공유

Bab 47

작가: Novi R
last update 게시일: 2025-12-23 23:06:42

Beberapa bulan setelah pernikahan itu, Anggi menerima kabar yang membuatnya terdiam lama di depan layar ponsel. Pesan singkat dari nomor rumah sakit.

“Ibu Anggi, mohon datang. Ini tentang Rafa.”

Jantungnya seperti berhenti sesaat.

Ia berlari—tanpa sempat berpikir. Di rumah sakit, dokter menjelaskan dengan suara tenang namun tegas: Rafa mengalami kelainan jantung bawaan yang baru terdeteksi. Tidak langsung berbahaya, tapi perlu pemantauan ketat. Mungkin operasi di masa depan.

Anggi mendengar
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Luka di Ujung Senja   Bab 117

    Hari Ekspresi Diri akhirnya tiba. Sekolah terasa berbeda sejak pagi. Ada semacam getaran kecil di udara—bukan tegang, tapi penuh antisipasi. Beberapa siswa membawa alat musik, beberapa memegang kertas berisi tulisan, dan ada juga yang hanya berjalan seperti biasa, memilih menjadi penonton. Rafa datang seperti hari-hari sebelumnya. Tas di punggung. Langkah tidak terburu. Tapi ada satu hal yang berbeda: ia membawa kertas kecil di saku. Bukan karena sudah memutuskan untuk tampil. Hanya… berjaga-jaga. — Di aula sekolah, kursi-kursi sudah disusun rapi. Panggung sederhana di depan, dengan mikrofon berdiri di tengah. Tidak megah. Tapi cukup. Rafa duduk di barisan tengah bersama Dika. “Deg-degan?” tanya Dika. Rafa mengangkat bahu. “Aku kan nggak tampil.” Dika tersenyum. “Belum tentu.” Rafa tidak menjawab. Ia menatap panggung. Satu per satu siswa mulai tampil. Ada yang menyanyi. Ada yang membaca puisi. Ada yang bercerita tentang pengalaman pribadi. Beberapa suara bergeta

  • Luka di Ujung Senja   Bab 116

    Beberapa minggu berlalu tanpa terasa. Perubahan yang dulu terasa besar, kini menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Sudut Napas tetap ada, kelompok kecil tetap berjalan, dan papan emosi di rumah terus bertambah tulisan—kadang satu kalimat, kadang hanya satu kata. Rafa tidak lagi menghitung hari sejak ia mulai belajar “tidak selalu harus ada”. Ia hanya menjalani. Dan justru karena itu, ia mulai melihat hal-hal yang dulu terlewat. — Suatu pagi di sekolah, suasana terasa sedikit berbeda. Bukan karena ada kejadian besar, tapi karena pengumuman di papan mading. Ada tulisan dari pihak sekolah: “Minggu depan akan diadakan Hari Ekspresi Diri.” Di bawahnya ada penjelasan: siswa boleh menampilkan karya apa pun—tulisan, gambar, musik, atau bentuk ekspresi lainnya. Rafa membaca cukup lama. Dika muncul di sampingnya. “Kamu bakal ikut?” tanyanya. Rafa mengangkat bahu. “Belum tahu.” “Kamu kan punya banyak yang bisa ditulis.” Rafa tersenyum kecil. “Banyak yang dirasain, iya. Tapi n

  • Luka di Ujung Senja   Bab 115

    Hari-hari berikutnya Rafa mulai menyadari bahwa hidupnya tidak lagi berputar hanya di sekitar Sudut Napas atau cerita orang lain. Ada ruang lain yang perlahan kembali muncul: tugas sekolah, obrolan ringan dengan teman, bahkan rasa bosan yang dulu terasa asing. Suatu sore, ia duduk di kamar, menatap buku matematika yang terbuka sejak tadi. Belum disentuh. Ia menghela napas. “Dulu aku pengen punya waktu kosong,” gumamnya pelan. “Sekarang dikasih… malah bingung mau ngapain.” Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri. Di luar kamar, Anggi mengetuk pelan. “Masuk ya?” “Masuk.” Anggi membuka pintu, membawa dua gelas teh. “Kamu kelihatan lagi mikir,” katanya sambil duduk di kursi. “Aku lagi nggak ada yang harus dikerjain… tapi malah nggak tenang,” jawab Rafa jujur. Anggi mengangguk. “Karena kamu terbiasa sibuk dengan orang lain.” Rafa menatapnya. “Terus sekarang harus gimana?” “Belajar diam tanpa merasa bersalah,” jawab Anggi sederhana. Rafa menyandarkan punggungnya ke dinding. “K

