampai disini. Istirahatlahbsebentar." Lian Xue duduk di batu kecil, minum air dari mata air sambil memandang tangannya. Bekas luka sudah hilang sepenuhnya, hanya meninggalkan garis merah samar yang perlahan memudar. Tiba-tiba, angin berubah arah. Aroma darah samar tercium dari hutan. Lian Mei, yang sedang bermain dekat gua, menegang. "Kak... ada sesuatu," bisiknya. Feng Ying langsung berdiri, matanya menyipit ke arah rerimbuhan pepohonan. "Spirit beast tingkat rendah. Seekor Shadow Fang Wolf muda. Mungkin tertarik oleh qi yang kau pancarkan selama latihan." Dari balik semak, muncul seekor serigala berbulu hitam legam dengan mata kuning menyala. Ukuran tubuhnya sebesar anjing besar, tapi auranya jauh lebih ganas. Energi gelap tipis menyelimuti bulunya, membuat bayangannya tampak lebih panjang dan bergerak sendiri. Lian Xue berdiri, tangannya mengepal. Untuk pertama kalinya, ia merasa siap menghadapi ancamanini bukan lari, bukan bersembunyi. "Guru... boleh aku coba?" Feng Ying memandangnya lama, lalu mengangguk pelan. "Jika kau kalah, aku akan turun tangan. Tapi ini juga ku anggap sebagai ujian untukmu. Tunjukkan apa yang telah kau pelajari selama ini." Serigala itu menggeram rendah, lalu melompat. Gerakannya cepat, cakarnya menyala gelap seperti pisau bayangan. Lian Xue tak mundur. Ia mengalirkan qi ke kedua tangan, membentuk lapisan air tipis yang bercahaya biru samar. Saat serigala menyambar, ia membungkuk, lalu memukul ke arah perut binatang itu dengan pukulan yang sudah ditempa ratusan kali. *Boom!* Benturan itu mengeluarkan suara seperti air menghantam batu. Serigala terpental mundur beberapa langkah, perutnya tergores dalam, darah hitam menetes. Ia menggeram lebih keras, tapi ada keraguan di matanya. Mangsa yang tadinya lemah kini terasa berbeda. Lian Xue tak menunggu. Ia maju, mengalirkan qi ke kaki untuk mempercepat gerakan, lalu memukul lagi, kali ini ke kepala. Serigala menghindar, tapi cakarnya mengenai bahu Lian Xue. Rasa sakit menyengat, tapi lapisan qi di kulitnya menyerap sebagian besar serangan itu, hanya luka dangkal. Dengan napas tersengal, Lian Xue mengumpulkan qi di telapak tangan kanan. Kali ini, ia membentuk tetesan air yang lebih besar, memadatkan menjadi jarum es kecil sepanjang jari. Ia melemparkan jarum itu. *Swish!* Jarum es menembus bahu serigala, membuatnya meraung kesakitan. Binatang itu mundur, matanya penuh ketakutan, lalu berbalik dan lari ke dalam hutan. Lian Xue berdiri di tempatnya, napas berat, darah menetes dari bahu. Tapi ia tak jatuh. Ia menang. Pertarungan pertamanya sebagai kultivator. Feng Ying mendekat, memeriksa luka itu. "Luka dangkal. Qi-mu sudah cukup untuk melindungi organ vital. Bagus." Ia menepuk bahu Lian Xue, kali ini lebih lembut. "Kau lulus ujian pertama. Besok kita tinggalkan gua ini. Dunia luar menunggu dan musuh yang sebenarnya jauh lebih kuat dari serigala kecil ini." Lian Mei berlari mendekat, memeluk kaki kakaknya sambil menangis bahagia. "Kakak hebat! Kakak menang!" Lian Xue mengangkat adiknya, meski tubuhnya sakit. Matanya memandang ke arah hutan yang gelap. Di kejauhan, petir menyambar tanpa suara. seolah merayakan langkah kecil seorang pemuda menuju keabadian.Dengan warisan pengetahuan array tingkat tinggi dari Liang Qiao yang kini bersemayam di benaknya, Liang Xiao segera memulai pelatihannya di ruang rahasia bawah tanah. Tempat ini adalah surga bagi seorang kultivator , kolam spiritual yang memancarkan energi murni, rak rak buku giok yang tak terhitung jumlahnya, dan prasasti prasasti kuno yang mengukir teknik teknik terlarang. Namun, fokus utamanya saat ini adalah menginternalisasi dan mempraktikkan pengetahuan array yang baru saja ia serap secara instan namun masif tersebut.Liang Xiao duduk bersila di dekat kolam spiritual. Uap hangat yang membawa esensi bumi meresap ke dalam pori porinya, mempercepat proses pemulihan meridian dan memperkuat fondasi kultivasinya. Di dalam benaknya, ribuan pola array berputar putar seperti galaksi kecil, mulai dari formasi penyegelan dasar hingga struktur kompleks yang bahkan para master formasi di dunia luar
