Share

Bab 31

Penulis: Novi R
last update Tanggal publikasi: 2025-12-05 21:35:02

Beberapa minggu berlalu sejak Anggi menempati kontrakan barunya. Lingkungan itu mulai terasa akrab—suara anak-anak yang berlarian setiap sore, ibu-ibu yang biasa berkumpul sambil mengupas bawang, dan aroma masakan tetangga yang kadang membuatnya rindu rumah masa kecilnya. Perlahan, rasa terasing yang dulu menempel di hatinya mulai luntur.

Bayi Anggi, yang kini sudah semakin kuat, mulai sering membuka mata dan tersenyum kecil. Setiap kali bibir mungil itu melengkung, Anggi merasa seluruh beban
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Luka di Ujung Senja   Bab 119

    Beberapa hari setelah papan kedua mulai terisi, rumah itu terasa sedikit berbeda. Bukan karena ada sesuatu yang berubah secara drastis, tapi karena kini ada dua arah untuk melihat. Satu papan penuh—dengan tulisan yang saling tumpang tindih, jejak emosi yang sudah pernah dilalui. Satu lagi masih lapang—memberi ruang untuk hal-hal yang belum terjadi. Rafa sering berdiri di tengah-tengahnya. Melihat ke kiri. Lalu ke kanan. Seperti membaca masa lalu dan masa depan dalam satu tarikan napas. — Suatu sore, ia pulang lebih awal dari biasanya. Sekolah selesai cepat karena ada rapat guru. Rumah masih sepi. Anggi belum pulang dari pasar. Rendra masih di kantor. Rafa membuka pintu, melepas sepatu, lalu langsung duduk di lantai ruang tengah. Tidak menyalakan TV. Tidak membuka ponsel. Ia hanya duduk. Awalnya terasa canggung. Lalu pelan-pelan… biasa. Ia menyandarkan punggung ke dinding, menatap papan lama. Matanya berhenti di satu tulisan yang hampir pudar: “Hari ini aku nggak

  • Luka di Ujung Senja   Bab 118

    Beberapa hari setelah itu, suasana sekolah kembali seperti biasa. Tidak ada panggung. Tidak ada mikrofon. Tidak ada tepuk tangan. Tapi sesuatu tetap tertinggal. Bukan di aula. Melainkan di cara orang-orang saling memandang. Lebih pelan. Lebih sadar. — Rafa mulai merasakannya dari hal kecil. Saat ia berjalan di koridor, beberapa siswa yang dulu hanya lewat kini mengangguk kecil. Bukan seperti mengenal dekat, tapi seperti tahu—“aku pernah dengar kamu.” Ia tidak merasa jadi pusat perhatian. Dan itu melegakan. Ia tetap Rafa. Hanya saja… sedikit lebih terlihat. — Di Sudut Napas, perubahan itu juga terasa. Tidak drastis. Tapi ada lebih banyak kertas di kotak. Lebih banyak yang datang—meski tidak selalu untuk bicara. Hari itu, Rafa duduk bersama Dika saat jadwal jaga. Seorang anak laki-laki kelas bawah datang. Ia duduk, tidak bicara. Lalu berkata pelan, “Aku denger kamu waktu itu.” Rafa menoleh. Anak itu tidak menatapnya. “Aku pikir… cuma aku yang mikir kayak gitu.

  • Luka di Ujung Senja   Bab 117

    Hari Ekspresi Diri akhirnya tiba. Sekolah terasa berbeda sejak pagi. Ada semacam getaran kecil di udara—bukan tegang, tapi penuh antisipasi. Beberapa siswa membawa alat musik, beberapa memegang kertas berisi tulisan, dan ada juga yang hanya berjalan seperti biasa, memilih menjadi penonton. Rafa datang seperti hari-hari sebelumnya. Tas di punggung. Langkah tidak terburu. Tapi ada satu hal yang berbeda: ia membawa kertas kecil di saku. Bukan karena sudah memutuskan untuk tampil. Hanya… berjaga-jaga. — Di aula sekolah, kursi-kursi sudah disusun rapi. Panggung sederhana di depan, dengan mikrofon berdiri di tengah. Tidak megah. Tapi cukup. Rafa duduk di barisan tengah bersama Dika. “Deg-degan?” tanya Dika. Rafa mengangkat bahu. “Aku kan nggak tampil.” Dika tersenyum. “Belum tentu.” Rafa tidak menjawab. Ia menatap panggung. Satu per satu siswa mulai tampil. Ada yang menyanyi. Ada yang membaca puisi. Ada yang bercerita tentang pengalaman pribadi. Beberapa suara bergeta