  • Luka di Ujung Senja   Bab 114

    Beberapa hari setelah itu, sesuatu berubah lagi—pelan, hampir tidak terasa kalau tidak diperhatikan baik-baik. Bukan juga pada papan emosi di rumah. Tapi pada Rafa sendiri. Ia mulai punya jeda. Jeda sebelum merespons. Jeda sebelum merasa harus melakukan sesuatu. Dan di dalam jeda itu, ia menemukan hal baru: pilihan. — Suatu siang di sekolah, Rafa sedang berjalan menuju kantin ketika ia mendengar suara ribut dari belakang gedung. Bukan teriak besar. Lebih seperti suara yang ditahan-tahan, tapi tajam. Ia berhenti. Dua anak laki-laki berdiri saling berhadapan. Salah satunya Arman. Yang satu lagi Rafa tidak terlalu kenal. “Udah gue bilang, jangan ikut campur!” kata anak itu. Arman tidak menjawab. Rahangnya tegang. Rafa berdiri cukup jauh. Dulu, ia mungkin langsung masuk, mencoba menenangkan, menjadi penengah. Sekarang, ia tetap di tempat. Mengamati. Menunggu. Bukan karena tidak peduli. Tapi karena ia belajar: tidak semua situasi butuh dia. Beberapa detik berlalu. Gu

  • Luka di Ujung Senja   Bab 113

    Hari berikutnya dimulai dengan sesuatu yang tidak biasa: Rafa terlambat bangun. Bukan karena ia lupa pasang alarm, tapi karena tubuhnya benar-benar tidak ingin bangun lebih cepat. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidur tanpa mimpi yang penuh potongan suara orang lain. Ia membuka mata perlahan, melihat cahaya matahari sudah masuk cukup jauh ke dalam kamar. “Yah,” gumamnya pelan. Di luar, suara Anggi terdengar. “Rafa, bangun. Udah jam segini.” “Udah bangun,” jawabnya, meski masih berbaring. Ia duduk, mengusap wajah, lalu menarik napas panjang. Tidak ada rasa panik. Tidak ada perasaan dikejar sesuatu. Hanya sedikit terburu, seperti anak sekolah biasa. Dan itu terasa… normal. — Di meja makan, Rendra sudah siap berangkat kerja. “Kamu telat,” katanya singkat, tapi tidak menghakimi. “Iya,” jawab Rafa sambil mengambil roti. Anggi menyodorkan segelas susu. “Nggak apa-apa sesekali.” Rafa menatapnya sebentar. “Aku nggak mimpi aneh semalam.” “Bagus,” kata Anggi. Re

  • Luka di Ujung Senja   Bab 112

    Langit masih abu-abu, tapi tidak berat. Seperti dunia sedang menarik napas panjang setelah semalam menangis pelan. Rafa bangun lebih awal dari biasanya. Ia duduk di tepi tempat tidur beberapa saat, menatap lantai tanpa benar-benar melihat apa-apa. Earphone yang diberikan anak itu masih tergeletak di meja kecil di sampingnya. Ia meraihnya. Tidak langsung dipakai—hanya digenggam, seperti memastikan sesuatu itu benar-benar ada. Di luar kamar, suara piring dari dapur terdengar ringan. Tidak tergesa. Tidak tegang. Rafa berdiri, membuka pintu, dan berjalan keluar. Anggi sedang menuang teh. Rendra duduk sambil membaca sesuatu di ponselnya, kacamata bertengger di ujung hidung. “Pagi,” kata Rafa. “Pagi,” jawab Anggi, menoleh dengan senyum kecil. “Hari ini jadwal jaga kamu?” Rafa mengangguk. “Iya… tapi gantian sama Dika.” “Bagus,” sahut Rendra tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Jangan ambil semua shift lagi.” Rafa mengangkat alis. “Aku nggak pernah—” “Pernah,” potong Anggi rin

  • Luka di Ujung Senja   Bab 65

    Hari-hari berikutnya tidak membawa kejutan besar, tapi justru di situlah Anggi menemukan sesuatu yang dulu selalu ia cari tanpa sadar: kestabilan yang tidak membosankan. Hidupnya tidak menjadi datar—ia tetap naik turun—namun ia tidak lagi terombang-ambing. Suatu pagi, Anggi menerima pesan suara da

    last update최신 업데이트 : 2026-03-27
  • Luka di Ujung Senja   Bab 57

    Waktu terus berjalan, dan Anggi mulai menyadari sesuatu yang halus namun penting: hidupnya tidak lagi dibangun dari reaksi, melainkan dari niat. Ia tidak menunggu masalah datang baru bergerak. Ia juga tidak menghindari kemungkinan buruk dengan menutup diri. Ia berjalan—dengan mata terbuka, langkah

    last update최신 업데이트 : 2026-03-26
  • Luka di Ujung Senja   Bab 61

    Waktu bergerak tanpa menunggu kesiapan siapa pun, tapi Anggi kini tidak lagi merasa tertinggal olehnya. Setelah menerima promosi dengan batasan yang ia tetapkan sendiri, hari-harinya menjadi lebih padat, namun tidak lagi terasa menelan dirinya bulat-bulat. Ia belajar satu hal penting: sibuk tidak s

    last update최신 업데이트 : 2026-03-26
  • Luka di Ujung Senja   Bab 59

    Beberapa minggu setelah hari di taman itu, hidup Anggi kembali diuji dengan cara yang lebih sunyi—tanpa ledakan, tanpa drama besar, hanya tekanan yang datang perlahan dan menetap. Suatu sore, saat Anggi sedang menyusun laporan di rumah, ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal. Ia hampir mengabaikann

    last update최신 업데이트 : 2026-03-26
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status