Ruangan rahasia di bawah reruntuhan itu bukan sekadar gudang penyimpanan; ia adalah sebuah ekosistem spiritual yang mandiri. Udara di dalamnya terasa berdenyut, seolah olah dinding dinding batu giok itu sendiri sedang bernapas. Cahaya keemasan dari kolam spiritual di tengah ruangan memantul pada permukaan rak rak buku yang jernih, menciptakan spektrum pelangi yang menari nari di langit langit aula yang tinggi. Liang Xiao melangkah perlahan, merasakan sensasi menggelitik di permukaan kulitnya saat pori porinya mulai menyerap energi murni yang meluap luap. Di tempat ini, konsentrasi Qi setidaknya sepuluh kali lipat lebih padat dibandingkan di dunia atas."Ini adalah jantung warisan Keluarga Liang," bisik Liang Xun. Wujud spiritualnya tampak lebih tenang di sini, seolah olah ia telah pulang ke rumah yang sebenarnya. "Kolam spiritual ini adalah Nadi Bumi yang dialirkan secara paksa oleh leluhur k
Langkah kaki Liang Xiao menggema pelan di atas lantai batu yang retak. Debu tebal yang menyelimuti reruntuhan aula utama berterbangan setiap kali ujung jubahnya menyapu lantai. Di depannya, sosok transparan Liang Xun melayang dengan anggun, namun raut wajah spiritualnya memancarkan ketegangan yang nyata. Sisa jiwa itu berhenti tepat di depan sebuah dinding batu yang tampak tidak istimewa. Permukaannya kasar, ditumbuhi lumut kering, dan penuh dengan goresan akibat cuaca ekstrem selama bertahun tahun. Secara kasat mata, dinding itu hanyalah bagian dari struktur bangunan yang telah mati.Liang Xun mengangkat tangan kanannya yang berpendar biru pucat. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah titik spesifik yang terletak setinggi dada di permukaan batu tersebut. "Jangan tertipu oleh penampilan luar, Liang Xiao. Dunia luar mengenal klan kita sebagai keluarga bangsawan yang kaya, namun mereka tidak pernah tahu b
Langkah kaki Liang Xiao terasa berat saat ia menapaki ubin batu yang retak di gerbang utama kediaman klan nya. Setelah bersujud sebagai tanda hormat terakhir kepada para leluhur di ambang pintu yang hancur, ia melangkah masuk ke dalam area yang kini lebih mirip pemakaman massal daripada sebuah kediaman bangsawan. Debu tebal yang telah mengendap selama bertahun tahun terbang tertiup angin, menyelimuti bayangan struktur struktur megah yang kini hanya tinggal kerangka kayu yang melapuk dan ditelan tanaman merambat liar. Di beberapa sudut, jejak kebakaran hebat masih terlihat jelas; arang hitam yang menyatu dengan batu menjadi saksi bisu betapa brutalnya api yang melahap tempat ini di masa lalu. Udara di sini terasa dingin dan menyesakkan, seolah setiap inci tanahnya masih menyimpan memori kesedihan dan teriakan kematian yang tak sempat terbalaskan.Liang Xiao melangkah dengan waspada, tangan kanannya menggeng
Kesunyian akademi saat masa liburan memberikan keleluasaan bagi Liang Xiao untuk menuntaskan rasa penasarannya. Berbekal akses dari Perpustakaan Terlarang Tingkat Tinggi, ia menghabiskan waktu berhari hari untuk membedah setiap inchi perkamen pemberian Feng Ying. Simbol simbol kuno yang awalnya tampak seperti coretan acak mulai bertransformasi menjadi koordinat geografis yang presisi. Setelah melalui penelitian intensif yang menguras energi mental, peta itu akhirnya menunjuk pada satu titik di ujung utara yang terisolasi, sebuah wilayah yang dikenal dengan nama mengerikan: "Sungai Abu".Sungai Abu bukanlah sekadar nama kiasan. Wilayah ini adalah lembah kematian di mana vegetasi enggan tumbuh dan udara terasa seperti mengandung serpihan logam. Sungai yang mengalir di dasarnya membawa sedimen vulkanik berwarna abu abu pekat, menciptakan ilusi visual seolah olah seluruh dunia di sana telah hangus terbakar oleh api langit. Masyarakat sekitar menghindari tempat ini, menyebutnya sebagai tan
Suasana hangat yang diciptakan oleh kehadiran Liang Mei di penginapan perlahan memudar seiring malam yang larut. Setelah memastikan adiknya tertidur lelap, Liang Xiao kembali ke kamarnya. Ia duduk bersila di atas kasur, matanya menatap kosong ke dinding di depannya, namun pikirannya berkelana jauh ke masa lalu. Kemenangan atas Ming Yu dan posisi barunya di peringkat sepuluh besar Daftar Seratus Murid Berbakat adalah pencapaian yang membanggakan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ini hanyalah sebuah sarana, bukan tujuan akhir.Pengingat akan senyum tulus adiknya, kemurnian hatinya, adalah tamparan yang lembut namun kuat. Semua yang ia lakukan, semua bahaya yang ia hadapi, semua intrik yang ia lalui, pada akhirnya adalah demi keamanan dan masa depan Liang Mei, serta untuk memenuhi sumpah yang telah ia ukir di hatinya: balas dendam atas pembantaian keluarganya.Dengan pijakan yang kini semakin kokoh di Akademi Bintang Jatuh, dengan akses ke sumber daya yang lebih luas, dan deng