  • Luka di Ujung Senja   Bab 116

    Beberapa minggu berlalu tanpa terasa. Perubahan yang dulu terasa besar, kini menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Sudut Napas tetap ada, kelompok kecil tetap berjalan, dan papan emosi di rumah terus bertambah tulisan—kadang satu kalimat, kadang hanya satu kata. Rafa tidak lagi menghitung hari sejak ia mulai belajar “tidak selalu harus ada”. Ia hanya menjalani. Dan justru karena itu, ia mulai melihat hal-hal yang dulu terlewat. — Suatu pagi di sekolah, suasana terasa sedikit berbeda. Bukan karena ada kejadian besar, tapi karena pengumuman di papan mading. Ada tulisan dari pihak sekolah: “Minggu depan akan diadakan Hari Ekspresi Diri.” Di bawahnya ada penjelasan: siswa boleh menampilkan karya apa pun—tulisan, gambar, musik, atau bentuk ekspresi lainnya. Rafa membaca cukup lama. Dika muncul di sampingnya. “Kamu bakal ikut?” tanyanya. Rafa mengangkat bahu. “Belum tahu.” “Kamu kan punya banyak yang bisa ditulis.” Rafa tersenyum kecil. “Banyak yang dirasain, iya. Tapi n

  • Luka di Ujung Senja   Bab 115

    Hari-hari berikutnya Rafa mulai menyadari bahwa hidupnya tidak lagi berputar hanya di sekitar Sudut Napas atau cerita orang lain. Ada ruang lain yang perlahan kembali muncul: tugas sekolah, obrolan ringan dengan teman, bahkan rasa bosan yang dulu terasa asing. Suatu sore, ia duduk di kamar, menatap buku matematika yang terbuka sejak tadi. Belum disentuh. Ia menghela napas. “Dulu aku pengen punya waktu kosong,” gumamnya pelan. “Sekarang dikasih… malah bingung mau ngapain.” Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri. Di luar kamar, Anggi mengetuk pelan. “Masuk ya?” “Masuk.” Anggi membuka pintu, membawa dua gelas teh. “Kamu kelihatan lagi mikir,” katanya sambil duduk di kursi. “Aku lagi nggak ada yang harus dikerjain… tapi malah nggak tenang,” jawab Rafa jujur. Anggi mengangguk. “Karena kamu terbiasa sibuk dengan orang lain.” Rafa menatapnya. “Terus sekarang harus gimana?” “Belajar diam tanpa merasa bersalah,” jawab Anggi sederhana. Rafa menyandarkan punggungnya ke dinding. “K

  • Luka di Ujung Senja   Bab 114

    Beberapa hari setelah itu, sesuatu berubah lagi—pelan, hampir tidak terasa kalau tidak diperhatikan baik-baik. Bukan juga pada papan emosi di rumah. Tapi pada Rafa sendiri. Ia mulai punya jeda. Jeda sebelum merespons. Jeda sebelum merasa harus melakukan sesuatu. Dan di dalam jeda itu, ia menemukan hal baru: pilihan. — Suatu siang di sekolah, Rafa sedang berjalan menuju kantin ketika ia mendengar suara ribut dari belakang gedung. Bukan teriak besar. Lebih seperti suara yang ditahan-tahan, tapi tajam. Ia berhenti. Dua anak laki-laki berdiri saling berhadapan. Salah satunya Arman. Yang satu lagi Rafa tidak terlalu kenal. “Udah gue bilang, jangan ikut campur!” kata anak itu. Arman tidak menjawab. Rahangnya tegang. Rafa berdiri cukup jauh. Dulu, ia mungkin langsung masuk, mencoba menenangkan, menjadi penengah. Sekarang, ia tetap di tempat. Mengamati. Menunggu. Bukan karena tidak peduli. Tapi karena ia belajar: tidak semua situasi butuh dia. Beberapa detik berlalu. Gu

  • Luka di Ujung Senja   Bab 50

    Enam bulan setelah promosi itu, hidup Anggi terasa penuh. Terlalu penuh, jika ia jujur pada dirinya sendiri. Pagi dimulai lebih awal, malam berakhir lebih larut. Ada rapat yang tak bisa ditunda, ada tugas sekolah Rafa yang harus diperiksa, ada kontrol dokter yang menuntut perhatian penuh. Di sela-s

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Luka di Ujung Senja   Bab 49

    Keberanian yang tenang itu tidak datang sebagai sesuatu yang selalu terasa kuat. Kadang ia hadir justru sebagai kelelahan yang diterima, bukan dilawan. Anggi belajar itu pelan-pelan, setelah operasi Rafa, setelah malam-malam panjang di rumah sakit berubah menjadi rutinitas kontrol dan obat-obatan k

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Luka di Ujung Senja   Bab 47

    Beberapa bulan setelah pernikahan itu, Anggi menerima kabar yang membuatnya terdiam lama di depan layar ponsel. Pesan singkat dari nomor rumah sakit. “Ibu Anggi, mohon datang. Ini tentang Rafa.” Jantungnya seperti berhenti sesaat. Ia berlari—tanpa sempat berpikir. Di rumah sakit, dokter menjelas

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Luka di Ujung Senja   Bab 51

    Pernikahan tidak mengubah ritme hidup secara drastis. Tidak ada bulan madu panjang, tidak ada rumah baru yang langsung terasa sempurna. Anggi tetap bangun pagi untuk menyiapkan Rafa, tetap mengecek email kantor sebelum matahari benar-benar naik. Rendra tetap menyesap kopi dengan kebiasaan lamanya,

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status